Velicia, seorang wanita yang sedang hamil delapan bulan, dipermalukan dan disiksa oleh suaminya sendiri. Michael adalah Bos Mafia yang lebih mempercayai wanita lain bernama Sania, dibanding istrinya sendiri.
Dituduh tanpa bukti dan dipaksa berlutut di depan wanita yang membencinya, Velicia akhirnya menyadari bahwa cinta yang ia perjuangkan selama dua tahun hanyalah ilusi.
Namun Michael tidak tahu satu hal, Velicia bukan wanita biasa. Di balik diam dan lukanya, ia menyimpan identitas tersembunyi sebagai bagian dari dunia mafia yang jauh lebih gelap dari keluarga Kensington.
Saat Michael akhirnya menyesal, akankah Velicia memaafkannya dan kembali padanya? Atau memilih pria lain yang datang di waktu yang tepat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 31.
Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika ruang strategi keluarga Romanov kembali dipenuhi para petinggi organisasi. Peta digital memenuhi layar besar, memperlihatkan jalur perdagangan senjata, pelabuhan, kasino, serta wilayah kekuasaan yang dikuasai berbagai organisasi mafia.
Antonio Romanov berdiri di ujung meja, wajahnya dingin saat sebuah foto diproyeksikan ke layar. Bianca De Luca, dan Joseph Bonanno, berjabat tangan di dalam gudang tua.
Leon Romanov menyipitkan mata. "Yakin bukan hasil rekayasa?"
"Sumber kita mengambilnya langsung semalam."
Antonio menggeser foto berikutnya, Bianca menyerahkan sebuah flashdisk kepada Joseph.
"Kualitas gambar cukup untuk membuktikan mereka memang bertemu."
Velicia memperhatikan layar tanpa mengubah ekspresinya.
"Ayah, jangan bergerak lebih dulu."
"Maksudmu?"
"Biarkan Bianca merasa tidak dicurigai."
Antonio langsung memahami arah pemikiran adiknya. "Kalau sekarang kita menangkapnya, Black Throne akan sadar kita mengetahui penyusup mereka."
Velicia mengangguk. "Sebaliknya, kita jadikan dia saluran informasi."
"Itu baru putriku." Leon tersenyum tipis.
Di saat yang sama.
Markas Sullivan.
Lorenzo akhirnya diperbolehkan keluar dari ruang perawatan di rumah sakit meski dokter masih melarangnya bertarung.
Begitu pria itu memasuki ruang kerja, Bianca sudah berdiri menunggu.
"Kau seharusnya beristirahat."
Lorenzo duduk sambil membuka beberapa laporan. "Masih banyak pekerjaan."
Bianca mengambil sebagian dokumen dari tangannya. "Kalau kau mati karena memaksakan diri, siapa yang akan memimpin organisasi ini?"
Lorenzo mengangkat kepala. "Kau."
Jawaban pria itu membuat Bianca terdiam beberapa saat. Dulu, kata-kata itu akan membuatnya sangat bahagia. Namun sekarang... tidak lagi. Karena jabatan bukanlah yang ia inginkan, yang ia inginkan adalah hati Lorenzo. Sayangnya, hati pria itu milik wanita lain.
Beberapa menit kemudian seorang komandan masuk tergesa-gesa. "Tuan, ada laporan."
Lorenzo langsung menerima map tersebut. Salah satu gudang senjata Sullivan diserang dini hari. Tidak banyak korban, tapi hampir seluruh persediaan amunisi musnah terbakar.
"Ini gudang yang sangat rahasia, berarti ada orang dalam."
Ucapan Lorenzo membuat Bianca menahan napas, namun wajahnya tetap tenang.
Lorenzo melanjutkan membaca laporan tanpa sedikit pun melirik Bianca. "Mulai hari ini, semua akses gudang diganti. Seluruh jalur logistik dipindahkan, dan... aku ingin semua komunikasi internal diawasi."
"Baik." Bianca mengangguk seperti anggota lainnya.
Sementara itu.
Di markas Black Throne.
Joseph Bonanno memandang layar monitor yang menampilkan kondisi gudang Sullivan yang baru saja terbakar.
Ia tersenyum puas. "Dengan satu informasi, kerugian mereka mencapai puluhan juta dolar."
"Apakah kita lanjut menyerang?" Salah seorang bawahannya bertanya.
Joseph menggeleng. "Belum."
"Kita buat Lorenzo mulai mencurigai semua orang, kalau kepercayaan di dalam organisasinya hancur... sisanya akan runtuh sendiri."
...*****...
Di sisi lain kota.
Michael Kensington menerima laporan serupa, Aaron berdiri di depannya.
"Tuan, gudang Sullivan tiba-tiba diserang."
"Lorenzo pasti akan membalas."
"Ya."
"Tapi ini bukan gaya Lorenzo."
Aaron terlihat bingung. "Maksud Tuan?"
"Dia tidak akan membiarkan informasi sepenting lokasi gudang bocor."
Michael menyandarkan tubuhnya. "Artinya, ada pengkhianat dari dalam organisasinya."
Aaron mengangguk perlahan. "Apakah kita memanfaatkannya?"
Michael terdiam cukup lama, dulu da mungkin akan langsung ikut menyerang. Namun sekarang, Romanov dan Sullivan adalah pihak yang sedang melindungi Velicia.
Michael menatap jendela, bayangan wajah putranya kembali muncul di kepalanya.
"Aaron."
"Ya?"
"Kirim orang."
"Untuk menyerang?"
Michael menggeleng. "Lindungi jalur distribusi Romanov secara diam-diam."
Aaron tertegun. "Tuan?"
"Kalau Black Throne berhasil menghancurkan Romanov, Velicia dan putraku akan berada dalam bahaya. Tapi... jangan sampai Romanov tahu kita membantu."
Aaron akhirnya mengangguk. "Saya mengerti."
Michael memang telah kehilangan Velicia, namun bukan berarti ia akan membiarkan wanita dan anaknya menjadi korban perang.
Sore harinya, Velicia sedang bermain bersama Vincenzo di taman belakang mansion Romanov.
Anak itu kini mulai sering tersenyum, tawa kecilnya membuat suasana taman yang dingin terasa lebih hangat. Lorenzo datang dengan langkah pelan, lukanya masih belum pulih sepenuhnya.
"Kau melanggar perintah dokter lagi." Ucap Velicia setelah Lorenzo berdiri di sampingnya.
Lorenzo tersenyum tipis. "Aku bosan berbaring."
"Kalau jahitanmu terbuka lagi?"
"Masih ada dokter."
Velicia akhirnya menatap Lorenzo, tatapan dingin wanita itu membuat Lorenzo langsung mengangkat kedua tangannya. "Baik, aku akan lebih berhati-hati."
Velicia kembali mengalihkan perhatian kepada Vincenzo, senyum kecil muncul di sudut bibirnya.
Pemandangan sederhana itu dilihat seseorang dari kejauhan—Bianca. Wanita itu berdiri di balik pilar balkon lantai dua, tatapannya perlahan berubah dingin. Bianca menggigit bibirnya hingga hampir berdarah.
Kalau aku tidak bisa memiliki hatimu, maka aku akan menghancurkan wanita yang berhasil merebutnya.
Di saat yang sama, sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Joseph Bonanno: "Waktunya hampir tiba, bersiaplah. Tahap berikutnya, aku akan membuat Lorenzo berlutut padamu."
Bianca membaca pesan itu tanpa ekspresi, lalu perlahan menekan tombol hapus. Namun api kebencian di matanya, justru semakin membesar.
Perang berikutnya tidak lagi sekadar memperebutkan wilayah. Kini, sasarannya adalah hati, kepercayaan, dan orang-orang yang paling berharga bagi setiap pemimpin organisasi.