NovelToon NovelToon
Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak tii

Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.

Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.

Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepasang cangkir di balkon

Suara jangkrik dari arah taman bawah terdengar samar di antara angin malam yang dingin. Aku masih berdiri mematung di sisi balkonku, sementara Mas Arkan yang kini berjarak tidak lebih dari tiga meter dariku perlahan menyesap kopi hangatnya dengan gerakan yang sangat tenang.

"Belum tidur?" tanya Mas Arkan tanpa menoleh. Pandangan matanya lurus menatap hamparan rumput hijau di bawah sana yang disorot oleh lampu taman berbentuk bulat.

"Belum, Mas. Masih agak asing sama udaranya, jadi belum bisa merem," jawabku jujur, merapatkan kedua lengan di depan dada untuk menghalau dingin yang mulai menusuk kulit kaos tipisku.

Mas Arkan menurunkan cangkirnya, meletakkannya di atas pembatas beton balkon kamarnya. Ia kemudian berbalik sepenuhnya menghadap ke arahku, menyandarkan pinggulnya pada pembatas semen tersebut sambil melipat kedua tangan di dada.

"Karin," panggilnya tenang.

"Iya, Mas?"

"Besok pagi, setelah ijab kabul selesai, status kita resmi berubah di mata agama. Saya tidak tahu apa yang ada di dalam kepala kamu sekarang, tapi saya ingin menegaskan satu hal agar kamu tidak perlu merasa tertekan selama menjalani ini."

Aku memiringkan kepala sedikit, mencoba menangkap maksud dari ucapannya yang terdengar sangat serius. "Hal apa, Mas?"

"Pernikahan ini memang diawali oleh kontrak dan kebutuhan finansial keluarga kamu. Tapi bagi saya, sebuah komitmen tetaplah komitmen. Saya tidak akan memperlakukan kamu seperti orang asing atau bawahan di rumah nanti," Mas Arkan menjeda kalimatnya sejenak, menatapku lurus-lurus dengan sorot mata yang kali ini terasa sangat hangat. "Saya akan menghormati batasan kamu, dan saya harap kamu juga bisa melakukan hal yang sama."

Mendengar penuturannya yang begitu dewasa, dadaku rasanya sedikit melunak. Semua prasangka buruk tentangnya yang sempat berputar-putar di kepalaku sejak siang tadi perlahan-lapan mulai memudar.

"Iya, Mas. Karin paham," ujarku dengan senyum tipis yang tulus. "Karin juga janji akan berusaha menjadi... istri kontrak yang baik buat Mas Arkan selama satu tahun ke depan."

Mas Arkan tampak tertegun mendengar kalimatku. Ia berdeham pendek, lalu kembali meraih cangkir kopinya dengan gerakan yang agak canggung. "Ya sudah. Masuk sana, udaranya makin dingin. Saya tidak mau besok pagi pengantin wanitanya flu saat akad nikah."

"Mas Arkan juga jangan kebanyakan minum kopi malam-malam, nanti malah gak bisa tidur," sahutku spontan sebelum sempat menyaring kata-kataku sendiri.

Mas Arkan menaikkan satu alisnya, menatap cangkir kopinya lalu kembali menatapku dengan sudut bibir yang tampak sedikit berkedut menahan senyum. "Kamu sekarang sudah berani mengatur dosen kamu, Karin?"

"E-eh! Bukan gitu, Mas! Maksud Karin cuma... ah, ya udah Karin masuk duluan! Selamat malam, Mas Arkan!" ujarku panik dengan wajah yang mendadak merah padam.

Tanpa menunggu jawabannya lagi, aku langsung berbalik arah dan berlari kecil masuk ke dalam kamar tidurku, lalu menutup pintu geser balkon dengan rapat. Di balik tirai putih yang tipis, aku bisa mendengar kekehan kecil yang sangat pelan dari arah balkon sebelah—sebuah suara tawa renyah yang belum pernah sekalipun kudengar selama berada di lingkungan kampus.

Sabtu pagi, pukul tujuh.

Kamar tamuku sudah mendadak ramai sejak subuh tadi. Dua orang perias wanita paruh baya yang dibawa oleh bibinya Mas Arkan tampak sibuk merias wajahku dengan sapuan kosmetik yang natural namun sangat anggun. Rambutku yang biasanya hanya dikuncir kuda kini disanggul rapi dan ditutup dengan kerudung brokat putih bersih yang menjuntai indah hingga ke bahu.

"Wah, Non Karin cantik sekali. Pangling lho, pas sekali dengan kebaya putihnya," puji salah satu perias sambil merapikan lipatan jarik batik yang kupakai sebagai bawahan.

Aku menatap pantulan diriku sendiri di cermin besar. Aku hampir tidak mengenali gadis yang ada di dalam cermin itu. Balutan kebaya akad berwarna putih gading dengan payet-payet halus membuatku terlihat jauh lebih dewasa dan anggun dari biasanya.

"Karin, sudah siap, Nak?"

Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok Tante Amara—adik kandung almarhumah ibu Mas Arkan—yang tampil sangat elegan dengan kebaya berwarna krem. Beliau tersenyum sangat hangat begitu melihat penampilanku, lalu berjalan mendekat untuk menggenggam kedua tanganku yang terasa sangat dingin dan gemetaran.

"Cantik sekali menantu Kakek Danu ini," ujar Tante Amara tulus, mengusap punggung tanganku dengan lembut. "Ayo sayang, kita turun ke bawah. Mas Arkan dan rombongan sudah bersiap menuju masjid kompleks."

Aku menarik napas sedalam-dalamnya, mencoba menenangkan debaran jantungku yang kini sudah seperti genderang perang. Dengan langkah yang sangat pelan karena terhalang oleh kain jarik yang ketat, aku berjalan keluar kamar didampingi oleh Tante Amara di sebelah kananku.

Masjid kecil di sudut kompleks perumahan itu tampak sangat tenang dan teduh pagi ini. Hanya ada beberapa baris mobil keluarga yang terparkir rapi di halaman depan. Aroma harum bunga melati dan wewangian kayu cendana langsung menyambut indra penciumanku begitu aku melangkah masuk ke dalam area aula utama masjid.

Di bagian depan, dekat mimbar kayu yang berukir indah, sekelompok orang sudah duduk melingkar di atas karpet hijau yang tebal.

Mataku langsung tertuju pada sesosok pria yang duduk membelakangiku di hadapan meja kayu kecil berukuran rendah. Pria itu mengenakan beskap akad berwarna putih bersih yang sangat pas di tubuh tegapnya, lengkap dengan peci senada yang dihiasi melati kecil di bagian sampingnya.

Itu adalah Mas Arkan.

Saat aku dipandu untuk duduk di kursi kayu kecil yang diletakkan agak di belakang sebelah kirinya, Mas Arkan perlahan memutar tubuhnya setengah lingkaran untuk menatapku.

Detik itu juga, napasku rasanya seperti tercekat di tenggorokan.

Mas Arkan tampak sangat tampan dan berwibawa dengan pakaian adat pernikahan tersebut. Kacamata bacanya dilepas, menampilkan sepasang mata tajamnya yang kini menatapku tanpa berkedip selama beberapa detik penuh. Ada binar keterkejutan yang sangat jelas di matanya saat melihat penampilanku pagi ini.

"Arkananta Dewangga, apakah sudah siap?" tanya sang penghulu paruh baya yang duduk di hadapan meja kayu kecil, memegang berkas pernikahan kami.

"Siap, Pak," jawab Mas Arkan dengan suara yang sangat mantap dan terdengar sangat tenang di seluruh penjuru ruangan masjid yang sunyi.

Penghulu tersebut kemudian meraih tangan kanan Mas Arkan, menjabatnya dengan erat di atas meja kayu kecil. Di sebelah mereka, Pak Danu dan beberapa saksi dari pihak KUA tampak menyimak dengan raut wajah yang sangat serius dan khidmat.

"Saudara Arkananta Dewangga bin almarhum Hendra Dewangga, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan saudari Karin Senjana binti almarhum Gunawan, yang wali nikahnya telah dipasrahkan kepada saya dengan mas kawin berupa seperangkat alat shalat dan logam mulia seberat dua puluh gram dibayar tunai."

Jabat tangan itu mengencang. Mas Arkan menarik napas dalam-dalam, lalu mengucapkan kalimat kabul dengan satu tarikan napas yang sangat tegas dan lancar tanpa keraguan sedikit pun.

"Saya terima nikah dan kawinnya Karin Senjana binti almarhum Gunawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya sang penghulu lantang.

"Sah!" sahut Pak Danu dan para saksi bersamaan dengan nada suara yang penuh rasa syukur.

"Alhamdulillah..."

Doa pernikahan mulai dilantunkan dengan sangat syahdu oleh sang penghulu. Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam, memejamkan mata rapat-rapat saat setetes air mata hangat tanpa sadar perlahan luruh membasahi pipiku.

Rasa haru, takut, dan lega bercampur menjadi satu di dalam dadaku. Mulai detik ini, hidupku bukan lagi hanya milikku sendiri. Aku telah resmi menjadi seorang istri dari pria yang selama ini paling aku takuti di meja sidang kampus.

1
Rian Moontero
mampiiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!