Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OBAT PENGANTAR TIDUR
Di dalam kamar tidur yang remang, kelopak mata Yukari mendadak terbuka lebar. Jantungnya bertalu begitu keras hingga dadanya terasa sesak. Keringat dingin membasahi pelipis dan lehernya. Bayangan wajah Hiroshi yang menyeringai, cengkeraman tangannya yang kasar, dan sentuhan paksa pria itu di bibirnya mendadak berputar kembali dengan begitu nyata di dalam benaknya. Itu adalah kilas balik trauma yang mengerikan.
Rasa mual dan jijik yang teramat sangat langsung merangsek naik ke tenggorokan Yukari. Dengan tubuh gemetar hebat, ia menyibak futon, bangkit berdiri dengan mengabaikan rasa perih di lututnya, lalu berlari setengah tertatih menuju kamar mandi di ujung selasar.
Akira yang baru saja mengistirahatkan tubuhnya di atas sofa ruang tengah langsung terjaga saat mendengar suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa, disusul suara pintu kamar mandi yang dibuka kasar.
Di dalam kamar mandi, Yukari berdiri di depan wastafel dengan napas memburu. Air matanya luruh deras. Dengan gerakan panik dan frustrasi, ia meraih sikat gigi, Ia menggosok bibir dan rongga mulutnya berulang-ulang, seolah-olah dengan begitu ia bisa mengikis habis bekas sentuhan Hiroshi malam tadi.
Terasa masih kurang Yukari meraih botol mouthwash. Ia menuangkan cairan antiseptik itu ke dalam mulutnya, berkumur dengan kuat, lalu memuntahkannya. Namun rasa frustrasinya belum hilang. Ia merasa dirinya masih kotor. Yukari kembali menuangkan cairan itu, melakukannya lagi dan lagi sambil terisak hebat.
"Yukari, hentikan!"
Sebuah tangan tegap dan hangat tiba-tiba mencengkeram lembut pergelangan tangan Yukari. cup mouthwash di tangan gadis itu terlepas, jatuh berdenting di atas lantai keramik.
Yukari tersentak, menoleh menatap Akira yang sudah berdiri di belakangnya dengan sorot mata khawatir. Air mata Yukari mengalir semakin deras, ia menggelengkan kepalanya dengan putus asa. "Lepas, Akira-san... Aku masih merasa kotor... Rasanya masih sangat kotor..."
Melihat kondisi Yukari yang semakin histeris, Akira tidak membiarkan gadis itu menyakiti dirinya sendiri lebih lama lagi di sana. Dengan gerakan yang tegas namun lembut, Akira menarik Yukari keluar dari kamar mandi yang pengap, menuntunnya menuju area dapur yang temaram.
Akira menyandarkan tubuh ringkih Yukari pada kabinet kayu dapur, lalu dengan cepat mengambilkan secangkir air hangat.
"Tenangkan dirimu," ucap Akira dengan suara rendah yang sangat dalam, menyodorkan cangkir itu.
Yukari menerima cangkir tersebut dengan tangan yang masih gemetar. Setelah meminumnya beberapa teguk, ia meletakkan cangkir itu di atas kabinet. Kedua tangannya kini turun, meremas ujung bajunya sendiri dengan erat, mencoba menahan tangis yang menyumbat dada.
Akira memperhatikan jemari kecil yang bergetar itu, lalu bertanya dengan lembut, "Kau ingin makan sesuatu?"
Yukari menggelengkan kepalanya perlahan. Suasana dapur mendadak hening, hanya menyisakan suara deru napas mereka yang perlahan mulai teratur.
Detik berikutnya, Yukari mendongak. Ia menatap Akira lurus-lurus dengan mata bulatnya yang digenangi air mata yang berkilau diterpa lampu dapur yang remang. Wajahnya tampak begitu rapuh, polos, dan tak berdaya.
"Akira-san... setiap kali aku memejamkan mata, wajahnya selalu muncul. Aku takut... aku takut sekali," bisik Yukari dengan suara parau yang tercekik. "Bisakah... bisakah Akira-san membuat bayangan itu pergi? Aku hanya... ingin tidur dengan tenang..."
Akira mengunci kedua mata Yukari yang basah, membaca keputusasaan yang teramat sangat di sana. Pria itu bertanya dengan nada suara yang sangat rendah dan lembut, mencoba mencari cara untuk menenangkan badai di kepala gadis itu.
"Lalu... apa yang harus kulakukan , Yukari-san?"
Mendengar pertanyaan itu, Yukari menghela napas panjang dengan raut frustrasi. Tubuhnya terasa begitu lemas. "Aku tidak tahu... "
Dalam kepasrahan dan kelelahan mentalnya, pandangan Yukari tanpa sadar turun, tertuju pada bibir Akira yang berada tepat di depannya. Hanya satu detik, namun tatapan polos yang sarat akan keinginan tersembunyi itu terasa begitu nyata. Menyadari apa yang baru saja ia lihat, Yukari dengan cepat memalingkan wajahnya ke samping, menyembunyikan rona tipis yang mendadak muncul di tengah debaran jantungnya yang kacau. "Terserah... apa pun.. aku sangat lelah..."
Akira sekejap menahan napasnya. Ia menghela napas panjang lalu perlahan menelan ludah. Gerakan bola mata Yukari yang sempat turun ke arah bibirnya selama sedetik tadi tidak luput dari perhatiannya. Itu adalah sebuah isyarat tanpa kata yang seketika memicu pergulatan batin di dalam dada Akira
Melihat Yukari yang kini memalingkan muka dengan tubuh yang masih sedikit bergetar, Akira akhirnya memantapkan keputusan. . "Baiklah... " Pria itu melangkah satu tapak lebih maju, memangkas sisa jarak di antara mereka hingga tubuh tegapnya mengurung siluet kecil Yukari di depan kabinet dapur.
"Yukari-san... aku akan membantumu," bisik Akira dengan suara rendah yang teramat jantan namun lembut.
Tangan kanannya yang hangat bergerak perlahan naik, menangkup sisi wajah Yukari dengan teramat hati-hati, menuntun wajah gadis itu agar kembali menatapnya. "Kau tidak akan mengingat bayangan itu lagi."
Ibu jari Akira bergerak perlahan, menyeka sisa air mata yang membasahi pipi halus gadis itu sebelum telapak tangannya yang satu lagi ikut membingkai wajah Yukari, menstabilkan posisi mereka. "Yang kau ingat hanyalah obat pengantar tidurmu dariku."
Yukari tidak menolak. ia perlahan memejamkan kedua matanya, berserah sepenuhnya pada apa pun yang akan dilakukan Akira untuk menyelamatkannya malam ini.
Pelan-pelan, Akira menundukkan wajahnya, lalu menempelkan bibirnya di atas bibir Yukari.
Ciuman itu dimulai dengan sangat lambat dan penuh kehati-hatian, Bibir hangat Akira menekan dengan lembut, menyalurkan rasa aman yang begitu murni hingga membuat Yukari terenyak pelan. Kehangatan yang menjalar dari bibir Akira seketika meruntuhkan seluruh sisa rasa dingin dan bayangan tentang Hiroshi di kepala Yukari.
Perlahan, cengkeraman tangan Yukari di ujung bajunya sendiri terlepas. Merasakan kelembutan Akira yang begitu menghargainya, Yukari memberanikan diri untuk menggerakkan bibirnya, membalas kecupan itu dengan canggung namun penuh ketulusan.
Balasan kecil yang polos dari Yukari membuat jantung Akira berdesir hebat. Akira memperdalam ciumannya, memiringkan kepalanya sedikit untuk menyesap bibir manis Yukari dengan lebih lekat namun tetap menjaga kelembutannya.
Sentuhan hangat di bibir itu perlahan melepaskan jerat ketakutan di dada Yukari.
Melihat gadis di pelukannya sudah mulai tenang namun masih tampak begitu rapuh, Akira menahan napas sejenak. Kedua tangan kekarnya perlahan turun ke pinggang Yukari. Dengan satu gerakan lembut namun bertenaga, Akira mengangkat tubuh ringkih Yukari, membawanya duduk di atas meja kabinet dapur yang tinggi.
Tindakan itu membuat wajah mereka kini sejajar. Akira mengambil jeda sesaat, menatap lekat-lekat wajah Yukari yang merona merah dengan sisa air mata yang mengering di pipi. Detik berikutnya, seolah magnet yang tak bisa ditolak, Akira kembali memiringkan wajahnya dan mencium bibir Yukari.
Kali ini, ciuman itu terasa lebih dalam. Rasa hangat yang membuncah membuat kedua tangan Yukari perlahan naik, melingkar pasrah di sekeliling leher Akira. Ada desiran suara halus yang lolos dari sela bibir Yukari, sebuah rintihan kecil yang sarat akan rasa aman yang akhirnya ia temukan kembali.
Di sela pertautan manis itu, Yukari sedikit menjauhkan wajahnya. Dengan napas yang sedikit memburu dan mata yang sayu, ia berbisik lirih di dekat telinga Akira, "Bawa aku ke kamar, Akira-san..."
Akira menyudahi kecupannya dengan perlahan. Tanpa banyak bicara, ia menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Yukari, menggendong gadis itu dengan gaya bridal ke arah kamar tidur.
Di dalam kamar yang remang, Akira merebahkan tubuh Yukari dengan sangat hati-hati di atas hamparan futon yang empuk. Namun, setelah tubuh Yukari berbaring, Akira tidak langsung menjauh. Keduanya saling menatap dalam keheningan yang cukup lama. Ada rasa tidak ingin saling melepaskan yang mendadak tumbuh di antara mereka setelah apa yang baru saja terjadi.
"Obatnya... bekerja...?" tanya Akira dengan suara rendah, memecah kesunyian.
Yukari menatap sepasang mata tegap di atasnya, lalu sebuah senyuman manis dan tulus terukir di bibirnya. Ia mengangguk pelan. Bayangan menakutkan tentang Hiroshi benar-benar telah sirna, digantikan oleh debaran baru yang bergemuruh di dadanya.
Melihat senyuman itu, Akira memberanikan diri. Ia kembali memiringkan wajahnya, mendekat hingga ujung hidung mereka bersentuhan, lalu kembali menyatukan bibir mereka. Kali ini rasanya berbeda. Meski masih dibalut kelembutan bibir Akira dan balasan tulus dari Yukari, ada letupan emosi yang lebih intim mengalir di antara mereka. Sentuhan Akira perlahan bergerak turun, memberikan kecupan-kecupan selembut bulu di sepanjang garis leher Yukari, memicu rintihan halus dari sang gadis yang menggema samar membelah sunyinya malam.
Hingga tanpa sadar, malam yang panjang itu berlalu, mengunci keduanya dalam kehangatan di bawah satu selimut futon yang sama.
***
Keesokan paginya, semburat cahaya matahari pagi mulai menerobos masuk melalui celah jendela, menerangi kamar yang hangat.
Tok! Tok! Tok!
"Akira! Yukari! Buka pintunya!"
Suara ketukan pintu yang tidak sabar disusul panggilan lantang dari luar seketika memecah kedamaian pagi. Itu suara Daiki.
Akira langsung tersentak bangun, begitu pula dengan Yukari. Kesadaran mereka belum pulih sepenuhnya, namun kepanikan kecil langsung melanda. Yukari seketika tersipu malu, wajahnya memerah sempurna saat pandangannya turun dan melihat Akira yang berada di sisinya tengah bertelanjang dada—menyadari bahwa kaos tebal milik pria itu sudah terlepas entah sejak kapan tadi malam.
Dengan kikuk dan salah tingkah, Akira buru-buru meraih kaosnya yang tergeletak di dekat futon, lalu memakainya kembali dengan cepat.
"Daiki sudah datang... Aku... aku keluar dulu," ucap Akira terbata-bata dengan wajah yang ikut memerah menahan malu.
Namun, baru saja Akira berbalik dan hendak melangkah keluar kamar, suara lembut Yukari menghentikannya.
"Akira-san..." panggil Yukari sembari meremas ujung selimutnya.
Akira menoleh. "Ya?"
Yukari membuka mulutnya, tampak ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting. Namun, melihat tatapan Akira, lidahnya mendadak kelu karena rasa malu yang teramat sangat. Ia kembali menundukkan kepala dengan wajah sewarna stroberi.
Melihat kepolosan gadis itu, sebuah senyuman hangat dan tulus terbit di wajah Akira. Ia berjalan mendekat sebentar, lalu berbisik lembut, "Aku tahu... Ini jadi rahasia kita berdua."
Mendengar itu, Yukari mendongak dengan mata berbinar, memberikan anggukan kecil yang menggemaskan.
Akira berbalik dengan sisa senyuman di wajahnya, melangkah cepat menuju ruang depan. Ia memutar anak kunci dan membuka palang pintu utama yang engselnya masih miring tersebut.
Klek!
"Kau lama sekali, sih?!" Suara menggelegar Daiki langsung masuk mengisi kekosongan rumah begitu pintu terbuka, memperlihatkan pria itu yang berdiri memegang sekotak engsel besi baru dengan dahi berkerut heran.
Akira hanya bisa menggaruk tengkuknya menyembunyikan senyum rahasia yang tertinggal di bibirnya.