Zavier terpaksa harus mencari seorang wanita untuk di jadikan istri secepatnya, karena di paksa oleh sang kakek yang sedang sakit parah. Sebagai seorang pewaris tunggal dirinya di tuntut oleh sang kakek untuk memiliki istri di usianya yang ke 27 tahun, hal ini membuat Zavier hampir gila.
Sementara itu di sisi lain, Sofia yang baru saja kehilangan sang papa, kini menjadi yatim piatu hidup menderita di tangan mama dan adik tirinya. Namun sebuah teragedi tak terduga terjadi, mama tiri Sofia tiba-tiba menjual Sofia kepada seorang laki-laki tua demi uang. Namun pada akhirnya hal ini malah membuat jalan bagi Sofia bertemu dengan Zavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"apakah kita akan pergi sekarang?" tanya Sofia kepada Zavier tanpa menatap wajah laki-laki tersebut yang saat ini berdiri di hadapan nya dengan stelan jas lengkap, juga aroma parfum yang menyeruak ke hidung Sofia.
Sofia akui, dia cukup tampan, tinggi, wangi, aura nya juga sangat memikat, jauh lebih tampan dari Glen. Namun hal yang membuat Sofia takut adalah tatapan tajam nya yang seperti elang, juga sikap dingin nya yang tidak bisa di tebak.
"Apa aku ada di lantai itu? Berusaha lah menghormati seseorang yang menjadi lawan bicara mu, jika kau menatap lantai maka sama saja kau menganggap aku ada di bawah kaki mu," ujar Zavier dengan suara khas nya.
"Ma-maaf," jawab Sofia dengan susah payah untuk menata Zavier yang menjadi lawan bicara nya saat ini.
"Ambil ini dan baca lalu tanda tangan," kata Zavier yang membikin Sofia selembar kertas serta satu buah bulpen.
"Apa ini?" tanya Sofia kebingungan.
"Baca saja, apa kau tidak bisa membaca? Apa kau ingin aku yang membacanya?" ungkap Zavier yang saat ini berjalan masuk dan duduk di samping ranjang dengan wajah arogan nya.
Sofia mengerut keningnya, namun dia sadar tempat ini adalah rumah orang tersebut dia tidak punya hak untuk marah.
Ia pun mulai mengamati kertas tersebut dan membaca nya.
SURAT PERJANJIAN KONTRAK NIKAH.
Isi surat:
Tidak ada yang boleh jatuh cinta, pihak A harus patuh terhadap perintah pihak B, tidur dalam satu kamar karena tidak boleh membiarkan orang curiga kalau mereka hanya menikah kontrak, dan lain sebagainya.
Tidak boleh melanggar peraturan dalam surat kontrak.
Gak mungkin dong author tulis semua say, kita singkat aja sih hehe.
Oke next.
"Tidur satu kamar? Kenapa harus satu kamar?" tanya Sofia menghampiri Zavier dan berdiri di hadapan nya.
"Apakah kau ingin membuat kakek ku meningal jika dia mengetahui kalau pernikahan ini hanya sebuah pernikahan kontrak?" ucap Zavier yang kemudian berdiri dari duduknya.
Seketika Sofia mendongak melihat Zavier yang lebih tinggi dari nya.
"Ta-tapi ..." ujar Sofia kebingungan.
"Tanda tangan atau tidak?" kata Zavier lagi-lagi melayang kan tatapan tajam kepada Sofia.
Karena tidak punya banyak waktu dan tak ingin berlama-lama dengan Zavier, Sofia pun kemudian memilih untuk menandatangani kontrak nikah tersebut, karena ia sebelumnya telah setuju tidak mungkin lagi untuk menolak.
"Bagus, ayo cepat," kata Zavier yang kemudian berjalan keluar dari kamar Sofia.
Tak lama kemudian mereka pun telah berada di dalam mobil yang di kemudikan oleh Glen, mereka saat ini menunju kantor catatan sipil.
Keringat dingin membanjiri telapak tangan Sofia, ia merasa gelisah karena ini pilihan yang cukup berat.
"Sabar Sofia, hanya satu tahun itu tidak akan lama, aku akan mengambil kembali hak milik ku," batin Sofia berusaha menguatkan dirinya sendiri.
"Tuan muda, kita sudah tiba," kata Glen yang memberhentikan mobilnya di hadapan sebuah kantor catatan sipil.
Jantung Sofia semakin berdegup kencang, meskipun ini adalah pernikahan kontrak, tetap saja mereka sah secara agama dan negara, tapi ya mau bagaimana lagi ini adalah satu-satunya jalan untuk Sofia.
Mereka turun dari mobil setelah beberapa menit, Glen melihat Sofia yang sangat gugup, ia tau bagaimana perasaan Sofia saat ini.
"Ayo," mata Zavier sambil menoleh ke arah Sofia yang berdiri di belakang nya.
Sofia pun melangkah kan kaki nya mengikuti Zavier, sementara Glen menunggu di luar.
"Kasian nona muda Sofia," batin Glen sambil melihat kedua orang itu yang kini sudah masuk ke dalam kantor catatan sipil tersebut.
Tak terasa satu jam pun akhirnya berlalu begitu cepat, kini Zavier dan Sofia keluar dari dalam kantor catatan sipil tersebut sambil membawa sesuatu di tangan mereka.
"Ambil untuk mu dan simpan baik-baik, satu tahun lagi kita akan ke sini dan berpisah," kata Zavier menyerahkan buku nikah milik Sofia dan menyimpan milik nya sendiri.
Sofia mengambil nya, dia menatap dalam buku kecil segi empat tersebut, dulu papa nya pernah berkata.
"Sofia, saat kau memutuskan untuk menikah, papa orang pertama yang akan sangat bahagia, papa akan mengelar pesta mewah siang dan malam untuk mu,"
Terdengar lagi di telinga Sofia ucapan dari sang papa, namun sayangnya sang papa malah pergi bahkan sebelum melihatnya menikah.
"Pa, aku sudah menikah, namun aku tidak tau kenapa aku bermain-main dengan sebuah pernikahan, ini tidak lah asli pa," batin Sofia. Perlahan air mata Sofia mulai mengalir.
Namun dengan cepat Sofia menyeka nya agar tidak ada yang bisa melihat kalau ia sedang menagis.
Zavier memeprhatikan itu dan berfikir kalau Sofia masih saja sangat lemah dan gampang mengeluarkan air mata.
Namun ia tidak tau seperti apa pikiran Sofia saat ini.
Karena Zavier yang memiliki koneksi di berbagai tempat menikah di kantor catatan sipil adalah hal yang tidak mustahil bagi nya, ia juga mendapat pelayanan terbaik di sana.
"Hey, tunggu apalagi? Ayo cepat masuk, masih banyak hal yang harus di lakukan," kata Zavier yang kini meminta Sofia masuk ke dalam mobil bersama nya.
Sofia berjalan masuk ke dalam mobil Zavier, segera saja Glen melajukan mobil tersebut kembali ke rumah.
Kini mereka telah sah menjadi sepasang suami istri, meksipun hanya sebagai pasutri kontrak.
Tidak butuh waktu lama mereka pun akhirnya kembali tiba di rumah tersebut.
"Segera bereskan barang-barang mu, kita akan pergi dari sini," kata Zavier tanpa turun dari mobil nya.
"Apa? Jadi kita akan tinggal di mana? Apa kita tidak tinggal di sini?" tanya Sofia kebingungan.
"Lakukan apa yang aku katakan, dan jangan banyak bertanya," jawab Zavier dengan tatapan tajam nya.
Melihat itu, Sofia pun tidak ingin menjawab nya lagi, dia memutuskan untuk turun dari mobil dan membereskan barang-barang di kamar nya.
"Nona muda, apakah butuh bantuan?" tanya Glen kepada Sofia.
Sofia pun mengganguk kan kepala nya dan kemudian berjalan mendahului Glen, sementara Zavier menunggu di dalam mobil.
"Nona muda tetap saja nona muda, berasal dari keluarga kaya, dan bersikap manja," ujar Zavier yang melihat Sofia menyetujui tawaran bantuan dari Glen.
Sementara itu di kamar Sofia.
"Nona muda, sudah tidak ada lagi barang yang tertinggal?" tanya Glen sambil menatap seisi ruang kamar tersebut.
"Seperti nya sudah tidak ada," jawab Sofia.
"Kalau begitu kita pergi sekarang," kata Glen yang hendak melangkahkan kakinya.
"Tunggu," ujar Sofia lagi.
Glen pun menoleh dan menatap Sofia dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Ada apa nona?" tanya nya.
"Tuan, em maksud ku Glen, boleh kah aku tau di mana aku akan tinggal?" tanya Sofia sambil menundukkan kepalanya.
"Kita akan tinggal di mansion Atharyan nona muda," jawab Glen.
Seketika Sofia terdiam mendengar nama tersebut, dia berusaha mengingat nama yang tidak asing baginya itu.
Bersambung ....