NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Berikut deskripsi novel singkatnya.

Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.

Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.

Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.

Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 — Pinangan di Antara Bunga

Jenna’s Bloom Café

Pagi di Jenna’s Bloom Café selalu memiliki aroma yang sama: kopi yang baru digiling, roti hangat dari oven kecil di dapur, dan wangi bunga segar yang memenuhi setiap sudut ruangan.

Bagi sebagian orang, tempat itu hanya toko bunga sekaligus kafe cantik di sudut kota. Dindingnya berwarna putih gading, jendelanya besar dengan tirai tipis yang membiarkan cahaya matahari masuk lembut, sementara rak-rak kayu di sepanjang dinding dipenuhi vas berisi mawar, tulip, baby’s breath, lavender, dan bunga matahari.

Namun bagi Jennaira Hanania Mecca, tempat itu adalah bukti bahwa ia bisa berdiri di atas kakinya sendiri.

Ia bukan hanya putri dari Reza Nirankara, pendiri NK Media Group, perusahaan media terbesar di Indonesia. Ia bukan hanya adik dari Abizar Nirankara, putra sulung keluarga Nirankara yang kelak akan mewarisi perusahaan ayah mereka.

Ia adalah Jenna.

Seorang gadis berusia dua puluh enam tahun, bercadar, lembut dalam bicara, tetapi keras kepala dalam memperjuangkan hidupnya sendiri.

Jenna bisa saja memilih hidup nyaman di balik nama besar keluarganya. Ia bisa saja duduk manis di rumah, menghadiri acara sosial, memakai pakaian mahal, dan membiarkan semua orang mengenalnya sebagai putri Reza Nirankara.

Tetapi ia tidak mau.

Ia memilih membuka toko bunga dan kafe kecil bernama Jenna’s Bloom Café. Dari tempat itu, ia belajar menyambut pelanggan, mengatur stok bunga, menghitung pemasukan, mengurus karyawan, bahkan terkadang membersihkan meja sendiri ketika kafe sedang ramai.

Bagi Jenna, setiap tangkai bunga yang ia rangkai adalah caranya mencintai hidup dengan sederhana.

“Jenna, pesanan buket untuk Bu Laras sudah selesai,” ujar Naya, salah satu karyawan kafe, sambil membawa rangkaian mawar putih dan baby’s breath.

Jenna yang sedang berdiri di balik meja kasir menoleh. Matanya yang teduh terlihat tersenyum.

“Masyaallah, cantik sekali. Tambahkan pita satin warna krem, ya. Bu Laras suka yang sederhana tapi elegan.”

“Siap, Kak Jenna.”

Naya pergi ke meja rangkai bunga. Jenna kembali menata beberapa kartu ucapan kecil di dekat kasir. Hari itu kafe cukup ramai. Beberapa pelanggan duduk menikmati kopi, sebagian lain memilih bunga untuk hadiah.

Bel kecil di atas pintu berbunyi.

Jenna mengangkat wajah.

Seorang perempuan paruh baya masuk dengan langkah pelan. Penampilannya anggun. Kerudungnya tertata rapi, tas kulit berwarna cokelat muda tergantung di lengannya, dan wajahnya memancarkan kelembutan yang menenangkan.

“Assalamu’alaikum,” ucap perempuan itu.

“Wa’alaikumussalam, selamat datang di Jenna’s Bloom Café,” jawab Jenna ramah. “Ada yang bisa saya bantu, Bu?”

Perempuan itu tidak langsung menjawab. Pandangannya berkeliling sebentar, memperhatikan bunga-bunga yang tertata di seluruh ruangan. Lalu matanya berhenti pada Jenna.

Ada jeda beberapa detik.

Jenna awalnya mengira perempuan itu sedang memilih bunga di belakangnya. Namun setelah beberapa saat, ia sadar bahwa tatapan perempuan itu tertuju kepadanya.

Bukan tatapan tidak sopan.

Bukan juga tatapan menghakimi.

Tatapan itu justru terasa hangat, penuh rasa penasaran, dan anehnya berbinar.

Jenna menundukkan kepala sedikit, tetap menjaga sopan santunnya.

“Ibu ingin mencari bunga untuk acara tertentu?” tanyanya lembut.

Perempuan itu tersadar dari lamunannya, lalu tersenyum.

“Iya, Nak. Ibu mau beli bunga untuk ruang tamu. Yang wanginya lembut, tidak terlalu mencolok.”

“Kalau begitu, mungkin Ibu cocok dengan lily putih atau mawar putih. Bisa juga dicampur eucalyptus supaya aromanya lebih segar.”

Jenna bergerak ke salah satu rak bunga. Ia mengambil beberapa tangkai dengan hati-hati, lalu menunjukkannya kepada perempuan itu.

“Ini contohnya, Bu. Kalau dirangkai dalam vas kaca, hasilnya akan terlihat bersih dan elegan.”

Perempuan itu mengangguk, tetapi matanya kembali memperhatikan Jenna.

Jenna mulai merasa sedikit canggung.

Ia sudah terbiasa dilihat orang karena cadarnya. Sebagian melihat dengan penasaran, sebagian lagi dengan prasangka. Namun tatapan ibu ini berbeda. Terlalu lembut, seolah sedang menilai sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar penampilan.

Jenna tetap tersenyum melalui matanya.

“Maaf, Bu,” ucapnya hati-hati. “Apakah ada yang kurang berkenan? Dari tadi Ibu terus melihat saya.”

Perempuan itu terdiam sebentar.

Lalu, tanpa aba-aba, ia menggenggam tangan Jenna.

“Nak,” katanya dengan suara penuh harap, “maukah kamu menjadi menantu Ibu?”

Jenna membeku.

Bunga mawar putih di tangannya hampir terlepas.

Di meja kasir, Naya yang sedang mencetak struk spontan menoleh. Barista di belakang mesin kopi ikut mengangkat wajah. Bahkan seorang pelanggan di dekat jendela berhenti mengaduk minumannya.

Jenna menatap perempuan di depannya, memastikan ia tidak salah dengar.

“Maaf, Bu?” suara Jenna nyaris berbisik.

Perempuan itu justru tersenyum semakin lebar. Matanya berbinar seperti seseorang yang baru menemukan sesuatu yang sangat lama ia cari.

“Ibu serius, Nak. Ibu punya anak laki-laki. Umurnya sudah cukup matang untuk menikah, pekerjaannya baik, keluarganya juga baik. Tapi anak Ibu itu susah sekali kalau disuruh menikah. Setiap dikenalkan dengan perempuan, ada saja alasannya.”

Jenna masih belum mampu merespons.

Perempuan itu melanjutkan dengan nada sedikit mengeluh, tetapi tetap terdengar sayang.

“Ibu sudah lama ingin punya menantu. Sudah lama ingin melihat anak Ibu membangun keluarga. Tapi dia terlalu sibuk bekerja. Katanya belum siap, katanya belum ketemu yang cocok. Lama-lama Ibu yang harus turun tangan sendiri.”

Jenna menarik napas pelan.

Situasi ini terlalu mendadak. Ia biasa menghadapi pelanggan yang meminta buket dadakan, pelanggan yang bingung memilih bunga untuk lamaran, bahkan pelanggan yang menangis karena baru putus cinta. Tetapi pelanggan yang tiba-tiba melamarnya untuk menjadi menantu?

Itu baru pertama kali terjadi.

“Bu,” Jenna berkata selembut mungkin, “saya menghargai niat baik Ibu. Tapi kita bahkan belum saling mengenal.”

“Makanya Ibu ingin mengenalmu, Nak.” Perempuan itu masih menggenggam tangan Jenna. “Kamu sudah menikah?”

Jenna menggeleng pelan. “Belum, Bu.”

“Sudah ada calon?”

Jenna terdiam sesaat. “Belum.”

Wajah perempuan itu langsung cerah.

“Alhamdulillah.”

Jenna tidak tahu harus tertawa atau panik.

“Ibu boleh tahu nama kamu?”

“Jennaira Hanania Mecca. Biasanya dipanggil Jenna.”

“Masyaallah, namanya cantik sekali.” Perempuan itu tersenyum puas. “Orang tuamu siapa, Nak?”

Jenna hendak menjawab, tetapi bel pintu kafe berbunyi lagi.

Kali ini, seorang laki-laki tinggi masuk dengan langkah mantap. Ia mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku, celana bahan hitam, dan jam tangan elegan di pergelangan tangannya. Wajahnya tegas, tetapi matanya langsung melembut ketika melihat Jenna.

“Dek,” panggilnya akrab, “Ayah titip bilang nanti malam jangan lupa makan di rumah.”

Jenna menoleh. “Kak Abi?”

Laki-laki itu adalah Abizar Nirankara, kakak kandung Jenna. Di luar rumah, orang mengenalnya sebagai calon pewaris NK Media Group. Di hadapan Jenna, ia tetap kakak laki-laki yang sejak kecil selalu memastikan adiknya baik-baik saja.

Perempuan paruh baya di depan Jenna tampak terkejut.

Ia menatap Abizar beberapa saat, lalu matanya melebar seperti mengenali seseorang.

“Mas Abizar?”

Abizar menoleh ke arah perempuan itu. Dahinya sedikit berkerut, lalu ia tersenyum sopan.

“Bu?” Ia berpikir sebentar. “Bu Aruna?”

Perempuan itu tersenyum senang. “Iya, benar. Kita pernah bertemu beberapa kali di acara bisnis. Saya datang dengan suami saya.”

Abizar mengangguk. “Betul. Pak Aditya, ya?”

“Iya, suami saya.”

Jenna menatap mereka bergantian. Rupanya perempuan ini bukan pelanggan biasa.

Bu Aruna kemudian menoleh kepada Jenna lagi, lalu kembali kepada Abizar.

“Mas Abizar, ini…” Ia menunjuk Jenna dengan wajah masih terkejut. “Ini adikmu?”

Abizar melirik Jenna, lalu mengangguk.

“Iya, Bu. Jenna adik saya.”

Bu Aruna menutup mulutnya sebentar, tampak semakin antusias.

“Ya Allah, dunia ini sempit sekali.” Ia kembali menatap Jenna dengan mata berbinar. “Pantas saja dari tadi Ibu merasa anak ini berbeda.”

Jenna menunduk malu. Ia mulai merasa pipinya hangat di balik cadar.

Abizar memperhatikan suasana di sekitar mereka. Ia tahu ada sesuatu yang tidak biasa. Apalagi melihat ekspresi Naya yang tampak menahan senyum dari balik meja rangkai bunga.

“Ada apa ini?” tanya Abizar.

Bu Aruna langsung menjawab tanpa ragu.

“Saya baru saja bertanya kepada adikmu, apakah dia mau menjadi menantu saya.”

Abizar terdiam.

Jenna menutup mata sebentar, menahan rasa malu.

“Kak Abi…” gumamnya pelan.

Namun Abizar tidak langsung tertawa. Ia justru menatap Bu Aruna dengan ekspresi antara kaget dan berusaha tetap sopan.

“Menantu, Bu?”

“Iya.” Bu Aruna mengangguk mantap. “Saya punya putra. Saya sudah lama ingin dia menikah, tapi anak itu sulit sekali. Saya lihat Jenna ini lembut, sopan, mandiri, dan dari caranya bicara, saya bisa merasakan dia anak yang baik.”

Abizar menatap Jenna sebentar.

Ada senyum tipis di sudut bibirnya. Senyum seorang kakak yang tahu adiknya sedang berada dalam situasi canggung, tetapi tidak berniat sepenuhnya menyelamatkannya.

“Adik saya memang belum menikah, Bu,” jawab Abizar akhirnya.

Jenna langsung menatap kakaknya tajam.

“Kak Abi.”

Abizar pura-pura tidak melihat.

“Dan sejauh yang saya tahu,” lanjut Abizar dengan tenang, “dia juga belum punya pasangan.”

Bu Aruna tampak semakin gembira.

“Alhamdulillah. Kalau begitu, saya akan datang ke rumah orang tua kalian.”

Jenna hampir tersedak napasnya sendiri.

“Bu, maksudnya…”

“Ibu tidak mau main-main, Nak,” potong Bu Aruna lembut. “Kalau niatnya baik, harus ditempuh dengan cara yang baik. Ibu akan datang bersama suami Ibu. Kita bicara dengan orang tuamu.”

Abizar menahan tawa kecil, tetapi Jenna bisa melihat jelas dari matanya bahwa kakaknya sedang menikmati kepanikannya.

“Kak Abi,” bisik Jenna, “tolong jelaskan sesuatu.”

Abizar merapikan posisi berdirinya, lalu berkata kepada Bu Aruna, “Tentu, Bu. Tapi sebaiknya nanti dibicarakan baik-baik dengan Ayah dan Ibu kami. Jenna anak perempuan satu-satunya di keluarga. Jadi urusan seperti ini pasti harus melalui orang tua.”

“Memang itu yang saya inginkan,” jawab Bu Aruna cepat. “Saya akan menghubungi suami saya. Kami akan mengatur waktu untuk datang.”

Jenna merasa seluruh pagi yang damai itu mendadak berubah menjadi adegan yang tidak pernah ia rencanakan.

Ia hanya ingin menjual bunga.

Bukan menerima lamaran tidak langsung dari seorang ibu yang bahkan belum ia kenal satu jam.

Namun anehnya, di balik rasa kaget dan malu, Jenna tidak merasakan ketakutan. Bu Aruna tidak tampak seperti orang yang memaksakan kehendak. Tatapannya tulus, ucapannya hangat, dan caranya berbicara mengingatkan Jenna pada seorang ibu yang sedang mengusahakan kebahagiaan anaknya.

Meski begitu, pernikahan bukan urusan sederhana.

Apalagi bagi Jenna.

Sebagai putri Reza Nirankara, setiap langkahnya sering kali dikaitkan dengan nama besar keluarga. Ia harus berhati-hati membedakan mana niat tulus dan mana kepentingan.

Bu Aruna akhirnya memilih rangkaian lily putih dan mawar krem. Setelah membayar, ia masih sempat menatap Jenna dengan penuh harap.

“Jenna, Ibu pamit dulu, ya. Insyaallah kita bertemu lagi.”

Jenna menunduk sopan. “Terima kasih sudah datang, Bu. Hati-hati di jalan.”

Bu Aruna tersenyum, lalu beralih kepada Abizar.

“Mas Abizar, sampaikan salam saya untuk Pak Reza dan Bu Zahra.”

“Insyaallah, Bu.”

Setelah Bu Aruna keluar dari kafe, suasana sempat hening beberapa detik.

Lalu Abizar tertawa pelan.

Jenna langsung menoleh kepadanya.

“Kak Abi jahat.”

“Aku tidak melakukan apa-apa.”

“Kakak malah menjawab aku belum punya pasangan.”

“Itu fakta.”

“Tapi tidak harus dijawab secepat itu.”

Abizar tersenyum, berjalan ke salah satu meja dekat jendela, lalu duduk seolah kejadian barusan adalah hiburan pagi yang menyenangkan.

Jenna mengikuti kakaknya dengan langkah kesal.

“Kak Abi, ini serius. Bagaimana kalau Bu Aruna benar-benar datang ke rumah?”

“Ya diterima sebagai tamu.”

“Kalau Ayah bertanya?”

“Katakan saja yang sebenarnya. Ada ibu-ibu beli bunga, lalu tiba-tiba ingin menjadikanmu menantu.”

Jenna menarik napas panjang. “Kakak benar-benar tidak membantu.”

Abizar menatap adiknya dengan wajah lebih lembut.

“Dek,” katanya, kali ini suaranya lebih serius. “Tidak ada yang bisa memaksamu. Ayah, Ibu, apalagi aku. Kalau mereka datang, itu hanya silaturahmi. Keputusan tetap ada di kamu.”

Jenna terdiam.

Kalimat itu membuat hatinya sedikit tenang.

Dalam keluarga Nirankara, ia memang selalu dilindungi. Ayahnya, Reza, adalah lelaki tegas di dunia bisnis, tetapi di rumah ia adalah ayah yang lembut kepada anak-anaknya. Ibunya, Zahra, adalah pusat kehangatan keluarga, perempuan yang membuat rumah besar mereka tidak pernah terasa dingin. Sedangkan Abizar, meski sering menyebalkan, selalu menjadi pagar pertama yang berdiri di depan Jenna.

Mereka keluarga cemara.

Bukan karena tidak pernah punya masalah, tetapi karena selalu pulang kepada satu sama lain.

Jenna duduk di hadapan Abizar.

“Kak Abi kenal anak Bu Aruna?”

Abizar mengangkat alis. “Mulai penasaran?”

“Bukan begitu.”

“Namanya kemungkinan Arshaka Zayd Kalandra. Putra tunggal keluarga Kalandra. Aku pernah bertemu beberapa kali.”

Jenna diam, menunggu lanjutan.

“Orangnya pendiam. Cerdas. Agak dingin. Tipe laki-laki yang lebih nyaman bicara angka daripada basa-basi.”

“Sepertinya cocok dengan Kak Abi, bukan denganku.”

Abizar tertawa kecil.

“Tapi setahuku dia bukan orang sembarangan. Reputasinya bersih. Tidak suka sorotan media. Itu mungkin poin bagus untukmu.”

Jenna menunduk, memainkan ujung lengan gamisnya.

Tidak suka sorotan media.

Entah mengapa, kalimat itu tertinggal lebih lama di pikirannya.

Karena Jenna pun begitu.

Ia hidup di tengah keluarga yang sangat dikenal publik, tetapi hatinya selalu mencari ruang yang tenang. Ruang di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa dinilai dari nama belakang, kekayaan, atau wajah yang tidak ia tampilkan kepada dunia.

Hari itu, Jenna’s Bloom Café tetap berjalan seperti biasa.

Pelanggan datang dan pergi. Kopi terus diseduh. Bunga-bunga tetap dirangkai. Tawa kecil terdengar dari beberapa meja.

Namun bagi Jenna, ada sesuatu yang berubah.

Sebuah pintu yang tidak pernah ia ketuk tiba-tiba terbuka sedikit.

Dan dari balik pintu itu, ada nama asing yang mulai mendekat ke hidupnya.

Arshaka Zayd Kalandra.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!