Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.
Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.
Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Luka yang Belum Selesai
Setelah menghela napas panjang, Anjani melangkah keluar melewati ambang pintu. Ia berhenti tepat di hadapan Alden, menatapnya lekat.
"Duduklah... bicara di teras saja," ucap Anjani singkat, menjaga nada suaranya tetap datar. "Ibu sudah tidur, jadi jangan berisik."
Lalu ia duduk di kursi yang ada di teras itu.
Ada sesuatu yang ia tahan, sesuatu yang sudah lama ia pikir bisa ia kendalikan sepenuhnya. Namun begitu Alden benar-benar berdiri di dekatnya, begitu jarak itu menjadi nyata, bukan lagi sekadar ingatan, dadanya terasa sedikit sesak tanpa ia mengerti kenapa.
Anjani menunduk sebentar, merapikan ujung dasternya yang sebenarnya tidak berantakan. Gerakan kecil itu hanya untuk memberi dirinya waktu, untuk menata kembali ekspresi wajahnya agar tetap tenang.
Ia melirik ke arah Alden yang masih berdiri, ragu-ragu di tempatnya.
"Nggak mau duduk? Mau berdiri aja di situ?"
Suara Anjani terdengar datar, namun cukup untuk memecah kebekuan yang sejak tadi menggantung di udara.
Alden tampak sedikit kikuk. Sejenak ia seperti kehilangan arah, sebelum akhirnya buru-buru menarik kursi plastik satunya dan duduk dengan hati-hati, seolah takut melakukan gerakan yang salah.
Kini mereka benar-benar duduk bersebelahan, hanya dipisahkan oleh sebuah meja kecil di teras itu.
Keheningan kembali turun.
Malam terasa begitu sunyi di perumahan kecil itu. Lampu teras memancarkan cahaya kuning hangat yang menerangi sebagian wajah mereka, sementara halaman di depan rumah tenggelam dalam bayangan yang samar.
Dari kejauhan terdengar suara televisi dari rumah tetangga yang belum tidur. Sesekali suara jangkrik bersahutan di sela-sela keheningan.
Namun bagi Alden, semua suara itu terasa jauh.
Terlalu jauh.
Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kini Anjani berada hanya kurang dari satu meter darinya.
Bukan dalam mimpi.
Bukan dalam kenangan.
Melainkan nyata.
Alden menunduk, tangannya bertumpu di lutut, sementara Anjani menatap lurus ke depan. Keduanya sama-sama terjebak dalam diam yang terasa penuh dengan masa lalu yang belum selesai.
Alden menatap jalan di luar rumah.
Ia belum berani menoleh ke samping.
Belum berani menatap wajah yang selama ini hanya hidup di ingatannya.
Wajah yang menjadi alasan ia bertahan sejauh ini, sekaligus alasan ia kembali ke tempat ini.
Ia menarik napas pelan, lalu memejamkan mata sejenak, mencoba mengumpulkan sisa keberanian yang masih tersisa di tubuhnya yang mulai terasa lelah oleh emosi yang terus menekan dari dalam.
Beberapa detik kemudian, pandangannya jatuh ke jam di pergelangan tangan kirinya.
Jarum detik bergerak tanpa peduli.
Seolah sedang menghitung waktu yang tadi ia minta sendiri.
Lima menit untuk berbicara.
Lima menit yang kini terasa jauh lebih singkat dari yang ia bayangkan.
"Katanya tadi mau bicara. Aku sudah siap dengar, sebelum mataku keburu mengantuk," ujar Anjani, nadanya terdengar ketus, seperti menahan rasa jenuh yang ia sendiri tidak sepenuhnya ingin tunjukkan.
Alden terdiam.
Ia menelan ludah, lalu perlahan akhirnya menoleh ke arah Anjani untuk pertama kalinya sejak duduk.
Dan begitu ia benar-benar melihat wajah itu dari dekat, dadanya langsung terasa sesak.
Waktu memang telah berlalu sembilan tahun.
Namun ada begitu banyak hal yang masih sama.
Lengkung alis itu.
Tatapan mata yang selalu terlihat jujur.
Cara Anjani mengerutkan kening saat merasa tidak nyaman.
Semua masih begitu familiar.
Hanya saja kini ada sesuatu yang tidak pernah ada dulu.
Kedewasaan.
Ketenangan.
Dan jarak yang tidak kasat mata.
Alden sempat membayangkan pertemuan ini ratusan kali dalam kepalanya.
Tapi tidak satu pun bayangan itu mempersiapkannya untuk kenyataan.
Karena kenyataannya jauh lebih menyakitkan.
Anjani ada di hadapannya.
Namun tidak lagi berada dalam hidupnya.
"Aku..." suara Alden serak, hampir pecah di kalimat pertama. Ia berhenti sebentar, menarik napas panjang. "Aku bener-bener minta waktu ini, Jani."
Tangannya yang berada di atas lutut sedikit bergetar, tapi ia tidak menariknya.
"Dan aku bakal ngomong semuanya... satu per satu."
"Iya, aku dengar," sahut Anjani dengan sikap acuh, matanya tetap lurus ke depan, tidak langsung menoleh ke arah Alden.
Suasana kembali sunyi sesaat.
Alden menarik napas panjang sebelum akhirnya kembali berbicara. Suaranya pelan, tapi kali ini terdengar lebih mantap dari sebelumnya.
"Aku datang ke sini bukan cuma buat minta maaf, Jani."
Ia menatap Anjani lebih lama, berusaha tidak lagi menghindar.
"Aku datang karena aku pengin kamu tahu yang sebenarnya."
Alden berhenti sejenak, menata napasnya.
Sementara Anjani tetap mendengarkan.
"Selama ini aku hidup bawa semua kesalahan aku sendiri... semua kata-kata aku ke kamu dulu... semua sikap aku yang nyakitin kamu... aku nggak pernah benar-benar bisa berdamai dengan itu."
Matanya sedikit meredup, tapi ia tetap melanjutkan.
"Dan kamu selalu ada di bagian itu. Bahkan ketika aku berusaha menghapus semuanya."
Kalimat itu membuat Anjani akhirnya menoleh.
Hanya sebentar.
Namun cukup untuk membuat Alden sadar bahwa setiap kata yang ia ucapkan benar-benar didengar.
Alden terdiam.
Napasnya terasa berat.
"Aku nggak pernah benar-benar bisa berhenti memikirkan kamu, Jani..."
Ia menelan ludah, lalu melanjutkan lebih pelan.
"Kamu selalu ada dalam hatiku."
Angin malam seolah berhenti sesaat.
Tidak ada suara.
Tidak ada gerakan.
Bahkan Alden sendiri merasa seakan baru saja menjatuhkan sesuatu yang selama bertahun-tahun ia simpan rapat-rapat.
Anjani terdiam.
Untuk beberapa detik, tidak ada reaksi yang keluar dari dirinya.
Matanya hanya menatap Alden, seperti sedang mencoba memastikan apakah kalimat tadi benar-benar diucapkan... atau hanya salah dengar.
Selama bertahun-tahun, ia pernah membayangkan banyak kemungkinan jika suatu hari bertemu lagi dengan Alden.
Mungkin permintaan maaf.
Mungkin penjelasan.
Mungkin penyesalan.
Tapi bukan ini.
Bukan pengakuan seperti ini.
"Kamu..." suaranya keluar pelan, hampir seperti bisikan yang tertahan. "Kamu ngomong apa tadi?"
Alden tidak langsung menjawab.
Ia justru menunduk sedikit, seperti baru menyadari betapa berat kalimat yang baru saja ia lepaskan ke udara.
Anjani mengerutkan kening.
"Jangan bercanda," lanjutnya, kali ini lebih tegas, tapi ada getaran halus di ujung suaranya.
"Setelah semua yang terjadi, kamu datang ke sini, minta maaf, lalu bilang hal seperti itu?"
Tangannya bergerak kecil, seolah ingin menepis sesuatu yang mengganggu di pikirannya sendiri.
Karena pengakuan itu terasa bertentangan dengan semua yang selama ini ia yakini.
Dengan semua luka yang ia bawa.
Dengan semua kata yang pernah diucapkan Alden kepadanya dulu.
Jika semua itu benar...
Lalu selama ini apa?
Kenapa semua harus terjadi seperti itu?
Kenapa ia harus melewati bertahun-tahun mencoba menerima bahwa dirinya tidak pernah diinginkan?
Anjani menunduk sesaat.
Dadanya terasa tidak nyaman.
Bukan karena marah.
Bukan juga karena benci.
Justru karena sebagian kecil dari dirinya pernah berharap mendengar kalimat seperti itu bertahun-tahun lalu.
Di masa ketika semuanya masih mungkin.
Di masa ketika satu kata dari Alden masih mampu mengubah seluruh harinya.
Namun harapan itu sudah lama ia kubur.
Dan malam ini, saat kalimat itu akhirnya benar-benar datang, ia tidak tahu harus merasa lega atau semakin terluka.
"Selama ini kamu... benci aku," ucapnya lirih, lebih seperti mengingatkan dirinya sendiri.
"Kamu yang bilang kamu nggak mau lihat aku lagi."
Alden menutup mata sesaat.
Kenangan lama itu kembali menghantam tanpa ampun.
Kata-kata yang dulu ia lontarkan demi menjauhkan diri.
Kata-kata yang ia pikir akan menyelesaikan semuanya.
Namun justru menjadi luka yang bertahan paling lama.
Perlahan ia menggeleng.
"Itu salah," jawabnya singkat, suaranya serak.
Bersambung...
bantu follow dan baca ya🙏