Disa ingin memberi kejutan berupa kehamilan yang telah lama dinanti-nanti, tetapi dia malah mendapatkan kejutan lebih dulu dari Cakra. Cakra membawa pulang Risa yang sedang hamil anaknya.
Dari pada menerima Cakra, yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya, dan harus menerima Risa sebagai madunya, Disa memilih pergi dengan membawa anak Cakra yang dia sembunyikan.
"Jangan menyesal setelah aku pergi."
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Lah ini, orang yang harusnya paling bertanggung jawab malah baru datang," sindir Rahmi. Sinis melirik Cakra, suaranya ketus.
"Disa ... Maaf aku ... Aku tadi ada meeting penting jadi ... Aku telat datang," Cakra memberi penjelasan dengan suara gugup dan terbata-bata. Penjelasan basi yang sama sekali tidak Disa butuhkan. Mau ada meeting penting kek atau apa lah, Disa tidak mau tahu. Yang penting sekarang dia sudah melahirkan si kembar, Zhafran dan Alyssa, dengan selamat.
"Alasan aja," cibir Vina pelan, namun masih dapat didengar oleh semua orang yang ada di ruangan itu, termasuk Cakra. Dan tidak ada yang mau repot-repot menegur cibiran Vina yang menyinggung Cakra.
"Gak papa, Mas," kata Disa.
Cakra perlahan memasuki ruangan, tidak memperkirakan sebelumnya jika di kamar itu akan ada banyak orang, bahkan ada Vina, laki-laki bernama Rayyan yang pernah Cakra temui di bandara, dan satu wanita seusia Rahmi yang tidak Cakra kenal.
Ia pikir hanya akan ada Disa dan Rahmi saja. Langkah kaki Cakra membawa ia menghampiri box bayi. Rahmi, Vina, dan Wulan segera menyingkir, memberi ruang untuk Cakra melihat anaknya.
Begitu melihat hanya ada satu bayi, dada Cakra langsung diselimuti ketakutan.
"Dis, kok bayi kita cuma satu?" tanyanya dengan suara getir. Pikirannya sudah terbang ke mana-mana, memikirkan kemungkinan paling buruk yang terjadi pada bayi yang satunya lagi.
"Yang satunya masih dirawat di NICU, Mas, berat badannya rendah." Disa menjelaskan.
"Ooh, hufffttt," Cakra menghela napas panjang. Lega, apa yang ia takutkan tidak terjadi. Cakra lantas meraih bayi di dalam box, ia tatap sebentar wajah anaknya itu yang mirip dengan Disa, menggendongnya sambil terus menatap.
"Ayo sebaiknya kita tunggu di luar aja," bisik Wulan, mencolek lengan Vina dan Rayyan.
Rayyan turun dari tempat tidur Disa, Cakra sempat melihat pria itu menyimpan cincin yang belum terpasang di jari Disa ke dalam saku kemejanya. Lantas, semua orang yang menemani Disa melahirkan hari ini keluar dari ruangan, menyisakan Disa bersama dengan Cakra dan si bayi yang belum Cakra ketahui namanya.
Setelah ruangan sepi, Cakra mendekati ranjang Disa. Duduk di tepiannya yang semula diduduki Rayyan. "Kamu udah kasih mereka nama?"
Disa mengangguk. "Udah."
"Siapa?"
"Yang ini namanya Zhafran. Dan yang perempuan, adiknya, namanya Alyssa," tutur Disa.
"Namanya bagus dan cantik," Cakra tersenyum, lalu menunduk untuk mencium kening Zhafran. Terangkat lagi wajahnya, kini menatap sang mantan istri.
"Dis ... Terima kasih ya. Kamu udah melahirkan anak-anak yang sehat, ganteng, dan cantik buat aku. Kamu hebat."
Disa merespon dengan anggukan kepala dan tatapan datar. Sama sekali tidak merasa melambung saat dipuji Cakra, berbeda ketika Rayyan yang memujinya tadi.
Cakra membuang napas panjang, melihat Zhafran dengan tatapan sayu, getir, dadanya dipenuhi sesak. Anak ini dan adiknya yang masih dirawat di NICU, tidak akan pernah merasakan hidup bersama dengan kedua orang tuanya yang utuh.
Teringat talak tiga yang sudah terjadi, Cakra baru sadar kini, talak itu menjadi dinding pembatas antara Cakra dan Disa yang sulit untuk Cakra tembus. Tidak mungkin mereka kembali bersama semudah itu, walaupun sudah ada anak di antara mereka.
Cakra menunduk, berkata dengan sungguh-sungguh, "Aku minta maaf ya, Dis. Maaf aku udah nyakitin kamu."
Disa mengalihkan tatapannya dari ponsel ke arah Cakra, mereka bersitatap selama beberapa detik, kemudian Disa lekas membuang wajahnya. Tidak juga membalas perkataan Cakra.
"Zhafran mirip banget ya sama kamu," ujar Cakra.
"Hm."
Semakin Cakra memandangi wajah Zhafran, semakin ia teringat pada Zara yang ada di rumah. Zara bukan hanya tidak mirip dengan Cakra, bayi perempuan itu pun tidak terlihat mirip dengan Risa. Hanya seperkian persen saja dari keseluruhan wajahnya yang mirip dengan ibunya.
Mengapa begitu? Ribuan pertanyaan itu memenuhi kepala Cakra. Jika benar wajah bayi bisa berubah, tapi mengapa bahkan tidak ada bagian walau kecil dari wajah Cakra yang seharusnya ada di wajah Zara? Apa ada sesuatu yang Risa sembunyikan? Namun Cakra menyangkal, cepat-cepat menepis dugaan itu.
Beberapa saat kemudian, Hadrian datang melihat cucunya. Pria itu sangat bahagia, jauh terlihat lebih bahagia dari pada saat kelahiran Zara.
Cakra juga menghampiri ruang NICU, melihat bayi perempuan yang masih dalam perawatan insentif. Walau hanya melihat dari luar kaca, Cakra bisa menangkap baby Alyssa sangat mirip dengannya.
......................
"Risa."
"Aku tau anak itu udah lahir."
Mengirim foto dan video.
"Aku masih nyimpen semua foto dan video kita. Aku kasih semua foto sama video itu ke suami kamu atau izinkan aku ketemu sama anak kita?"
'anak kita'? Saat membaca kalimat itu dari nomor asing yang mengirim chat, Risa segera tahu siapa yang lagi-lagi mengancamnya.
Andre. Satu bulan setelah kelahiran Zara, pria itu kembali menghubungi Risa dengan nomor baru. Bodohnya Risa yang tidak kepikiran untuk mengganti nomornya supaya Andre tidak bisa menghubunginya lagi.
Ternyata, Andre tidak benar-benar menghapus foto dan video mereka. Atau dia mempunyai salinan filenya yang disimpan di tempat lain? Sial!
"Kamu!! Aku udah ngasih uang yang kamu minta, harusnya kamu hapus semua foto video itu!"
"Aku cuma mau ketemu sama anak aku, Sa, satu kali aja, abis itu aku nggak akan pernah ganggu-ganggu kamu lagi. Aku janji, sekali ini aja. Temui aku besok pagi di .... "
Andre mengirimkan sebuah alamat, sebab ia tidak mungkin mendatangi rumah yang ditinggali Risa.
Sekarang, Risa harus apa? Ia berpikir, menggigit bibir, tidak bisa tenang, berjalan mondar-mandir di kamarnya.
Satu pesan dari Andre masuk lagi ke ponsel Risa.
"Kali ini aku nggak main-main, kalau kamu nggak datang besok, aku akan kirim semua foto dan video kita ke suami kamu!"
Gimana ini? Risa sangat takut, takut Cakra akan mengetahui semua kebohongannya. Foto dan video itu, status Zara yang sebenarnya, Cakra tidak boleh mengetahui semuanya.
Beruntung, Cakra tidak menaruh curiga pada Zara yang tidak mirip dengannya. Risa pikir, semua nampak baik-baik saja, Cakra selalu terlihat tenang, juga perhatian, meksipun Risa harus merelakan perhatian Cakra terbagi dengan kedua anak kembar yang dilahirkan Disa.
Mungkin aku bisa nemuin Andre besok, untuk yang terakhir kali.
Risa menghapus semua chat yang Andre kirim, ia letakkan ponselnya ke atas nakas, lalu keluar dari kamar. Zara sedang diajak jalan-jalan sore setelah mandi, hanya di sekitar halaman rumah, bersama pengasuhnya.
Nyaman sekali hidup Risa yang sekarang. Mempunyai suami kaya dan penyayang, anak yang cantik, ia tidak kekurangan uang, bisa membeli apa pun yang ia inginkan, bahkan tidak terlalu repot meskipun mempunyai newborn, ada pengasuh yang membantunya mengasuh Zara.
Risa tidak mau semua kemewahan dan kenyamanan yang ia dapatkan, hilang dari hidupnya.
Sekali ini saja, ia akan turuti kemauan Andre. Untuk pertama dan terakhir kalinya bertemu dengan Zara.
...****************...
Hayolooohhhh hati-hati kamu, Ris. Risa yang mau berulah, aku yang panik.
Teman-teman, kalian jangan nabung bab ya... tetap baca bab yang aku update setiap hari di hari yang sama. Dan tolong jangan berhenti baca meskipun nanti kebohongan Risa udah kebongkar, ini benar-benar udah kupercepat alurnya biar gak bosan, tapi tolong tetap baca sampai tamat, biar aku bisa dapat bonus retensi 😊
Makasih semuanya yang udah baca cerita sederhana aku.
.semoga Andre mengakui anak nya