NovelToon NovelToon
Istri Yang Tak Dianggap

Istri Yang Tak Dianggap

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Patahhati / Perjodohan / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:775.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Darmaiyah

Istri yang Tak Dianggap

Sinopsis

Azkia gadis berlesung pipi, gadis penyuka warna abu-abu itu tidak bisa menolak, saat lelaki yang dipanggilnya ayah itu menjodohkannya dengan anak sahabatnya.

Lelaki bernama Herman mendatanginya dua hari sebelum pernikahannya digelar, dia meminta kepada Azkia, agar membatalkan perjodohan ini, Azkia yang ingin berbakti pada ayahnya, dan tidak ingin membuat malu keluarganya, tentu saja menolak keinginan Herman, Herman sangat kecewa dengan penolakan itu, dia pun akhirnya menikah dengan wanita yang sama sekali tidak dicintainya.

Anjeli gadis cantik, pacar Herman sekaligus sahabat Azkia, dia mendatangi Azkia, Anjeli sangat marah padanya, karena menganggapnya telah menjadi pengkhianat, di saat Anjeli menampar dan memakinya, Herman yang sudah sah menjadi suaminya, malah memaki dan menyalahkannya. Azkia hanya diam tertunduk atas tuduhan-tuduhan yang dihujatkan padanya. Anjeli bahkan mengacamnya, tidak akan membiarkannya hidup bahagia.

Bagaimana kehidupan Azkia selanjutnya
Ayo, kepoi di sini
Selamat membaca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darmaiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bahu Sandaran Azkia

"Mencari sahabat untuk tertawa sangat mudah dan banyak, tapi sahabat yang mau menangis bersama satu diantara seribu."

By Rajuk Rindu

💝💝💝💝

Selesai makan, Azkia dan Kayra melanjutkan jalan-jalan cuci mata, sekedar melihat-lihat pajangan yang berjejer di estalase kaca.

Diam-diam Kayra memperhatikan Azkia, dia merasa ada yang berubah dari sahabat yang sedang berjalan di sampingnya, yang biasa ceria dan pencerita, kini terlihat murung, pendiam, sering melamun, bahkan kadang pandangannya kosong tak fokus.

Beberapa menit berkeliling di mall Matahari Plaza, tak ada yang mereka beli, melihat Azkia tidak seperti biasanya, Kayra pun mengajak Azkia pulang.

"Pulang yuk, udah sore nih." ujar Kayra.

"Yuk."

Mereka berdua pun masuk lift turun ke lantai dasar, kemudian menuju parkiran. Setelah masuk mobil mereka meluncur kembali ke jalan Nangka, Menuju ke butik Kayra.

"Kia, apa kamu baik-baik saja?" tanya Kayra saat Azkia menghentikan mobilnya di depan butik.

"Aku baik-baik saja." bohong Azkia, namun wajahnya pias resah.

"Jangan bohongiku, kita berteman sudah puluhan tahun, ceritalah padaku, jika kau punya masalah." Kayra menatap mata Azkia yang mulai berembun.

"Kayra. hiks.. hiks.. hiks." Azkia menghambur kepelukan Kayra, dia tak kuasa menahan air matanya, tangis pun pecah di bahu sahabatnya.

Dengan tangan lembut, Kayra mengusap punggung sahabatnya, dia tahu betul bagaimana karakter Azkia, selalu menyimpan rapat kepedihan sendiri. Kayra memeluk Azkia erat, dibiarkan Air mata Azkia membasahi bahunya.

"Menangis lah, tumpahkan semua sedihmu." bisiknya seraya mengusap air matanya yang ikut mengalir berpartisipasi.

Hanya Kayra satu-satunya teman dekat Azkia di kota ini, banyak temannya yang lain, tapi tidak seperti Karya yang selalu tulus membantunya. Azkia merasakan itu, Karya sudah seperti saudaranya sendiri.

Butuh dua puluh menit Azkia menumpahkan tangisannya, setelah tak terdengar lagi isaknya, Kayra pun merenggangkan pelukan, kemudian menatapnya lurus.

"Ceritakan padaku, biar bebanmu berkurang." kata Kayra sambil mengusap air mata Azkia yang masih menganak sungai.

"Sudah ya, jangan menangis lagi, apa ini ada hubungannya dengan Herman?" tanya Karya, dijawab anggukan oleh Azkia.

"Apa Herman menyakitimu?" pertanyaan Kayra kali ini membuat air mata Azkia berderai lagi. Kayra merengkuh Azkia kembali dalam pelukannya.

"Apa Herman mengkhianatimu?" tanya Kayra lagi seraya melepaskan pelukannya.

Kayra menyentuh kedua tangan sahabatnya, dia melihat bias kebenaran dari pertanyaannya, walaupun Azkia tidak menjawabnya. Kayra mengambil air mineral dan memberikan pada Azkia. Azkia menenggak air yang diberikan Kayra, hatinya sedikit lega.

"Jangan sedih lagi ya, ada aku yang selalu bersamamu." ujar Kayra menguat sahabatnya.

"Jika kamu sudah siap, berceritalah padaku."'ujar Kayra lagi, dia tidak ingin memaksa Azkia, karena dia tahu Azkia bukan tipenya wanita yang mudah menceritakan masalahnya.

"Terima kasih sudah jadi sahabatku tanpa pamrih." kata Azkia.

Dada Azkia terasa lapang setelah menumpahkan tangisannya dipelukan Kayra, dia merasa bebannya yang menghimpit sudah berkurang.

"Kamu jangan sedih lagi ya." ucap Kayra, Azkia lagi-lagi hanya mengangguk.

"Aku percaya, kamu wanita yang kuat, dan pasti sanggup menghadapi semua masalah." ujar Kayra begitu melihat Azkia sudah tenang kembali.

"Terima kasih sekali lagi, untuk bahunya." ujar Azkia seraya mengambil beberapa tissu, untuk mengelap baju Kayra yang basah karena air matanya.

"Sudah nggak usah dilap, ini baju mahal kok, tak luntur kalau cuman kena air mata, hahaha." kata Kayra bercanda, hingga hadirkan senyuman di wajah Azkia.

Kayra senang melihat sahabatnya tersenyum lagi, dari bola matanya sudah terlihat ceria, walau pun mendung masih bergayut, semoga ini pertanda baik, kalau Azkia sudah bisa melupakan bebebannya, walaupun dia tidak mau bercerita pada Kayra.

Kayra membuka pintu mobil dan turun, setelah memastikan kalau Azkia baik-baik saja.

"Hati-hati nyetir, jangan ngebut." ujar Karya seraya melambaikan tangannya.

"Iya." kata Azkia membalas lambaian tangan Kayra, kemudian di meluncur menuju rumah kostnya.

Karena di depan rumah kostnya tak bisa markir mobil, Azkia memarkir mobilnya di depan rumah Santi, Santi yang mendengar mobil berhenti, keluar melihat siapa yang datang.

"Eh, mobil baru nih." sapa Santi saat melihat Azkia yang turun.

"Bukan, ini mobil perusahaan, dipinjami." ujar Azkia.

"Kapan pulang dari Pelalawan?" tanya Azkia seraya mengeluarkan kunci rumah yang kemaren dititip Santi padanya.

"Baru setengah jam."

"Nih bisa buka pintu, kan kuncinya ada sama aku."

"Ini mah kunci duplikat, aslinya ada sama aku."

"Owh, ya udah, aku ke kost dulu." ujar Azkia meninggalkan Santi. Santi pun masuk kerumahnya saat Kia melangkah pergi.

Azkia masuk ke kostnya, diliriknya jam dilayar ponsel, sudah menunjukkan pukul lima pas, dia belum shalat asar. Azkia bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri dan berwudhu.

Setelah selesai mengerjakan shalat, dia naik ke atas ranjang, meluruskan kakinya, merebahkan tubuh letihnya. Dia mencoba memejamkan matanya.

"Bunda, Arta rindu."

Azkia tersentak kaget, dia seperti mendengar suara Arta memanggilnya, spontan matanya terbuka dan memindai ruangan kamarnya. Ternyata dia hanya halu.

"Arta, bunda juga rindu padamu, nak." batin Azkia, seraya meraih ponselnya, dia mencari nomor kontak Wati. Namun dia meletakkan kembali ponselnya, niat menelpon Wati diurungkan, saat bayangan Anjeli diruang rawat inap tadi pagi membayang lagi.

Tawa canda Anjeli dan Herman telah mengoyak-ngoyak perasaan Azkia, namun Azkia juga tidak bisa menyalahkan mereka, mereka itu orang tua kandung Arta, kemudian mereka juga saling cinta.

"Ini semua salah Herman, karena dia tidak mau melepaskanku." gumam Azkia.

Sekarang apa dia tetap memikirkan perasaan lelaki itu, setelah kian lama dia diabaikan dan tersakiti. Masihkah dia memikirkan nasib Herman, tentang warisan itu.

Mungkin sekarang saat Azkia memikirkan hidupnya, kebahagiaannya, masa depannya, apa mungkin dia seperti ini terus, mengharapkan lelaki yang jelas-jelas tak mencintainya.

"Tujuh tahun, Kia, kurang sabar apa kamu." kata hatinya.

"Saatnya lupakan mereka." gumamnya lagi.

Di masjid terdekat sudah terdengar orang berslawat, sebentar lagi magrib pun akan tiba. Azkia bangkit menyambar handuk, dia segera ke kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, dia melihat wajahnya dipantulan cermin, sembab habis menangis masih meninggalkan jejak di netranya, dia membasuh wajahnya berkali-kali, kemudian menghidupkan keran shower dan membiarkan air mengguyur tubuhnya agak lama, dia berharap air membawa resahnya mengikuti aliran pembuangan.

Azkia menghentikan ritual mandinya saat terdengar azan magrib, segera dia keluar dari kamar mandi, memakai baju, berwudhu dan melaksanakan shalat magrib.

Setelah selesai shalat, Azkia membuka laptopnya, kemudian mencolokkan flasdis yang tadi diberikan pak Jaya, dia mengecek isi flasdis yang keseluruhan tentang perusahaan. Azkia mulai fokus mempelajarinya satu persatu isi flasdis.

"Kamu pasti biasa, Kia!" terngiang jelas di telinga Azkia, Riyan memberinya semangat, saat melihat ada keraguan di mata Azkia.

Azkia memang terkenal cerdas dengan otak cemerlang di atas rata-rata, tak butuh berjam-jam baginya untuk mengusai satu file.

Dreeet... Dreeet, panjang umur Riyan, baru saja Azkia mengingatnya, Video call dari Riyan masuk.

"Assalamulaikum, bidadariku." sapa Riyan dari layar ponsel.

"Waalaikumsalam sepupu gantengku." jawan Azkia tersenyum malu, mendengar Riyan menggodanya dengan sapaan bidadariku.

"Eh, sebentar... Apa kamu habis nangis?" Riyan bertanya, dia menatap serius ke manik bola mata Azkia.

"Gak! apa aku kayak orang habis nangis?" bohong Azkia dan balik bertanya.

"Tak usah bohong sama aku." kata Riyan lagi.

"Apa kamu nangis gara-gara aku pergi?"

"Apaan sich kamu, kepedean amat." ujar Azkia sambil memonyongkan bibirnya ke layar ponsel.

"Cup... hahaha." Riyan malah mengecup layar ponselnya.

Deg... Jantung Azkia berdetak kencang, saat Riyan mengecupnya lewat layar ponsel.

"Kia, jangan baper gitu dong." teriak Riyan, Azkia jadi malu, pipinya memerah karena ketahuan Riyan.

"Siapa juga yang baper." ujar Azkia cemberut.

"Serius?"

"Serius apaan?"

"Kamu nggak sedih, kalau aku pergi jauh?"

"Nggak! pergilah yang jauh sana, hehehe." ujar Kia tertawa renyah, dia berusaha mengusir kegalauan hatinya.

"Om sama tante mana?" Azkia mengalih pembicaraannya.

"Lagi keluar makan."

"Kamu nggak makan?"

"Ntar! tadi kangen bangat sama, jadi video call dulu."

"Makan ge sana, kan udah Video call." ujar Azkia seraya mengucap salam dan mematikan sambungan video call, walaupun sebenarnya Riyan masih mau bicara padanya.

Azkia menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang, dia menarik napas dalam, Riyan lelaki masalalunya, lelaki pelindungnya kala itu, tak ada satu teman cowok pun yang berani mendekatinya, karena Riyan tidak pernah memberi kesempatan pada cowok mana pun menggodanya.

"Ah... Riyan! andai saja kau bukan sepupuku." batin Azkia.

"Hay, Kia! apa sich yang ada dipikiranmu sekarang." tanpa sadar Azkia menggelengkan kepalanya seraya tersenyum sendiri.

****

Jangan lupa like, komen dan votenya ya para readers

Tarima Kasih🙏🙏🙏

1
Wahyu Kasep
gwa baca sampai sini
Azkia masih bodoh oon bin tolol
Wahyu Kasep
gwa yakin anak anjeji bukan anak dari Herman
Wahyu Kasep
harus nya judul nya
demi duit resep obat bapak bukan demi bakti
Wahyu Kasep
sungguh anak yang bodoh
demi bakti pada orang tua apa demi duit resep obat bapak nya yang hampir mati
bakti boleh goblok jangan
falea sezi
astaga kayaknya si semua novelnya peran cwek di buat bodoh semua pantes like dikit
falea sezi
kapok azab laki. tukang selingkuh
falea sezi
sibbangsat rani
falea sezi
Wati ne pembantu munafii
falea sezi
jijik laki. plin plan
falea sezi
masih boodh aja kau
falea sezi
bner g usah ngurusin anak pelakor
falea sezi
azkia gugat cerai deh jangan bodoh kau di jadiin baby sitter doank
falea sezi
azkia ne tololnya astaga cm di jadiin istri cadangan dia mau ya allah
Wahyu Kasep: wahai saudariku panggil beliau dengan ukhty Azkia yang sabar yang Istiqomah ukhty calon surga
total 1 replies
Aulia Ananda
thor knp azkia dibikin sgt bod h jengkel aq thor
Wahyu Kasep: saudariku muslimah panggil beliau dengan ukhty Azkia sang calon penghuninya surga
total 1 replies
nand channel
gara2 si kuntilanak Anjeli kasihan Arta, anak sekecil itu di ombang ambingkan perasaan nya...
nand channel
ini yg goblok othor nya...segitu nya merendahkan azkia, ttp buat azkia menunggu lelaki sangat keparat itu, lelaki plinplan dan babgsat
nand channel
jijik mendengar herman sok berdebar2, lelaki plin plan dan mau enak mu aja
nand channel
wanita yang tak punya pendirian, wanita lemah
nand channel
baguslah azkia pergi dan mencari bahagia nya sendiri, pasti banyak yg mencintai nya
nand channel
yang benar aja thor, udah mau mati masih meluk2 suami orang, mau ditendang malaikat langsung ke neraka ntar...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!