NovelToon NovelToon
Di Pacarin Brondong Kaya

Di Pacarin Brondong Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dya Veel

Kayla Daviena, seorang gadis konglomerat yang hidupnya suka foya-foya. Karena sikapnya itu, sang ayah mengambil seluruh kartu kreditnya dan bahkan menyuruh Kayla untuk tinggal seorang diri di kos-kosan sederhana di tengah kota! Hidup pas-pasan, tunggakan yang numpuk, piring belum di cuci, semuanya datang bertubi-tubi tanpa henti dalam hidup gadis itu. Siapa sangka ia tiba-tiba bertemu cowok aneh super menyebalkan yang tinggal di sebelah kosnya, dan mendadak di cowok itu memacari dirinya tanpa aba-aba! Apa yang akan terjadi dengan mereka selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cari Kerja

Keesokan harinya, pancaran sinar matahari pagi yang menembus celah gorden jendela tidak lantas membuat suasana hati Kayla ikut cerah. Gadis itu terduduk di tepi kasur dengan rambut acak-acakan dan mata yang terpaku menatap layar ponselnya. Di sana, aplikasi mobile banking miliknya sedang menampilkan deretan angka saldo yang sukses membuat kepalanya mendadak pening tujuh keliling.

Rp5.003.500,00

Kayla mengosok matanya berkali-kali, berharap ada keajaiban berupa tambahan angka nol di belakangnya. Namun nihil, saldonya tetap tidak berubah.

"Tinggal lima juta?!" pekik Kayla tertahan, langsung menjatuhkan tubuhnya kembali ke atas kasur sambil menatap langit-langit dengan pandangan kosong.

Otaknya langsung berputar cepat, menghitung segala biaya yang harus ia tanggung dalam waktu dekat. Masalahnya, uang kuliah tunggal alias UKT untuk semester depan sudah harus dibayarkan dalam waktu kurang dari dua bulan lagi, dan nominalnya mencapai tiga kali lipat dari sisa uang di rekeningnya saat ini. Belum lagi urusan perut, biaya sabun, sampo, dan kebutuhan kosan lainnya yang tidak bisa diajak kompromi.

Kalau dia masih dalam mode bermanja-manja seperti dulu, dia tinggal menelepon ayahnya dan merengek minta ditransfer. Tapi sekarang situasinya sudah berbeda. Sejak memutuskan untuk belajar mandiri dan lepas dari ketergantungan penuh orang tuanya, Kayla sudah bertekad untuk tidak gampang mengemis uang. Ditambah lagi, mengingat semalam dia baru saja membuang segepok uang sepuluh juta milik ayahnya Juna ke tong sampah, rasanya ada rasa gengsi tersendiri yang mencubit hatinya. Masa buang duit sepuluh juta pamer gaya, tapi bayar kuliah malah megap-megap? Nggak elite banget! batin Kayla merutuki nasibnya sendiri.

"Nggak bisa dibiarin. Gue harus cari duit sendiri. Cari kerja!" gumam Kayla dengan penuh tekad, langsung bangkit berdiri memposisikan dirinya bak pahlawan yang siap berperang.

Gadis itu segera meraih laptopnya, membuka mesin pencari, dan mengetikkan kata kunci 'lowongan kerja paruh waktu kafe terdekat'. Selama hampir dua jam penuh, Kayla menyusuri berbagai situs penyedia loker, membandingkan jarak, dan mencatat beberapa alamat kafe yang sekiranya masih bisa dijangkau dengan angkutan umum atau berjalan kaki.

Beruntung, beberapa bulan lalu Kayla sempat iseng membuat dan memperbarui CV miliknya untuk keperluan daftar organisasi kampus. "Ternyata berguna juga keisengan gue waktu itu," ucapnya lega sembari mencetak beberapa rangkap CV tersebut ke dalam map tebal.

Setelah mandi dan bersiap-siap dengan pakaian paling rapi—tentu saja kali ini tanpa jaket merah dan celana polkadot yang semalam membawa sial—Kayla menyemprotkan parfum banyak-banyak, menarik napas dalam-dalam, dan melangkah keluar dari kosan dengan semangat membara.

Namun, realita dunia pencarian kerja ternyata tidak seindah video-video motivasi di internet. Lika-liku Kayla mencari nafkah dimulai pada kafe pertama.

Kafe pertama ini letaknya cukup strategis, desain bangunannya estetik, dan dari luar terlihat sangat menjanjikan. Begitu masuk, Kayla disambut ramah oleh manajer kafenya yang berpenampilan necis. Awalnya semua berjalan sangat lancar dan gampang, Kayla bahkan sudah membayangkan dirinya memakai apron keren sambil menyapa pelanggan. Sampai akhirnya, sang manajer menjelaskan sistem kerjanya.

"Jadi di sini kita sistemnya kekeluargaan ya, Mbak Kayla. Jam kerjanya dari jam delapan pagi sampai jam sepuluh malam. Tapi karena kita masih rintisan, sistem liburnya fleksibel, alias kalau lagi ramai ya nggak libur. Gimana?" tanya sang manajer dengan senyum tanpa dosa.

Kayla mengerutkan dahi, langsung menghitung dalam hati. Delapan pagi sampai sepuluh malam? Itu mah bukan paruh waktu, itu kerja rodi zaman Jepang versi modern! Kuliah gue dikemanain?!

"Maaf, Pak, kalau untuk gajinya sendiri bagaimana, ya?" tanya Kayla mencoba sopan.

"Oh, untuk tiga bulan pertama kita kasih uang transport aja, Mbak. Anggap saja cari pengalaman dulu, yang penting kan relasi kekeluargaannya," jawabnya enteng.

Kayla langsung tersenyum manis, secepat kilat menyambar kembali map CV-nya di atas meja.

"Oh, begitu ya, Pak? Kebetulan keluarga saya di rumah sudah banyak, jadi saya tidak butuh keluarga baru lagi. Terima kasih banyak ya, Pak!" ucap Kayla langsung berdiri dan melosor keluar kafe sebelum manajer itu sempat melongo. "Gila aja, kerja belasan jam cuma digaji pakai kekeluargaan. Dikira gue bisa bayar UKT pakai kartu keluarga?!" gerutunya kesal di pinggir jalan.

Tidak mau menyerah, Kayla melanjutkan langkahnya ke kafe kedua yang terletak agak masuk ke dalam gang. Kafenya cukup ramai oleh anak muda, dan begitu dia menanyakan lowongan, dia langsung diwawancarai di tempat.

Kriteria di kafe kedua ini sebenarnya sangat bagus, jam kerjanya fleksibel dan cocok untuk mahasiswa. Kayla sudah mulai merasa di atas angin, sampai sang pemilik kafe mengajukan satu pertanyaan terakhir.

"Mbak Kayla bisa bahasa perlambangan kopi? Terus bisa baca garis tangan pelanggan buat nentuin menu kopi yang cocok sama zodiak mereka nggak?"

Kayla melongo, matanya berkedip-kedip tidak percaya. "Hah? Gimana, Mas? Baca garis tangan?"

"Iya, kafe kita ini konsepnya Spiritual Coffee. Jadi barista atau pelayannya harus bisa meramal sedikit-sedikit biar pelanggannya betah. Gimana, Mbak punya indra keenam atau minimal bisa manggil khodam?"

Kayla menelan ludah, buru-buru menggelengkan kepala. Ini mau cari pelayan kafe apa sekutu Nyi Roro Kidul sih?! "Waduh, Mas, boro-boro manggil khodam, saya denger suara kucing berantem malam-malam aja langsung baca Ayat Kursi. Permisi ya, Mas!" Kayla langsung ambil langkah seribu, merasa dunianya makin lama makin tidak masuk akal.

Matahari kini sudah mulai terik di atas kepala, peluh mulai membasahi pelipis Kayla, dan map di tangannya sudah agak lecek karena diremas sepanjang jalan. Ia memutuskan untuk mencoba peruntungan di kafe ketiga, sebuah kedai kopi kecil yang terlihat sangat tenang dan minimalis di dekat area kampus lain.

Di kafe ketiga ini, prosesnya terasa paling normal. Pemiliknya seorang ibu-ibu paruh baya yang ramah. Beliau membaca CV Kayla dengan saksama dan mengangguk-angguk setuju. "CV-nya bagus, Mbak Kayla juga kelihatan cekatan. Saya cocok sih, jam kerjanya juga bisa menyesuaikan jadwal kuliah Mbak," ucap si Ibu membuat harapan Kayla yang sempat mati kini mendadak menyala terang benderang.

"Wah, serius, Bu? Alhamdulillah. Kalau boleh tahu, untuk sistem gajinya bagaimana ya, Bu?" tanya Kayla dengan mata berbinar-binar penuh harap.

Si Ibu tersenyum hangat, lalu menyebutkan sebuah angka nominal yang seketika membuat senyuman di wajah Kayla membeku di tempat. Angkanya sangat kecil, bahkan jika Kayla menghemat setengah mati dan bekerja selama tiga bulan penuh tanpa jajan, uangnya tetap tidak akan cukup untuk menutupi separuh dari biaya UKT-nya semester depan. Istilah kasarnya, gajinya benar-benar seumuran alias di bawah standar minimum yang sangat tidak masuk akal untuk biaya hidup mandiri.

Kayla menghela napas panjang, bahunya merosot lemas. "Aduh... Bu, kalau segitu rasanya belum bisa nutup biaya kuliah saya," ucap Kayla dengan nada kecewa yang tidak bisa disembunyikan.

"Iya, Mbak, maaf ya, karena kedai kita kan masih kecil-kecilan," sahut si Ibu merasa enak.

Kayla akhirnya pamit dengan sopan. Ia berjalan keluar dari kedai kopi itu dengan langkah gontai. Kakinya rasanya sudah mau copot karena dipakai berjalan memutari area ruko dari tadi pagi, perutnya juga sudah mulai berbunyi minta diisi. Gadis itu akhirnya terduduk di bangku halte bus kosong di pinggir jalan, menatap map CV-nya dengan perasaan campur aduk antara ingin tertawa karena kekocakan loker yang ia temui, sekaligus ingin menangis karena menyadari betapa susahnya mencari uang halal di dunia nyata.

"Ternyata cari kerja susahnya setengah mati ya..." gumam Kayla pelan sembari menyandarkan kepalanya ke tiang halte, mendadak teringat kembali pada uang sepuluh juta di dalam tong sampah kosannya semalam.

Kayla menatap lembar lowongan kerja terakhir yang kusut di tangannya. Jujur saja, semangatnya sudah berada di titik nadir, tersisa sekitar lima persen lagi. Kakinya sudah terasa seperti mau lepas dari tempatnya, dan tenggorokannya pun luar biasa kering. Namun, sedetik kemudian ia menggelengkan kepala kuat-kuat. Nggak boleh menyerah sekarang, Kay! Sayang ongkos kalau langsung pulang, batinnya menyemangati diri sendiri.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Kayla melangkah menuju sebuah kafe bernuansa industrial modern yang terletak di sudut jalan protokol. Begitu mendorong pintu kaca kafe bernama Dusk & Dawn itu, gemerincing bel di atas pintu menyambutnya, disusul aroma semerbak biji kopi panggang yang seketika menenangkan kepalanya yang pening. Kafenya luas, estetik, dan suasananya terasa sangat profesional.

Kayla memberanikan diri menghampiri meja kasir dan menanyakan perihal loker paruh waktu yang ia lihat di internet. Tak butuh waktu lama, ia langsung diarahkan untuk menemui manajer kafe di ruangannya.

Manajer kafe itu, seorang pria muda bernama Mas Doni, menyambut Kayla dengan sangat ramah. Ia membaca CV Kayla dengan saksama, lalu mengangguk-angguk puas.

"Oke, Kayla. Jadi di sini kita emang lagi butuh anak part-time secepatnya. Sistemnya fleksibel, bisa menyesuaikan jadwal kuliah kamu. Nanti di awal kamu bakal diajarin dulu dari nol cara bikin kopi, basic hospitality, sampai cara operasional mesin espresso sama baristanya langsung," jelas Mas Doni ramah.

Kayla mendengarkan dengan serius, meski dalam hati sudah waswas menunggu jebakan seperti kafe-kafe sebelumnya. "Maaf, Mas, kalau boleh tahu... untuk sistem gajinya bagaimana, ya?" tanya Kayla hati-hati, bersiap-siap kecewa lagi.

Mas Doni tersenyum. "Karena kamu statusnya masih barista magang, kita start di angka empat juta per bulan. Nanti kalau performa kamu bagus dan jam terbangnya nambah, pasti ada bonus bulanan lagi."

Mata Kayla seketika membelalak sempurna. Empat juta?! Untuk ukuran kerja paruh waktu mahasiswa dan status magang, angka itu sudah lebih dari cukup untuk mulai menabung bayar UKT-nya! Harapan Kayla yang tadinya sudah sekarat langsung melonjak naik, tancap gas benderang seketika.

"Wah, saya mau banget, Mas! Kebetulan saya tipe orang yang cepat belajar dan siap kerja keras!" sahut Kayla bersemangat dengan mata berbinar-binar, takut lowongan emas ini disambar orang lain.

Mas Doni langsung tertawa renyah melihat respons kilat Kayla. "Bagus deh kalau kamu sesemangat itu. Kebetulan kami bener-bener butuh orang secepatnya. Salah satu barista senior kita kemarin ada yang musibah kecelakaan motor dan harus ambil cuti panjang, padahal kafe ini kalau sore sampai malam selalu ramai parah."

"Saya siap mulai kapan aja, Mas!" jawab Kayla mantap.

"Oke, kalau gitu sore ini kita langsung keliling kafe buat pengenalan area kerja dulu ya. Kebetulan, orang yang bakal jadi mentor kamu dan ngajarin kamu semua hal tentang kopi selama magang di sini udah datang," ucap Mas Doni sembari berdiri dari kursinya. "Yuk, saya kenalin dulu."

Kayla mengekor di belakang Mas Doni dengan senyum yang mengembang lebar sampai ke telinga. Ia sudah membayangkan betapa keren dirinya nanti saat mahir meracik kopi mewah.

Mereka berdua berjalan menuju ke arah meja bar utama yang luas. Di balik mesin espresso besar yang berkilau, tampak punggung seorang cowok jangkung berkaus putih yang sedang sibuk menata cangkir-cangkir keramik.

"Kak, sini bentar!" panggil Mas Doni agak keras.

"Ini ada anak magang baru yang bakal lo pegang."

Cowok di balik mesin kopi itu menghentikan aktivitasnya, lalu membalikkan badan dengan handuk kecil yang tersampir di bahunya. Begitu wajah cowok itu terlihat dengan jelas di bawah sorotan lampu bar, senyuman lebar di wajah Kayla seketika membeku tanpa bekas. Matanya melotot sempurna, sementara pasokan oksigen di paru-parunya rasanya mendadak macet.

1
Arin
Siapa tuh si Juna apa Raka?
Arin
Bagus Kayla.....kasih pelajaran buat orang kepo macam Raka.
Tapi itunya Raka gak sampai parahkan ya🤭🤭🤭🤭
Arin
Udah gak usah dengerin tuh si mantan. Cuman mau gertak aja sama kamu Kayla. Jangan mau balikan lagi ya
Arin
Hari apesmu Kayla.... memang gak boleh pindah kos-kosan.... 🤣🤣🤣🤣
Nah akhirnya ketemu Juna. Lumayan ngirit ongkos balik ke kos-kosan
Arin
Saingan Juna malah ikut kos disana juga😁😁😁. Makin seru persaingan buat menarik Kayla
Arin
Lah ibu.... orang cuman jalan berduaan diributin. Itu sebelah kamar Kayla apa kabar??? Lagi mendesah bersama..... Udah halal apa belum???? 🤭🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!