"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.
Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.
Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.
Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 031: Badai Ekspansi
Pukul delapan pagi, ruang rapat utama PT Surya Teknologi sudah penuh.
Papan kaca di depan ruangan dipenuhi tiga kata besar yang ditulis Arya sendiri.
Orang.
Produk.
Pasar.
Di sisi kiri meja, Pak Budi Santoso membuka map tebal. Mega Permata duduk di sampingnya dengan laptop menyala. Rizky Hakim membawa tablet berisi laporan teknis. Bayu Setiawan datang dengan buku catatan hitam. Dimas Saputra muncul paling akhir, membawa kopi untuk semua orang dan senyum yang terlalu percaya diri.
"Bro, kalau rapat ekspansi tanpa kafein, itu pelanggaran HAM versi anak kos."
Pak Budi menahan senyum.
Arya mengetuk meja dua kali.
"Mulai."
Suasana langsung rapi.
Semalam, ia makan bakso bersama Kirana. Pagi ini, ia harus membuat perusahaan bergerak seperti mesin perang.
Panel sistem menyala di sudut pandangnya.
【Misi Utama Volume Dua Dibuka】
【Misi: Fondasi Kerajaan】
【Target 1: Perluas jumlah karyawan aktif menjadi minimal 50 orang dalam 30 hari】
【Target 2: Selesaikan posisi pasar produk pertama PT Surya Teknologi】
【Target 3: Lindungi keluarga dan reputasi perusahaan selama ekspansi】
【Hadiah: Dana operasional Rp 3.000.000.000 | Talent Mapping Lv.2 | Reputasi Industri +300】
【Peringatan: Ekspansi cepat meningkatkan risiko serangan eksternal】
Arya membaca semua baris itu tanpa mengubah ekspresi.
"Hari ini kita masuk fase baru," katanya. "Perusahaan ini sudah bersih dari masalah internal utama. Sekarang kita tumbuh."
Pak Budi membuka halaman pertama.
"Pak, berdasarkan struktur saat ini, kita punya 127 karyawan, namun banyak posisi masih warisan lama dan perlu reposisi. Untuk produk baru, kita butuh tim kecil yang lebih tajam: 15 engineer fokus, 8 support teknis, 10 sales enterprise, 6 customer success, 4 legal-compliance, dan 7 operasional tambahan."
Dimas mengangkat tangan.
"Saya ambil sales dan branding. Kita butuh wajah baru. Muda, lapar, enak diajak lari."
Bayu menoleh.
"Lari kerja atau lari dari tanggung jawab?"
"Dua-duanya jangan. Kita sudah punya CEO yang alergi kabur."
Beberapa orang tertawa.
Arya ikut tersenyum tipis.
"Dimas, kamu siapkan kampanye rekrutmen. Buat profesional, tetap ada karakter."
"Siap, Pak CEO."
"Rizky."
Rizky menggeser tablet ke layar besar. Diagram SuryaWMS muncul. Ada modul stok real-time, integrasi barcode, dashboard pengiriman, dan notifikasi gudang.
"Beta internal sudah stabil 82 persen. Bug kritis tinggal empat. Masalah terbesar sekarang ada di mobile interface dan sinkronisasi data saat jaringan gudang lemah."
"Berapa lama?"
"Kalau tim penuh, dua minggu. Kalau tim sekarang, tiga minggu lebih."
Arya menulis angka dua minggu di papan.
"Kita ambil dua minggu."
Rizky menarik napas.
"Berarti saya perlu tambahan orang hari ini."
"Kamu dapat."
Bayu membuka catatannya.
"Dari sisi operasional, kalau SuryaWMS mau dipakai klien gudang, kita perlu tim lapangan. Orang yang ngerti rak, forklift, barang rusak, dan sopir yang suka jalan lebih cepat dari jadwal. Software bagus saja kurang kalau pemasangan di gudang kacau."
Arya mengangguk.
"Berapa orang?"
"Minimal delapan. Lebih bagus dua belas."
"Ambil dua belas. Cari orang lapangan sungguhan. Jangan cuma yang hafal istilah."
Bayu mencatat cepat.
Mega mengangkat tangan.
"Pak, untuk jadwal wawancara, saya bisa buka tiga gelombang. Gelombang pertama kandidat internal yang bisa dipindahkan. Gelombang kedua referral. Gelombang ketiga publik."
"Bagus. Pak Budi, pastikan legal kontrak kerja rapi. Kita tumbuh cepat, administrasi jangan longgar."
"Siap."
Rapat berjalan satu jam.
Setiap keputusan Arya potong langsung ke aksi. Orang yang bertanggung jawab, tenggat, biaya, risiko. Tidak ada kalimat panjang yang mengambang di udara.
Pukul sembilan lewat dua puluh, Dimas sudah berdiri di tengah kantor dengan kamera ponsel.
Ia memakai jas, dasi merah, dan sepatu kantor yang terlalu mengilap.
"Teman-teman Surabaya!" teriaknya ke kamera. "Kalau kamu jago teknologi, marketing, support, atau kuat angkat mimpi besar perusahaan lokal, PT Surya Teknologi cari kamu!"
Rani dari customer support menutup mulut menahan tawa.
Dimas menunjuk papan tulisan lowongan.
"Benefit? Ada. Gaji? Kompetitif. Bos? Masih muda, sudah serem. Kantor? Adem. Tantangan? Banyak. Drama? Semoga berkurang sejak kemarin."
Arya lewat di belakang kamera.
"Dimas."
"Cut! Bos masuk frame, engagement naik."
"Jangan pakai kata drama."
"Siap. Diganti dengan dinamika perusahaan."
Video pertama naik pukul sepuluh.
Video kedua naik pukul sebelas, menampilkan Dimas pura-pura mewawancarai printer macet sebagai kandidat support.
Video ketiga naik siang hari: Dimas berdiri di gudang simulasi, menunjuk barcode scanner, lalu berkata, "Kalau kamu bisa bikin stok barang lebih tertib dari kamar anak kos, kami butuh kamu."
Sore hari, hasilnya meledak.
Mega masuk ke ruang Arya dengan mata sedikit membesar.
"Pak, masuk 217 lamaran dalam enam jam."
Arya mengangkat alis.
"Sebagus itu?"
"Sebagian besar dari LinkedIn, Instagram, dan grup alumni kampus. Ada tiga kandidat senior dari perusahaan logistik besar."
Dimas menyembulkan kepala dari pintu.
"Saya menerima ucapan terima kasih dalam bentuk nasi padang."
"Kerja dulu."
"Siap, Pak."
Namun ekspansi yang terlalu cepat selalu mengundang mata.
Pukul empat sore, Arya pergi ke kantor pelayanan perizinan usaha di Surabaya untuk memperluas klasifikasi layanan perusahaan. Mega sudah menyiapkan berkas lengkap. Pak Budi ikut mendampingi.
Ruang tunggu penuh. Mesin antrean berbunyi datar. Bau kertas, parfum murah, dan pendingin ruangan bercampur di udara.
Nomor mereka dipanggil.
Petugas loket memeriksa berkas satu per satu. Wajahnya datar sampai ia melihat nama PT Surya Teknologi.
Jarinya berhenti.
"Ini perlu tambahan dokumen."
Mega langsung membuka folder cadangan.
"Dokumen yang mana, Bu? Kami sudah membawa NIB, akta perubahan, NPWP, laporan domisili, dan rencana kegiatan."
Petugas itu melirik ke belakang, lalu menurunkan suara.
"Biasanya proses seperti ini bisa lama. Kalau Bapak ingin cepat, cari jalur yang lebih mengerti."
Pak Budi menegang.
Arya menatap petugas itu dengan tenang.
"Saya akan mengikuti jalur resmi."
Senyum petugas itu tipis.
"Kalau begitu tunggu verifikasi."
"Berapa lama?"
"Belum bisa dipastikan."
Arya mengambil kembali tanda terima.
"Tolong tulis alasan dokumen belum diproses di sistem."
Petugas itu terdiam.
"Apa perlu?"
"Perlu. Agar kami bisa melengkapi sesuai aturan."
Di belakang Arya, beberapa orang mulai menoleh.
Petugas itu akhirnya mengetik dengan gerakan kaku. Tanda terima baru keluar dari printer.
Arya membacanya.
Alasan tertulisnya kabur. "Perlu evaluasi lanjutan."
Ia memasukkan kertas itu ke map.
"Terima kasih."
Mereka keluar dari gedung tanpa bicara.
Di parkiran, Pak Budi baru bersuara.
"Pak, ini lebih dari sekadar lambat."
Arya membuka pintu mobil.
Ia berhenti sejenak karena kata pertama Pak Budi barusan muncul sebagai bentuk yang ia larang untuk dirinya sendiri dalam tulisan hidupnya. Ia mengabaikannya. Di dunia nyata, orang bicara apa adanya. Di keputusan, ia tetap tajam.
"Saya tahu."
Mega melihat ke jalan.
"Pak, mobil Alphard hitam di seberang sudah ada sejak kita masuk."
Arya melihat pantulan kaca.
Mobil itu memang diam di sana. Kaca gelap. Mesin menyala.
"Nomornya?"
Mega sudah memotret.
"Sudah, Pak."
Arya masuk mobil.
"Kirim ke tim legal dan security. Jangan konfrontasi."
Mereka melaju keluar.
Alphard itu mengikuti dari belakang.
Jaraknya rapi. Terlalu rapi. Saat mobil Arya masuk parkiran PT Surya Teknologi, Alphard baru berbelok pergi.
Di lobi perusahaan, suasana masih hidup. Kandidat datang, karyawan bicara cepat, printer bekerja tanpa henti. Di layar besar, angka lamaran sudah menembus 248.
Panel sistem menyala.
【Peringatan: Perhatian eksternal meningkat】
【Sumber: Perizinan, kompetitor, jaringan lama Herman Wijaya】
【Saran: Perkuat legal, keamanan data, dan komunikasi internal】
Arya menutup panel.
Ia berjalan ke tengah kantor.
Para karyawan perlahan berhenti bekerja dan melihatnya.
"Dengar sebentar," kata Arya.
Ruangan diam.
"Mulai hari ini, perusahaan kita akan tumbuh cepat. Akan ada orang yang senang, ada yang terganggu. Kalau ada tekanan, tawaran aneh, ancaman, atau permintaan data dari luar, lapor langsung ke atasan kalian atau ke Mega."
Ia memandang wajah-wajah di hadapannya.
"Kita bangun ini dengan kerja bersih. Kita pertahankan juga dengan cara bersih."
Pak Budi berdiri di belakangnya, mata tajam.
Dimas berhenti bercanda.
Rizky menutup laptop.
Bayu mengangguk pelan.
Malam mulai turun saat Arya kembali ke ruangannya. Di meja, ada foto kecil Kirana yang ia cetak dari ponsel: Kirana tersenyum sambil memegang perutnya.
Arya menyentuh bingkai itu.
"Aku akan pulang tepat waktu," gumamnya.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari nomor asing masuk.
Selamat berkembang, Pak Arya. Semakin tinggi pohon, semakin mudah terlihat dari jauh.
Tidak ada nama pengirim.
Hanya satu huruf di akhir.
H.