Dua tahun menjalani hubungan rahasia (backstreet) dengan Dimas—pria matang keturunan darah biru—Kirana rela mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia melepaskan masa lalu, melawan restu keluarganya sendiri, hingga meruntuhkan tembok perbedaan besar demi menyamakan arah masa depan dan bersiap melangkah ke jalan yang sama dengan sang kekasih.
Namun, tepat di hari saat ia siap menyerahkan seluruh hidupnya, takdir menghempaskannya tanpa belas kasihan. Di sebuah gedung pesta yang megah, dunia Kirana seolah runtuh. Di atas pelaminan mewah, Dimas justru bersanding dengan wanita lain yang merupakan atasannya sendiri. Tanpa ada kata putus, tanpa perpisahan hangat. Kirana ditinggalkan begitu saja dalam kehampaan oleh pria yang berjanji menjadi kompas hidupnya.
Sanggupkah Kirana bertahan dan menemukan kembali jati dirinya setelah pengorbanan tulusnya diinjak-injak? Dan bagaimanakah takdir menjemput penyesalan terdalam sang lelaki darah biru tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah yang Terpaksa Melangkah
Waktu berjalan merangkak bagai siksaan yang amat lambat dan menyakitkan bagi seorang Kirana. Hari demi hari yang dilewatinya kini terasa begitu gersang, hambar, dan seolah kehilangan warna. Tidak ada lagi kehangatan yang tersisa dari sosok Dimas, pria yang selama dua tahun ini menjadi pusat dari seluruh semesta cintanya. Jika dahulu layar ponselnya selalu dipenuhi oleh deretan notifikasi pesan manis, panggilan suara yang manja, atau sekadar perhatian kecil yang intens tanpa jeda, kini benda pipih tersebut lebih sering membisu teronggok di atas meja kamar. Hubungan asmara rahasia alias backstreet yang telah mereka rajut dengan penuh perjuangan dan tetesan air mata ini, terasa seperti selembar benang rapuh yang sudah lapuk, yang akan langsung putus berantakan hanya dengan sekali sentakan kecil saja. Kirana merasa seperti sedang berjalan seorang diri di dalam sebuah lorong kegelapan yang teramat pekat, meraba-raba arah tanpa pernah tahu di mana ujung dari ketidakpastian ini akan membawa nasibnya pergi.
Sikap Dimas yang kian hari kian menunjukkan perubahan drastis, mendingin, dan seolah sengaja menutup rapat-rapat pintu komunikasinya, sukses mengikis habis sisa-sisa rasa percaya diri yang dimiliki oleh Kirana. Dia merasa tidak lagi berharga di mata pria matang tersebut. Rasa insecure yang dahulu sempat menguap karena perlakuan royal Dimas, kini kembali datang menyerang batinnya dengan intensitas yang jauh lebih hebat dan merusak kewarasannya.
"Mas, kalau memang ada masalah di kantor atau apa pun itu, tolong bicara jujur denganku. Jangan diam dan menghilang seperti ini tanpa kejelasan," tulis Kirana dalam sebuah pesan singkat yang dia ketik dengan jemari yang sedikit bergetar, mencoba menumpahkan seluruh rasa frustrasi, rindu, dan sesak yang sudah menumpuk layaknya gunung es di dalam dadanya selama berminggu-minggu belakangan ini.
Namun, seperti skenario yang sudah-sudah dan benar-benar selalu berulang, pesan penuh harap itu hanya dibiarkan teronggok begitu saja dengan status centang dua abu-abu tanpa pernah ada balasan yang berarti selama berjam-jam. Ketika Dimas akhirnya meluangkan waktu untuk membalas di keesokan harinya, kalimat yang dia ketik selalu saja bermuara pada untaian alasan klasik yang sudah dihafal luar kepala oleh Kirana.
"Maaf ya, Sayang. Pekerjaan di kantor sedang menguras seluruh waktu, tenaga, dan pikiran Mas. Ada banyak proyek baru dari atasan yang harus segera Mas selesaikan secepatnya. Mas lelah dan pusing sekali belakangan ini. Tolong mengerti posisi Mas ya," jawab Dimas melalui sebaris pesan singkat yang terasa begitu berjarak, dingin, dan sangat hambar di mata Kirana.
Kata "tolong mengerti" yang selalu diucapkan oleh Dimas kini telah menjelma menjadi sebilah belati tipis nan tajam yang mengiris perlahan dinding hati Kirana hingga berdarah-darah. Kurang mengerti bagaimana lagi dirinya selama ini? Selama dua tahun penuh menjalani hubungan tersembunyi, Kirana rela menyembunyikan status hubungannya dari dunia luar, rela membohongi nuraninya sendiri, rela menahan diri untuk tidak pernah menuntut banyak hal layaknya wanita lain, dan selalu memilih untuk mengalah setiap kali ego Dimas meminta ruang. Namun kini, ketika jalinan komunikasi mereka berada di titik paling kritis dan berada di ujung tanduk, Kirana seolah-olah dipaksa untuk terus menelan bulat-bulat rasa sepi yang teramat sangat menyiksa hati dan batinnya.
Rasa sesak yang kian menumpuk setiap harinya, ditambah dengan atmosfer di dalam rumah yang terasa makin menghimpit ruang geraknya, akhirnya membawa Kirana sampai pada satu titik jenuh yang luar biasa hebat. Jiwanya lelah digantung tanpa kepastian yang benderang. Batinnya menjerit kesakitan, meminta ruang baru untuk sekadar bernapas dan menjauh sejenak dari radius kehidupan Dimas yang kian hari kian tak tersentuh oleh jemarinya.
Sebuah tekad bulat yang benar-benar nekat akhirnya muncul di dalam benak Kirana. Dia harus pergi dari kota ini. Dia harus melangkah keluar jauh dari zona nyaman ini demi menyelamatkan sisa-sisa kewarasan hatinya yang sudah berada di ambang batas kehancuran yang paling fatal. Kirana tahu, jika dia terus bertahan di kamar ini sambil meratapi ponselnya yang sepi, dia akan hancur perlahan.
Namun, pergi meninggalkan rumah begitu saja tentu akan menimbulkan kecurigaan yang teramat besar bagi sang ibu dan juga kakak kandungnya. Kirana terpaksa memeras otak, menyusun sebuah alur alasan yang paling logis dan masuk akal agar keluarganya tidak perlu mencemaskan badai hubungan asmara yang selama ini sedang dia sembunyikan rapat-rapat seorang diri tanpa ada satu orang pun yang tahu.
Sore itu, dengan senyuman lebar yang Kirana paksakan sekuat tenaga di depan cermin, Kirana melangkah pelan mendekati ibunya yang sedang duduk santai menikmati teh hangat di ruang tengah rumah mereka yang sederhana.
"Bu... Kirana mau pamit," ucap Kirana dengan nada suara yang dipelankan, berusaha keras menjaga agar suaranya tetap stabil, renyah, dan tidak menunjukkan getaran emosi sedikit pun.
Sang ibu seketika menghentikan aktivitasnya, menoleh ke arah anak gadisnya dengan sepasang mata yang menyiratkan pandangan heran sekaligus terkejut. "Pamit ke mana, Nak? Kok mendadak sekali?"
"Kirana... Kirana beruntung banget, Bu. Kemarin malam Kirana dapet kabar kalau ada panggilan kerjaan baru di kota luar. Gajinya lumayan bagus banget untuk lulusan seperti Kirana, dan posisi kerjanya juga pas dengan minat Kirana. Jadi, Kirana harus segera berangkat minggu depan buat mulai bekerja dan menetap di sana," dusta Kirana, mengalirkan sebuah alasan palsu dari bibirnya demi menutupi niat aslinya yang murni ingin melarikan diri dari rasa sakit yang kian menghimpit rongga dadanya akibat sikap dingin Dimas.
Sang ibu sempat terdiam membisu beberapa saat, menatap lekat-lekat sepasang manik mata Kirana dengan pandangan yang dalam, seolah-olah sedang mencoba mencari tahu apakah ada hal lain yang sedang disembunyikan oleh putri kesayangannya itu. Namun, Kirana dengan cepat buru-buru mengulas senyum terbaiknya—sebuah topeng sempurna yang sengaja dia pasang rapat-rapat demi menyembunyikan luka batin yang sudah menganga sangat lebar dan berdarah di dalam dadanya.
Melihat antusiasme dan binar kebahagiaan palsu yang ditunjukkan oleh Kirana, sang ibu akhirnya menghela napas panjang menganggukkan kepalanya tanda setuju. "Ya sudah, kalau memang itu sudah menjadi jalan rezekimu yang dibuka oleh Tuhan, Nak. Ibu tidak punya alasan untuk melarang. Ibu hanya bisa merestui, mendoakan keselamatanmu, dan mendoakan yang terbaik untuk kariermu. Ingat, jaga diri baik-baik di kota orang, ya? Jangan telat makan."
"Iya, Bu. Pasti. Kirana akan jaga diri di sana," lirih Kirana sembari melangkah maju dan memeluk erat tubuh ringkih sang ibu yang teramat dia sayangi. Di dalam dekapan pelukan hangat yang benar-benar tulus itu, pertahanan Kirana benar-benar nyaris jebol. Air matanya sudah berada di ujung kelopak, nyaris tumpah, namun Kirana menahannya dengan sekuat tenaga sembari menggigit bibir bawahnya.
Bohong besar jika dia pergi dari rumah demi mengejar karier mentereng atau masa depan pekerjaan yang berkilau. Aslinya, Kirana pergi mengemas pakaian-pakaian terbaiknya ke dalam koper besar hanya untuk melarikan diri dari belenggu sepi yang mencekik, bersembunyi dari dinginnya sikap Dimas, dan mencoba menenangkan hatinya yang sudah remuk redam karena digantung tanpa kejelasan selama berbulan-bulan tanpa status yang pasti.
Malam terakhir sebelum keberangkatannya menuju kota baru, di dalam kamarnya yang sudah terlihat kosong, rapi, dan sepi, Kirana duduk termenung seorang diri di sudut ranjang. Di tengah kesunyian malam yang mencekam dan rencana pelarian dirinya yang sudah matang, tekad spiritual di dalam jiwanya justru tumbuh dengan sangat kuat. Kesepian yang menyiksa dan rasa digantung sepi ini sama sekali tidak membuat Kirana melupakan proses pencarian batinnya tentang agama Islam.
Sebaliknya, dia justru semakin membulatkan tekad batinnya dengan sangat mantap. Kirana ingin menggunakan momen kepindahannya di kota baru nanti sebagai sebuah lembaran putih yang baru untuk memeluk keyakinan barunya secara utuh dan resmi. Di sana, jauh dari jangkauan ingatan lamanya, dia ingin belajar dengan lebih serius, mengikrarkan janji sucinya di hadapan para saksi, memeluk jalan pengabdian spiritual ini secara resmi, dan bersiap memberikan sebuah kejutan terbesar untuk Dimas suatu hari nanti bahwa dia sudah siap menyamakan arah sujud mereka demi menjemput masa depan bersama di atas pelaminan. Kirana menaruh seluruh sisa harapan hidupnya pada rencana masa depan spiritual tersebut.
Singkat cerita, hari yang ditentukan pun tiba, dan kepindahan Kirana ke kota baru berjalan dengan sangat lancar tanpa hambatan berarti. Di kota barunya yang asing sekaligus tenang, Kirana menepati janji suci pada batinnya sendiri untuk mencari kedamaian batin dan spiritual.
Di tengah-tengah kesibukannya beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggal yang baru, Kirana mulai memberanikan diri untuk rutin mengikuti sebuah kelompok kajian spiritual setempat yang diadakan setiap pekan. Berada di dalam lingkungan baru yang dipenuhi oleh energi positif, lantunan kalimat suci, dan ketenangan, memberikan seberkas cahaya hangat bagi hatinya yang sempat gersang dan hancur lebur.
Sampai akhirnya Kirana pun memantapkan hatinya untuk mengikrarkan janji suci keimanannya. Kirana resmi memeluk keyakinan baru tersebut. Kini arah sujudnya dengan Dimas sudah sama, kini tembok perbedaan keyakinan di antara keduanya sudah runtuh, kini Kirana yakin Tuhan akan mengabulkan doa dan keinginannya untuk dipersatukan dengan kekasih hatinya, Dimas.
Di tempat kajian tersebut, Kirana menemukan teman-teman baru yang memiliki hati sangat tulus. Mereka dengan tangan terbuka langsung merangkul Kirana, membimbingnya untuk belajar dari dasar yang paling nol, mengajarinya membaca baris demi baris kitab suci dengan perlahan. Kedamaian yang dia rasakan saat duduk di dalam rumah ibadah yang tenang mendengarkan petuah kebaikan menjadi obat penawar rindu yang sangat mujarab bagi jiwanya.
Hingga pada suatu sore yang cerah, setelah agenda kajian rutin selesai dilaksanakan dan para jemaah mulai membubarkan diri, salah seorang teman kajian dekatnya yang bernama Aisyah melangkah menghampiri Kirana dengan seulas senyuman hangat yang merekah indah di wajahnya.
"Kirana, besok akhir pekan kamu ada acara luang atau kesibukan gak?" tanya Aisyah dengan nada suara yang sangat ramah dan lembut.
Kirana menghentikan aktivitasnya yang sedang merapikan buku catatan ke dalam tas, menoleh menatap temannya itu. "Ehm, sepertinya tidak ada, Aisyah. Besok jadwal aku luang dan santai saja di rumah. Kenapa emangnya?"
Aisyah tersenyum semakin lebar, mengeluarkan sebuah kartu undangan dari dalam tasnya. "Begini, kebetulan besok ada kenalanku yang sedang melangsungkan pesta pernikahan yang sangat mewah di salah satu gedung pertemuan terbesar di pusat kota ini. Aku diajak dan dapet undangan VIP, tapi kalau aku harus datang sendirian ke acara semegah itu rasanya canggung, malas, dan kurang seru banget. Kamu mau gak menemani aku jalan-jalan ke pesta pernikahan itu besok siang? Anggap saja kita sekalian refreshing keluar rumah."
Kirana sempat tertegun membisu sejenak mendengar ajakan yang terasa sangat mendadak tersebut. Dia memikirkan kondisi hatinya sendiri yang belakangan ini terlalu menutup diri dari hiruk-pikuk keramaian dunia luar karena masih sering teringat pada sosok Dimas. Kirana menimbang dalam benaknya, mungkin, menghadiri sebuah acara penuh kebahagiaan seperti pesta pernikahan bisa membantunya untuk sedikit mengalihkan pikiran, menyembuhkan rasa rindu, dan melupakan status hubungannya yang digantung sepi oleh sikap dingin Dimas di kota asalnya. Dia ingin melihat senyum kebahagiaan orang lain agar hatinya bisa ikut tertular bahagia.
Tanpa menaruh prasangka buruk sedikit pun di dalam pikirannya, tanpa tahu siapa sosok sepasang pengantin yang akan duduk bersanding di atas pelaminan megah penuh bunga tersebut, Kirana akhirnya mengulas senyum tipis yang tulus lalu menganggukkan kepalanya pelan ke arah Aisyah.
"Boleh, Aisyah... besok siang aku luang, jadi aku mau menemani kamu pergi ke pesta pernikahan itu ya. Jam berapa besok?" jawab Kirana dengan nada suara yang sangat polos, tenang, dan tanpa beban.
Kirana tidak pernah tahu, dan sama sekali tidak akan pernah menyangka, bahwa keputusannya menerima ajakan sederhana dari teman kajiannya sore itu, akan menjadi langkah awal yang mengantarkan kaki dan raganya langsung menuju ke dalam gerbang kehancuran paling fatal dan mengerikan di dalam sejarah hidupnya. Kirana tidak pernah menyadari bahwa di balik kemegahan dan kemewahan dinding gedung pesta yang akan dia kunjungi esok hari, sepasang pengantin yang siap tersenyum bahagia menyambut para tamu di atas pelaminan adalah sosok Dimas—pria yang selama dua tahun ini benar-benar dia cintai mati-matian dan selalu dia sebut namanya dalam tiap bait air mata doanya—kini sedang bersiap bersanding dengan wanita lain. Takdir yang teramat kejam sedang berdiri menantinya di ujung jalan esok hari, siap menghempaskan seluruh ketulusan cintanya ke dalam jurang pengkhianatan yang teramat sangat menyakitkan dan menguras air mata.
pasti ada kekecewaan disitu ,wajar sih kalau mereka marah
malahan Ratna lebih peduli kehilangan Dimas,kalau ayahnya Dimas koid,Dimas bebas haha,dsar otak nya 😄
dia yang salah tapi tidak mau disalahkan
hasil merebut itu ga awet bu, inget umur
kamu wanita kaya ,mandiri knp harus merebut hak orang lain. percuma hartamu😄
udah merebut malahan dia merasa korban😄
kan bisa dibicarakan baik" ,kalian sudah mendzolimi kirana
rasakan akibatnya sendiri
setidaknya harus ada omongan, Ratna juga ksian hasil merampas itu ga akan tenang
kalau kamu itu seorang yang tau agama
tidak akua menawarkan nikah siri ,padahal baru 3hari
ayo tetap semangat
tapi semoga ini bisa jadi pelajaran buat kamu iya
cinta beda agama apakah mereka akan bahagia