NovelToon NovelToon
Cinta Diusia Senja

Cinta Diusia Senja

Status: tamat
Genre:Duda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: riena

"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab, 28. Topeng sang ayah yang retak

Di rumah kontrakan, setelah deru mobil Imam perlahan menjauh dan lenyap di ujung jalan, keheningan yang tersisa di dalam rumah kontrakan itu terasa mencekam. Rayhan masih berdiri mematung di ambang pintu depan. Tangannya yang memegang remasan surat dari ibunya perlahan melemas, lalu jatuh di sisi tubuhnya.

Rumah yang beberapa hari lalu terasa penuh dengan tawa dan rencana masa depan, kini mendadak terasa asing dan dingin.

Rayhan berbalik lambat-lambat. Langkah kakinya terasa seberat timah ia mendekati kamar ibunya. Ia mendorong pintu kamar ibunya yang tidak lagi terkunci. Di sana, Habibah sedang duduk di tepi ranjang. Wajah wanita paruh baya itu tampak sangat kuyu, matanya bengkak, dan ia terus meremas ujung jilbabnya dengan gestur penuh rasa bersalah.

Rayhan berjalan mendekat, lalu menarik sebuah kursi kayu dan duduk di hadapan ibunya. Ia tidak lagi meledak-ledak seperti tadi pagi. Kemarahannya telah habis, menyisakan rasa lelah yang teramat sangat.

"Mereka sudah pergi, Bu," ujar Rayhan membuka percakapan, suaranya terdengar datar dan serak. "Ameera ikut Om Imam pulang ke rumah lama."

Habibah mendongak sekilas, air matanya kembali menggenang. "Ameera... Ameera ikut pergi? Ini semua karena Ibu, kan, Ray? Kalau saja Ibu dari awal tidak setuju kita tinggal satu atap..."

"Sudah, Bu. Tolong jangan salahkan diri Ibu terus," potong Rayhan pelan, namun ada ketegasan di dalamnya. Ia menatap lekat mata ibunya. "Rayhan mau tanya satu hal sama Ibu. Tolong jawab jujur, jangan ada yang ditutupi lagi. Apa yang sebenarnya Ibu rasakan waktu pertama kali tahu kalau Papanya Ameera itu... adalah Om Imam?"

Habibah tertegun. Ia menatap putranya, anak laki-laki yang ia besarkan seorang diri dengan cucuran keringat dan air mata. Melihat tatapan Rayhan yang begitu terluka, Habibah akhirnya tidak sanggup lagi berbohong.

"Ibu takut, Ray... Ibu sangat ketakutan," bisik Habibah, suaranya bergetar hebat. "Waktu malam kalian kenalin Om Imam di restoran itu, jantung Ibu rasanya mau copot. Tiga puluh tahun Ibu mencoba melupakan nama itu, menghapus semua kenangan masa muda Ibu yang pahit. Tapi malam itu, dia berdiri di depan Ibu sebagai calon besan Ibu."

"Lalu kenapa Ibu diam saja? Kenapa Ibu setuju kita sewa rumah ini bareng-bareng sebelum nikah?" tuntut Rayhan, mencari jawaban atas kebingungannya.

"Karena Ibu melihat binar mata kamu, Ray!" tangis Habibah akhirnya pecah lagi. Ia meraih tangan Rayhan dan mencengkeramnya erat. "Ibu tahu betapa kamu mencintai Ameera. Ibu tahu bagaimana perjuangan kamu mengumpulkan uang untuk menghalalkan dia. Ibu tidak mau kebahagiaan anak tunggal Ibu hancur hanya karena ego masa lalu Ibu! Ibu pikir... Ibu kuat. Ibu pikir Ibu bisa bersandiwara dan menganggap dia orang asing demi kamu."

Habibah menggelengkan kepalanya dengan ratapan pilu. "Tapi Ibu salah, Ray. Tinggal di bawah satu atap, melihat wajahnya setiap hari, mendengar suaranya... itu membuat luka lama Ibu yang sudah kering terkelupas lagi secara paksa. Ibu merasa berdosa pada almarhum ayahmu, Ibu merasa bersalah pada kamu dan Ameera. Makanya Ibu tulis surat itu... Ibu pikir, kalau Ibu pergi ke panti jompo, kalian tidak perlu mengorbankan paviliun kembar kalian. Kalian bisa hidup tenang tanpa harus melihat Ibu yang ketakutan setiap hari."

Rayhan memejamkan matanya, merasakan denyut nyeri yang hebat di dadanya. Naluri seorang anak bergejolak hebat mendengarkan pengakuan tulus namun menyakitkan dari ibunya.

"Bu," Rayhan menggenggam balik tangan ibunya, membawanya ke atas pangkuannya. "Rencana paviliun kembar itu sudah batal. Om Imam sudah memutuskan untuk tinggal terpisah, dan Rayhan pun tidak akan pernah membiarkan Ibu menginjakkan kaki di panti jompo."

Rayhan menatap ibunya dengan tatapan mata yang berkaca-kaca namun penuh tekad. "Sekarang, prioritas Rayhan adalah ketenangan Ibu. Tapi Ibu juga harus tahu... Ameera juga sedang menjaga Papanya yang hancur di sana. Pernikahan kami sedang di ujung tanduk, Bu. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup... Rayhan bener-bener nggak tahu harus melangkah kemana.” jujur Rayhan.

**

Tiga hari berlalu dalam keheningan yang pekat. Sesuai saran Safia, Ameera benar-benar menahan diri. Tidak ada pesan teks, tidak ada panggilan telepon ke nomor Rayhan. Di seberang sana, Rayhan pun melakukan hal yang sama. Tanpa perlu diucapkan, ada kesepakatan tak tertulis di antara mereka bahwa saat ini, ruang dan waktu adalah satu-satunya obat untuk mendinginkan kepala.

Ameera fokus menemani ayahnya di rumah lama mereka. Ia memasak makanan kesukaan Imam, menyeduh teh di sore hari, dan memastikan ayahnya tidak mengurung diri.

Hingga pada malam keempat, suasana rumah terasa sangat tenang. Gerimis tipis turun di luar, menyisakan hawa sejuk. Imam sedang duduk di beranda belakang, menatap kolam ikan kecil yang airnya beriak karena rintik hujan.

Ameera melangkah mendekat membawa dua cangkir bandrek hangat. Ia meletakkan cangkir itu di meja, lalu menarik kursi untuk duduk tepat di hadapan ayahnya.

Imam menoleh, tersenyum tipis, senyuman yang masih menyiratkan sisa-sisa kelelahan batin. "Belum tidur, Meer? Ini sudah jam sepuluh."

Ameera tidak langsung menjawab. Ia menatap lekat mata ayahnya, menarik napas dalam-dalam, lalu menggenggam tangan Imam yang diletakkan di atas meja.

"Papa... mari kita bicara," ujar Ameera, suaranya terdengar sangat tenang, dewasa, dan matang. "Tapi malam ini, mari kita lepas dulu status kita. Tolong jangan posisikan Papa sebagai ayah yang harus selalu terlihat kuat di depan anaknya. Dan Ameera juga tidak akan berbicara sebagai anak perempuan yang manja atau menuntut."

Imam mengernyitkan dahi sedikit, namun ia tetap mendengarkan.

"Kita bicara sebagai sesama dua orang dewasa yang saling menyayangi," lanjut Ameera lirih. "Ameera mau tanya satu hal, dan tolong... kali ini jawab dengan kejujuran paling dalam dari hati Papa. Apa yang sebenarnya Papa inginkan di masa tua Papa ini? Keinginan jujur Papa, bukan keinginan yang Papa atur atau Papa korbankan demi membuat Ameera senang."

Imam sempat ingin membuka mulut untuk memberikan jawaban aman seperti biasanya, namun tatapan mata Ameera yang begitu lurus dan menuntut kejujuran membuat lidahnya kelu.

"Ameera tahu Papa sayang banget sama Ameera," sela Ameera sebelum ayahnya sempat mengelak. "Tapi Ameera sebentar lagi akan menikah, entah dengan Rayhan atau pria lain nanti. Ameera akan punya hidup sendiri, Pa. Tidak mungkin kan, Papa selamanya sendiri di rumah besar ini? Menghabiskan sisa umur Papa hanya dengan memandangi foto almarhumah Mama dan... memikirkan masa lalu?"

Pertanyaan Ameera malam itu berhasil merubuhkan tembok pertahanan terakhir yang dibangun Imam selama ini. Bahu pria paruh baya itu perlahan merosot. Ia menunduk, menatap cangkir bandrek yang mengepulkan uap tipis, lalu mengusap wajahnya yang tampak sangat lelah.

Keheningan sempat merayap selama beberapa saat, hanya ditemani suara kecipak air kolam dan rintik gerimis.

"Meer..." suara Imam terdengar parau, getarannya tidak bisa disembunyikan lagi. "Selama tiga puluh tahun ini, hidup Papa cuma berputar di dua hal. Bekerja dan memastikan kamu tumbuh dengan bahagia setelah Mamamu pergi. Papa pikir, itu sudah cukup untuk mengisi hidup Papa sampai akhir."

Imam menarik napas berat, lalu mendongak menatap putrinya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Tapi kalau kamu tanya apa yang Papa inginkan sebagai seorang laki-laki dewasa di masa tua? Papa... Papa bohong kalau bilang Papa tidak merasa kesepian. Rumah ini terlalu besar kalau nanti kamu sudah pergi, Meer. Di sisa usia Papa yang sudah tidak banyak ini, Papa cuma ingin kedamaian. Papa ingin punya teman bicara, teman yang tahu bagaimana rasanya tumbuh tua, teman yang bisa diajak berbagi cerita di sisa malam seperti ini tanpa ada rasa bersalah."

Imam menggenggam balik tangan Ameera, air matanya perlahan menetes.

"Dan saat Papa melihat Tante Bibah lagi kemarin... demi Allah, Meer, Papa tidak punya niat buruk untuk merusak pernikahanmu. Tapi melihat dia hidup sendiri, berjuang sendiri membesarkan Rayhan, sementara Papa juga berjalan sendirian... ada bagian dari hati Papa yang merasa bersalah karena dulu kami tidak berjuang lebih keras. Papa cuma ingin melihat dia baik-baik saja. Papa ingin... seandainya takdir mengizinkan, Papa ingin meminta maaf atas masa lalu, lalu berteman baik dengannya di sisa hidup kami."

Imam menggelengkan kepala dengan getir. "Tapi Papa tahu itu egois. Keinginan Papa itu justru menjadi bencana buat kamu dan Rayhan sekarang. Makanya Papa memilih pergi, Meer. Biarlah Papa sendiri di sini, asalkan kamu tidak perlu menanggung beban karena masa lalu Papa."

Mendengar pengakuan jujur yang keluar dari bibir ayahnya, dada Ameera terasa seperti diremas. Di satu sisi, hatinya perih karena tahu ayahnya begitu kesepian dan masih menyimpan nama Habibah. Namun disisi lain, ia merasakan kelegaaan yang luar biasa. Topeng itu akhirnya runtuh, dan kini Ameera tahu persis apa yang ada di dalam hati ayahnya, sebuah kenyataan pahit yang harus ia bawa saat bertemu Rayhan nanti.

**

1
tati st🌼🌼
mantan terindah hingga susah moveon
Enisensi klara
Gimana ini makin rumit ,kalo mrk nekat terus nikah ,gimana dgn ortu mrk tetap kesepian 😓
tati st🌼🌼
baru mampir karna baru tau ada karya otor di sini
Yani Hendrayani
❤❤❤❤❤
A Mirza P
perjuangan,air mata, doa,dan dukungan anak,hal yang tabu untuk di harap dan di inginkan akhirnya jadi kenyataan.
terimakasih kak Riiena untuk ceritanya 💪👍
Kedan Bawel 🍒: Hey Dongan.. Kenapa novel ini lambat updatenya..? 🤔
Di lanjutkan tidak sih..? 😅
total 1 replies
Enisensi klara
Ya ampun kasihan Habibah 😭😭😭
stres berat sampai masuk RS
Enisensi klara
Kalian emang mesti bicara agar dapat solusi ,dan semoga orang tua kalian bisa menerima nantinya 😓
Enisensi klara
Imam Habibah perlu pasangan dimasa tua sedang kan anak2 mrk akan menikah .aaah...puyeng 🙄🙄
Enisensi klara
Pahit emang dan rumit 😏😏
Enisensi klara
Apa yg di bilang safia ada benar nya juga ,tapi sebagai orang tua iman dan Habibah harusnya juga bijak bisa lupakan cinta itu demi kebahagiaan. anak2, mrk 😓
T**iH
cerita nya sangat menyentuh.... jujur, baca d tiap bab nya aq dibuat terlarut, seakan akan aq sendiri yg merasakan itu.
Dari awal baca karya kak Rii, aq byk nemuin yg nama nya cerita cinta beda usia, seperti sdh jd ciri khas nya karya kak rii, tp utk novel yg satu ini benar² berbeda, jd ada kesan yg mendalam bgt pas baca dari bab awal.
Ternyata keluar dari zona nyaman, dan mencoba utk keluar dari ciri khas, Ga ada salahnya, terbukti d karya ini kak Rii aq anggap Sangat Berhasil. semangat kak Rii, terus berkarya dan terus berkarir.....karya mu selalu aq dukung dan aq ikuti.
Enisensi klara
Rumit emang jadinya 😓
Enisensi klara
Karena imam dan Bibah yg gak bisa move on jadi membuat ammeraa dan Rayhan tersakiti ,ibarat pasangan terkhianati 😓
Enisensi klara
Hidup sebercanda itu ya mempertemukan Habibah dan imam dgn sikon yg rumit ,dgn cinta yg masih bertumbuh berkembang mrk harus menjadi besan apa gak lucu sekaligus rumit 😏😏😓😓
Enisensi klara
Kasihan. juga Habibah mengalah pergi demi kebahagiaan Rayhan dan meera dsn memilih tinggal di panti jompo 😓😓
Enisensi klara
Akhirnya semua terbongkar 😓disaat mau menjelang pernikahan ,berat ujian meera dan Rayhan 😓
Enisensi klara
Rayhan cerdas bisa tau ada sesuatu diantara ibunya dan pak imam di masa lalu 😏
Enisensi klara
Emang sebaiknya kalian gak tinggal satu atap ,walopun sementara ,karna perasaan di masa lalu kalian semakin berkembang dan akan semakin membuat tertekan ,kasihan juga anak2 kalian yg akan menikah 🙃🙃🙃
Enisensi klara
Tatapan penuh cinta ya Han ,??tatapan pak imam ke ibumu
Enisensi klara
Sikap Habibah dan imam yg gugup dan salah tingkah buat Rayhan curiga 🤔gimana kalo ketauan ya 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!