NovelToon NovelToon
AYAH TIRI UNTUK ANAKKU

AYAH TIRI UNTUK ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Duda / Komedi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: La Rumi

Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.

Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.

Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.

Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.

Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. COMPOS MENTIS

"Alvin..."

Suara lembut dan sedih Andini mengetuk telinga dan kesadaran Alvin yang terbaring lemah di atas ranjang perawatan rumah sakit.

"Nak... buka matamu... ini Mama..."

Alvin merintih pelan dan dengan sangat lambat membuka kedua matanya.

"Ma... ma...?"

Andini meneteskan air mata saking leganya melihat putra bungsunya kembali siuman.

"Sayang... syukurlah! Akhirnya kamu sadar! Mama di sini, Nak... apa yang kamu rasakan sekarang? Mana yang terasa sakit?"

Alvin menatap lekat dan lama ibunya, seakan butuh waktu untuk memahami setiap kata yang terlontar ke udara.

"Mama... kenapa... tambah tua...?"

Andini membeku sejenak. Kata-kata Alvin tak hanya mengejutkannya, tetapi juga menusuk bahkan meremukkan bagian serapuh cangkang telur di dalam dirinya yang disebut "gengsi" dan "harga diri wanita."

Rasa sedih dan lega yang tadinya menggayuti hati Andini, dengan absurd dan cepat berganti kesal dan geram.

"Kamu..."

"Lho...," Alvin mengerjap lambat, seakan baru menyadari sesuatu. "Aku... tadi... mimpi...?"

Andini menarik napas dalam-dalam, lalu menekan tombol panggilan interkom di sisi bed dengan jemarinya yang sangat lentik dan setiap kukunya rutin di-manicure oleh tim terapis kecantikan pribadinya.

"Dokter! Perawat! Ke sini sekarang! Anak saya sudah sadar!" perintah Andini dengan nada keras dan tinggi--persis seperti ratu yang menitahkan para prajurit untuk bergegas maju ke medan pertempuran hidup dan mati.

Dokter dan perawat bergegas datang dan memeriksa kondisi Alvin dengan cekatan dan cermat.

"Pak Alvin, bisa dengar suara saya? Bisa lihat ini dengan jelas?"

Usai mengecek dengan stetoskop, sang Dokter melakukan tes dengan senter kecil yang terarah ke kedua mata Alvin secara bergiliran.

Alvin mengerjap dan mengangguk lemah.

"Kalau bisa dengar, coba sebutkan nama lengkap Anda," pinta Dokter dengan suara formal.

"Tuyul..."

Semua orang di kamar perawatan itu membeku.

"Eh...," Alvin mengerjap untuk mengusir pening dan sisa mimpi yang masih membayang. "Maksud saya... nama saya, Alvin Hermawan..."

Andini membuang napas panjang, sementara Dokter mengangguk dan Perawat mencatat di clipboard.

"Bagus. Anda tahu sekarang berada di mana?" tanya Dokter lagi.

"Jelas bukan surga... nggak ada bidadari," gumam Alvin usai melirik sekitar.

"Alvin!" Andini tak tahan untuk menegur anaknya.

"Rumah sakit?" terka Alvin lirih.

"Benar. Sekarang hari apa, Pak?" lanjut Dokter.

"Yang jelas bukan hari ulang tahun saya..."

Andini mulai memijat pelipis. Dokter memandang Alvin tenang dan berkata, "Tak salah juga. Tapi lebih tepatnya, sekarang hari Kamis."

"Hmm," gumam Alvin tanpa minat.

"Last question, siapa Presiden Indonesia sekarang?"

Alvin mengernyit.

"Kenapa saya harus peduli? Saya bukan tim sukses. Saya tim kabur aja dulu. Saya golput."

Dokter dan Perawat spontan tertawa, namun mereka buru-buru menutup mulut saat Andini membelalak dengan ekspresi segarang jenderal perang.

"Dok, apa anak saya mengalami gangguan atau kerusakan otak?" tanya Andini tanpa basa-basi.

Dokter menggeleng dan tersenyum tipis.

"Saya rasa tidak, Bu. Sense of humour-nya masih berjalan dengan sangat baik."

"Sejak kapan itu jadi indikator medis?" tuntut Andini tajam.

Sang Dokter terbatuk kecil.

"Kami akan tetap observasi dan evaluasi lebih lanjut, Bu, jangan khawatir," kata Dokter menenangkan. "Pak Alvin, mohon beritahu saya, apa Anda merasa mual? Mana yang terasa nyeri sekarang? Kepala? Dada? Perut?"

"Iya, mual. Nyeri semua," keluh Alvin. "Kecuali si junior..."

Giliran Dokter mengernyit, tak paham. "Si junior?"

"Iya, itu, si junior--burung tanpa kandang yang tak bisa terbang..."

Dokter lagi-lagi harus susah payah menahan tawa, sementara Perawat langsung pura-pura sibuk memeriksa infus yang normal-normal saja dengan muka merah, dan Andini terlihat seperti bom nuklir yang siap menghancurkan satu kota dalam sekejap mata.

"Mau dibikin sakit sekalian?" Sang Ibunda Ratu bertanya selembut peri, yang artinya ia sedang dalam mode berbahaya level tinggi.

Alvin meringis.

"Jangan, Ma... aku kan cuma jawab jujur pertanyaan Dokter..."

Sang Dokter mengangguk puas.

"Ya, terima kasih sudah sangat informatif dan kooperatif, Pak Alvin. Kesimpulan yang bisa saya sampaikan, orientasi Anda baik. Kesadaran compos mentis. Hanya saja Anda telanjur mengalami gegar otak sedang, beberapa luka perlu dijahit, memar luas, dan tiga tulang rusuk retak."

Alvin membelalak kaget.

"Tulang rusuk saya retak? Separah itu, Dok?"

"Tak apa-apa--retaknya tidak mencederai organ dalam dan masih bisa disembuhkan, Pak. Yang penting Anda selamat," kata Dokter dengan suara lembut menenangkan.

Alvin terdiam sejenak. Batinnya terasa jeri kala ia ingat tragedi pengeroyokan malam itu. Ia sekarang pasti sudah jalan-jalan di alam baka, jika saja--

"Erina..."

Kesadaran baru menghantamnya riuh seperti palu pemecah batu.

"Erina!" pekik Alvin panik. "Di mana dia? Apa dia baik-baik saja--aduh!"

"Tenanglah, Pak," Dokter dengan sigap mencegah dan menenangkan Alvin yang hendak bangun--gerakan mendadak itu membuat nyerinya terasa makin hebat hingga wajahnya kian pucat. "Bu Erina juga sedang dirawat--ia dalam observasi ketat dokter spesialis bedah syaraf sekarang."

Kepedihan menggilas hati Alvin seketika--terasa jauh lebih menyakitkan dari luka-luka fisiknya.

"Apa kondisinya parah?" tanya Alvin dengan suara bergetar.

Sang Dokter menghela napas berat.

"Bu Erina masih belum sadar. Seperti yang Anda tahu, Bu Erina baru saja menjalani operasi kraniotomi. Benturan yang dialaminya malam itu cukup keras dan membahayakan... hasil CT Scan-nya masih akan terus diperbarui dan dievaluasi untuk memastikan tak ada pembengkakan otak, perdarahan baru, atau gangguan pada area operasi sebelumnya..."

Alvin tak sanggup lagi bicara. Wajahnya seketika hilang warna. Setetes air mata pun luruh tanpa bisa dicegah.

Dan untuk pertama kalinya sejak membuka mata, ia merasa jauh lebih takut daripada ketika lima preman menghajarnya hingga nyaris kehilangan nyawa.

***

1
Shamira Zee
Emaknya absurd,anaknya pun ikutan absurd 😭🤣
Shamira Zee
Udahlah Ga terima aja Alvin jadi papamu /Grin/
Shamira Zee
Lho Saga putus sekolah? Duh kasihan... tapi ketemu calon papa, pasti ditolong lah /Proud/
Shamira Zee
Ya ketawa, ya kasihan... Erina plis bisa sembuh yaa
Nyonya Billy
Di balik cerita yang lucu sebenarnya tersimpan banyak makna yang dalam... kasihan Erina, semoga dia bisa sembuh...
Nyonya Billy
Cinta dan perjuangan seorang ibu sangat besar....
Nyonya Billy
Duh jangan sampai...
Nyonya Billy
Sepertinya ini analogi kankernya makin ganas ya... duh...
Nyonya Billy
Iya, sel tumor atau kanker memang begitu...
Nyonya Billy
Nggak sekalian Jungkook ketemu Harry Potter dan Erina di Hogwarts 😂
Nyonya Billy
Sempet-sempetnya vin 😂
Nyonya Billy
Erina dan Alvin sudah pernah bertemu ya saat kecil? Lucu sih ceritanya, ditolong tuyul, ya ampun 😂
Nyonya Billy
😂😂😂😂
Shamira Zee
🤣🤣🤣🤣🤣
Shamira Zee
Kapan sih Erin gak ngelawak? 🤣
Shamira Zee
Riii 😅😭🤣
Shamira Zee
Istrinya Glioma yang ganas 😅
Shamira Zee
Ada ya tumor balik demi kolor 😭🤣
Shamira Zee
Lah glioma lagi? 🤣🤣🤣
Shamira Zee
Buatan klinik mana tuh thor? 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!