NovelToon NovelToon
Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / TKP
Popularitas:316
Nilai: 5
Nama Author: Chocolate Chase

Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan dan Interogasi

Langit subuh mulai memudar menjadi warna keabu abuan saat mobil dinas yang dikendarai Manuel memasuki pelataran Rumah Sakit Umum Pusat. Hujan gerimis yang tadi turun di dermaga telah berhenti, menyisakan udara dingin yang menusuk tulang. Arthur duduk di kursi penumpang dengan tatapan kosong, buku buku jarinya yang memar dan lecet masih berdenyut sisa pertarungan sengit semalam.

"Kau harus membiarkan tim medis memeriksa tanganmu itu," kata Manuel tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya yang mulai lengang. "Kau baru saja bertarung dengan mantan agen operasional Rusia. Bukan hal sepele."

"Nanti saja," jawab Arthur singkat, matanya kini tertuju pada jendela rumah sakit di lantai tiga yang lampunya masih menyala terang. "Elena lebih penting."

Manuel menghela napas pelan, memahami bahwa mendebat dengan Arthur dalam kondisi seperti ini adalah usaha yang sia sia. Ia memarkir mobil di area khusus petugas medis, lalu keduanya melangkah masuk ke dalam lobi rumah sakit yang mulai ramai oleh aktivitas pagi.

Di lorong menuju kamar rawat Elena, dua agen federal berseragam taktis berdiri menjaga pintu dengan waspada. Mereka langsung memberi hormat saat melihat Manuel menunjukkan lencananya. Arthur tidak menunggu lama, ia langsung mendorong pintu ruangan dan melangkah masuk.

Pemandangan di dalam ruangan membuat langkahnya terhenti sejenak.

Elena sudah tidak lagi berbaring di tempat tidur. Ia duduk di kursi dekat jendela, rambut pirangnya diikat rapi ke belakang, mengenakan kemeja longgar berwarna biru muda yang ia pinjam dari loker rumah sakit. Bahu kirinya terbalut perban tebal yang menutupi luka tembak, namun postur tubuhnya tetap tegak dan matanya yang biru menatap layar komputer tablet federal yang terletak di pangkuannya. Jari jemarinya menari di atas layar dengan kecepatan yang mengesankan, seolah luka tembak itu hanyalah goresan kecil yang tidak berarti bagi dirinya.

"Kau seharusnya istirahat, Elena," kata Arthur, suaranya terdengar jauh lebih lembut daripada yang ia gunakan di luar ruangan ini.

Elena mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis. "Istirahat itu membosankan, Arthur. Dan kita punya pekerjaan yang belum selesai. Victor Hale tidak akan diam di dalam sel. Jaringannya pasti akan mencoba menyelamatkannya atau justru menghabisinya sebelum ia sempat berbicara."

Manuel yang baru masuk menutup pintu di belakangnya dengan rapat. "Elena benar. Aku sudah menghubungi Kapten Lopez dan memastikan Victor dipindahkan ke fasilitas penahanan tingkat tinggi di kantor polisi Sektor Pusat. Tim taktis federal akan menjaganya dua puluh empat jam penuh."

Arthur menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Elena. Ia menatap wanita itu dalam dalam, mempelajari setiap ekspresi mikro di wajahnya yang tampak lelah. Ada sesuatu yang harus ia ketahui, sesuatu yang telah menggantung di udara sejak Victor mengucapkan kata kata provokatif itu di dermaga.

"Elena," mulai Arthur, suaranya tenang namun penuh bobot emosi. "Victor mengatakan bahwa kau berasal dari tanah yang sama dengannya. Bahwa dia adalah masa lalu kelammu. Dan bahwa seluruh operasi berdarah ini sebenarnya bertujuan untuk membunuhmu karena kau telah mengkhianatinya."

Elena meletakkan komputer tabletnya di atas meja samping tempat tidur. Senyumannya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi wajah yang sulit dibaca. Sepasang mata birunya menatap kosong ke luar jendela, ke arah langit subuh yang mulai terang benderang.

"Aku tahu pertanyaan ini pasti akan datang," kata Elena pelan, aksen Rusianya kini terdengar jauh lebih kental dari biasanya. "Dan kau berhak mengetahui seluruh kebenarannya, Arthur."

Manuel yang merasakan atmosfer ruangan berubah menjadi sangat personal, diam diam melangkah mundur. "Aku akan memeriksa perimeter keamanan di luar," gumamnya, lalu keluar dari ruangan dan menutup pintu dengan sangat pelan.

Kini hanya ada Arthur dan Elena di dalam ruangan yang mulai diterangi oleh cahaya pagi yang masuk melalui celah jendela.

Elena menghela napas panjang, lalu menatap Arthur dengan tatapan yang penuh oleh beban masa lalu. "Namaku bukan Elena Kuznetsova. Itu hanyalah nama palsu yang kugunakan saat aku bergabung dengan kepolisian. Nama asliku adalah Elena Volkov. Aku lahir dan dibesarkan di sebuah kota kecil di pinggiran Moskow."

Arthur tidak menyela sedikit pun. Ia mendengarkan cerita itu dengan seluruh perhatiannya.

"Keluargaku bukan keluarga biasa," lanjut Elena, suaranya bergetar pelan menahan emosi. "Ayahku adalah seorang mantan perwira intelijen yang kemudian beralih menjadi pedagang senjata untuk jaringan kriminal terorganisir di Rusia. Ibuku meninggal saat aku berusia sepuluh tahun. Dan Victor Hale, Victor adalah anak didik kesayangan ayahku. Dia tinggal bersama kami sejak aku berusia dua belas tahun."

Elena menunduk, menatap tangannya sendiri yang kini terfold di pangkuannya. "Victor bukan sekadar mantan kekasihku, Arthur. Dia adalah mentorku, partner operasionalku, dan orang pertama yang mengajariku cara bertahan hidup di dunia yang kejam. Bersama sama, kami menjalankan berbagai operasi rahasia yang tidak pantas untuk diceritakan di bawah sinar matahari."

Arthur merasakan dadanya sesak mendengar kenyataan itu, namun ia tetap diam, membiarkan Elena menyelesaikan seluruh ceritanya.

"Tiga tahun yang lalu, ayahku meninggal dalam sebuah operasi yang gagal. Victor mengambil alih kendali jaringan tersebut, dan dia menjadi sosok yang semakin brutal serta tidak terkendali. Dia mulai membunuh bukan karena kebutuhan misi, melainkan karena kesenangan murni. Dan saat itulah aku menyadari bahwa aku tidak bisa lagi berada di sisinya."

Elena mengangkat wajahnya, dan untuk pertama kalinya, Arthur melihat air mata murni menggenang di sudut mata biru yang biasanya tegap itu.

"Aku melarikan diri, Arthur. Aku memalsukan kematianku sendiri, mengganti identitasku, dan datang ke Amerika. Aku bergabung dengan kepolisian karena aku ingin menebus semua dosa yang telah kulakukan di masa lalu. Aku ingin berada di sisi hukum yang benar untuk pertama kalinya dalam hidupku."

Elena menelan ludahnya dengan sulit, lalu menatap Arthur dengan tatapan yang penuh oleh rasa bersalah yang mendalam.

"Tapi ada satu hal lagi yang harus kau ketahui, Arthur," suara Elena kini nyaris berbisik lirih. "Saat aku masih bersama Victor, ada satu target besar yang diperintahkan untuk kami habisi. Seorang pria muda dengan kecerdasan luar biasa yang telah mengganggu beberapa operasi besar jaringan kami di Eropa. Target itu, adalah kau, Arthur."

Ruangan itu seketika menjadi hening senyap. Arthur tidak bergerak, tidak berkedip, bahkan tidak menunjukkan reaksi terkejut apa pun. Namun di dalam benaknya yang jenius, ribuan potongan informasi masa lalu mulai tersusun kembali dengan kecepatan yang luar biasa.

"Victor menugaskanku untuk mendekatimu, mempelajari kelemahanmu, dan menghabisimu saat kau sedang lengah," lanjut Elena, air mata kini mengalir pelan membasahi pipinya. "Aku mengawasimu selama berbulan bulan. Aku mempelajari setiap kebiasaanmu, setiap pola pikirmu, hingga setiap celah kecil dalam pertahananmu. Tapi, semakin lama aku mengawasimu, aku semakin menyadari bahwa kau bukan monster kejam yang digambarkan oleh Victor. Kau hanyalah seseorang yang terjebak dalam kegelapan yang sama denganku, seseorang yang sedang berjuang keras untuk keluar."

Elena menghapus air matanya dengan punggung tangan. "Aku mengurungkan niatku, Arthur. Aku membatalkan misi pembunuhan itu, dan itulah yang membuat Victor semakin murka. Dia menganggapku sebagai pengkhianat terbesar dalam hidupnya. Dan kini dia datang ke sini, bukan hanya untuk menghancurkan Aethelgard, melainkan untuk menghabisiku dan siapa pun yang berani berdiri di sisiku."

Arthur menatap Elena dalam waktu yang cukup lama. Otaknya memproses setiap kata, setiap emosi, serta setiap detail berharga dari pengakuan jujur itu. Dan setelah beberapa saat, ia mengulurkan tangannya yang memar, menggenggam jemari Elena dengan sangat lembut.

"Terima kasih telah memberitahuku, Elena," kata Arthur, suaranya terdengar tenang dan penuh pengertian yang dalam. "Masa lalu kita berdua memang dipenuhi oleh darah dan bayangan hitam. Tapi yang terpenting adalah siapa kita sekarang, dan apa yang kita pilih untuk dilakukan dengan sisa hidup kita. Kau memilih untuk berubah menjadi lebih baik. Dan itu adalah hal yang paling berani yang pernah kulihat sepanjang hidupku."

Elena tersenyum tulus melalui sisa air matanya, lalu menggenggam balik tangan Arthur dengan erat. "Aku minta maaf, Arthur. Untuk semua kebohongan ini."

"Tidak ada yang perlu dimaafkan," balas Arthur, lalu ia berdiri perlahan dari kursinya. "Sekarang, istirahatlah. Manuel akan menjagamu dengan ketat di sini. Aku punya urusan pribadi yang belum selesai dengan Victor Hale."

Elena mengangguk pelan, membiarkan Arthur melepaskan genggaman tangannya. "Hati hati, Arthur. Victor bukan lawan yang bisa diremehkan begitu saja. Dia sangat licik, dan dia tahu benar bagaimana cara memanipulasi pikiran orang lain."

"Aku tahu," jawab Arthur dingin, lalu ia melangkah keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi ke belakang.

Perjalanan menuju kantor polisi Sektor Pusat memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Arthur mengemudi sendiri, membiarkan pikirannya memproses semua informasi baru yang baru saja ia terima dari mulut Elena. Masa lalu Elena yang kelam, hubungannya dengan Victor, serta fakta mengejutkan bahwa Elena pernah ditugaskan untuk membunuhnya. Semua memori itu kini tersimpan rapi di dalam istana memorinya, siap untuk digunakan sebagai senjata psikologis yang mematikan dalam interogasi yang akan datang.

Kantor polisi Sektor Pusat jauh lebih besar dan memiliki teknologi yang lebih modern dibandingkan Sektor Tujuh. Arthur melangkah masuk melalui pintu utama, menunjukkan lencana konsultan federalnya kepada petugas penjaga di meja depan, lalu langsung melangkah menuju ke area ruang interogasi khusus di lantai bawah tanah.

Di depan pintu ruang interogasi nomor satu, dua penjaga federal bersenjata lengkap berdiri tegak. Mereka memberi hormat taktis saat Arthur mendekat, lalu salah satu dari mereka membuka pintu besi tersebut dari luar.

Arthur melangkah masuk dengan tenang.

Ruangan interogasi ini jauh lebih besar dan lebih canggih. Dindingnya dilapisi oleh panel peredam suara tingkat tinggi, dan sebuah kamera pengawas digital terpasang di setiap sudut langit langit ruangan. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja logam tebal yang dibaut langsung ke lantai, dengan dua kursi kokoh di kedua sisinya.

Victor Hale duduk diam di salah satu kursi, kedua tangannya diborgol ketat ke sebuah cincin logam yang tertanam kuat di atas meja. Wajahnya yang tampan namun kini dipenuhi memar sisa pertarungan di dermaga menatap kedatangan Arthur dengan senyuman sinis yang tidak pernah pudar dari bibirnya. Ia mengenakan pakaian tahanan berwarna jingga mencolok yang sangat kontras dengan aura dominasi yang masih ia pancarkan kuat.

Arthur tidak langsung membuka suara. Ia menarik kursi di seberang Victor, lalu duduk dengan santai. Kedua kakinya ia angkat dan letakkan begitu saja di atas permukaan meja logam, memosisikan tubuhnya condong ke belakang dengan tangan yang terlipat santai di belakang kepala. Ia menatap Victor dengan tatapan yang sangat tenang, seolah pria di hadapannya bukanlah seorang pembunuh internasional yang berbahaya, melainkan seorang teman lama yang datang untuk sekadar mengobrol ringan.

Victor mengangkat satu alisnya, tampak sedikit terkejut dengan sikap luar biasa santai yang ditunjukkan oleh Arthur. "Kau datang untuk menginterogasiku, Rutherford? Atau kau datang untuk melanjutkan pertarungan fisik kita di dermaga tadi?"

Arthur tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Ia membiarkan keheningan mencekam mengisi ruangan selama beberapa detik, sengaja membiarkan Victor merasakan ketidaknyamanan dari ketidaktahuan. Ini adalah sebuah teknik interogasi psikologis klasik yang pernah ia pelajari: biarkan tahanan berbicara terlebih dahulu untuk mengisi keheningan dengan informasi yang mereka sendiri tidak sadari telah mereka bocorkan.

"Aku datang untuk mengobrol santai, Victor," akhirnya Arthur membuka suara, nadanya terdengar sangat santai dan hampir ramah. "Hanya mengobrol biasa. Tentang masa lalu yang kelam, tentang masa kini yang rumit, dan tentang masa depan yang sangat singkat yang akan kau habiskan di dalam sel beton tanpa jendela."

Victor tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar penuh penghinaan. "Kau pikir kau bisa memecahkan mentalku, Rutherford? Aku telah diinterogasi oleh agen agen interogasi terbaik di dunia. Kau hanyalah seorang konsultan biasa dengan masa lalu yang tidak kalah kotor."

Arthur tersenyum tipis, sebuah senyuman miring yang menjadi ciri khasnya. "Mungkin kau benar, Victor. Mungkin aku hanyalah seorang konsultan biasa di mata jaringarmu. Tapi aku memiliki satu keunggulan besar yang tidak dimiliki oleh agen agen terbaik di dunia itu."

"Apa itu?" tanya Victor, rasa ingin tahunya mulai terusik oleh ketenangan Arthur.

Arthur mencondongkan tubuhnya ke depan dengan cepat, menurunkan kedua kakinya dari atas meja, lalu menatap langsung ke dalam manik mata Victor dengan intensitas tajam yang membuat pria Rusia itu secara tidak sadar menegangkan seluruh otot tubuhnya.

"Aku tahu persis bagaimana cara berpikir seorang monster," bisik Arthur, suaranya kini berubah menjadi sedingin es dan setajam sembilu. "Karena aku sendiri pernah menjadi salah satu dari mereka. Dan sekarang, Victor, saatnya kau menceritakan semuanya tanpa terkecuali. Tentang konspirasi Aethelgard, tentang jaringan besar di atasnya, dan tentang siapa sebenarnya sosok asli yang memerintahkanmu untuk membunuh Elena."

Victor menatap Arthur dalam dalam, senyuman sinisnya perlahan lahan mulai memudar dari wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak ia berhasil ditangkap, ada kilatan ketidakpastian serta ketakutan samar di dalam matanya. Ia akhirnya menyadari bahwa pria yang berada di hadapannya saat ini bukanlah penegak hukum biasa yang bisa ia kelabui. Ini adalah seorang predator puncak yang pernah berjalan di kegelapan yang sama, dan kini menggunakan pengalaman mengerikan itu untuk memburu makhluk makhluk kegelapan seperti dirinya.

"Baiklah, Rutherford," kata Victor pelan, suaranya kini telah kehilangan seluruh nada meremehkannya. "Mari kita mulai permainan catur ini. Tapi ingat satu hal, setiap jawaban jujur yang kuberikan akan membuka pintu menuju kegelapan yang jauh lebih dalam dari yang bisa kau bayangkan. Dan sekali kau melangkah masuk ke sana, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi seumur hidupmu."

Arthur menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi, mengembalikan posisi santainya sebelumnya dengan kaki di atas meja logam. "Aku sudah berada di dalam kegelapan itu sejak lama, Victor. Sekarang, berbicaralah."

Dan di dalam ruang interogasi yang kedap suara itu, sebuah permainan catur psikologis tingkat tinggi antara dua sosok yang pernah berjalan di sisi paling gelap kehidupan pun resmi dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!