Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10. Tawaran dari Ubay.
Pagi-pagi sekali, ketika embun masih menempel di daun-daun mangga samping gang, Nadia sudah rapi. Jika biasanya di jam segini ia harus berkutat dengan pel, cucian kotor, dan omelan Nyonya Sarah, kini ia tidak punya pekerjaan apa-apa lagi di paviliun kecilnya. Mengingat kakinya masih pincang dan ia harus berjalan lambat, Nadia memilih berangkat ke kampus jauh lebih awal.
Siang harinya, setelah kelas selesai, Nadia langsung pulang. Rencananya ia ingin mampir ke warung kelontong depan untuk membeli beberapa kebutuhan pokok seperti sabun dan mie instan. Namun, langkah kakinya terhenti begitu melewati samping rumah besar.
Ubay sudah standby di sana. Pemuda berambut gondrong itu bersandar santai pada motor RX-King-nya yang terparkir di bawah pohon. Ia masih mengenakan jaket usangnya, bersedekap dada sembari menatap Nadia yang melangkah terseok-seok dengan tas kuliahnya.
"Baru pulang?" tanya Ubay lempeng, memutus kesunyian.
Nadia mengangguk pelan. "Iya, Mas Ubay."
Ubay menegakkan tubuhnya, lalu meraba saku jaket dan mengeluarkan sebuah kunci serep cadangan yang ukurannya cukup besar. Ia menyodorkannya ke arah Nadia.
"Kemarin kamu bilang kamu mantan pembantu dan terbiasa urus rumah, kan?" Ubay menunjuk rumah bertingkat dua di belakangnya dengan dagu. "Rumah depan ini punya nenekku, sekarang aku yang pegang. Tapi aku jarang di sini. Paling cuma pulang buat tidur, itu pun kalau sempat. Selebihnya... kamu tahu sendiri dari Pak RT, aku lebih banyak di luar."
Nadia menerima kunci kuningan itu dengan ragu. "Maksudnya... Mas Ubay mau saya bersihkan rumah ini?"
"Iya. Kamu bersihkan rumah ini tiap pulang kuliah saja, pas aku lagi nggak ada di rumah," tutur Ubay dingin, seolah tak ingin privasinya terganggu jika ia sedang pulang. "Sapu, pel, lap debu. Terserah jam berapa, yang penting bersih. Sebagai gantinya, kamu nggak usah bayar sewa paviliun belakang. Nanti tiap bulan tetap aku kasih uang jajan tambahan buat ongkos kuliahmu. Gimana?"
Nadia tertegun, menatap kunci di tangannya dengan perasaan campur aduk. Tawaran ini benar-benar sebuah penyelamat di waktu yang tepat. Ubay tidak menuntutnya bekerja dari subuh seperti keluarga Pramoedya, pemuda itu justru memberinya kebebasan untuk mengutamakan kuliahnya terlebih dahulu.
"Mau nggak? Kalau nggak mau, biar aku cari orang lain," desak Ubay acuh tak acuh, tipikal bicaranya yang tak suka bertele-tele.
"Mau, Mas! Saya mau," sahut Nadia cepat, takut kesempatan emas ini hilang. "Terima kasih banyak, Mas Ubay. Saya pasti bakal jaga dan bersihkan rumahnya dengan baik."
Ubay hanya bergumam pendek, lalu memakai helmnya tanpa sepatah kata pun lagi. Ia menghentak tuas motornya, membuat mesin RX-King itu menderu nyaring sebelum melesat pergi membelah jalanan, meninggalkan Nadia yang kini memandangi rumah besar itu dengan secercah harapan baru. Entah apa yang dilakukan Ubay di luar sana dengan motor bisingnya hingga jarang pulang, Nadia tidak tahu. Namun yang pasti, di balik perawakan premannya, pria itu baru saja memberikan Nadia sebuah jalan untuk bertahan hidup.
**
Sementara Nadia mulai membuka pintu rumah tua untuk melihat kondisinya, beberapa kilometer dari gang tersebut, deru mesin RX-King milik Ubay membelah aspal jalanan kota yang terik. Jaket usangnya berkibar diterpa angin. Ini adalah rutinitas harian Ubay yang sebenarnya, pekerjaan yang oleh orang awam dikira sebagai kegiatan "kelayapan tanpa arah".
Ubay memelankan laju motornya saat mendekati kawasan taman kota yang ramai. Matanya yang tajam langsung tertuju pada sebuah sudut trotoar. Di sana, terparkir sebuah motor listrik dengan gerobak box rapi berwarna biru cerah di bagian belakangnya. Di atas boks itu tertera tulisan simpel, "Kopi & Teh Susu Segaaarrrr". Seorang pemuda belia berusia sekitar awal dua puluh tahun tampak sibuk menyeduh es kopi susu pesanan pelanggan.
Ckiitt.
Ubay mematikan mesin motornya tepat di dekat armada motor listrik biru tersebut. Si pemuda yang sedang mengocok shaker minuman langsung menoleh. Begitu melihat sosok berambut gondrong yang dikuncir rapi itu turun dari RX-King, wajah pemuda itu langsung cerah sekaligus tampak segan.
"Eh, Mas Ubay! Wah, pas banget Mas, baru aja mau saya catat setoran minggu ini," sapa pemuda bernama Dika itu dengan nada penuh rasa hormat.
Ubay berjalan mendekat, melepas helmnya dengan santai lalu menduduki sebuah bangku taman kosong di dekat gerobak biru tersebut. Pembawaannya tetap dingin dan acuh tak acuh seperti biasa.
"Bagaimana putaran minggu ini, Dik? Lancar?" tanya Ubay, suaranya berat dan lempeng.
"Alhamdulillah lancar banget, Mas! Sejak pakai motor listrik bantuan dari Mas Ubay ini, saya jadi bisa muter sampai ke area perkantoran sebelah sana tanpa capek bensin. Omset teh susu sama es kopi kita naik tiga puluh persen minggu ini," lapor Dika dengan mata berbinar, menunjukkan buku catatan kecil yang biasa ia gunakan untuk merekap penjualan.
Ubay menerima buku itu, membalik halamannya perlahan dengan ibu jari, mengecek angka-angka yang tertera di sana dengan teliti. Ubay memang memberikan modal penuh untuk armada gerobak motor listrik biru ini. Mulai dari kendaraan, peralatan seduh, hingga bahan baku kepada anak-anak muda telantar atau pengangguran yang kesulitan mencari kerja di kota besar. Ubay tidak pernah meminta bagi hasil yang mencekik, mereka hanya perlu menyetor fee atau biaya sewa alat yang sangat flat seminggu sekali. Selebihnya, keuntungan murni menjadi hak para pedagang itu.
"Bagus. Pertahankan kebersihan gerobak birumu ini. Jangan sampai kelihatan kotor, pembeli malas mendekat kalau box-nya dekil," ujar Ubay datar sembari menyerahkan kembali buku catatan itu.
"Siap, Mas Ubay! Selalu saya lap tiap pagi," jawab Dika mantap. Namun, raut wajah Dika mendadak berubah agak ragu. Ia menengok ke kanan dan ke kiri sebelum berbisik, "Oh iya, Mas... kemarin sore ada dua orang preman lokal dari wilayah seberang sempat datang ke sini. Mereka minta uang lapak, katanya ini wilayah mereka."
Mendengar kata 'preman', garis wajah Ubay seketika mengeras. Tindikan hitam di telinganya seolah berkilat di bawah terik matahari. Ia mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya, lalu mendengus pendek.
"Mereka ngomong apa saja?" tanya Ubay, nadanya turun beberapa oktaf menjadi sangat dingin.
"Mereka bilang kalau hari Jumat besok saya nggak bayar 'uang jaminan', gerobak motor listrik saya mau digembok atau ditarik paksa, Mas," lirih Dika, tampak ketakutan.
Ubay menegakkan tubuhnya, memakai helm hitamnya kembali dengan gerakan yang tenang namun memancarkan aura intimidasi yang kuat. Ia menstarter motor RX-King-nya hingga mesinnya meraung nyaring di tepi jalan.
"Nggak usah bayar sepeser pun, Dik. Tetap jualan seperti biasa di sini," ucap Ubay dari balik kaca helmnya yang gelap. "Hari Jumat nanti, biar aku yang standby nunggu mereka di sini. Urusan preman lapar begitu... biar jadi urusanku."
Tanpa menunggu jawaban Dika yang terpaku takjub, Ubay menarik gas motornya dalam-dalam. RX-King itu melesat pergi menuju titik gerobak biru berikutnya, meninggalkan kepulan asap tipis dan rasa aman yang besar di hati Dika. Di mata dunia, Ubay mungkin hanya berandalan jalanan yang acuh tak acuh, namun bagi anak-anak muda ini, dia adalah benteng pertahanan yang melindungi periuk nasi mereka dari kejamnya jalanan.
**
Nadia memasukkan anak kunci kuningan pemberian Ubay ke dalam lubang pintu utama rumah besar bertingkat itu. Dengan sedikit sentikan, terdengar bunyi ‘klik’ yang berat, menandakan slot pintu yang sudah lama tidak diganti itu terbuka. Nadia mendorong daun pintu kayu jati yang tebal itu perlahan.
Krieeet...
Suara engsel yang kering memecah keheningan di dalam rumah. Embusan udara dingin yang sedikit berdebu dan berbau apak langsung menyambut penciuman Nadia. Ia melangkah masuk dengan kaki yang masih agak pincang, lalu menyalakan saklar lampu di dinding.
Begitu lampu gantung tua di langit-langit menyala temaram, Nadia tertegun memandangi isi rumah tersebut. Rumah itu dibilang kosong tidak, namun dibilang rapi juga jauh dari kata layak.
Di ruang tamu utama, terdapat satu set sofa kulit berwarna cokelat tua yang permukaannya sudah retak-retak dan tertutup lapisan debu. Di sudut ruangan, sebuah lemari pajangan kaca besar berdiri kokoh, berisi beberapa piring keramik kuno milik mendiang nenek Ubay dan beberapa piala usang yang warnanya sudah memudar. Di dindingnya, tergantung sebuah kalender dinding besar yang tahunnya sudah lewat beberapa tahun lalu, serta sebuah foto keluarga berbingkai kayu besar yang kacanya sudah buram karena debu.
Nadia melangkah lebih dalam menuju ruang tengah yang merangkap sebagai area menonton televisi. Di sana hanya ada sebuah TV tabung besar di atas meja kayu panjang, dikelilingi oleh tumpukan koran-koran lama. Kondisinya benar-benar mencerminkan ucapan Pak RT dan Ubay, rumah ini hampir kehilangan fungsi aslinya sebagai tempat tinggal hangat. Rumah besar ini sekarang tak lebih dari sekadar "tempat persinggahan" atau tempat tidur sementara.
Hal itu semakin jelas saat Nadia mengintip ke arah kamar utama di lantai bawah yang pintunya sedikit terbuka. Di dalamnya, kasur kapuk besar tampak berantakan tanpa seprai. Di atas meja kecil samping tempat tidur, terdapat sebuah asbak rokok yang penuh dengan puntung kering, sebuah jaket jeans hitam cadangan milik Ubay yang tergeletak begitu saja, dan beberapa botol air mineral kosong yang berserakan di lantai ubin. Tidak ada sentuhan wanita sama sekali, semuanya tampak acak-acak dan maskulin khas tempat bernaung seorang pria jalanan yang acuh tak acuh.
Nadia menghembuskan napas panjang, lalu menggulung lengan kemeja kuliahnya hingga sebatas siku. Rasa sungkan dan utang budi kepada Ubay membuat rasa lelahnya mendadak sirna.
"Mulai dari ruang tamu dulu deh," bisik Nadia pada dirinya sendiri.
Ia berjalan ke arah dapur belakang, mengambil sebuah ember plastik, mengisinya dengan air bersih, lalu mengambil sapu dan kain pel yang untungnya masih tersedia di dekat kamar mandi. Dengan telaten dan sabar, Nadia mulai menyapu helai demi helai debu yang tebal di lantai ubin ruang tamu. Tangannya bergerak lincah mengelap kaca-kaca jendela yang buram, membiarkan cahaya sore masuk dan mengusir hawa pengap di dalam rumah tua itu.
Meskipun pergelangan kakinya sesekali masih berdenyut nyeri saat ia harus membungkuk atau memeras kain pel, Nadia melakukannya dengan senyuman tipis. Baginya, setiap sudut debu yang ia bersihkan di rumah ini adalah bayaran yang adil demi mempertahankan secuil martabat dan tempat bernaung yang aman di paviliun belakang.
****