"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."
Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.
Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Bayang-Bayang
Aroma kuah sup buntut yang kaya akan rempah, pala, dan kayu manis menguar memenuhi ruang makan penthouse yang berdesain minimalis modern. Di atas meja marmer putih, mangkuk keramik hitam berisi buntut sapi bakar yang kecokelatan dan mengilat karena karamelisasi madu serta kecap tampak sangat kontras dengan kemewahan sendok perak di sampingnya.
Ayana tidak bisa menyembunyikan binar di matanya. Rasa lapar yang sempat terganjal oleh tumpukan adrenalin sejak subuh tadi kini menuntut haknya dengan sangat agresif.
"Pak Bos, saya tidak menyangka seorang pria yang sarapan paginya hanya oatmeal hambar tanpa rasa bisa memahami selera kuliner lokal tingkat tinggi seperti ini," puji Ayana, langsung menyendok kuah sup yang masih mengepulkan uap panas itu ke dalam mangkuk kecilnya.
Arka yang duduk di seberang meja hanya memperhatikan Ayana dengan satu siku bertumpu pada sandaran kursi, sementara jemarinya memutar-mutar gelas berisi air lemon hangat. "Saya memiliki tim riset yang bisa melacak preferensi kuliner seorang dokter dalam waktu lima menit, Ayana. Dan lagipula, melihatmu makan dengan lahap jauh lebih menenangkan syaraf saya dibanding mendengar laporan keuangan triwulanan."
Ayana yang baru saja mengunyah sepotong daging buntut yang empuk hampir saja tersedak mendengar kalimat santai itu. Ia buru-buru menelan makanannya, lalu menatap Arka dengan tatapan menyelidik. "Pak Arka, tolong jangan mengeluarkan kalimat-kalimat manis bernada kapitalis seperti itu di depan dokter Anda. Itu bisa meningkatkan tekanan darah saya secara tidak klinis."
Arka terkekeh pelan—sebuah suara bariton yang berat namun terdengar sangat renyah di telinga Ayana. "Itu bukan kalimat manis, Dokter. Itu adalah observasi empiris. Tekanan darahmu mungkin stabil, tapi pipimu menunjukkan warna merah yang tidak ada di dalam buku teks kedokteran mana pun."
"Ini karena uap supnya terlalu panas!" kilat Ayana cepat, berpura-pura sibuk mengipasi wajahnya dengan tangan kanan, meskipun ia tahu persis bahwa alasan sebenarnya adalah desiran aneh yang kembali mengacaukan ritme jantungnya.
Makan malam itu berlangsung dengan ritme yang jauh lebih lambat dan intim dibanding hari-hari sebelumnya. Di antara denting sendok dan garpu, mereka tidak lagi membahas tentang faksi Elena, kejatuhan saham, atau interogasi dewan komisaris. Mereka berbicara tentang hal-hal kecil; tentang masa kecil Ayana di lingkungan kampus kedokteran, tentang bagaimana Arka yang benci sayuran hijau selalu menyuapkan brokoli miliknya ke bawah meja saat Kakeknya tidak melihat, hingga tentang pulpen gel hitam andalan Ayana yang ternyata sudah ia gunakan sejak masa koas.
Namun, di saat kedamaian itu merayap naik di lantai lima puluh, di luar gedung—tepatnya di dalam sebuah mobil van komersial berwarna hitam yang terparkir di sudut jalan tembusan dekat area bongkar muat Pradipta Tower—dua orang pria dengan pakaian kasual hitam sedang sibuk menatap layar monitor portabel.
"Target masih berada di dalam penthouse," ujar salah satu pria yang memegang pelantang suara siber. "Sesi konferensi pers siang tadi membuat pengamanan di lobi utama diperketat tiga kali lipat. Kita tidak bisa menaruh perangkat penyadap fisik baru di dalam sistem ventilasi lantai lima puluh."
Pria kedua, yang memiliki bekas luka kecil di alis kirinya, mendengus sembari menyesap kopi instan dari gelas plastik. "Elena Pradipta mungkin sudah tumbang dan diseret ke markas besar kepolisian, tapi klien kita yang baru tidak mau urusan ini berhenti begitu saja. Selama Arkananta masih memegang hak veto medis dari Hermawan, faksi-faksi lain di dalam dewan komisaris akan tetap merasa terancam. Mereka butuh konfirmasi: apakah penyakit mental pria itu benar-benar bisa disembuhkan atau hanya ditutupi oleh dokter muda itu."
Ia menggeser tetikus pada layarnya, menampilkan rekaman video digital beresolusi tinggi yang memperlihatkan balkon luar penthouse Arka dari sudut elevasi gedung seberang. "Lihat ini. Besok sore adalah hari Rabu. Berdasarkan jadwal internal yang berhasil kita retas dari tablet sekretarisnya... mereka memiliki jadwal terapi luar ruangan. Bersiaplah dengan lensa sensor termal dan perekam audio frekuensi parabola jarak jauh. Jika besok dia tumbang di balkon karena bisingnya Jakarta... kita akan memiliki rekaman mentah yang tidak bisa dibantah oleh humas perusahaan."
Rabu sore bergulir dengan cuaca yang tidak menentu. Sisa-sisa awan mendung kemarin masih menggantung rendah di langit Jakarta, memberikan warna abu-abu keperakan yang dramatis pada lanskap kota. Angin bertiup cukup kencang, memainkan ujung-ujung rambut cokelat Ayana yang hari ini dibiarkan tergerai bebas.
Ayana berdiri di ambang pintu kaca besar yang membatasi ruang tengah dengan balkon luar. Tangannya memegang sebuah pengukur desibel (decibel meter) digital, sementara papan jalannya sudah siap dengan lembaran grafik baru.
"Volume lima belas persen, dengan pintu balkon terbuka selebar tiga puluh sentimeter," ujar Ayana, menoleh ke arah Arka yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. "Suara angin, klakson kendaraan dari jalur protokol di bawah, dan gemuruh kota akan bercampur dengan simulasi audio dari ponsel saya. Ini disebut sebagai metode Real-World Environmental Blending. Tingkat kesulitannya naik dua kali lipat, Arka. Anda siap?"
Arka menatap celah pintu balkon yang terbuka. Dari celah kecil itu, sayup-sayup suara bising metropolitan Jakarta—raungan mesin bus, ketukan palu dari proyek bangunan di sebelah gedung, dan desau angin tinggi—mulai menyusup masuk, merusak keheningan absolut yang biasanya melindungi ruangan tersebut.
Arka mengancingkan satu-satunya kancing pada kemeja linen hitamnya, lalu melangkah maju hingga berdiri tepat di samping Ayana. "Saya tidak pernah mundur dari kesepakatan, Dokter. Mulai."
Ayana menarik napas dalam, lalu menekan tombol play pada aplikasi klinisnya.
Wiuuu... wiuuu... wiuuu...
Suara sirine digital itu berbunyi, dan seketika itu juga, efeknya terasa jauh lebih masif karena frekuensinya beresonansi dengan suara bising asli dari luar gedung. Ilusi audio itu mendadak terasa begitu nyata, seolah-olah sebuah mobil ambulans darurat benar-benar sedang melintas di atas jalur udara tepat di samping balkon mereka.
DEG!
Tubuh Arka mendadak menegang sempurna. Langkah kakinya refleks mundur setengah langkah. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah langit luar, namun fokusnya runtuh dalam sekejap. Guratan urat darah di pelipisnya menyembul, dan napasnya mulai tertahan di tenggorokan—gejala awal dari penyempitan saluran napas akibat stimulasi syaraf simpatis yang berlebihan.
Dari gedung seberang, sebuah lensa parabola berkekuatan tinggi bergerak halus, mengunci figur Arka yang mulai menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan fisik.
"Arka! Jangan melihat ke luar!" seru Ayana, suaranya melengking tegas memotong kepanikan pria itu. Tanpa membuang waktu, Ayana melangkah maju, memposisikan tubuh kecilnya tepat di depan Arka, menghalangi pandangan pria itu dari lanskap kota luar.
Ayana meraih kedua sisi rahang tegap Arka dengan kedua telapak tangannya. Sentuhan kulit mereka yang hangat seketika mengirimkan sinyal taktil yang kuat ke otak Arka.
"Lihat saya, Arkananta! Fokus pada mata saya!" perintah Ayana dengan mata bulatnya yang melebar penuh otoritas dan kepedulian yang mendalam. "Jangan dengarkan suara di luar. Suara itu tidak bisa menyakitimu. Saya di sini. Jangkar Anda di sini."
Arka mencengkeram pergelangan tangan Ayana yang berada di wajahnya, napasnya terdengar memburu dan kasar di atas kening Ayana. "Ayana... asapnya... baunya..." bisik Arka dengan suara yang sangat parau, matanya yang memerah bergerak liar, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman memori masa lalu yang mengerikan.
"Tidak ada asap, Arka! Tidak ada api! Ini lantai lima puluh Pradipta Tower, dan saya adalah Ayana Sheenaz, dokter pribadimu!" Ayana mencondongkan tubuhnya, menempelkan keningnya sendiri pada kening Arka yang terasa dingin karena keringat. Tindakan grounding ekstrem yang belum pernah ia lakukan pada pasien mana pun dalam kariernya. "Ikuti napas saya... tarik... satu... dua... keluarkan... tiga... empat..."
Di bawah kedekatan fisik yang teramat intim tersebut, di mana aroma tubuh Ayana yang menenangkan mengalahkan bau bensin imajiner di kepala Arka, mukjizat klinis itu kembali terjadi. Perlahan namun pasti, gelombang kepanikan di dalam dada Arka mulai surut. Cengkeraman kasarnya di pergelangan tangan Ayana berubah menjadi sebuah pegangan yang erat namun lembut, mencari perlindungan penuh pada sosok wanita di depannya.
Tepat pada menit ketiga, alarm audio mati. Keheningan kota kembali ke volume normalnya.
Arka membuka matanya, menatap wajah Ayana yang berada hanya berjarak beberapa milimeter dari wajahnya. Ia bisa merasakan embusan napas lega Ayana yang hangat menerpa bibirnya.
"Kamu... benar-benar nekat, Dokter," bisik Arka, suaranya kini kembali dipenuhi oleh kedalaman beratnya yang khas, namun ada getaran emosi baru yang teramat kuat yang terpancar dari sana.
Ayana perlahan menurunkan kedua tangannya dari rahang Arka, pipinya merona merah padam saat menyadari posisi mereka yang teramat dekat. Ia mundur satu langkah, berdeham salah tingkah sembari merapikan papan jalannya. "Itu... itu adalah teknik Hyper-Grounding darurat, Pak Bos. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Itu murni tindakan medis."
Arka tidak melepaskan pandangannya dari Ayana. Seulas senyuman tipis dan tampan terukir di wajahnya. "Saya tidak berpikir tentang medis, Ayana. Saya berpikir tentang bagaimana batu karang ini... ternyata sudah sepenuhnya jatuh ke dalam genggaman tangan dokternya."
Sementara itu, di dalam mobil van di bawah gedung, pria dengan bekas luka di alisnya menatap layar monitor dengan umpatan kasar. "Sialan! Dokter itu menggagalkan serangannya lagi. Mereka terlalu dekat... sensor termal kita hanya menangkap peningkatan suhu tubuh akibat kedekatan fisik, bukan karena serangan panik. Skenario rekaman mentah ini gagal total."
Ia menutup laptopnya dengan sentakan keras. "Hubungi klien. Katakan pada mereka... jika ingin menjatuhkan Arkananta Pradipta, kita tidak bisa lagi menyerang penyakitnya. Kita harus menghancurkan kelemahan barunya... yaitu dokter pribadinya sendiri."
Badai baru yang jauh lebih personal kini resmi mengintai Ayana, mengancam keselamatan sang dokter rewel yang kini telah menjelma menjadi satu-satunya belahan jiwa yang paling dilindungi oleh sang penguasa Pradipta Group. Rencana menuju delapan puluh babak mereka kini bergerak menuju ranah bahaya yang sesungguhnya.
Bersambung.
good job Thor..up yg banyak LG ya Thor...👍👍🙂🙂👏👏
btw terima kasih thor upnya🤭
💪💪