Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Ivan.. tenang," ucap Alden pelan sambil melangkah mendekat.
"Gimana aku bisa tenang?" suara Ivan mulai bergetar. "Kita ninggalin dia sendirian di rumah selama lima hari. Lima hari, Kak! Gimana kalau dia kenapa-kenapa? Gimana kalau ada yang mengincar dia seperti Bunda du.."
Kalimat itu terputus.
Tanpa memberi kesempatan Ivan untuk melanjutkan, Alden menarik tubuh adiknya ke dalam pelukan erat.
Tubuh Ivan yang semula gemetar perlahan menegang. Napasnya yang memburu tertahan sesaat sebelum akhirnya keluar perlahan. Kedua matanya terpejam rapat, berusaha mengikuti irama napas yang mulai dituntun oleh pelukan hangat sang kakak.
Andai Alden terlambat beberapa detik saja, kemungkinan besar serangan paniknya kembali kambuh.
Sejak tragedi yang merenggut nyawa ibu mereka sekaligus memisahkan Keyla dari keluarga Jordan bertahun-tahun lalu, kondisi mental Ivan memang tak pernah benar-benar pulih. Luka itu masih membekas dalam dirinya.
Bahkan ketika memutuskan menjadi seorang dokter, Alex pernah menentang keinginannya. Bukan karena meragukan kemampuannya, melainkan karena khawatir dengan kondisi psikologis Ivan yang terkadang masih kehilangan kendali.
Di rumah itu, hanya Alex dan Alden yang mengetahui semuanya. Mereka tahu bagaimana Ivan diam-diam meminum obat setiap hari. Mereka tahu bagaimana senyum cerianya sering kali hanyalah topeng agar adik-adiknya tidak ikut mengkhawatirkan dirinya.
"Kak..." bisik Ivan lirih.
"Ssst... tenang." Suara Alden terdengar begitu lembut di dekat telinganya. "Keisya pasti baik-baik saja. Lusa kita sudah pulang."
Telapak tangannya mengusap perlahan kepala hingga punggung Ivan, penuh kesabaran dan kasih sayang.
Tak banyak orang mengetahui sisi Alden yang satu ini.
Di mata keluarga besar, Alden hanyalah pria pendiam yang tegas, dingin, dan seperlunya menunjukkan perhatian kepada keluarganya. Ia jarang berbicara panjang, apalagi menunjukkan emosi.
Namun bagi Ivan, Alden jauh lebih hangat daripada yang orang lain bayangkan.
"Kak..." suaranya kembali bergetar. "Kok kita bisa sejahat itu ya... sampai lupa sama Keisya?"
Pertanyaan sederhana itu menusuk hati Alden, ia tidak langsung menjawab.
Yang mampu ia lakukan hanyalah mengangguk pelan. Ada rasa bersalah yang begitu berat menyesaki dadanya. Selama ini mereka terlalu sibuk memperhatikan Keyla hingga tanpa sadar membiarkan Keisya menghadapi semuanya seorang diri.
Setelah beberapa saat, Alden menepuk pelan punggung adiknya lalu melepaskan pelukan mereka.
Ia menatap Ivan yang kini sudah jauh lebih tenang.
"Sekarang bersiaplah," ucapnya. "Kita keluar beli hadiah buat Keisya."
Wajah Ivan langsung berbinar. Tanpa berpikir panjang ia mengangguk berulang kali sebelum berlari menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Langkahnya yang tadi terasa berat kini kembali ringan.
Alden tetap berdiri di tempatnya. Pandangan matanya mengikuti punggung sang adik hingga menghilang di balik koridor. Namun ia tidak segera kembali ke kamarnya.
Sebaliknya, langkahnya justru mengarah menuju kamar Keyla, ada satu hal yang harus segera ia bicarakan. Bukan hanya Ivan yang perlu mengetahui kenyataan ini.
Keyla juga harus mengerti. Karena jauh di lubuk hati, Alden mulai merasa bahwa jika keadaan ini terus dibiarkan, hubungan mereka sebagai saudara akan semakin renggang.
Dan yang lebih mengkhawatirkan lagi, ia mulai menyadari bahwa di antara mereka, ada seseorang yang diam-diam menjadi sumber dari semua keretakan itu.
***
Sementara itu, malam akhir pekan selalu menghadirkan suasana yang berbeda.
Keisya berdiri mematung di depan gerbang taman.
Lampu-lampu taman memancarkan cahaya keemasan yang memantul di atas jalanan, berpadu dengan hiruk-pikuk para pengunjung yang memenuhi setiap sudut.
Sepasang matanya berbinar kagum menatap deretan kios makanan yang menjajakan berbagai jajanan kekinian. Orang-orang berlalu-lalang sambil tertawa bersama keluarga atau teman-teman mereka.
"Wah..." Seruan kecil itu lolos begitu saja dari bibirnya.
Sudah lama rasanya ia tidak menikmati suasana malam seperti ini. Tanpa sadar, sudut bibirnya ikut terangkat.
Sayangnya, rasa bahagia itu hanya bertahan sesaat.
Pikirannya kembali mengingat kenyataan bahwa lusa seluruh keluarga Jordan akan pulang. Malam pengumuman resmi mengenai Keyla sebagai anggota keluarga juga akan segera dilaksanakan.
Waktu berjalan terlalu cepat.
Sejujurnya ia sedikit menyesal baru memutuskan keluar malam ini untuk mencari makan.
Selama lima hari terakhir, para pelayan mansion sama sekali tidak lagi menyiapkan makanan untuknya. Namun Keisya sudah menduga hal itu sejak awal.
Karena itulah, setelah bertemu anak kecil yang sempat mencoba mencuri dompetnya beberapa hari lalu, ia langsung membeli stok mi instan dalam jumlah banyak.
Dugaannya ternyata benar. Tak ada satu pun pelayan yang benar-benar memedulikannya.
Anehnya, Keisya justru merasa hidupnya lebih bebas.
Ia bisa memilih berbagai jenis mi instan sesuka hati. Mulai dari mi cup, mi gelas, hingga mi bungkus dengan berbagai rasa yang selama ini bahkan belum pernah ia coba.
Kapan lagi dirinya bisa menikmati makanan yang dulu selalu ia hindari?
Mengingat kehidupan sebelumnya, Keisya hanya bisa tersenyum kecil.
Meski begitu, bukan berarti selama lima hari terakhir ia hanya hidup dengan mi instan.
Jika pagi hari ia tidak merasa lapar, ia akan menyeduh mi sebagai makan siang.
Namun bila sempat sarapan, Keisya akan berjalan santai keluar kompleks mansion dan menikmati semangkuk bubur hangat di warung dekat persimpangan jalan sebelum taman.
Kalau sudah sarapan, ia biasanya melewatkan makan siang dan baru memasak mi instan saat malam tiba.
Rutinitas itu terus berulang setiap hari.
Selain mi instan, laci kamarnya juga dipenuhi berbagai makanan ringan penuh penyedap rasa yang dulu bahkan tak pernah ia lirik.
Mengingat pola hidupnya sekarang, Keisya hanya bisa menggeleng geli.
"Kalau terus begini..." gumamnya sambil terkekeh pelan. "Jangan-jangan sebelum sembuh dari anemia, aku malah kena usus buntu atau penyakit lain."
Anehnya, alih-alih merasa takut, ia justru tertawa kecil pada pikirannya sendiri.
pasti lelah kmu
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu