NovelToon NovelToon
Menjinakkan Tuan Kaku

Menjinakkan Tuan Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: puput11

Freya Winata (25) adalah definisi sempurna dari wanita modern, cantik, ceria, manja, dan enerjik. hidupnya yang penuh warna mendadak berubah ketika kedua orang tuanya menjodohkannya dengan Adrian Valerick (30), seorang CEO dingin yang kaku, keras kepala dan hanya peduli dengan tumpukan berkas di kantornya.

Bagi Adrian, pernikahan adalah transaksi yang tidak logis. Namun, ancaman pencopotan jabatan dari sang ayah membuatnya terpaksa mengucapkan janji suci. Berbeda dengan Adrian yang murka, Freya justru melihat kejengkelan Adrian sebagai tantangan paling seru dalam hidupnya. Ia bertekad menjinakkan "Tuan Kaku".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Belanja

Aroma kopi pekat tercium tajam di ruang makan mansion pagi itu. Sinar matahari menerobos masuk, memantulkan kilau perak pada sendok yang ditata rapi. Adrian sudah duduk tegak dengan kemeja abu-abu yang terkancing sempurna. Sisa-sisa siksaan biologis semalam meninggalkan gurat lelah samar di sekitar mata tajamnya, membuat rahang tegasnya tampak makin kaku dari biasanya.

Pak Hadi meletakkan secangkir espresso tanpa gula dengan gerakan sangat hati-hati. "Ini espresso Anda, Tuan Muda."

Adrian hanya mengangguk kaku tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya. Langkah kaki yang anggun terdengar mendekat dari arah tangga. Freya muncul dengan gaun terusan chic bermotif bunga, melenggang santai lalu menarik kursi tepat di sebelah Adrian.

"Papa Arthur sukses besar ya bikin Mas Adrian lengket di sebelah aku," sapa Freya ceria, suaranya renyah memecah keheningan ruang makan.

"Biasa saja," jawab Adrian dingin sembari menggeser layar tabletnya, memantau pergerakan bursa saham dunia dengan jemari yang kokoh.

Freya menopang dagu dengan tangan kirinya, senyum jenakanya melebar. "Tidur semalam nyenyak kan, Mas Adrian? Tapi kok pagi-pagi aku bangun, kamu udah meringkuk di sofa pojok sih? Kenapa pindah dari kasur? Sofanya lebih empuk ya daripada seprei sutra pilihan Mama? Atau jangan-jangan, Mas Kulkas takut khilaf ya dekat-dekat aku semalaman?"

Adrian menghentikan gerakan jemarinya di atas layar. Dia meletakkan tablet dengan ketukan tegas di atas meja marmer. Matanya yang tajam menghujam lurus ke manik mata Freya. Kilat kekesalan tercetak di sana.

"Jangan sok tahu," ketus Adrian kaku, suaranya menekan rendah.

"Ih, beneran sensitif ya pagi ini," kekeh Freya renyah, sama sekali tidak gentar oleh tatapan mengintimidasi sang kaisar bisnis.

"Padahal kan aku cuma nanya baik-baik, Hubby. Namanya juga orang tidur, mana tahu kalau kaki aku melalang buana sampai wilayah kamu. Lagian, sensitif banget sih? Kayak ada yang mau copot aja."

Freya yang sama sekali tidak mengetahui bagaimana pergolakan biologis hebat dan ketegangan panas yang dialami Adrian semalam akibat tindihan tubuhnya, terus saja mengumbar tawa tanpa dosa. Baginya, Adrian yang pindah ke sofa murni karena merasa terganggu oleh kebiasaan tidurnya yang acak-acakan.

Adrian menatapnya tajam, menahan gejolak ingatan semalam yang mulai menganggu fokusnya. "Jangan mengulangnya lagi nanti malam. Kamar itu membutuhkan keteraturan."

"Okey, okey," sahut Freya dengan kedipan mata yang sangat manja.

Dia memotong buah organik di depannya dengan gerakan elegan. "Hari ini aku mau pergi belanja bulanan untuk kebutuhan dapur dan bahan makanan di rumah. Stok di kulkas sudah mulai monoton, sekaku pemilik mansion ini. Kebetulan persediaan keju dan bumbu premiumku juga juga sudah habis."

Adrian tidak menyahut. Dia kembali mengangkat tabletnya, mengabaikan istrinya dengan sikap cuek yang mutlak.

"Kamu dengerin aku nggak sih, Mas Adrian?" tanya Freya dengan cibiran lucu. Dia melambaikan jemari lentiknya di depan wajah suaminya.

"Aku juga mau beli beberapa cetakan nasi baru yang berbentuk karakter lucu. Siap-siap ya, besok aku bakal bikinin bento yang jauh lebih menggemaskan dari bento-bento sebelumnya buat aku antar ke kantor kamu! Aku mau lihat, seberapa kuat sistem profesionalitas kamu itu bertahan di depan bekal makan siang penuh cinta dari istri cantiknya ini."

"Jangan konyol," jawab Adrian dingin.

"Enggak peduli, pokoknya tetap akan aku buatkan!" tantang Freya ceria, nadanya manja namun sarat akan kekuasaan.

"Nanti aku belanjanya pakai Black Card pemberian kamu lagi ya, Pak CEO. Anggap saja itu kontribusi formal kamu untuk kebutuhan rumah tangga kita. Kamu mau titip dibelikan sesuatu nggak? Mumpung aku mau ke supermarket premium di mal pusat kota."

"Tidak perlu," ketus Adrian kaku.

Pria itu langsung meneguk espressonya hingga tandas dalam sekali teguk untuk menyembunyikan distorsi aneh di tenggorokannya.

Adrian berdiri dari kursinya dengan gerakan kaku yang cepat, meraih jas hitam yang tersampir di sandaran kursi. Dia membetulkan letak jam tangan mewahnya tanpa melirik Freya sedikit pun.

"Hati-hati di jalan, Hubby! Jangan rindu ya!" goda Freya sambil melambaikan tangan centil.

Adrian melangkah tegap, cuek, dan dingin keluar dari ruang makan tanpa menoleh lagi, berjalan cepat menuju pintu depan di mana Jaka sudah siap memanaskan mesin Rolls-Royce Phantom untuk mengantarnya bertempur di bursa saham dunia.

Agenda belanja bulanan hari ini awalnya terasa seperti rutinitas rumah tangga biasa bagi Freya. Tanpa dia sadari bahwa di pusat perbelanjaan nanti, sebuah pertemuan tak terduga sedang menunggu untuk menguji benteng gengsinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!