"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."
Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.
Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.
Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...
Keesokan paginya, badai salju telah mereda. Julian dan Yisla sudah bersiap-siap sejak subuh untuk perjalanan seharian menuju kota.
Vito berdiri di ambang pintu, sambil bersedekap menatap mereka berdua. Pandangannya tertuju pada kantong mantel Julian yang menggembung berisi lima belas koin perak.
"Jaga Yisla dengan baik," ujar Vito datar dengan suara beratnya. "Jangan bertindak bodoh atau mencoba menjadi sok pahlawan lagi, Julian."
"Siap, Kak! Tenang saja, aku akan pastikan Yisla aman sampai tujuan," sahut Julian sambil menepuk dadanya percaya diri.
Yisla membetulkan letak syal wolnya yang tebal sembari tersenyum manis.
"Kami pergi dulu, Kak."
Setelah berpamitan, keduanya mulai membelah tumpukan salju.
Namun, perjalanan nyata ternyata jauh lebih brutal dari apa yang dibayangkan Astra di kepalanya. Baru tiga jam berjalan kaki menanjaki perbukitan salju, fisik Julian yang kerempeng langsung terasa seperti jeli.
"Hah... hah... Yisla, jalanannya sengaja kamu bikin menanjak terus, ya?" keluh Julian dengan napas terengah-engah, menyemburkan uap putih tebal.
Yisla menoleh, lalu mendengus geli. "Mana bisa aku mengatur jalanan, Julian? Memangnya aku Tuhan? Kamunya saja yang kurang olahraga. Lihat itu, pipimu sampai merah semua."
Bukan kurang olahraga, Yisla. Fisik karakter ini speknya emang ampas banget! rutuk Astra dalam hati, menyesal tidak menulis karakter Julian dengan fisik kekar seperti Vito.
Wush...
Duo Hemisphere bersaudara tiba-tiba muncul di sisi Julian.
"Menyedihkan sekali protagonis kita ini," cibir Animus, berjalan santai di atas salju.
"Baru berjalan beberapa mil napasmu sudah seperti orang asma. Bagaimana mau menghadapi plot besar di bab depan?"
"Ih, tapi kan kalau Julian capek, nanti ada adegan istirahat berdua yang romantis~" timpal Anima, memeluk pundak Julian sambil berbisik genit.
"Ayo, pura-pura pingsan aja! Biar Yisla panik terus meluk kamu!"
"Nggak usah pada ngaco!" desis Julian super lirih, menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Julian? Kamu bicara sendiri lagi?" tanya Yisla, menghentikan langkah kakinya dengan dahi berkerut cemas.
"E-eh? Enggak! Ini... aku cuma lagi menyanyikan lagu penyemangat dari klan pemburu bayangan, Yisla! Biar gak capek!" kilat Julian kaku, langsung memamerkan senyum kuda.
Yisla menggeleng pasrah. Namun sedetik kemudian, ia melangkah mendekat. Secara alami, jemari mungilnya yang terbungkus sarung tangan rajut menyelinap ke sela-sela jari Julian, menggenggamnya dengan erat.
"Ayo jalan lagi," bisik Yisla pelan. Wajahnya sengaja dipalingkan ke depan, tapi daun telinganya yang memerah tidak bisa berbohong.
Julian tertegun. Kehangatan dari tangan Yisla seketika menjalar ke seluruh tubuhnya, merontokkan rasa lelah yang menyiksa ototnya. Sambil tersenyum tipis, Julian mempererat genggaman mereka, menyelaraskan langkahnya dengan Yisla.
...***...
Siluet Desa Nidra perlahan terlihat di balik kabut salju yang menipis. Karena kaki Julian sudah nyaris mati rasa, mereka memutuskan melipir ke sebuah kedai kayu yang cerobong asapnya mengepulkan bau harum kayu manis.
Kring!
Hawa hangat perapian langsung menyambut mereka. Julian menuntun Yisla ke meja kosong di sudut ruangan.
"Kamu tunggu di sini, ya. Aku mau pesan minum dulu," pamit Julian.
Julian melangkah ke konter. Namun, pikiran licik sekaligus jiwa hemat ala mantan anak kosnya mendadak bergejolak saat melihat papan menu.
Satu gelas susu kambing hangat harganya tiga koin perunggu?! Buset, inflasi di dunia fiksi-ku sendiri mahal banget! pekik Astra merana dalam hati.
Padahal kantongnya penuh koin perak hasil jarahan, tapi jiwa pelitnya menolak keras untuk boros.
"Pak, pesan satu susu kambing hangat. Sama saya minta satu gelas kosong berisi air putih hangat, ya," ujar Julian dengan senyum tanpa dosa.
Tak lama, Julian kembali ke meja membawa nampan berisi satu gelas susu kambing kental yang mengepul, dan satu gelas air putih hangat.
Yisla mengernyit bingung. "Julian? Kenapa susunya cuma satu? Kamu nggak suka susu?"
"Bukan nggak suka, Yisla. Kita harus hemat sehemat mungkin sampai pasar kota nanti," sahut Julian dengan wajah seserius manajer keuangan andal.
"Tapi kan kamu yang paling capek jalan kaki tadi—"
"Sstt, lihat ini. Ini namanya taktik penggandaan."
Julian mengambil gelas susu kambing, lalu menuangkan setengah isinya ke dalam gelas air hangat milik Yisla. Setelah tercampur, warna air di gelas Yisla berubah menjadi putih susu yang pas.
Julian menggeser gelas tersebut. "Nah! Sekarang kita berdua sama-sama punya susu hangat. Punya kamu formulanya agak encer biar nggak enek, dan sisa susu murni yang kental ini buat aku, si pahlawan yang butuh banyak kalori. Adil, kan?"
Yisla melongo. Ia menatap Julian dengan pandangan luar biasa tak habis pikir—antara gemas, heran, dan takjub melihat kejeniusan Julian yang kelewat pelit.
Wush...
Duo Hemisphere bersaudara mendadak nangkring di kursi sebelah Julian.
"Benar-benar mentalitas kelas pekerja," cibir Animus dingin. "Mengencerkan nutrisi demi menghemat beberapa keping perunggu. Sungguh tidak elite."
"Ih, tapi ini justru romantis banget tahu!" timpal Anima dengan mata berbinar-binar. "Ayo, Julian, tiupkan susunya sebelum kamu berikan ke Yisla~"
Julian buru-buru meneguk setengah susunya demi mengabaikan Anima, hampir saja membuat lidahnya melepuh.
"Ah! Panas!" umpatnya lirih.
Yisla yang melihat tingkah panik Julian akhirnya tidak bisa menahan gelak tawanya. Kikikan gelinya terdengar begitu renyah.
"Dasar aneh," bisik Yisla sebelum perlahan menyesap susu hangatnya. Rasa canggung semalam perlahan mencair, digantikan kehangatan sederhana di antara mereka.
Setelah susu mereka habis dan badan mulai hangat, Julian kembali berdiri dan melangkah ke arah konter dengan langkah mengendap-endap.
Yisla memperhatikan dari jauh saat Julian tiba-tiba mengeluarkan sebuah botol air kulit dari balik mantelnya—botol air milik Vito yang kemarin diam-diam ia selundupkan dari rumah sebelum mereka pergi.
"Pak, sekalian minta tolong isiin air putih hangatnya sampai penuh dong, Pak. Buat bekal di jalan," pinta Julian, memasang wajah melas paling meyakinkan.
Si bapak pemilik kedai menghela napas panjang, menatap Julian dengan pandangan heran, namun tetap mengisi botol kulit itu hingga penuh tanpa memungut biaya tambahan.
Dengan senyum kemenangan yang lebar, Julian kembali ke meja dan memasukkan botol curian itu ke dalam tasnya.
"Kamu beneran nekat ya, Jul," komentar Yisla sambil menggeleng-geleng pasrah saat mereka mulai melangkah keluar kedai.
"Itu kan botol kesayangan Kak Vito. Kalau dia tahu kamu bawa, apalagi cuma dipakai buat minta air gratis..."
"Tenang, Yisla. Kak Vito nggak akan tahu selama kamu nggak cepu," sahut Julian santai, menepuk tas-nya dengan bangga.
"Prinsip utama bertahan hidup di jalan itu harus manfaatkan fasilitas gratisan sebaik mungkin."
Yisla hanya bisa tertawa kecil, kembali menyelinapkan jemarinya ke dalam genggaman tangan Julian saat mereka melanjutkan langkah menembus sisa salju menuju gerbang pasar kota yang kini sudah di depan mata.