Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.
Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.
Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.
Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?
Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?
yuk simak....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dunia ini kecil
Embun pagi masih menggantung tebal di sepanjang jalan Raya Lembang, menyelimuti pepohonan pinus dengan lapisan putih halus yang sejuk menyentuh kulit.
Maara menarik syal rajutnya lebih rapat ke leher, sambil menuntun sepeda tua yang baru dipinjamnya dari Nyi Asih. Rantai sepedanya tiba-tiba berdecit kaku, lalu berhenti total tepat di depan sebuah bangunan kecil berwarna krem yang baru saja mengganti papan namanya: Klinik Pratama Lembang.
Maara memilih berjalan-jalan setelah seminggu ini hari-harinya penuh penat karena rutinitas mengajar disekolah.
Di depan pintu klinik, seorang pria mengenakan jaket denim sedang menurunkan kardus-kardus berisi berkas dari bagasi mobilnya. Pria itu sepertinya tampak baru saja tiba. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin, namun sorot matanya tenang dan tajam. Saat hendak memindahkan kardus terakhir, ia tergelincir sedikit di lantai berlumut, dan hampir saja terjatuh jika Maara tidak berteriak pelan.
"Hati-hati " serunya sehingga laki-laki itu segera menoleh kearahnya.
Namun seketika Maara membeku berdiri diposisinya.
Diantara sekian banyak kota yang ada di Indonesia kenapa harus kota ini jadi tempat pertemuan mereka.
Laki-laki itu berjalan mendekat, meninggalkan pekerjaannya.
Wajahnya nampak sumringah. Begitulah yang Maara lihat.
"Maara....?" serunya menyebut nama Maara dengan nada riang layaknya seorang teman lama yang telah lama tak bersua.
Kaki Maara spontan mundur selangkah ke belakang.
"Aku nggak tahu kalau kamu juga dikota ini... Hai, apa kabar?" sapanya ramah.
"Ka~kabar baik mas.... Kok, mas Denis disini?"
Yes... Laki-laki itu adalah Denis Ferdinan yang merupakan sepupu Revan, si mantan suami siri Maara.
Tiba-tiba Maara teringat sebuah kiasan yang sering dia baca 'dunia hanya selebar daun kelor' itu seperti nyata adanya.
Denis masih menampilkan senyum hangatnya.
"Aku pindah kesini karena rekomedasi dari seorang teman. Katanya klinik ini lagi kekurangan dokter umum, jadi ya... aku disini...." sahut Denis ringan tak ada beban.
Tapi bagi Maara ini merupakan sesuatu yang mengerikan.
Bagaimana tidak?
Sudah berbulan-bulan sejak perpisahannya dengan Revan, Maara benar-benar menutup semua tentang keluarga itu termasuk para sepupu Revan.
Gian atau Amel yang sering mengirim DM di akun sosmed Maara saja tak pernah digubris olehnya bahkan di blok olehnya.
Ini, Denis bahkan berada satu kota dan lebih g*lanya berada dilingkungan yang sama dengannya.
Sungguh sebuah drama malapetaka yang teramat pelik baginya.
Apalagi Maara tahu jika laki-laki yang berprofesi sebagai dokter ini memiliki mulut yang lebih tajam daripada skalpel (pisau bedah).
Apalagi sorot matanya yang dingin membuat siapapun membeku jika berbicara dengannya.
"Ra...? Are you okey? Muka kamu pucat?" Denis melambaikan telapak tanganya tepat di depan wajah Maara dan membuyarkan lamunannya.
"Aku.. aku baik-baik saja... Aku pergi dulu, assalamualaikum" dengan langkah cepat dan hampir saja membuat Maara tersandung, perempuan itu memilih pergi dari hadapan Denis secepat dan sejauh mungkin.
Tapi bukan Denis namanya yang akan membiarkan Maara hilang dari pandangannya.
Denis berlari menyusul Maara yang nampak kepayahan dengan sepeda yang dituntunnya.
"Sini aku bawa..." ucap Denis hendak mengambil alih stang sepeda Maara namun berhasil dicegah olehnya.
"Nggak... Nggak boleh... Mas selesaikan pekerjaan mas Denis saja, aku bisa sendiri!" ucap Maara agak keras.
"Kamu masih takut denganku ya?" tebak Denis yang mampu menghentikan langkah buru-buru Maara.
Kepala Denis menoleh teleng kearah Maara.
Laki-laki itu menahan senyum karena ekspresi lucu dan pipi merah Maara.
Entah karena dinginnya udara atau karena sebab lain tapi yang jelas, wajah Maara nampak manis dimata Denis.
"Kalau aku jawab iya, apa mas Denis berhenti mengusikku?" sahut Maara tegas.
Denis mengedikkan bahu.
"Tergantung... Lagipula aku disini mau kerja Ra... Ya mana aku tahu kalau kamu juga dikota ini... Ini kebetulan atau bisa disebut takdir... Mungkin Tuhan ingin kita mengenal satu sama lain lebih dekat..." sahut Denis enteng.
"Nggak...! Aku udah bertekad buat nggak lagi dekat atau kenal dengan keluarga Adiyasa... Tuhan juga nggak bakalan kasih aku cobaan itu lagi... Jadi, cukup jaga batasan kita dan jangan coba-coba melewatinya... Cukup beberapa bulan kemarin aku menjadi bahan olok-olokan keluarga kalian dan jangan ada sesi yang keduanya... Kali ini aku nggak bakalan diam saja... Permisi, assalamualaikum....!" tolak Maara tegas dan bergegas pergi meninggalkan Denis yang masih terpaku dengan rasa bersalah yang tak pernah dia lakukan.
Hingga kapanpun dirinya juga tak bisa menyembuhkan gores luka yang diberikan oleh sepupunya Revan pada Maara.
...*******^*^********...
Bandung, pukul 5 sore.
Seorang laki dengan penampilan kusut sedang kehilangan gairah hidupnya.
Yup, siapa lagi kalau bukan Kenan Jayadi.
"Kok bisa...?? Lalu dia pindah kemana?Kamu tahu dia pindah kemana Rio?" tanya Kenan pada Rio setelah laki-laki itu mencoba berkunjung ke kosan tempat Maara tinggal selama ini
Rio menyandarkan punggungnya di sofa.
Rasanya geli sekali melihat laki-laki kaku seperti Kenan yang uring-uringan karena seorang perempuan.
"Bapak kenapa pengen tahu dimana Maara tinggal? Memangnya pak Kenan dan Maara ada hubungan apa?" tanya Rio pura-pura tak tahu.
Kenan terdiam.
Rio benar.
Kenapa dia yang uring-uringan karena Maara?
Apa ini cinta? Atau rasa kasihan karena nasib perempuan itu.
"Kamu suka banget sama Maara atau hanya sekedar obsesi palsu semata karena kasihan?" kali ini pertanyaan datang dari Teguh.
Wajar saja kedua rekan sekaligus sahabatnya ini bertanya.
Rio yang merupakan suami dari Lisa yang notabene sahabat Maara pasti akan marah jika dirinya cuma dijadikan alat main-main. Serta Teguh yang pernah membela Maara dalam sebuah masalah dengan Revan Adiyasa, laki-laki yang membuat luka dihati Maara.
"Aku nggak tahu apakah ini cinta atau cuma kagum semata tapi yang jelas, aku ingin bersamanya, ingin melihatnya sepanjang hari dan rasanya sesak begitu tahu dia menghilang.... Dadaku bergemuruh setiap kali melihat dan berhadapan dengannya... Bukan hanya berhadapan tapi melihatnya dikejauhan atau hanya sekedar mendengar namanya saja sudah membuat jantungku berdegub kencang..... Selama beberapa bulan ini bahkan sebelum dia berpisah dengan Revan, aku selalu berada disekitarnya hanya untuk memastikan dia baik-baik tanpa terusik oleh keluarga atau orang suruhan Adiyasa.... Dan ketika aku merasa dia sudah aman, aku justru kehilangannya..." des*h Kenan putus asa.
Rio dan Teguh saling pandang.
"Fiks jatuh cinta... Sini 1 juta-nya... Aku menang!" seru Rio yang rupanya sedang bertaruh dengan Teguh soal perasaan Kenan.
Si bahan taruhan hanya bisa melotot dengan perasaan dongkol kepada dia sahabatnya.
"Sudah aku transfer... Ck..." decak Teguh kesal karena dia baru saja kehilangan uang tabungannya.
Rio terkekeh senang.
"Kalian jadikan perasaan ku bahan taruhan....! Sungguh teman lakn*t!" umpat Kenan.
"Teguh yang punya ide... Aku sih udah tahu kalau pak Kenan sering mantau Maara di depan kosan dan juga di depan sekolah...Dia pernah cerita pada Lisa kalau sering lihat mobil sedan hitam di luar pagar kosan tante Mer atau sering dapat pesan atau panggilan dari nomor yang tak dikenal.... Awalnya kami mengira itu mobil Revan atau orang suruhannya tapi begitu aku perhatikan plat-nya.. Hmm...Fiks, ini pak Kenan karena aku pernah lihat mobil itu sebelumnya digarasi rumah pak Kenan waktu antar berkas Visitama...." jelas Rio tanpa berdosa.
"Kamu tahu kalau tindakanmu itu akan memancing kerumuman warga... Untung dia nggak melapor ke RT, coba dia lapor, udah bisa dipastikan wajahmu yang nggak ganteng-ganteng amat ini akan bonyok dan tante Rosa bisa ngomel 7 hari 7 malam..." tutur Teguh geleng-geleng kepala dengan tingkah Kenan yang biasanya cerdas dan penuh perhitungan dan mendadak pilon ketika jatuh cinta.
"Namanya lagi falling in love, mana mikir kesana... Yang penting orang yang dicintai selamat dan aman. Eh tapi sekarang ditinggal lagi sayang-sayangnya... Hmmm,sakit banget...." timpal Rio meledek yang disambut tawa renyah Teguh.
"Si*lan kalian....! Bisanya cuma meledek" umpat Kenan tak habis-habis pada kedua orang yang masih asik tertawa atau lebih tepatnya menertawakan kisah penderitaannya.
"Susul sana...! Dia ada di Lembang karena dipindah tugaskan disana...." ucap Rio setelah tawanya mereda.
"Lembang?" ulang Kenan.
"Iya... Bukankan dia bekerja di yayasan tante Rosa pasti gampang carinya...." sela Teguh.
"Iya... Aku juga baru tahu kalau selama ini dia ngajar di yayasan milik mama... Tapi gimana caranya?" lagi-lagi Kenan kehilangan kepintarannya.
"Tanya tante Rosa lah, masa gitu aja nggak ngerti!" geram Teguh.
"Jangan....! Nanti yang ada mama tanya macam-macam... Kayak nggak tahu mama saja...Keponya lebih dari detektif..."
"Lalu?"
Kenan nampak berfikir sejenak
"Cari tahu sendiri saja atau sewa orang..." ucapnya kemudian.
"Ya..ya... si paling banyak uang...." seru Rio.
"Banyak uang? Yang ada, kita disuruh pegang kasus lebih dari 3 setiap harinya biar bayarannya lebih banyak.... Dia kaya juga karena kita" geram Teguh yang dibalas senyum manis dari Kenan.
Senyum yang membuat dua rekannya memilih menghilang dari ruangan laki-laki itu.
Jika tidak, ada saja perintah kasus yang harus ditangani oleh keduanya dan alhasil akan lebih menyita waktu mereka bersama kelaurga
Oh tidak...!
Bersambung....