(Taka season 1)
Cerita yang memiliki selera humor tinggi yang mungkin akan mengocok perut kalian.
Menggunakan bahasa Jawa tetapi akan tetap ada terjemahan arti.
Arselio Reytaka Milard, seorang pemuda masih berstatus pelajar SMA disalah satu sekolah elite yang ada dikota Jakarta. Ia memiliki saudara kembar bernama Arselio ReyNata Milard. Nama mereka begitu mirip, meski saudara kembar namun keduanya memiliki wajah yang berbeda begitupun dengan karakter sikap mereka yang juga berbeda. Namun, saudara kembar itu begitu menyayangi satu sama lain, dimana ada sang kakak maka disitu juga ada sang adik.
Dia anak horang kaya keempat, tetapi tingkah laku disekolah seperti orang biasa. Bahkan disekolah selalu bersikap konyol, apa yang dia ucapkan selalu sukses membuat orang lain tertawa.
Apakah perjalanan mencari jati diri seorang Taka akan penuh tawa seperti julukannya?
Mari kita ikuti kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Heran
Mobil yang dikendarai Pak Arman sudah sampai dihalaman rumah. Laki-laki berumur 45tahun itu menoleh kearah belakang, dikursi penumpang, Taka masih tertidur pulas.
Supir pribadi itu kebingungan, ia tak tega jika membangunkan, tapi ini sudah sampai dihalaman rumah. Lalu bagaimana?
Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu sejenak. Siapa tau sebentar lagi sudah bangun.
10menit sudah menunggu, akhirnya yang ditunggu sudah bergerak. Taka mulai membuka matanya yang sayu, dilihat sekeliling ternyata sudah sampai.
"Pak Arman nggak bangunin Taka?"
"Tuan muda kedua tidurnya pulas banget jadi Bapak nggak tega mau bangunin."
"Ya sudah, Taka turun sekarang."
Pak Arman keluar lebih dulu dan membukakan pintu, setelah Taka berlalu, ia beralih untuk menurunkan sepeda onthel yang tadi ditali diatas atap mobil.
"Assalamualaikum," Taka masuk kedalam rumah dan mengucap salam.
"Walaikum salam." bunda Sensa menjawab salam dari Taka, menyorongkan tangan didepannya untuk dicium oleh Taka.
"Kamu pulang sendiri? Nata mana?" bunda Sensa celingukan mencari keberadaan putrinya, tapi tak ada siapa-siapa dibelakang Taka.
"Nata bareng temen yang lain Bun, aku pulang duluan."
Bunda Sensa mengerutkan dahi, tumben-tumbenan keduanya tidak pulang bersama. Tentu sangat aneh.
"Bun, Taka langsung istirahat dikamar ya..." Taka meminta izin.
Bunda Sensa yang masih kepikiran dengan Nata langsung memberi anggukan, padahal ada sesuatu yang berbeda pada putranya.
Dengan berjalan gontai Taka menaiki anak tangga. Kepala bagian belakang masih terasa berat. "Kenapa pusingnya nggak ilang-ilang sih," Taka memegangi bagian belakang kepalanya.
Sampai didalam kamar tanpa melepas pakaian, ia terbaring diatas bed dan lagi memejamkan mata.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Assalamualaikum," Mata baru pulang dan masuk kedalam rumah. Rasa haus yang mendera ia langsung berjalan kedapur.
"Nata, kamu sudah pulang?" kebetulan bunda Sensa sedang berada didapur membuat jus mangga. Cuaca yang terik membuat tenggorokan cepat kering, hanya ingin merasakan minuman yang segar-segar.
"Heum... Bun.." Nata menyahut satu gelas jus mangga dan meminumnya.
"Hah... seger nya Bun, makasih Bunda." ucapnya.
"Kok tumben nggak pulang bareng Taka?"
"Iya, Kak Taka tadi pulang duluan, aku keliling sama temen yang lain."
"Ya udah ganti baju dulu, abis itu makan. Oh ya, panggil Kakakmu sekalian, dia juga belum makan siang." perintah bunda Sensa.
"Oce Bun, siap laksanakan." Nata memberi gerakan hormat, setelah itu ia baru pergi menuju kekamarnya.
Berganti pakaian dan segera melaksanakan perintah Bundanya. Nata sudah berdiri didepan pintu kamar Taka.
"Kakak..." panggilannya dengan mengetuk daun pintu beberapa kali, tapi tak ada jawaban. Seterusnya juga begitu, karna tidak sabar ia memutuskan untuk masuk saja.
Melangkahkan kaki untuk mendekati bed. Di atas bed Taka tidur dengan posisi badan yang miring.
"Tumben Kakak tidurnya pulas banget. Aku bangunin nggak ya?" Nata bingung sendiri.
Setelah beberapa saat bergelut dengan pemikiran, akhirnya Nata membiarkan kakaknya tertidur.
"Mana Kakak kamu?" sampai dilantai bawah Bunda Sensa kembali menanyakan keberadaan putranya.
"Kakak tidur Bun, nggak tega mau bangunin, sepertinya dia kelelahan." Nata sudah duduk diatas kursi meja makan, bunda Sensa menghidangkan makan siang. Bunda Sensa sudah biasa meladeni kebutuhan putra putrinya, ia selalu senang melakukan itu.
"Makasih ya Bun." ucap Nata, saat tangan bunda Sensa mengambilkan lauk ayam goreng.
"Baby Saf-Saf kemana Bun?"
"Tadi abis nangis gara-gara terpeleset, setelah itu digendong Kak Seika dan dibawa kedalam kamar. Mungkin sekarang lagi tidur siang juga." bunda Sensa menjelaskan.
"Kalau baby Saf-Saf nggak tidur siang, pasti udah gangguin tidurnya Kak Taka." kata Nata.
"Mungkin Kakakmu kelelahan, biarkan saja dia tidur siang."
"Bunda nggak tidur siang?" Nata berganti menanyai bundanya.
"Bunda tadi udah tidur, terus denger suara baby Saf-Saf nangis jadi kebangun."
"Setelah ini Nata juga mau tidurlah Bun, capek."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sore hari Taka baru terbangun. Ia segera duduk dan bersandar di headbed.
"Lumayan kepalaku udah nggak pusing lagi." ucapnya pada diri sendiri. Saat ingin beranjak, tak sengaja manik mata itu menatap noda merah pada sarung bantal berwarna putih.
Taka keheranan, bingung, kenapa dari tadi hidungnya mengeluarkan darah?
Karna perutnya keroncongan, Taka mengabaikan itu dan segera melepas sarung bantal untuk ditaruh dikeranjang baju kotor.
Ia berlalu kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Lamanya dikamar mandi, ia sudah segar dengan rambut kepala yang basah.
Handuk putih ditaruh diatas leher dengan tangan yang mengusap-usap rambut agar cepat kering.
"U'um..." saat keluar dari pintu kamar mandi sudah disambut dengan suara baby Saf-Saf. Bocah balita itu sudah stay diatas bed dengan Bunda Sensa yang tersenyum simpul.
"Hei, keponakan Om..." Taka menaruh handuk ditempatnya dan beralih menggendong baby Saf-Saf. Sehari tidak bertemu membuatnya rindu, ia menciumi pipi baby Saf-Saf.
"U'um... li... haha..." baby Saf-Saf kegelian dan tertawa lebar.
"Taka, kamu dari sepulang sekolah belum makan siang. Ayo makan dulu," perintah Bunda Sensa.
"Taka belum laper Bun, nanti aja sekalian makan malam." jawab Taka.
Ia beralih menemani baby Saf-Saf bermain. Bunda Sensa masih memperhatikan keduanya.
"Taka, sarung batal mu kok sudah dilepas? Belum diganti lagi?" kata Bunda Sensa. Wanita paruh baya itu beranjak ingin membereskan. Tapi Taka mencegah.
"Jangan Bun, sudah biarkan. Besok saja diambil sama Mbak Ana."
"Ya sudah, Bunda turun kebawah ya... Sebentar lagi ayahmu pulang, kalau nggak disambut pasti ngomel-ngomel."
"Bunda titip baby Saf-Saf, jagain yang bener." pesannya.
"Iya Bun."
Bunda Sensa sudah hilang dibalik pintu, Taka yang biasanya penuh dengan keceriaan kini diam saja. 'Untung aja Bunda nggak jadi beresin sarung bantal itu.' batinnya.
"U'um, pu pu..." suara baby Saf-Saf membuyarkan lamunan.
"Kupu-kupu?" ulang Taka. Baby Saf-Saf mengangguk.
Taka menggendong baby Saf-Saf untuk turun kebawah. Ia langsung mengajak keponakannya untuk bermain di halaman depan.
Seperti tadi, ia duduk di gazebo dan membiarkan baby Saf-Saf berlarian kesana kemari.
"Sore-sore sudah bengong, awas ke sambet."
"Astarman... Ayah ngagetin aja sih, jantung Taka hampir aja copot." kesal Taka. Ia tak mendengar suara salam dari Ayah Arsel karna asik melamun.
"Ayah udah ngucap salam tapi kamu aja yang budek." Ayah Arsel tersenyum miring.
"Kamu kalau jagain baby Saf-Saf kebanyakan bengong, pantes aja keponakanmu bisa kecebur got."
"Ayah kenapa bahas itu lagi sih. Dari tadi Taka jagain baby Nutrigel, tadi cuma bengong sebentar kebayang yang itu."
"Yang itu apa?" Ayah Arsel yang penasaran malah duduk disamping Taka. Padahal Bunda Sensa sedang menunggu kepulangannya.
"Huh, mau tau aja urusan anak muda!" jawab Taka dengan tersenyum meledek.
"Cih, bocah ngeselin. Suka banget ngerjain orang tua!"
Taka menanggapi dengan cengengesan. "Ayah cepetan masuk, udah ditunggu Bunda didalam."
Mampir thor,kayaknya seru ceritanya..🙋🙋😄