NovelToon NovelToon
Kau Milikku Sayang

Kau Milikku Sayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Single Mom
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

"siapa namamu?"
xavier menatap lekat bocah 5 tahun itu yang melotot marah kepadanya, bocah laki-laki dengan rambut gondrong ikal sebahu, memegang sebuah rubrik di tangannya.
mata bocah itu mengingatkan xavier pada wanita itu, wanita sialan yang pergi begitu saja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tiga

nyonya wina kembali misuh-misuh, lagi dan lagi xavier tidak mau ketemu dengan wanita yang ingin dikenalkannya.

Di lobby kantor grup pratama jaya, nyonya wina berjalan terburu-buru. Beberapa sekuriti berdiri di depan pintu lift, menunggu nyonya wina masuk.

Mata tuanya memerah marah, cara apa lagi yang harus ia lakukan agar xavier mau menikah.

Suara hak sepatu 3 incinya berbunyi nyaring di lantai marmar, kantor xavier. Para eksekutif yang mengenal nyonya wina langsung berdiri hormat menyambut nyonya besar pemilik grup itu.

Leo tergopoh menghampiri wanita sepuh yang terlihat wibawa dan masih cantik itu, menunduk sopan menyambut.

"apa bosmu ada di ruangannya?"

Leo hanya mengangguk, langkahnya tetap tergopoh mengiringi langkah nyonya wina yang cepat.

"xaviii.."

Pintu itu didorong dengan sepenuh hati, nyonya wina sudah hampir memuntahkan isi kepalanya.

Namun ia menahannya, di kursi ceo, cucunya duduk dengan wibawa seperti sedang menanda tangani sesuatu. Sekretaris xavier terlihat menanti di sisi pria itu, berdiri dengan gesture menggoda.

"tckkkk..." tanpa sadar suara decihan keluar dari mulutnya.

Dia tahu, cucunya itu memang sangat mempesona, walau aura xavier dingin, namun tak membuat para perempuan berusaha berhenti menggodanya.

Para perempuan itu tak berani secara terbuka memang, namun gesture tubuh tak bisa berbohong, tepat seperti yang sekretaris xavier lakukan saat ini.

Nyonya wina duduk di sofa, dengan tetap mengamati sekretaris itu dengan tatapan tajamnya.

Xavier yang menyadari kedatangan omanya, beranjak dari kursi setelah menyerahkan dokumen itu ke tangan sekretarisnya yang sedikit menciut ketakutan karena tatapan nyonya wina.

"oma hampir membakar habis della dengan tatapan oma yang berapi itu" celetuknya sembari membuka kancing jasnya dan duduk di hadapan omanya.

Omanya menoleh cepat, menatap marah xavier yang hanya tersenyum tipis.

"kamu tertarik dengan sekretarismu itu?" suara ketus omanya membuat xavier tertawa kecil.

"bukankah oma bilang aku bisa menikahi siapapun"

"tapi bukan perempuan seperti itu, xaviii, apa menurut kamu oma ikhlas, perempuan seperti sekretarismu itu melahirkan keturunan pratama berikutnya!"

Xavier mengerutkan keningnya, " apa yang salah dengan della, dia lumayan cantik"

"astagaaa..." seru omanya kesal.

"tidak cukup hanya cantik untuk menjadi istrimu, dan kamu bilang si della itu cantik?astaga xaviii buka matamu, dia hanya memoles wajahnya dengan lapisan-lapisan cushion dan lainnya"

Oma wina masih mengomel kesal, ia memang ingin cucunya cepat menikah, tapi bukan berarti dia bisa menerima sembarang perempuan.

Xavier mendengus malas, "oma terlalu ribet!"

"ribet apanya?" tanya nyonya wina kesal, "emang kamu bangga bawa perempuan begituan di acara-acara keluarga dan resmi lainnya"

Xavier mengedikkan bahunya, matanya memutar malas.

"oma udah siapkan kencan buta untukmu, dengan putri dari keluarga santoso, mereka memang bukan dari keluarga pengusaha, mereka keluarga dokter. Santoso pemilik rumah sakit global care, kamu tahu!"

"trus..?" suara xavier terdengar malas, ia menyelonjorkan kakinya.

"geraldine santoso, wanita cantik dan cukup dewasa, xavi. Usianya baru 26 tahun dan sudah menjadi dokter spesialis di usia semuda itu"

"omaa..."

"ketemu dulu, lihat dan pertimbangkan. Gadis itu cukup cantik xaviii" sambar omanya cepat.

Xavier menghela nafasnya berat, matanya masih tetap menatap omanya lekat.

"menikahlah, oma mohon. Usia oma sudah 70 tahun xavi, oma ingin melihatmu menikah sebelum oma menyusul opa dan juga kedua orangtuamu"

"oma ngomong apa sih!"

Xavier kesal mendengarnya, ia berdiri menuju kursi kerjanya kembali.

"oma selalu ngomong begitu, setiap aku menolak kencan yang oma siapkan"

"kamu sudah 34 tahun, apakah oma nggak boleh resah?"

"oma.." xavier membalikkan tubuh menatap omanya dengan senyum lembut.

"aku akan cari sendiri wanita yang aku mau.."

Nyonya wina mengangguk senang, " tapi oma sudah terlanjur memesan makan malam untuk kalian berdua nanti malam, oma mohon xavi, cobalah sekali ini, lihat dulu wanita itu"

Xavier menghembuskan nafasnya lagi, dan kali ini terdengar cukup keras.

Kesal sekali rasanya melihat kegigihan neneknya itu, tapi melihat mata tua omanya yang mengerjab dan menatap penuh harap, tak tega rasanya xavier menolaknya.

"hhhhh, baiklah. Dimana kami harus bertemu?" suara xavier sama sekali tak terdengar antusias, namun nyonya wina tersenyum puas.

"di restoran sweet night"

<<<<<<<>>>>>>>

Xavier malam itu mengenakan jas semi formal, dia tidak mengenakan dasi. Potongan rambut undercutnya, dengan rambut tipis di sekitar dagunya yang membiru, menambah kesan maskulinnya.

Xavier memang tampan, bola matanya yang kebiruan didapatnya dari kakek pihak ibunya yang berasal dari rusia.

Xavier melangkah anggun menuju meja yang sudah omanya reservasi, ia datang lebih dulu. Xavier tak ingin ditunggu, akan lebih baik jika dia lebih duluan datang, agar bisa menilai wanita yang omanya siapkan itu.

"reservasi atas nama siapa pak?" tanya seorang pelayan pria yang menyambutnya sopan.

"wina pratama" jawabnya singkat dan datar, kedua tangannya berada dalam saku celana. Matanya mengitari seluruh ruangan yang tidak terlalu ramai malam ini.

"baik, silahkan!"

Pelayan itu mempersilahkan xavier duduk, setelah mengangguk hormat dan menyerahkan menu.

Xavier meletakkan daftar menu, tanpa melihatnya sedikitpun, ia menatap lekat pelayan itu.

"saya menunggu teman, nanti saya akan pesan jika teman saya sudah datang"

Pelayan itu mengangguk sopan, dan pergi meninggalkan xavier.

Xavier mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jari telunjuknya, sesekali matanya melirik arloji.

"heummm, 5 menit lagi, kalau wanita itu tidak nongol, aku pergi" gumamnya.

"xavier pratama?"

Xavier menengadah, menatap seseorang yang berdiri di depannya. Keningnya berkerut dengan raut wajah penuh tanya.

"saya geraldine santoso"

"oh.." sahut xavier singkat, dia berdiri menyambut uluran tangan wanita itu.

"silahkan duduk"

"maaf saya terlambat" pinta wanita itu dengan sorot penuh harap.

"jam dinas saya baru selesai, saya langsung kemari dari rumah sakit"

Xavier tersenyum tipis, terlihat sedikit sinis sebenarnya.

Perempuan oh perempuan, kenapa sangat suka berbohong untuk terlihat keren. Apa perempuan ini pikir, dia pria bodoh.

Bagaimana mungkin habis dinas, tapi dengan harum yang begitu semerbak dan juga tampilan yang begitu stylish.

Tidak ada kelelahan di wajah cantik sedikit oriental itu, jelas sekali kalau wanita itu baru selesai dari tempat perawatan.

"tidak apa-apa, saya juga baru sampai kok" sahut xavier datar, "silahkan pesan!" ia menyodorkan menu ke hadapan wanita itu yang menatap xavier lekat.

"saya panggilkan pelayan yah?" tawar xavier melihat wanita itu yang terlihat bingung memilih.

"kita tanya makanan apa yang rekomended di restoran ini"

"boleh.." angguk wanita itu cepat, dengan senyum manisnya.

Xavier melambaikan tangan, memanggil pelayan tadi.

"bisakah kamu panggilkan chef kamu kemari, kami pengen menanyakan langsung ke chef kamu, makanan yang rekomended di sini"

Pelayan itu terlihat bingung dan ragu, "saya tanya ke manager dulu pak"

Xavier mengangguk, mengamati pelayan itu menuju ke dapur.

"kenapa harus memanggil chefnya?" tanya geraldine setengah berbisik, mencondongkan tubuhnya ke depan.

"aku memiliki sedikit trust issue, jadi suka sedikit parnoan"

Wanita itu mengangguk paham, matanya menatap xavier penuh kagum.

"ada yang bisa saya bantu pak?"

Xavier menoleh, seorang pria bertubuh sedikit tambun berdiri di samping mejanya.

Mata pria itu membelalak kaget, "tuan xavier!" serunya.

"maaf, pelayan kami tak mengenali anda, ada yang bisa saya bantu"

Suara manager itu berubah lebih sopan dan hormat.

Xavier mengangguk tipis, "saya dan teman saya ingin makan, tapi saya ingin chef kalian yang menjelaskan makanan apa yang best seller di sini"

"baik pak" angguk pria tambun itu cepat, tangannya menjawil pelayan itu, untuk pergi memanggil chef.

Xavier terlihat mengobrol dengan manager tambun itu, ketika chef keluar dari dapur dengan wajah kesalnya.

"mas farid!" seru chef itu, menyentakkan xavier dan manager bernama farid itu.

"ngapain manggil aku?"

Mata chef itu melotot ke arah manager yang nyengir, chef itu hampir marah lagi, saat matanya menatap ke arah xavier, mulutnya terperangah tak percaya.

"pria itu!" gumamnya bersamaan dengan nafasnya yang terhembus kasar.

Xavier mengernyitkan matanya,menatap heran chef wanita itu yang melihatnya seperti melihat hantu.

Bersambung...

1
Sri S
lanjut
Sri S
suka
Sri S
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!