Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 : KOLEKSI BOTOL MIKRO
Setelah meninggalkan dermaga, Elara tidak langsung kembali ke kamar utamanya. Ia meminta Dante menepikan mobil di area taman labirin sayap timur—sebuah kawasan tua yang jarang dilalui, berbatasan langsung dengan paviliun bawah tanah yang menjadi wilayah kekuasaan Ren Sallow.
Elara berjalan sendirian di tengah lorong labirin tanaman yang gelap. Udara malam terasa menusuk kulit, keheningan inilah yang dicarinya. Ia memejamkan mata, menikmati kesunyian yang jarang ia dapatkan di dalam rumah yang penuh dengan mata-mata faksi.
Dante tetap berjaga di luar gerbang labirin, menghormati permintaan Elara untuk diberikan waktu sendiri.
𝘚𝘳𝘦𝘬𝘬 𝘚𝘳𝘦𝘬𝘬
Suara langkah kaki yang sangat halus, nyaris tak terdengar di atas rerumputan kering.
Ren Sallow muncul dari balik bayangan pohon besar. Pria pucat itu mengenakan kemeja hitam longgar dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan kulitnya yang putih kontras dengan gelapnya malam. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak beludru hitam kecil yang diikat dengan tali sutra perak.
"Anda menyukai labirin ini, Nona Elara," ucap Ren, suaranya pelan dan datar.
Elara memutar tubuhnya ke arah Ren. "Apa yang membawamu ke mari di jam seperti ini?"
Ren melangkah mendekat, memperlihatkan kotak yang dibawanya dan membuka tutup kotak beludru tersebut.
Di dalamnya, berjejer rapi belasan botol kaca kecil berukuran mikro. Masing-masing botol berisi cairan dengan warna yang berbeda—dari yang sewarna bening air murni, ungu pekat, hingga merah keemasan. Di bawah setiap botol, terdapat label kecil yang ditulis tangan dengan kaligrafi yang sangat rapi.
"Ini adalah koleksi terbaik saya, Nona," bisik Ren, matanya yang biasanya kosong kini memancarkan binar obsesi seorang seniman yang sedang memamerkan mahakaryanya.
Ren menunjuk botol pertama yang berisi cairan bening. "Ini 𝘛𝘩𝘦 𝘔𝘪𝘥𝘯𝘪𝘨𝘩𝘵 𝘋𝘳𝘰𝘱. Racun sintetis tanpa rasa dan bau. Ketika masuk ke dalam aliran darah, ia akan meniru gejala 𝘢𝘯𝘦𝘶𝘳𝘪𝘴𝘮𝘢 otak dalam waktu enam jam. Sempurna untuk target politik yang harus mati secara alami."
Ia kemudian beralih ke botol berwarna ungu pekat. "Dan yang ini... saya menamainya 𝘌𝘭𝘦𝘨𝘪𝘢. Ini adalah racun saraf murni hasil ekstraksi tanaman langka di pedalaman 𝘈𝘮𝘢𝘻𝘰𝘯. Ia tidak membunuh dengan cepat. Ia melumpuhkan seluruh sistem motorik target, membuat mereka sadar sepenuhnya namun tidak bisa berteriak, sementara jantung mereka perlahan berhenti berdetak dalam waktu tiga puluh menit. Sesaat sebelum mati, mata mereka akan menangkap refleksi ketakutan mereka sendiri."
Ren menjelaskan setiap botol di dalam kotak itu dengan detail yang mengerikan—metode ekstraksinya, waktu reaksi, hingga bagaimana ekspresi wajah para korbannya di detik-detik terakhir kehidupan mereka. Bagi orang awam, deskripsi Ren adalah mimpi buruk sosiopat yang menjijikkan.
Mendengar penjelasan Ren yang begitu penuh gairah namun disampaikan dengan nada suara yang tetap sedingin es, sudut bibir Elara perlahan terangkat. Sebuah senyuman tipis, dan sangat menawan terukir di wajahnya.
"Kau adalah pengrajin kematian yang luar biasa, Ren," ucap Elara pelan, suaranya terdengar seperti pujian. "Kau memperlakukan pembunuhan bukan sebagai tugas yang membosankan."
Ren seketika terpaku.
Melihat senyuman tipis Elara di bawah temaram cahaya bulan malam itu, jantung Ren mendadak bergemuruh hebat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang hampa, Ren merasakan kekaguman hingga membuatnya terpesona.
Ia perlahan menutup kotak beludrunya, "Koleksi ini... dan seluruh sisa hidup saya, adalah milik Anda, Nona Elara," bisik Ren.
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..