NovelToon NovelToon
Ponsel Dewa Si Reno

Ponsel Dewa Si Reno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa
Popularitas:299
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Penyelamat Baterai & Skor

​Reno masih berayun pasrah di bawah keranjang logam, merasakan urat-urat di kedua lengannya mulai meregang kaku hingga menyentuh batas maksimal ketahanan fisiknya.

​Setiap detik yang berlalu terasa bagaikan rentetan siksaan panjang, memperpanjang durasi tontonan paling memalukan bagi ratusan mahasiswa yang memadati seluruh area tribun.

​Jari-jarinya yang mengait pada anyaman jaring kasar perlahan mulai kehilangan tenaga, meninggalkan sensasi kebas yang menjalar cepat hingga ke pangkal bahu.

​Celana olahraga parasut yang robek parah itu terus melambai ke bawah, mengekspos celana boxer bermotif stroberi miliknya secara brutal tanpa ampun.

​{Tuhan, tolong turunkan sebuah keajaiban apa saja saat ini juga, atau cabut saja nyawaku agar aku tidak perlu menanggung sisa rasa malu ini.}

​Pemuda kurus itu memejamkan matanya rapat-rapat, menolak keras untuk melihat deretan kamera ponsel pintar yang sedang mendokumentasikan kehancuran total martabat kelelakiannya.

​Di bawah sana, Dika masih berdiri bertolak pinggang dengan dada membusung, menikmati setiap detik penderitaan musuh bebuyutannya sambil terus melontarkan tawa arogan.

​"Apakah atraksi monyet sirkus ini merupakan bagian dari taktik rahasiamu untuk membuatku tertawa sampai mati di tengah lapangan?"

​Ejekan tajam itu meluncur mulus dari bibir pemuda pewaris kekayaan tersebut, memicu ledakan tawa susulan yang jauh lebih bising dari kerumunan penonton.

​Reno menggertakkan giginya menahan amarah yang meledak di dalam dada, namun ia sama sekali tidak memiliki posisi tawar untuk membalas hinaan verbal tersebut.

​Ia menoleh perlahan ke arah bangku pemain cadangan, mencari sosok sahabat gempalnya dengan sisa-sisa harapan yang mulai menipis secara drastis.

​Radit yang sedari tadi bersembunyi di balik buku tulis tebal akhirnya menyerah pada tekanan rasa bersalah yang terus menggerogoti batinnya sebagai seorang sahabat.

​Pemuda gempal itu melemparkan bukunya ke lantai beton, menyingkap tudung jaket yang menutupi kepalanya dengan gerakan yang luar biasa dramatis.

​||||

​Radit merogoh saku jaketnya dengan gerakan tergesa-gesa, mencari sebuah benda penolong yang selalu ia bawa ke mana-mana sebagai desainer grafis nomaden.

​Tangan kirinya menarik keluar sebuah balok penyimpan daya portabel berkapasitas super besar yang sudah tersambung dengan seutas kabel pengisi daya berukuran pendek.

​Langkah kakinya dipacu untuk berlari menerobos kerumunan mahasiswa di pinggir lapangan, mengabaikan tatapan heran dari para wasit dan petugas pertandingan.

​"Bertahanlah sebentar lagi di atas sana, Reno, tangkap benda ini dan segera perbaiki semua kekacauan sialan yang telah kau buat!"

​Teriakan penyemangat itu menggema dari pinggir batas lapangan, memecah fokus ratusan penonton yang langsung menoleh ke arah sumber suara.

​Radit mengayunkan lengan kanannya ke belakang, lalu melempar balok penyimpan daya itu lurus ke udara dengan perhitungan lintasan parabola yang cukup akurat.

​Reno membelalakkan matanya melihat proyektil penyelamat itu melayang mendekat, menyadari bahwa ia harus mengambil sebuah risiko fisik yang sangat fatal.

​Ia melepaskan cengkeraman tangan kanannya dari anyaman jaring, membiarkan seluruh berat tubuhnya kini hanya ditopang oleh kekuatan lima jari di tangan kiri.

​Persendian bahu kirinya berderak pelan menahan sentakan beban yang mendadak berlipat ganda, memaksa Reno meringis menahan rasa perih yang teramat sangat.

​Tangan kanannya menjulur sejauh mungkin ke udara, berhasil menangkap bodi logam pengisi daya tersebut hanya dalam hitungan sepersekian detik sebelum benda itu jatuh.

​Reno menarik napas lega yang luar biasa panjang, segera mengarahkan ujung kabel pendek itu menuju saku kemeja bagian dadanya yang sedikit terbuka.

​Jari-jarinya bergetar hebat saat mencoba mencolokkan konektor kabel ke dalam lubang pengisi daya ponsel misterius yang teronggok mati di sana.

​Bunyi klik statis yang sangat pelan terdengar beresonansi dari dalam saku, menandakan bahwa arus listrik kembali mengalir masuk ke dalam perangkat canggih tersebut.

​{Ayo, mesin cerewet, cepat bangun dari tidur singkatmu dan bantu aku membalikkan keadaan sebelum lengan kiriku benar-benar patah menjadi dua.}

​||||

​Sebuah getaran mekanis yang luar biasa kuat tiba-tiba menyengat dada Reno, memberikan tanda kehidupan dari kecerdasan buatan yang sempat terlelap itu.

​Layar ponsel X-Phreak 9000 langsung menyala terang benderang dari balik saku kemejanya, memproyeksikan deretan kode inisialisasi sistem yang bergulir sangat cepat.

​Teks berwarna biru itu muncul sekelebat, menyapa Reno dengan nada sarkastis yang entah mengapa kini terasa sangat menenangkan sistem kewarasannya.

​"Hancurkan harga diri pria sombong berbaju merah di bawahku ini melalui sistem komputer lapangan, buat dia menyesal telah meremehkan kita berdua!"

​Reno menggumamkan perintah eksekusi itu dengan suara yang tertahan di tenggorokan, menolak membuka mulut terlalu lebar agar tidak dicurigai oleh lawannya.

​Sebuah antarmuka peretasan transparan muncul melayang dari layar ponselnya, menghubungkan diri dengan peladen utama pusat olahraga kampus secara instan.

​Reno tidak perlu menekan tombol persetujuan apa pun lagi, ia sepenuhnya mempercayakan serangan balik ini pada algoritma manipulasi masa depan tersebut.

​||||

​Papan skor digital raksasa yang menggantung di dinding seberang tribun tiba-tiba berkedip redup, memunculkan garis-garis distorsi yang merusak tayangan angka aslinya.

​Seluruh mahasiswa di tribun sontak menghentikan tawa mereka, memusatkan pandangan ke arah layar elektronik besar yang sepertinya sedang mengalami gangguan teknis fatal.

​Kotak penunjuk skor milik Dika yang tadinya menampilkan angka tunggal mendadak berputar acak dengan kecepatan luar biasa tinggi tak terkendali.

​Putaran angka digital itu akhirnya berhenti pada sebuah nominal matematis yang sama sekali tidak memiliki dasar logika dalam peraturan olahraga bola basket dunia.

​Angka minus lima puluh terpampang dengan ukuran luar biasa besar dan berwarna merah menyala, menggantikan seluruh raihan poin Dika sebelumnya tanpa sisa.

​Tepat di bawah deretan angka tidak masuk akal tersebut, sebuah teks berjalan muncul menyajikan pengumuman resmi yang dibaca oleh ratusan pasang mata secara bersamaan.

​Teks konyol hasil fabrikasi sistem peretasan itu terus bergulir berulang kali, mengundang gelombang kebingungan massal yang perlahan merayap menyelimuti seluruh area stadion kampus.

​Dika yang sedang asyik menertawakan Reno langsung menghentikan tawanya, membalikkan badan dengan cepat untuk menatap papan skor raksasa di belakangnya.

​Wajah arogan pemuda berjaket kulit itu seketika berubah memerah padam, rahangnya mengeras menahan amarah yang langsung meledak menghancurkan ketenangan sok elegannya.

​"Siapa bajingan kurang kerjaan yang berani meretas sistem komputer lapangan untuk mempermalukanku dengan tulisan sampah seperti ini?!"

​Teriakan histeris Dika menggema pantul memantul di dinding beton, menunjuk-nunjuk kasar ke arah ruang kendali wasit yang berada di lantai dua tribun.

​Wasit pertandingan yang bertugas mengoperasikan panel kontrol skor itu hanya bisa mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara, memancarkan raut wajah kepanikan ekstrem.

​"Sistem komputernya terkunci otomatis dari pusat, saya sama sekali tidak bisa menekan tombol pembatalan atau mengembalikan skormu ke angka semula, Dika!"

​Mahasiswa berkaus wasit hitam putih itu memukul-mukul papan ketik komputernya dengan frustrasi, gagal mengambil alih kembali kendali dari kecerdasan buatan Siri-usly.

​||||

​Papan skor digital itu kembali berkedip satu kali, kali ini memunculkan sebuah grafis piala emas berukuran raksasa tepat di sebelah nama Reno.

​Sebuah pengumuman akhir pertandingan disuarakan secara paksa melalui seluruh pelantang suara stadion, menenggelamkan keributan protes dari kubu Dika.

​Alasan diskualifikasi yang terdengar luar biasa futuristik dan tidak masuk akal itu sukses membuat seluruh penonton saling berpandangan dengan kening berkerut hebat.

​Mereka sama sekali tidak mengerti apa definisi dari peretasan kosmik, namun papan layar utama kampus telah memberikan keputusan final yang tidak bisa diganggu gugat.

​Wasit utama di lapangan meniup peluit panjangnya dengan nada ragu-ragu, lalu menunjuk kaku ke arah Reno yang masih bergelantungan tak berdaya di bawah jaring.

​"Berdasarkan instruksi langsung dari sistem komputer pusat fakultas, pertandingan ini resmi dimenangkan oleh Reno!"

​Keputusan wasit yang diwarnai oleh kepatuhan buta pada mesin itu langsung memicu sorakan sorai baru dari beberapa mahasiswa yang memang sejak awal membenci kesombongan Dika.

​Dika menendang bola basket mahal miliknya sekuat tenaga ke arah tembok, merutuki nasib sialnya yang kembali ditumbangkan oleh campur tangan teknologi misterius.

​Pemuda pewaris kekayaan itu meludah kasar ke lantai beton, merasa harga dirinya telah diinjak-injak hingga rata dengan tanah untuk kedua kalinya dalam dua hari berturut-turut.

​Langkah kakinya dihentakkan dengan penuh amarah, membelah kerumunan mahasiswa di pinggir lapangan tanpa sudi menoleh lagi ke arah sisa-sisa pertandingan konyol tersebut.

​Reno akhirnya melepaskan pegangan tangan kirinya yang sudah benar-benar mati rasa, membiarkan tubuhnya meluncur turun dan jatuh terduduk di atas lantai lapangan.

​Ia mengusap bahunya yang terasa ngilu, menatap nanar sisa celana olahraganya yang kini benar-benar tidak bisa diselamatkan lagi bentuknya.

​Namun, rasa sakit fisik itu seketika menguap saat layar ponselnya kembali memberikan getaran peringatan tingkat tinggi dari dalam saku kemeja.

​Reno buru-buru menarik perangkat hitam itu, mendapati sebuah jendela penyadapan hantu baru saja terbuka secara otomatis memproyeksikan aktivitas layar ponsel milik musuh bebuyutannya.

​Melalui antarmuka sadapan tersebut, terlihat jelas bahwa Dika sedang mengetik sebuah draf pesan undangan eksklusif yang ditujukan langsung ke kontak pribadi Luna.

​Teks peringatan baru menyala kemerahan di ujung layar, menuntut Reno untuk segera melakukan sabotase lanjutan sebelum pemuda sombong itu berhasil mencuri kesempatan kencan romantis.

1
M Amir
kurang greget aghhh
Khusus Game: gigit...kurang gereget mah.
total 1 replies
Aisyah Suyuti
good
Dragonovic#
let's gooooo
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending
Khusus Game: siappp. Abang first komen, LANGSUNG SAJA, ACC.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!