NovelToon NovelToon
Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.

Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.

Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DuaDua—Taktik Menjebak!

"Tuan Shen..." lirihnya pelan dengan napas yang masih tersengal. Tubuhnya kini mendadak menggigil kedinginan akibat hantaman air kolam yang kontras dengan hawa panas obat tadi. Bercak darah yang semula mengering di wajah cantiknya kini telah luruh, larut bersama air di dalam bak mandi.

"Bersihkan dirimu, kita bicara nanti," ucap Shen Mufeng seraya bangkit dan meninggalkan bak mandi dengan gerakan pasti. Jubah pengantinnya yang basah kuyup terasa berat, namun langkahnya tidak goyah sedikit pun. "Aku akan memanggil Li'er agar membantumu."

Gu Mingyue hanya menganggukkan kepalanya samar. Ia menenggelamkan tubuhnya sedikit lebih dalam ke dalam air, masih dirayapi rasa malu sekaligus terpukul karena keadaannya yang sempat kehilangan kendali dan sangat kacau di depan pria itu.

Shen Mufeng berjalan ke luar ruangan. Begitu pintu kayu paviliun samping tertutup rapat di belakangnya, ekspresi wajah sang Jenderal Agung yang semula tenang di depan istrinya seketika berubah drastis. Langkah kakinya berhenti di koridor yang sunyi, jubahnya yang basah meneteskan air ke lantai batu. Di bawah temaram malam, sepasang netra elangnya menggelap sempurna, memancarkan aura membunuh yang jauh lebih pekat dan mengerikan daripada sebelumnya. Seseorang di kediaman ini benar-benar harus membayar mahal atas apa yang terjadi malam ini.

Waktu satu dupa telah habis. Gu Mingyue telah berganti pakaian yang lebih kering; gaun satin putih dengan jubah hangat yang melingkupi tubuhnya. Ia duduk di atas ranjang dengan tangan menahan kaki yang berdenyut nyeri. Rambut panjangnya terurai, masih menyisakan sedikit rasa lembap.

Suara pintu berderit pelan terdengar. Shen Mufeng berjalan masuk dengan derap langkah yang sengaja dilembutkan. Rambutnya pun kini dibiarkan terurai bebas, dan ia telah berganti jubah gelap yang kering. Di tangannya, ia membawa sebuah nampan berisi bubuk Sanqi, air hangat, kain sutra halus, dan penjepit perak.

Gu Mingyue yang melihat kedatangannya langsung menunduk sedikit demi menyembunyikan rasa malu. "Saya terlalu banyak merepotkan Tuan setelah segala kesombongan saya."

Shen Mufeng tidak langsung menjawab. Ia meletakkan nampan kayu itu di atas meja kecil di dekat ranjang, lalu menarik sebuah kursi rendah untuk duduk di hadapan Gu Mingyue. Pandangannya turun, tertuju pada pergelangan kaki gadis itu yang tampak begitu rapuh.

"Jika kau tahu itu sebuah kesombongan, setidaknya kau membuktikannya dengan tidak mati di tangan pelayan rendahan," sahut Shen Mufeng datar, namun tidak ada nada mengejek dalam suaranya.

Tanpa meminta izin lagi, tangan besarnya yang hangat dan dipenuhi kapalan akibat menggenggam pedang bergerak menopang pergelangan kaki Mingyue, mengangkatnya perlahan untuk diletakkan di atas pangkuannya. Menggunakan penjepit perak dan kain sutra yang telah dibasahi air hangat, ia mulai membersihkan sisa-sisa darah yang sempat melunak akibat air kolam mandi tadi.

"Tahan sedikit. Ini akan terasa perih," gumamnya pelan sebelum mulai menaburkan bubuk Sanqi di atas luka robek tersebut.

Gu Mingyue berdesis kecil, rasa perih seketika menjalar dari telapak kakinya yang tengah ditopang oleh tangan kekar Shen Mufeng. Butuh beberapa lama hingga rasa sakit yang menusuk itu perlahan berkurang dan berubah menjadi kebas yang dingin.

"Pria itu telah mati," ucap Shen Mufeng, akhirnya memecah keheningan di antara mereka. Ia meletakkan kembali botol bubuk Sanqi ke atas nampan kayu. "Namun, aku tahu pria itu adalah salah satu kuli panggul dari paviliun barat, tempat Bibi Liu memegang kuasa penuh."

Gu Mingyue mengulum bibirnya samar, mencoba meredam denyut nyeri di kakinya. "Lalu, bagaimana rencana Anda selanjutnya, Tuan?"

"Aku akan mengadakan sidang terbuka untuk Bibi Liu besok pagi, lalu menyeretnya langsung untuk menerima hukuman," jawab Shen Mufeng, kilat amarah masih membayang di kedua matanya.

"Jangan, Tuan. Menurutku itu tindakan yang terlalu gegabah," cegah Mingyue cepat sebelum sang Jenderal melangkah lebih jauh.

Shen Mufeng menghentikan gerakannya sejenak, lalu mendongak menatap Mingyue. "Aku yakin dia punya seribu cara untuk mengelak."

Shen Mufeng menghela napasnya pelan, matanya melihat ke depan dengan lurus. "Bibi Liu adalah orang suruhan pamanku dari wangsa Wang."

Gu Mingyue mengernyit samar. "Wangsa Wang?"

"Ya. Jika dipikir kembali, pamanku tidak mungkin menempatkannya tanpa kepentingan," jelas Shen Mufeng dengan suara berat yang tertahan.

"Apakah Tuan sudah menyadarinya sejak awal?"

"Tentu saja. Sesungguhnya, mengeksekusi atau memecat Bibi Liu begitu saja tanpa bukti yang tak terbantahkan juga hanya akan memicu perseteruan besar dengan pihak wangsa Wang."

Gu Mingyue terdiam sejenak, menundukkan kepalanya seraya menyusun siasat di dalam benak. Ketika ia kembali mendongak, sepasang matanya berkilat tajam.

"Jika begitu... kurasa kita harus memancingnya agar keluar sendiri dengan belatinya."

"Bagaimana?" tanya Shen Mufeng, tertarik dengan binar penuh intrik di mata istrinya. Ia menyelesaikan balutan kain sutra terakhir di kaki Mingyue dengan simpul yang rapi, lalu kembali menegakkan punggungnya.

"Kita bisa menyebarkan berita bahwa semalam ada penyusup yang tertangkap di kamar pengantin," Gu Mingyue berkata pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat taktik. "Namun, alih-alih mengumumkan kematiannya, katakan bahwa pria itu selamat dan sedang sekarat di paviliun pribadi Jenderal. Kita akan membuat Bibi Liu ketakutan setengah mati, berpikir bahwa rahasianya akan terbongkar begitu fajar menyingsing."

Mendengar strategi tersebut, ketegangan di rahang Shen Mufeng perlahan mengendur, digantikan oleh kilat kepuasan yang dingin. Ia menatap lekat wanita yang baru saja resmi menjadi sekutunya di kediaman ini.

"Jika itu ide Nyonya Besar, maka akan dijalankan," sahut Shen Mufeng datar, namun terselip rasa takjub yang samar atas ketajaman berpikir istrinya.

""Tentu, Tuan Shen," balas Gu Mingyue anggun. Tatapannya lurus menembus kegelapan di luar jendela. "Jika tikus-tikus di rumah ini mengira mereka bisa menjebak seekor harimau, maka mereka harus bersiap untuk diterkam balik hingga tak bersisa."

Malam pengantin yang semula disusun sebagai perangkap bagi pasangan itu, kini berbalik menjadi panggung bagi kehancuran musuh-musuh klan Shen.

...----------------...

1
Ana Dww
Hai semua, ini adalah karya pertamaku dengan tema pembalasan wanita bergenre Fantasi Kelahiran Kembali.

Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭

Semoga kalian menyukainya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!