NovelToon NovelToon
Bukan Ibu Tiri Biasa

Bukan Ibu Tiri Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15: Mama Sudah Kembali

"Tentang Ning." Suara Kevin rendah. "Tentang mamamu."

Jari Kian berhenti di atas controller.

Di layar besar, karakter dengan nama `mama_ning` masih berdiri di tengah reruntuhan kota digital. Musik permainan terus berjalan, keras dan tegang, tapi ruang permainan mendadak terasa seperti disumpal kapas.

Kian tidak menoleh.

"Jangan pakai kata itu buat bercanda."

"Aku tidak bercanda."

"Kalau soal lu nikah lagi, gue udah tahu." Kian tertawa pendek, kasar. "Grup anak-anak lebih cepat dari grup orang tua. Katanya Kevin Nie mendadak punya istri muda. Selamat."

Kevin menerima sindiran itu tanpa berkedip. "Istriku adalah Ning."

"Ya. Tutor itu." Kian melempar controller ke sofa sebelah. "Terus? Lu mau gue panggil dia apa? Nyonya baru? Ibu tiri? Jangan mimpi gue bakal ikut drama keluarga bahagia."

"Dia bukan hanya ibu tirimu."

Kian akhirnya menoleh.

Matanya tajam, dingin, dan penuh peringatan.

Kevin berdiri dari sofa. Ia tidak mendekat terlalu cepat. Anak itu seperti kaca yang sudah retak sejak kecil; satu tekanan salah bisa membuat semuanya pecah.

"Ning adalah mamamu."

Selama beberapa detik, Kian hanya menatapnya.

Lalu ia tertawa.

Tawa itu kosong, terlalu keras, terlalu menyakitkan untuk ruangan yang hanya berisi dua orang.

"Lu gila?" Kian berdiri sampai kursinya terdorong ke belakang. "Serius, Pak Kevin? Setelah nikah lagi, lu pakai almarhum mamaku buat bikin gue nerima perempuan itu?"

"Kian."

"Jangan panggil gue kayak gitu!" Kian menunjuk Kevin dengan tangan gemetar. "Mamaku sudah meninggal. Enam belas tahun. Lu sendiri yang bawa gue ke makamnya setiap tahun. Lu sendiri yang taruh bunga di sana. Sekarang lu bilang tutor yang baru datang itu mamaku?"

Kevin membiarkan kemarahan itu keluar.

Ia pantas mendapatkannya.

"Aku tahu ini terdengar mustahil."

"Bukan terdengar. Memang mustahil!"

"Aku juga berpikir begitu."

"Berhenti."

"Dengarkan aku dulu."

"Gue gak mau dengar!"

Kian menyambar headset dari meja, tapi tangannya terlalu gemetar. Headset itu jatuh ke lantai. Suara plastik menghantam marmer membuat ia tersentak sendiri.

Kevin mengambil tablet dari meja kecil. Ia membuka folder yang sudah disiapkan Jovi, lalu meletakkannya di depan Kian tanpa memaksa anak itu menyentuh.

"Aku tidak akan minta kamu percaya hanya karena aku bilang."

Kian menatap tablet itu seperti benda beracun.

Kevin menggeser layar pertama.

"Archer Club Jakarta. Tiga tembakan. Tiga kali tepat di tengah. Posisi tubuhnya sama dengan mamamu dulu."

"Banyak orang bisa memanah."

"Tidak dengan kebiasaan menahan napas di hitungan ketiga sebelum melepas."

Kian membeku.

Kevin menggeser layar berikutnya. Foto CCTV kecelakaan kecil beberapa hari lalu muncul. Di sana, Ning memeluk Kian dari samping saat mobil terguncang.

"Saat mobil kita ditabrak, dia melindungimu dengan posisi yang sama seperti mamamu melindungimu enam belas tahun lalu. Dia belum pernah melihat rekaman kecelakaan itu."

"Kebetulan."

"Dia tahu Yenni punya cedera lama di pinggang kanan. Cedera itu terjadi waktu sekolah. Tidak ada di internet, tidak ada di catatan pelanggan, bahkan banyak kerabat Yenni tidak tahu."

Kian menelan ludah.

Kevin tidak berhenti.

"Dia tahu kamu suka rasa delima sebelum kamu bilang. Dia takut gelap dengan cara yang sama. Dia melihat buku seni mamamu seperti orang yang pulang ke barang miliknya sendiri. Dia memandangmu saat pertama kali bertemu..."

Suara Kevin tertahan sebentar.

"...seperti seorang ibu yang akhirnya melihat anaknya hidup."

Kian mundur satu langkah.

"Diam."

"Kian."

"Gue bilang diam!"

Kian menendang kaki meja. Controller di sofa bergetar karena benturan. Napasnya cepat. Rambut peraknya jatuh menutupi dahi, tapi Kevin masih bisa melihat mata anak itu mulai basah.

"Kalau benar, kenapa dia gak bilang?" Suara Kian pecah. "Kenapa dia datang sebagai tutor? Kenapa dia biarin gue ngusir dia? Kenapa dia senyum waktu gue jahat?"

Pertanyaan itu bukan lagi perlawanan.

Itu luka.

Kevin menjawab pelan, "Karena dia takut kamu tidak percaya. Karena dia takut melukai kamu. Karena bagi dunia, dia perempuan dua puluh lima tahun yang tidak punya hubungan darah denganmu."

"Tapi kalau dia..."

Kian tidak sanggup menyelesaikan kalimat.

Ia berbalik, menatap layar permainan. Karakter `mama_ning` diserang musuh karena terlalu lama diam. Health bar turun sampai nyaris kosong.

Di kepala Kian, potongan-potongan beberapa hari terakhir berjatuhan seperti pintu yang dibuka paksa.

Ning berdiri di depan pintu rumah dengan wajah pucat, matanya langsung merah ketika melihatnya.

Ning menerima hinaannya tanpa membalas, lalu menyelipkan nomor ponsel di celah pintu seperti seseorang yang tidak rela benar-benar pergi.

Ning di mobil, memeluk tubuhnya saat benturan datang, tangannya dingin tapi kuat.

Ning di Archer Club, tertawa sambil berkata mungkin ia memang ditakdirkan menjadi ibu tirinya.

Waktu itu Kian hanya merasa kalimat itu aneh.

Sekarang kalimat itu menghantamnya sampai dada terasa kosong.

"Dia nangis waktu lihat gue," bisik Kian.

Kevin tidak menjawab.

"Waktu pertama datang. Gue kira dia pura-pura kasihan. Tapi dia..."

Bahunya mulai bergetar.

Kian menutup wajah dengan kedua tangan. Ia masih berdiri, masih mencoba terlihat marah, tapi tubuhnya sudah menyerah lebih dulu.

"Kenapa baru sekarang?" suaranya pecah. "Kenapa dia gak datang waktu gue kecil? Waktu gue demam? Waktu gue..."

Ia berhenti, menggigit bibir sampai memutih.

Kevin mengambil satu langkah.

Kian tidak mundur.

Itu izin paling kecil yang pernah diberikan anak itu.

Kevin mengangkat tangan, berhenti di udara sebentar, lalu meletakkannya di bahu Kian.

Sentuhan itu kaku.

Tidak terlatih.

Tapi nyata.

Kian menunduk. Tangisnya akhirnya pecah tanpa suara. Ia jongkok di lantai, kedua tangan menutupi wajah, rambut peraknya menutupi semuanya. Bahunya terguncang keras, seperti anak kecil yang sejak lama menahan tangis karena tidak ada orang yang cukup aman untuk melihatnya.

Kevin berlutut di depannya.

Ia tidak memeluk. Ia tahu Kian mungkin belum sanggup.

Ia hanya tetap meletakkan tangan di bahu anaknya.

"Aku juga terlambat tahu," kata Kevin. "Maaf."

Kian menggeleng cepat, tapi tidak jelas menolak apa. Menolak maaf itu, menolak kenyataan, atau menolak rasa lega yang datang terlalu sakit.

"Dia tahu lu tahu?"

"Belum."

Kian mengangkat wajah. Matanya merah. "Apa?"

"Ning belum tahu aku sudah tahu."

"Kenapa?"

Kevin menatap anaknya dengan lelah yang tidak pernah ia tunjukkan di meja makan. "Karena dia sudah kehilangan terlalu banyak kendali atas hidupnya. Kali ini, biarkan dia memilih sendiri kapan akan bicara."

Kian mengusap wajah kasar-kasar. "Makanya lu nikahin dia hari ini?"

Kevin diam sesaat.

Diam itu cukup untuk menjadi jawaban.

"Gila." Kian tertawa serak, tapi air matanya masih jatuh. "Jadi gosip di grup itu bener. Lu beneran nikah mendadak sama dia."

"Ya."

"Karena mau lindungi dia?"

"Karena dia terlalu mudah diserang kalau tetap berdiri sendirian." Kevin menatap layar yang masih berkedip di belakang Kian. "Keluarga Tju yang sekarang sudah melukainya. Lingkungan kerja bisa memanfaatkan dia. Orang-orang Menteng akan mengunyah namanya begitu tahu dia dekat denganmu. Kalau dia menjadi istriku, mereka harus melewati aku dulu."

Kian menggigit bagian dalam pipinya.

Ia seharusnya marah karena keputusan sebesar itu dibuat tanpa bertanya kepadanya. Tapi di balik rasa marah, ada perasaan lain yang lebih memalukan: lega. Untuk pertama kalinya, ada orang dewasa yang bergerak cepat bukan untuk menutup mulutnya, bukan untuk menyuruhnya bersikap sopan, melainkan untuk melindungi perempuan yang tanpa sadar sudah ia tunggu seumur hidup.

"Dia sakit?" tanya Kian tiba-tiba.

"Demam. Sudah diperiksa."

"Kenapa lu tinggalin dia di rumah sakit?"

"Ada dokter dan Jovi di sana. Aku harus memberitahumu sebelum kamu mendengar dari orang lain."

Kian menunduk lagi. Jari-jarinya meremas ujung hoodie.

"Waktu kecil gue sering mikir," katanya pelan, nyaris tidak terdengar, "kalau suatu hari dia pulang, gue bakal langsung tahu. Gue bakal lari. Gue bakal peluk."

Kevin merasakan sesuatu di dadanya retak.

"Tapi pas dia beneran datang, gue malah ngusir dia."

"Kamu tidak tahu."

"Tetap aja gue ngusir dia."

Kevin tidak punya kalimat yang bisa membuat itu lebih ringan. Ia hanya bisa tetap di sana, tidak pergi seperti yang terlalu sering ia lakukan dulu ketika Kian menangis di kamar dan ia berdiri di balik pintu tanpa tahu harus mengetuk atau tidak.

Kian menyeka wajah dengan lengan hoodie. "Jadi kita pura-pura gak tahu?"

"Ya."

"Gue harus akting?"

"Tidak terlalu sulit. Kamu selalu pura-pura tidak peduli."

Kian menatap Kevin, antara ingin marah dan ingin tertawa, lalu akhirnya menunduk lagi. Air matanya jatuh ke lantai.

"Kalau gue gak kuat?"

"Keluar dari ruangan. Marah padaku. Pukul bantal. Apa saja." Kevin berhenti sebentar. "Tapi jangan lukai dia."

Kian memejamkan mata.

Jangan lukai dia.

Kalimat itu terdengar seperti perintah, tapi juga seperti permohonan dari seorang pria yang sudah pernah gagal melindungi perempuan yang sama.

"Gue udah pernah nyakitin dia," gumam Kian.

"Kita perbaiki pelan-pelan."

"Kita?"

Kevin mengangguk.

Kata itu menggantung di antara mereka. Kita. Untuk pertama kalinya, bukan Kevin di satu sisi dan Kian di sisi lain, melainkan dua orang yang sama-sama berdiri di depan rahasia yang harus dijaga.

Di layar, karakter `mama_ning` akhirnya tumbang.

Musik permainan berubah. Sebuah kotak pilihan muncul di tengah layar.

`Bangkit kembali?`

Kian menatap tulisan itu lama sekali.

Tangannya masih gemetar saat mengambil controller dari sofa. Ia menekan tombol `Ya`.

Cahaya keemasan meledak di layar. Karakter itu berdiri lagi, health bar kembali terisi setengah.

Kian menarik napas panjang, lalu menghapus sisa air mata dengan punggung tangan.

Ia menoleh ke Kevin.

Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya tidak tajam.

"Terima kasih..." Kian berhenti, seolah kata berikutnya tersangkut di tempat yang terlalu dalam. "Karena gak berhenti mencari dia."

1
Siti Hawa
ceritanya bagus, ku kasih Bintang 5 thoor..
Siti Hawa
lanjut thoor.. mawar untuk mu
Anbu Hasna
sementang aku juga punya pr essay Bahasa, aku disuru tunggu juga. sama kayak Kian... 🤣🤣🤣
neng ade
sukaa banget dengan interaksi keluarga kecil ini .. ❤️
neng ade
akhirnya Ning menemukan kebahagiaan nya bersama anak dan suami nya ❤️
neng ade
😭😭 selamatkan Ning
neng ade
nyesek ..🥹
neng ade
sedikit demi sedikit mulai ada titik terang
neng ade
syukurlah mereka semua nya baik-baik aja
neng ade
semoga Ning bisa selalu dekat dengan Kian dan Kevin ❤️
neng ade
semoga suatu saat nanti Kian bisa menerima kehadiran Ning
Anbu Hasna
hal yang sama yg aku ucapin tiap Mama ketemu bestinya... "setengah bulan lagi kujemput, aku mau tidur". 🤣🤣
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya
Anbu Hasna
Kian mulai ogah punya bapak kulkas
End Shara
sukaa ceritanya,beda dr yg lain...semangat k up yg banyak
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!