Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 : Pengakuan Alexander
Pria itu menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Lihat, Mom."
Ibu Sandra mengepalkan tangannya. "Alex..."
"Tidak perlu membela siapa pun dulu." Alexander membuka map di atas meja.
Satu lembar foto diletakkan di hadapan ibunya. Kemudian satu lagi, lalu satu lagi. Wajah Ibu Sandra perlahan berubah, tangannya mulai gemetar. Karena foto-foto itu menunjukkan sesuatu yang tidak bisa dibantah lagi.
Pertemuan Sabrina dengan Dion, bukan hanya sekali. Tetapi berulang kali, dengan tanggal yang berbeda-beda, tempat yang berbeda, dan waktu yang berbeda juga.
Ibu Sandra menatap foto-foto itu dengan mata membesar. "Ini..."
"Semuanya sudah diverifikasi." Suara Alexander terdengar datar. "Tidak ada rekayasa."
Ibu Sandra menoleh kepada Sabrina. "Sabrina..."
Wanita itu langsung menundukkan kepala. Air matanya mulai jatuh, namun kali ini bahkan tangisan itu tidak lagi mampu mengubah keadaan.
Alexander kembali berbicara. "Dua tahun." Tatapannya kosong. "Aku mencoba menjadi suami yang baik."
Ruangan kembali sunyi.
"Aku memberikan kebebasan, Aku mendukung karirmu, Aku menjaga nama baikmu."
Setiap kalimat yang keluar terdengar tenang. Namun justru membuat hati semua orang terasa berat.
"Dan sebagai balasannya..." Alexander menatap Sabrina. "Kamu memberiku penghinaan."
Deg.
Tangis Sabrina semakin keras. "Alex..."
"Tidak." Alexander menggeleng. "Kali ini dengarkan sampai selesai."
Bahkan Ibu Sandra tidak berani menyela lagi. Kini ia melihat luka yang selama ini disembunyikan putranya.
Alexander berdiri perlahan, tatapannya beralih kepada ibunya. "Mom."
Sandra menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku datang hari ini karena Mommy yang memintaku. Aku menghormatimu. Aku selalu menghormatimu."
Sandra mulai menangis pelan.
"Tapi untuk masalah ini..." Alexander menghela napas panjang. "Aku tidak akan mundur."
Deg.
Kalimat itu menghantam seluruh ruangan.
Sabrina langsung mengangkat kepalanya. "Alex, tolong..."
"Kita sudah selesai, Sabrina."
Tidak ada amarah, tidak ada kebencian. Dan justru itu yang paling menakutkan, karena ketika seseorang sudah tidak marah lagi. Sering kali artinya ia benar-benar telah menyerah.
Air mata Sabrina mengalir semakin deras, namun Alexander tidak lagi melihat ke arahnya. Tatapannya beralih kepada Dara yang sejak tadi berdiri diam di sudut ruangan.
Dara langsung membeku, Alexander hanya menatapnya beberapa detik. Lalu kembali menoleh kepada keluarganya.
"Dara tidak ada hubungannya dengan keputusan ini." Suaranya tegas. "Jangan salahkan dia."
Kalimat terakhir Alexander baru saja menggema di ruang tamu ketika Sabrina tiba-tiba berdiri dari duduknya. Air matanya masih mengalir, tetapi kali ini tatapannya tidak lagi tertuju pada Alexander. Melainkan pada Dara.
"Jangan salahkan dia?" ulang Sabrina dengan suara bergetar.
Ruangan kembali hening.
Sabrina tertawa pelan. Tawa yang terdengar pahit. "Bagaimana mungkin aku tidak akan menyalahkannya?"
"Dara tidak terlibat dalam masalah ini," jawab Alexander dingin.
"Tidak terlibat?" Sabrina menatapnya tidak percaya. Lalu tiba-tiba ia menunjuk Dara. "Kalau begitu kenapa dia ada di sini?!"
Deg.
Dara langsung menegang.
"Ini urusan rumah tangga kita, Alexander!" suara Sabrina meninggi. "Tapi kau justru membawa wanita itu ke rumah keluarga kita!"
"Sabrina."
"Tidak!" Sabrina menggeleng keras. Kini seluruh emosi yang sejak tadi ia tahan mulai meledak. "Kau bilang perceraian ini karena perselingkuhanku."
"Karena memang itu faktanya."
"Tapi sebenarnya bukan hanya itu, kan?" balas Sabrina tajam.
Tatapan semua orang langsung berpindah kepada Sabrina.
Wanita itu tertawa getir. "Kau hanya menjadikan perselingkuhanku sebagai alasan."
Alexander menyipitkan mata.
"Padahal sebenarnya..." Sabrina menatap Dara penuh kebencian. "Kau juga sudah memiliki wanita lain."
Dara langsung membeku.
"Sabrina!" bentak Pak Arga.
Namun Sabrina sudah tidak peduli lagi. "Kau ingin menceraikanku secepat mungkin karena kau ingin menikahi wanita itu!"
Ruangan mendadak sunyi.
Bahkan napas Dara terasa tercekat, sedangkan Alexander hanya menatap Sabrina tanpa ekspresi. Lalu...
Ibu Sandra yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. "Alex." Suara wanita itu terdengar pelan.
Alexander menoleh.
Tatapan Ibu Sandra berpindah kepada Dara. Sangat lama, lalu kembali kepada putranya. "Apakah yang dikatakan Sabrina itu benar?"
Ruangan terasa semakin mencekam.
Ibu Sandra perlahan berdiri. "Apa kau ingin perceraian ini cepat selesai karena ingin menikahi gadis itu?"
Dara langsung menundukkan kepalanya.
Sedangkan Sabrina menatap Ibu Sandra penuh harapan. "Mommy..."
Ibu Sandra mengabaikannya, tatapannya tidak pernah lepas dari Alexander. Karena ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Sesuatu yang bahkan lebih mengejutkan daripada perselingkuhan Sabrina.
Ia mengenal putranya, sangat mengenalnya. Alexander Dirgantara bukan pria yang mudah membuka hati. Bahkan pernikahannya dengan Sabrina dulu terjadi karena desakannya. Bukan karena Alexander jatuh cinta.
Pria itu selalu dingin, selalu menjaga jarak. Selalu hidup untuk pekerjaan. Bahkan selama bertahun-tahun Ibu Sandra tidak pernah melihat putranya benar-benar tertarik pada seorang wanita.
Namun sekarang, Alexander membawa seorang perempuan ke tengah konflik keluarganya. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
"Siapa dia sebenarnya, Alex?" tanya Sandra pelan.
Deg.
Jantung Dara langsung berdegup keras.
Sandra melangkah mendekat. "Kenapa kau membawanya ke sini?"
"Mommy..."
"Jawab Mommy!"
Keheningan menyelimuti seluruh ruangan.
Pak Arga mulai memperhatikan putranya. Sabrina menatap Alexander tanpa berkedip. Bahkan Dara sendiri tidak berani mengangkat kepalanya.
Beberapa detik berlalu, lalu Alexander berdiri perlahan.
Tatapannya tetap tenang, Alexander menatap ibunya lurus. "Dia Sekretaris Pribadi baruku."
Mata Ibu Sandra membesar, Sabrina ikut membeku.
Alexander melanjutkan dengan suara tenang. "Aku memang tidak mudah membuka hati. Bahkan selama dua tahun pernikahan itu..." Tatapannya beralih sekilas kepada Sabrina. "Aku tidak pernah benar-benar mencintaimu."
Sabrina langsung terduduk kembali di sofa, wajahnya memucat. Air matanya mengalir semakin deras. Sedangkan Sandra menatap putranya dengan mata membesar.
Karena baru kali ini, Alexander mengatakannya secara terang-terangan. Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Dara.
Dara yang menyadari tatapan itu langsung menegang. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Namun Alexander tidak mengatakan apa-apa lagi. Hanya beberapa detik, kemudian ia kembali menatap ibunya.
"Dan karena itulah..." Suaranya terdengar rendah. "Tuduhan Sabrina tidak sepenuhnya salah."
Ruangan seolah membeku, mata Sabrina membelalak. Ibu Sandra sampai kehilangan kata-kata, bahkan Pak Arga terlihat terkejut.
Sedangkan Dara, wanita itu perlahan mengangkat kepalanya. Tatapannya bertemu dengan Alexander. Dan kali ini di depan seluruh keluarganya. Alexander tidak mengalihkan pandangan.
"Aku memang ingin mengakhiri pernikahan ini. Bukan karena Dara hadir dalam hidupku." Tatapannya tetap tenang. "Tapi karena pernikahan ini sudah berakhir jauh sebelum aku menyadarinya."
Lalu setelah jeda beberapa detik. Alexander menambahkan satu kalimat yang membuat seluruh ruangan membeku.
"Dan setelah semuanya selesai..." Tatapannya tetap tertuju pada Dara. "Aku memang berniat untuk menjadikan dia sebagai istriku."
Deg!
Suara napas tercekat terdengar hampir bersamaan dari Ibu Sandra dan Sabrina. Sedangkan Dara benar-benar membeku di tempatnya.