NovelToon NovelToon
KOK HOROR??? Series.

KOK HOROR??? Series.

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak malam itu, hidup Raka berubah drastis. Setelah tak sengaja melewati rumah tua terbengkalai di ujung gang dan merasakan gangguan gaib, ia terus dihantui penglihatan aneh, suara bisikan, dan kejadian tak wajar. Perlahan ia mengungkap rahasia kelam rumah itu—tempat menyimpan kutukan dan korban hilang puluhan tahun silam—sambil berjuang melepaskan diri dari jeratan makhluk yang sudah menandainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 1: RUMAH DI UJUNG GANG SEPI BAB 12 – Janji yang Tak Bisa Dibatalkan

Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Raka terus dipenuhi tulisan dalam buku catatan tua itu. Kalimat tentang “harga yang semakin mahal” dan “sesuatu yang dipanggil untuk menagih janji” terasa seperti bisikan yang terus mengikuti langkah kakinya. Udara sore yang biasanya terasa hangat, kini terasa dingin menusuk tulang setiap kali ia melintas dekat mulut Gang Melati.

Sesampainya di kamar kosan, ia segera mengunci pintu dan jendela dengan hati-hati—bukan lagi karena rasa takut akan hal yang sama seperti sebelumnya, melainkan karena rasa waspada akan kemungkinan yang lebih besar. Ia kembali membuka catatan yang ditulisnya tadi, lalu membayangkan apa yang sebenarnya terjadi malam itu 30 tahun silam.

Jika Tuan Handoko benar-benar meminta bantuan kekuatan gaib, maka apa yang ia dapatkan pasti bukan hadiah cuma-cuma. Dalam banyak cerita yang ia dengar, kesepakatan semacam itu selalu memiliki syarat yang berat, sering kali melibatkan nyawa atau kebebasan jiwa seluruh keluarganya sebagai ganti keberuntungan dan kekayaan yang didapat.

Malam itu juga, Raka memutuskan untuk kembali menemui Pak Surya lebih awal keesokan harinya. Ia ingin mengetahui lebih rinci tentang jenis kekuatan apa yang biasanya dipakai dalam kesepakatan semacam itu, dan apa dampaknya jika ikatan pengikatnya sudah hancur seperti yang baru ia lakukan.

Keesokan paginya, ia sudah berdiri di teras rumah Pak Surya sebelum matahari naik tinggi. Lelaki tua itu menyambutnya dengan wajah yang sudah tampak seperti sudah menunggu kedatangannya. Seolah ia tahu, rasa penasaran dan kekhawatiran Raka tidak akan berhenti sampai di situ saja.

“Kau datang lebih pagi dari dugaanku. Pasti pikiranmu tidak tenang semalaman, bukan?” tanya Pak Surya sambil mempersilakan masuk dan menyajikan teh hangat.

“Benar, Pak. Semakin aku memikirkannya, semakin aku merasa ada bagian yang tersembunyi. Jika kotak itu hanya pengikat sementara, lalu apa sebenarnya yang mereka ikat? Dan sekarang setelah kotak itu hilang… apakah kita telah melepaskan sesuatu yang lebih berbahaya?” tanya Raka terus terang.

Pak Surya menyesap tehnya perlahan, lalu menghela napas panjang sebelum mulai bercerita dengan nada yang lebih serius dan hati-hati.

“Dulu, di daerah-daerah pedalaman, ada ajaran lama yang sudah ditinggalkan dan dilarang disebut. Orang menyebutnya Perjanjian Bayangan. Intinya, seseorang mempersembahkan sesuatu yang paling berharga baginya—atau berjanji akan memberikannya nanti—untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Biasanya, yang dipanggil adalah makhluk dari alam yang lebih gelap, yang tidak terikat pada perasaan manusia seperti amarah atau penyesalan. Mereka hanya memahami satu hal: janji harus ditepati.”

Raka menyimak dengan saksama, bulu kuduknya mulai berdiri lagi. “Jadi… saat Tuan Handoko menghilang bersama keluarganya, itu bukan karena mereka terperangkap sendiri, melainkan karena janji itu mulai ditagih?”

“Kemungkinan besar begitu,” jawab Pak Surya sambil mengangguk. “Pada awalnya, hasilnya terasa indah. Usahanya maju pesat, kekayaan mengalir deras. Tapi makin lama, tuntutannya makin berat. Bukan hanya harta, tapi juga kehadiran jiwa. Ketika ia sadar bahwa ia telah menjerumuskan seluruh keluarganya, ia mencoba menghentikannya. Ia membuat kotak itu dengan bantuan mantra yang ia dapatkan secara terbalik, untuk mengurung kekuatan itu sekaligus mengikat jiwa keluarganya agar tidak langsung diambil seluruhnya.”

“Jadi selama ini, yang mengganggu bukan hanya arwah keluarga Handoko, tapi juga makhluk lain yang terkurung bersama mereka?” seru Raka terkejut.

“Tepat dugaanmu. Keluarga Handoko menjadi perisai sekaligus tahanan. Mereka terpaksa memanggil orang lain bukan semata ingin menggantikan posisi mereka, tapi berharap ada orang yang cukup kuat untuk memecahkan ikatan itu—atau malah menjadi jalan keluar bagi apa yang terkurung di dalamnya. Sayangnya, saat kau membakar kotak itu kemarin, kau membebaskan dua pihak sekaligus: jiwa keluarga Handoko, dan juga membuka sedikit celah bagi kekuatan yang selama ini terkurung bersama mereka.”

Penjelasan itu membuat Raka terdiam mematung. Ia baru menyadari bahwa usahanya membebaskan mereka justru membuka risiko baru yang tidak ia sangka. “Lalu… di mana kekuatan itu sekarang? Apakah ia akan langsung menyerang atau mencari korban baru?”

“Belum tentu langsung terlihat. Ia masih lemah karena sudah terkurung selama puluhan tahun. Ia butuh waktu untuk memulihkan tenaga, dan ia butuh sesuatu untuk dijadikan tumpuan. Itulah sebabnya ia menyisakan pesan padamu kemarin—bukan untuk mengancam, tapi untuk menandai siapa yang membuka jalan baginya. Ia akan mengawasimu, menunggu saat yang tepat saat pikiranmu lemah atau ketakutanmu kembali muncul.”

Raka merasakan dingin yang menjalar dari punggungnya hingga ke ubun-ubun. Ia menyadari bahwa sejak kemarin, ia sudah terlibat lebih dalam dari yang ia bayangkan. Ia bukan lagi sekadar orang yang lewat dan terlibat secara tidak sengaja; kini ia menjadi titik awal dari peristiwa baru yang mungkin jauh lebih mengerikan.

“Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang, Pak? Jika ia mengikutiku, bagaimana cara melindungi diri agar tidak menjadi tumpuan kekuatannya?” tanya Raka dengan suara tegas, berusaha tetap tenang meski jantungnya berdebar kencang.

Pak Surya menatapnya tajam, lalu berjalan ke lemari lagi—kali ini mengeluarkan sebuah benda lain yang terbungkus kain hitam tebal. Saat dibuka, terlihat sebilah batu pipih berwarna hitam mengkilap dengan ukiran garis-garis rumit yang membentuk lingkaran tertutup.

“Ini adalah batu penahan lama yang diturunkan dari generasi ke generasi. Ia tidak bisa menghancurkan makhluk semacam itu, tapi bisa membentuk batas agar ia tidak bisa mendekat atau masuk ke dalam dirimu. Simpanlah ini selalu di dekatmu, dan ingat satu hal: makhluk jenis ini tidak memiliki kekuatan jika kita tidak memberinya ruang dalam pikiran. Semakin kau takut, semakin besar celah yang kau buka untuknya masuk.”

Raka menerima batu itu dengan rasa hormat sekaligus waspada. Begitu dipegang, ia merasakan hawa hangat yang perlahan menyebar di telapak tangannya, seolah memberikan ketenangan sesaat.

Sore itu, saat ia berjalan pulang kembali, ia melirik sekali lagi ke rumah tua di ujung gang. Kali ini tidak ada lagi bayangan, tidak ada tangan yang melambai, tidak ada cahaya aneh. Namun Raka tahu, keheningan itu bukan berarti aman—ia hanya tanda bahwa sesuatu sedang bersiap-siap, menunggu waktu yang tepat untuk muncul kembali.

Dan kali ini, musuh yang dihadapinya bukan lagi sekadar arwah yang sedih dan marah, melainkan kekuatan yang tidak mengenal belas kasihan.

1
anggita
mulai horor👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!