NovelToon NovelToon
MENANTU IBU 2

MENANTU IBU 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Aliansi Pernikahan / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:308.2k
Nilai: 5
Nama Author: Me Nia

Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.

"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."

MENANTU IBU 2

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Maklumi Saja

Baru juga malam kemarin mendengar cerita Diaz yang akan melempar bom acak dulu alias bom ketiga, kini target yang akan diserang itu ada di depan mata. Leony datang dengan berlari. Mencegat langkah Tya dan Diaz yang berjalan bertautan jemari setelah menikmati malam mingguan berdua dengan makan malam di restoran rooftop dengan pemandangan city light kota metropolitan Jakarta. Ibu Suri sudah dirayu agar ikut. Namun menolak dengan alasan lagi malas keluar rumah.

"Kak Diaz, minta waktunya sebentar. Please!" Leony kembali menjegal jalan saat Diaz memalingkan muka dan melangkah ke sebelah kiri.

"Sayang." Tya mengambil alih situasi. Satu kata yang diucapkan dengan lembut itu mampu meluluhkan sikap Diaz yang wajahnya awalnya ceria tetapi berubah dingin begitu melihat sosok Leony. Dengan isyarat lewat sorot mata, ia meminta Diaz agar hadapi Leony dulu.

"Lagi ngapain lo di sini? Check in sama om-om?" Diaz tak pernah mau menganggap Leony maupun Boby sebagai adik. Terlebih keduanya juga anak manja, boros, dan angkuh. Ditambah kelakuannya juga minus. Makanya selama ini ia suka menyebut mereka adik durjana.

"Kak...kok fitnah aku gitu. Teman aku birthday party di hotel ini. Aku nggak sengaja liat Kak Diaz keluar dari lift makanya ngejar."

Dih. Fitnah katanya. Aku umur segini baru mulai making love, setelah nikah pula. Lah dia umur 17 udah pro. Oh mungkin karena diajari om itu. Bener-bener kiamat sudah dekat.

Bahu Tya spontan bergidik. Reaksi itu dilihat Leony yang kemudian menatap dengan tatapan sinis. "Kak Tya kenapa kayak jijik? Sama-sama fitnah aku juga, iya?"

"Aku bergidik karna nahan pipis. Bisa cepetan ngobrolnya? Aku kebelet."

"Ya udah, Kak Tya ke toilet aja dulu. Aku mau bicara sama kak Diaz." Meski tidak suka terhadap Tya, Leony menurunkan ego dengan bersikap baik karena ia butuh bantuan Diaz.

"Nggak. Tya tetap di sini dulu. Lo yang harusnya cepetan ngomong," sanggah Diaz. Sungguh tidak ingin berlama-lama menatap anaknya Selly. Ibu dan anak sama-sama bobrok.

Leony menarik napas. Wajahnya berubah murung. "Kak Diaz mungkin udah dengar kalau Mama diceraikan Ayah."

Diaz tidak lantas menjawab. Tatapan tajamnya memindai wajah Leony dengan intens. "Iya. Ayah sendiri yang bilang kemarin."

"Kak Diaz berarti ketemu Ayah?" Ada secercah cahaya yang terpancar dari sorot sendu Leony. "Ayah tinggal di mana, Kak? Aku telepon Ayah nggak diangkat. Chat cuma dibaca aja nggak dibalas. Aku kangen pengen ketemu Ayah."

Diaz mencibir. Sama sekali tidak tersentuh dengan sikap Leony yang kembali memasang wajah sedih. "Kalau lo kangen tulus, Ayah pasti mau terima telepon. Lo palingan kangen duit Ayah."

Leony menggeleng tetapi tidak bisa mendebat karena lidahnya kelu. Tak bisa mengelak karena tuduhan Diaz adalah fakta. Tetapi bukan Leony namanya kalau tak pandai bersilat lidah. "Mama udah di stop nafkah dari Ayah, Kak. Aku kan anaknya Ayah, harus tetap dinafkahi. Aku mau liburan akhir tahun bareng teman-teman di Bali. Tiket pesawat udah beli, vila udah booking. Belum ada buat jajan."

Diaz melipat kedua tangan di dada. Wajahnya tak lagi dingin tetapi datar. Andaikata Leony adik kandungnya, dengan tegas ia tidak akan membebaskan anak remaja itu pergi liburan tanpa pendampingan keluarga. Apa yang bisa diandalkan dari Boby sebagai kakak dan Selly sebagai ibu. Yang jelas, mereka semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Dan kartu As kebobrokan mereka bertiga sudah ada di tangan.

"Ayah lagi butuh menenangkan diri. Ayah berpesan tidak mau diganggu oleh siapapun. Nyokap mu udah curi banyak barang berharga milik Ayah. Jadi minta aja sama dia." Tanpa permisi, Diaz menarik tangan Tya. Pergi dengan langkah cepat. Kewaspadaannya tetap dijaga, tetapi ternyata Leony tidak mengejarnya.

***

Lupakan tentang pertemuan dengan Leony dan jangan ceritakan kepada Ibu karena Ibu sudah tegas mengatakan tidak mau mendengar lagi cerita tentang Ayah dan selir-selirnya. Itu yang dipinta Diaz terhadap Tya.

Maka begitu Minggu pagi menyapa dengan cuaca yang sedikit mendung, Tya menuruni tangga dengan mengenakan setelan olahraga yang sopan. Bersiap joging bersama Ibu Suri sesuai rencana kemarin.

Diaz pun ikut menjadi pengawal dua perempuan kesayangannya itu. Sudah menunggu di luar sambil berbincang dengan Anwar dan Ajat. Dua orang penting yang berperan dalam menjaga keamanan rumah. Anwar yang tugas utamanya merupakan sopir pribadi ibunya, harus siap dengan second job menjadi sekuriti menemani Ajat saat tidak ada tugas menjadi sopir.

"Diaz, ayo! Mumpung cuaca bersahabat," ujar Ibu Suri. Semangat kentara di wajahnya yang bercahaya. Di sampingnya ada Tya yang mengenakan warna baju yang sama. Kembar warna hitam putih tetapi berbeda model. Tentu saja kompak karena belanjanya bersama.

Diaz menyudahi briefing dengan membubarkan Ajat dan Anwar. "Rute mana sekarang?"

"Keliling komplek aja."

"Nggak bosen, Bu? Nggak mau ke CFD Rasuna Said?"

Ibu Suri menggeleng. "Point nya olahraga. Bukan mau cuci mata. Kalau Ibu ke CFD, takut ada yang naksir. Mana status Ibu masih masa idah," jelasnya dengan tatapan mengerling.

Tya terkikik melihat Diaz mencibir. Langkah kakinya mulai diayun saat Diaz mengajak berangkat sambil mengusap kepala. Ia dan sang mertua berjalan di depan.

Dari sejak keluar gerbang hingga berjalan memutari jalan komplek yang beraspal mulus, tema pembicaraan hanya satu yaitu rencana liburan akhir tahun. Destinasi sudah dipilih dan disepakati bersama, pantai yang menawarkan suasana privat yang letaknya berada di Banyuwangi. Tak terasa sudah mencapai 10 ribu langkah dalam durasi satu setengah jam. Waktunya kembali ke rumah.

Jika Tya dan Ibu Suri melepas lelah di sofa, bagi Diaz, olahraga barusan belum menguras keringat. Ia menuju treadmill yang ada di belakang rumah, di ruangan gym pribadi.

"Hai, Cumi, Luna! Jangan ganggu Daddy. Sini mainnya di sini." Ajak Tya yang menyusul ke belakang karena yakin dua anabul akan mendekati Diaz. Dan terbukti Cumi dan Luna sedang berputar-putar di samping treadmill. Ingin naik tapi takut.

"Yang, mau renang nggak?"

"Kan lagi dapet." Tya mengelus-elus kepala si Luna yang tampak nyaman terlihat dari mata yang merem melek.

"Oh iya lupa."

***

Tya memutuskan mandi lebih awal saat terjaga pukul setengah empat subuh karena mata enggan diajak terpejam lagi. Justru pikirannya berkelana ke rencana liburan akhir tahun.

Rencana berangkat liburan masih sepekan lagi. Tya menghitung jadwal menstruasi yang sudah berjalan dua hari. Itu artinya saat liburan nanti si tamu bulanan sudah pergi. Mendadak merinding bulu roma membayangkan Diaz nanti buka puasa.

Alarm Joko berbunyi setelah Tya selesai mandi. Segera dimatikan karena Diaz berpesan untuk dibangunkan jam setengah lima. Sementara alarm Joko berkokok pukul empat.

Ngapain ya bagusnya?

Tya berpindah ke sofa bed agar tidak menggangu Diaz yang masih pulas dengan kebiasaan tidur tanpa pakai baju. Pada akhirnya memilih membuka kunci layar ponselnya. Ada pesan terbaru dari Bisma yang masuk pukul dua dini hari.

[Happy birthday, adekku sayang. Tetaplah jadi anak baik kebanggaan Ayah Ibu. Tetaplah jadi adik penyayang kebanggaan aku. Jadilah istri soleha kebanggaan suami mu. Barakallah fii umrik, Cantya Lova ]

Mata Tya mengerjap berulang kali. Kaget karena baru sadar hari ini 22 Desember hari kelahirannya. Terharu karena sang kakak selalu mengingat momen ulang tahunnya. Senyumnya mengembang lebar sambil membalas chat sang kakak tersayang.

Tya termenung usai mengirim chat balasan. Biasanya Rizky selalu memberi ucapan selamat pas tengah malam. Sekarang tidak ada. Ya...semua tak lagi sama.

Abey bakal tahu ultahku nggak ya?

Untuk membuktikan, Tya membangunkan Diaz di jam request. Akan tetapi hingga fajar telah terbit, tak ada kejutan atau sekadar ucapan selamat. Sang suami tetap berlaku mesra seperti biasanya. Menciumnya penuh gelora sebelum pamit bekerja.

"Yang, turun sekarang yuk. Kita sarapan." Diaz meraih tas kerja yang tersimpan di sofa.

"Turun duluan aja. Aku mau rapiin kasur dulu sebentar."

"Oke deh."

Aku harus maklum. Mas Diaz orang baru di hidup ku.

Pemakluman itu dibuat Tya begitu melihat pintu kamar terbuka setelah Diaz keluar. Sedikit kecewa tentu ada.

1
Rosyani Rini
pak Husein CEO kah dia
Rosyani Rini
wahhh curiga 🤣🤣🤣
Rosyani Rini
malah di pancing kata nya jangan dulu..
Ni'matul Jannah
Terimakasih up nya teh Nia..
Sehat selalu 🤲🏻
Ni'matul Jannah
Eee..ternyata..pak Husein ceo yang menyamar.
Pak Husein kan..yg sebenarnya punya pekerbunan sawit itu?
Koi rela menunggu ibu suri sampai segitunya pak?
cerita dong pak..🤭😄
Ni'matul Jannah
Waahh..ibu suri tampil paripurna.
Ada something sama pak Husein ini pasti, semoga segera bersatu ya..ibu suri dan pak Husein😁
Nur aprilia adiah
duh si ibu lagi puber kedua tuh mas..ya ampun Diaz bucin Banget deh..
Nur aprilia adiah
mungkin pak Husein CEO yg tersembunyi 😄
Mujib
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual//Casual//Casual//Casual//Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown//Frown//Frown//Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile//Smile//Smile//Smile//Smile//Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!