Ketika langit malam berkedip dan suara mekanis yang dingin bergema di benak miliaran manusia, Bumi tidak lagi sama. Kiamat tidak datang membawa api dari neraka atau wabah mematikan, melainkan sebuah layar biru transparan yang melayang di udara.
Era damai telah dihancurkan oleh "Sistem". Manusia secara paksa ditarik ke dalam arena kelangsungan hidup semesta, di mana monster bermunculan dari bayang-bayang dan hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Beradaptasi, berevolusi, atau mati.
Yudha, seorang mekanik penyendiri yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada manusia, secara tidak sengaja meretas anomali sesaat sebelum kiamat dimulai. Berkat sebuah kubus hitam misterius yang ia temukan di pasar loak, Sistem salah mengidentifikasinya dan memberikannya kelas yang belum pernah tercatat dalam sejarah integrasi: Mekanik Kosmik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Reruntuhan Kuno dan Medan Berdarah
Langit siang tertutup awan kelabu tebal, menghalangi terik matahari dan menyisakan bayang-bayang panjang di antara puing-puing kota.
Perjalanan menuju pusat kota bukanlah hal yang mudah. Jalanan utama telah terbelah oleh akar-akar tanaman bermutasi yang tiba-tiba tumbuh raksasa, menghancurkan beton dan menelan mobil-mobil yang terjebak macet di hari kiamat.
Yudha bergerak memimpin di garis depan, melompati celah aspal dengan kelincahan yang membuat Lin Tian dan Lin Chen harus mengerahkan seluruh tenaga untuk mengimbanginya. Di belakang mereka, Kumbang Baja Pengangkut merayap tanpa suara, kakinya yang berujung tajam menancap di dinding gedung-gedung runtuh untuk menghindari jalan utama, bergerak layaknya laba-laba logam raksasa pembawa maut.
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, menghindari gerombolan monster tingkat rendah dan membunuh belasan lainnya dalam senyap, Yudha akhirnya mengangkat tangan kirinya.
Rombongan kecil itu segera berhenti. Mereka kini berada di atap sebuah gedung perkantoran sepuluh lantai yang setengahnya telah runtuh, memberikan pandangan luas ke arah alun-alun pusat kota.
"Lihat itu," bisik Lin Chen, napasnya sedikit tertahan karena takjub.
Di tengah-tengah alun-alun yang dulunya merupakan pusat perbelanjaan elit dan taman kota, tanah telah terbelah. Dari dalam perut bumi, mencuat sebuah struktur bangunan raksasa berbentuk limas segi empat yang terbuat dari logam hitam keperakan. Bangunan itu tidak memiliki jendela, hanya garis-garis cahaya kebiruan yang mengalir di permukaannya layaknya urat nadi mesin.
Sebuah kubah energi transparan berbentuk setengah lingkaran melindungi struktur raksasa tersebut. Namun, kubah itu tampak tidak stabil. Permukaannya berkedip-kedip dan dipenuhi retakan-retakan kecil yang memercikkan kilat energi setiap kali angin berhembus.
"Reruntuhan Peradaban Kuno," gumam Lin Tian, mencengkeram erat gagang Tombak Penembus Tulang di tangannya.
Yudha tidak mengatakan apa-apa. Mata tajamnya menembus jarak dua kilometer, mengamati situasi di luar kubah energi. Kecerdasannya yang mencapai 33 titik membuat penglihatannya setajam elang.
Pusat kota itu tidak kosong. Ratusan manusia telah berkumpul di sekitar alun-alun, mengepung struktur limas tersebut. Mereka tidak menyatu, melainkan terbagi menjadi tiga kubu besar yang saling menjaga jarak dengan senjata terhunus.
"Manusia," desis Yudha pelan.
"Ketua, jumlah mereka terlalu banyak," kata Lin Tian dengan nada khawatir, meski tidak ada sedikit pun niat untuk mundur di wajahnya. "Setiap kelompok setidaknya memiliki lebih dari seratus orang. Saya melihat senjata api... senapan serbu peninggalan militer dan polisi."
"Senjata dunia lama," balas Yudha dingin, nada suaranya penuh cibiran. "Peluru timah biasa yang ditembakkan dengan bubuk mesiu tidak akan mampu menembus kulit monster Tingkat 4, apalagi zirah pelindung milik mereka yang berada di Tingkat 5. Mereka membawa senapan bukan untuk membunuh penjaga reruntuhan, tapi untuk menakut-nakuti dan membantai sesama manusia yang masih lemah."
Yudha menyipitkan matanya, memfokuskan pandangan pada kelompok terbesar yang menduduki sisi selatan alun-alun, tepat menghadap apa yang tampaknya merupakan gerbang utama reruntuhan.
Kelompok itu mengibarkan sebuah kain merah yang diikatkan pada tiang besi. Di barisan paling depan, berdiri seorang pria bertubuh kekar setinggi dua meter. Pria itu tidak mengenakan baju zirah, melainkan membiarkan dada berototnya terbuka. Seluruh lengannya dipenuhi tato, dan ototnya memancarkan warna merah tembaga yang tidak wajar. Di tangannya, ia memegang sebuah kapak raksasa.
"Itu pasti Kelompok Darah Besi yang berteriak di forum semalam," nilai Yudha. "Pria di depan itu setidaknya berada di batas atas Tingkat 5. Atribut utamanya pasti Ketahanan dan Kekuatan."
Lin Chen menatap ketua mereka dengan tegang. "Jika kubah itu hancur, mereka pasti akan langsung menyerbu masuk melalui pintu utama. Apa kita akan menerobos barisan mereka, Ketua?"
"Menerobos pintu depan adalah pekerjaan orang-orang bodoh yang gila pujian," jawab Yudha.
Ia mengangkat lengan mekanisnya yang berwarna hitam pekat. Cahaya biru dari kelas kemampuannya memancar pelan ke arah mata kanannya, menciptakan semacam kacamata pemindai holografik searah. Dengan bantuan Daya Komputasinya, ia mulai menganalisis aliran energi di permukaan kubah dan limas hitam tersebut.
Garis-garis cahaya biru dan merah tergambar di pandangan Yudha, memetakan sirkuit raksasa dari bangunan kuno itu.
"Mesin sebesar ini, tidak peduli seberapa maju peradabannya, pasti membutuhkan saluran pembuangan panas dan energi sisa," gumam Yudha, otaknya bekerja dengan kecepatan komputasi penuh. "Arah aliran energi utama bermuara di sisi utara... tersembunyi di bawah puing-puing stasiun kereta bawah tanah."
Yudha mematikan pemindainya, lalu berbalik menatap kedua murid intinya. Senyum tipis yang mencerminkan kekejaman dan perhitungan matang terbentuk di wajahnya.
"Kita biarkan anjing-anjing liar itu saling menggigit di pintu depan," perintah Yudha mutlak. "Kubah itu akan hancur malam ini. Kita akan memutar ke sisi utara, turun ke jalur kereta bawah tanah, dan masuk melalui saluran pembuangan energi utama reruntuhan tersebut."
"Masuk dari bawah tanah?" Lin Tian terkejut, namun matanya langsung berbinar paham. "Kita akan mencapai inti reruntuhan sebelum mereka semua menyadari bahwa pintu utama hanyalah jebakan!"
"Tepat," Yudha mengangguk. "Tugas kalian adalah membunuh penjaga mekanis atau monster apa pun yang ada di saluran tersebut dalam senyap. Jangan gunakan senjata api atau ledakan besar. Biarkan suara pertempuran di luar menutupi jejak kita."
Yudha kemudian menepuk cangkang Kumbang Baja Pengangkut yang bersiaga di dekatnya. Mesin raksasa itu langsung melipat kaki-kakinya, merendahkan posturnya agar menyatu dengan bayang-bayang gedung.
"Kumbang ini akan menunggu kita di terowongan kereta bawah tanah. Begitu kita mendapatkan apa yang kita inginkan dari dalam, kita keluar, menguras sisa sumber daya, dan kembali ke markas tanpa ada yang tahu siapa yang mencuri hadiah utama mereka."
Yudha menarik tudung jaketnya menutupi kepala. Lengan mekanisnya mendengung pelan, bersiap untuk pertempuran.
"Ayo bergerak. Kegelapan adalah kawan terbaik kita hari ini."