NovelToon NovelToon
Jebakan Manis untuk Sang CEO

Jebakan Manis untuk Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Healing / Putri asli/palsu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

### Bab 3

Tiga hari setelah Keira meminta jadwal Lim Richard, Pak Hasan masuk ke ruang makan sambil membawa nampan teh dan satu kalimat yang membuat sendok di tangan Keira berhenti bergerak.

"Non Kei, Pak Lim akan datang sore ini."

Engkong yang sedang membaca koran di ujung meja mengangkat wajah. "Pak Lim siapa?"

Keira menurunkan sendoknya pelan. "Lim Richard, Engkong. Teman lama Papa."

Kerutan di dahi Engkong mengendur sedikit. Nama itu seperti kunci kecil yang membuka laci ingatan. "Richard? Anaknya Lim?"

"Iya, Kong."

"Hendra pernah cerita." Engkong meletakkan koran, matanya berubah lebih hidup. "Anak itu dulu keras kepala. Kalau sudah pegang keputusan, susah dibelokkan."

Keira tersenyum manis. "Berarti cocok berteman dengan Papa."

Engkong tertawa pelan. Tawa itu membuat dada Keira menghangat, tetapi hanya sebentar. Di bawah meja, jari-jarinya menyentuh ujung ponsel. Pesan dari Pak Hasan masih terbuka di layar.

Pak Lim minta waktu bertamu pukul lima. Bawa asisten. Katanya ingin menyampaikan salam untuk Engkong.

Pukul lima kurang sepuluh, Rumah Keluarga Tan sudah berubah.

Pak Hasan memastikan ruang tamu utama dibersihkan dua kali. Teh oolong terbaik dikeluarkan dari lemari kayu. Vas berisi anggrek putih dipindah ke meja tengah. Rumah kolonial tua di Menteng itu tidak pernah kekurangan kemewahan, tetapi sore ini kemewahan itu terasa lebih waspada, seperti seluruh rumah tahu tamu yang datang bukan orang biasa.

Keira memilih blus putih berlengan panjang dan rok warna krem. Rambutnya diikat setengah, riasannya tipis. Ia ingin terlihat seperti cucu keluarga baik-baik yang tidak tahu caranya meminta perlindungan, bukan perempuan yang mengatur seluruh papan catur sejak The Jade Lounge.

Saat suara mobil berhenti di halaman depan, Pak Hasan menatap Keira sebentar.

"Non Kei yakin?"

Keira tersenyum lembut. "Saya cuma menyajikan teh, Pak."

Pak Hasan tidak percaya, tetapi ia tetap membukakan pintu.

Richard masuk dengan jas gelap dan kemeja putih tanpa motif. Jason berjalan setengah langkah di belakangnya, membawa map tipis. Tidak ada pengawal yang terlihat, tetapi entah mengapa halaman depan terasa lebih diam sejak mobil itu berhenti.

Keira berdiri di samping sofa, menunduk sopan. "Selamat sore, Om."

Mata Richard berhenti padanya sejenak. "Keira."

Hanya namanya. Pendek. Datar. Namun Keira mendengar Jason menarik napas sangat pelan, seolah mencatat sesuatu yang tidak ditulis di map.

Engkong keluar dari ruang dalam dengan tongkat ringan. Keira segera bergerak mendekat, tetapi Richard sudah lebih dulu melangkah. Ia menunduk sedikit, sikapnya hormat tanpa berlebihan.

"Om Budi."

Engkong menatapnya lama, lalu wajah tuanya melunak. "Richard. Sudah besar kamu."

"Sudah terlalu lama saya tidak datang."

"Hendra pasti senang kalau tahu kamu masih ingat rumah ini."

Nama Papa membuat ruangan itu hening sebentar.

Keira menunduk. Di matanya ada basah yang tidak perlu ia paksa. Bagian ini mudah. Papa selalu menjadi luka yang jujur.

Engkong duduk. Richard duduk di sofa seberangnya. Jason tetap berdiri sampai Engkong melambaikan tangan.

"Duduklah. Jangan kaku begitu. Di rumah ini teman Hendra bukan tamu asing."

Jason duduk dengan sopan. "Terima kasih, Pak Tan."

Keira menyajikan teh. Tangannya stabil saat menuang, tetapi ia sengaja berhenti sebentar di depan Richard, seolah gugup karena dekat dengannya.

"Tehnya, Om."

Richard menerima cangkir itu. Jari mereka tidak bersentuhan. Keira memang tidak merencanakannya. Sentuhan terlalu cepat akan terlihat murah.

"Terima kasih."

Percakapan berjalan pelan. Engkong bertanya tentang Lim Group, tentang kabar keluarga Lim, lalu tiba-tiba lupa pertanyaan yang baru saja ia ajukan. Keira mengulang dengan lembut, seolah itu hal biasa. Richard melihat semuanya. Cara Keira membetulkan selimut tipis di lutut Engkong. Cara Pak Hasan langsung mengganti obat kecil di meja tanpa diminta. Cara rumah ini mengelilingi Engkong dengan hati-hati.

Keira tahu ia sedang dilihat.

Maka ia menjadi lebih diam.

Gadis yang baik tidak perlu menjelaskan bahwa ia berbakti.

Ia cukup membiarkan orang lain menyaksikannya.

Setengah jam kemudian, suara hak tinggi terdengar dari teras.

"Loh, ramai sekali?" suara perempuan muda masuk lebih dulu sebelum orangnya muncul. "Keira, kamu enggak bilang ada tamu."

Ong Felicia berdiri di pintu ruang tamu dengan tas desainer di siku. Rambutnya dicatok rapi, bibirnya merah muda mengilap. Ia berhenti saat melihat Richard, lalu ekspresinya berubah cepat. Terkejut, kemudian tersenyum terlalu manis.

"Pak Lim?" Felicia hampir tersedak oleh antusiasmenya sendiri. "Aduh, maaf, saya tidak tahu."

Keira berdiri. "Felicia, ini Om Lim. Teman lama Papa. Om, ini Felicia, adik Kevin."

Felicia melirik Keira saat nama Kevin disebut, lalu tertawa kecil. "Iya, calon adik iparnya Keira. Walaupun jujur saja, kadang saya bingung harus panggil dia apa. Di rumah kami, Keira itu seperti tamu penting yang semua orang harus jaga perasaannya."

Ruang tamu mendadak lebih sunyi.

Pak Hasan yang berdiri dekat pintu menegang.

Keira menunduk. "Fel, jangan bicara begitu di depan Engkong."

"Loh, aku bercanda." Felicia berjalan masuk tanpa menunggu dipersilakan. "Keira kan paling sensitif. Dulu Ko Kevin cuma telat jemput saja bisa bikin seluruh rumah panik."

Engkong mengerutkan dahi. "Kevin sering telat jemput Kei?"

Felicia sadar ia salah memilih arah, tetapi terlambat. Ia tersenyum kikuk. "Bukan sering, Engkong. Cuma ya... Ko Kevin kan sibuk. Apalagi sekarang ada asisten baru yang banyak dibimbing."

Jari Keira berhenti di sisi nampan.

Ini dia.

Ia mengangkat wajah sedikit. "Asisten baru?"

Felicia tertawa, merasa menemukan topik aman untuk mengalihkan kesalahan. "Iya. Cantik juga orangnya. Namanya Vanya. Ko Kevin bilang dia pintar tapi perlu banyak bantuan. Makanya akhir-akhir ini mereka sering lembur."

Jason menurunkan pandangan ke map di pangkuannya.

Gerakannya kecil, tetapi Keira melihatnya.

Richard juga melihat.

Keira memucat pelan. Bukan karena terkejut. Karena ia ingin semua orang melihat wajah seorang tunangan yang baru mendengar calon suaminya dekat dengan asisten cantik.

"Oh," katanya lirih. "Kevin tidak pernah cerita."

Felicia menggigit bibir. Baru sekarang ia sadar percakapannya tidak membuat Keira malu sendirian. Ia juga sedang memperlihatkan Kevin di depan Lim Richard.

"Mungkin lupa," gumam Felicia.

Richard meletakkan cangkir tehnya di meja. Suaranya sangat pelan, tetapi Felicia langsung menoleh.

"Kamu biasa membicarakan urusan kakakmu seperti ini di rumah orang?"

Wajah Felicia memerah. "Saya..."

"Felicia hanya bercanda, Om," Keira memotong lembut.

Kalimat itu terdengar seperti pembelaan. Padahal Keira tahu, semakin ia membela, semakin buruk Felicia terlihat.

Rahang Richard mengeras sedikit.

Engkong menatap Felicia dengan kecewa. "Felicia, kalau datang ke rumah orang, jaga mulut."

"Iya, Engkong. Maaf." Felicia menunduk, tetapi matanya sempat menusuk Keira. "Saya cuma mampir sebentar. Mama suruh ambil dokumen Kevin."

Pak Hasan langsung bergerak. "Saya ambilkan, Nona Felicia."

Felicia tidak punya alasan untuk tinggal. Setelah menerima amplop dokumen dari Pak Hasan, ia pamit dengan senyum yang sudah retak. Ketika langkahnya hilang di teras, udara ruang tamu terasa lebih ringan, tetapi ketegangan yang ia tinggalkan belum pergi.

Engkong mengusap punggung tangan Keira. "Kei, Kevin baik padamu?"

Keira berlutut kecil di samping kursi Engkong, bukan karena drama, tetapi karena posisi itu membuat wajahnya berada tepat di bawah pandangan Richard.

"Baik, Kong." Ia tersenyum. "Mungkin dia memang sibuk."

Engkong masih tampak tidak puas. "Kalau dia tidak baik, bilang Engkong."

"Iya."

Richard tidak mengatakan apa pun sampai ia pamit satu jam kemudian.

Di depan pintu utama, senja sudah turun. Jason lebih dulu menuju mobil, memberi ruang yang terlalu jelas untuk disebut kebetulan. Pak Hasan berdiri agak jauh. Engkong sudah masuk untuk minum obat.

Keira mengantar Richard sampai teras.

"Terima kasih sudah datang, Om."

Richard menatapnya. "Kalau ada masalah, hubungi saya langsung. Bukan Jason."

Keira mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya sore itu, ia membiarkan keterkejutan terlihat utuh. "Saya boleh?"

Richard mengambil ponselnya, lalu menyebutkan nomor.

Keira mengetiknya pelan, memastikan tidak ada satu digit pun salah. Saat nama kontak tersimpan, layarnya menampilkan dua kata yang membuat darahnya berdesir.

Om Lim.

"Jangan simpan untuk keadaan darurat saja," kata Richard.

Keira menatapnya, seolah tidak mengerti.

Richard sudah berbalik menuju mobil sebelum ia sempat menjawab. Rolls-Royce hitam itu meninggalkan halaman Rumah Keluarga Tan dengan tenang, tetapi di dada Keira, sesuatu meledak tanpa suara.

Ia menunduk menatap nomor pribadi itu.

Wajahnya tetap patuh.

Di dalam hatinya, hanya ada satu kata.

Jackpot.

1
aku
up
aku
🌹🌹 semangat up
aku
jangan smpe nikah key. pas acara tunangan aja ksih bom nya
aku
jelas bukan ko jason 🤣🤣
aku
staf yg bawa troli si jason 🤣🤣🤣
aku
cembokur pak lim 😃😃
aku
wow key, cerdas!!
aku
terharu aku key...😭😭😭 ayo key semangat 😁😁
aku
kei 😭😭 ayo andalkan dirimu sendiri kei. jgn lagi pke perasaan. biar gk sakit lg hatimu 😭😭
aku
pak hasan jawi pundhi?? kulo jawa timur 😁😁
aku
di sinopsis namanya LIM RENATA tor. disini LIM RICHARD 🤔 jd yg mana?? 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!