"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.
Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.
Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 005: Menara Tempat Dia Tinggal
Rusunawa Harapan tidak pernah benar-benar sepi.
Pagi hari, lorong-lorongnya berbau kopi sachet, minyak goreng bekas, dan asap dari warung kecil di pojok jalan. Jemuran menggantung di balkon, baju anak-anak bergerak pelan tertiup angin Jakarta yang lembap. Motor tua diparkir rapat di bawah kanopi. Suara ibu-ibu menawar sayur bercampur dengan klakson angkot yang lewat di jalan depan.
Arga Pratama berdiri di seberang menara B, memakai kaus abu-abu dan jaket lama.
Tidak ada yang melihatnya dua kali.
Di tempat seperti ini, wajah biasa adalah perlindungan terbaik.
Ia memandangi lantai dua puluh satu, tempat unit Kiara berada. Apartemen itu tidak besar. Dua kamar, satu ruang tengah sempit, balkon menghadap jalur jalan layang. Kiara jarang menggunakannya, tetapi Arga tahu tempat itu berarti sesuatu baginya.
Tempat yang tidak dipilih Bu Agung.
Tempat yang tidak diatur Bimo.
Tempat yang tidak pernah disapu Ratna dengan komentar tajam tentang siapa yang pantas duduk di ruang tamu.
Di depan gerbang, dua pria berseragam kemeja putih berlogo kecil PT Hartono Group sedang berbicara dengan seorang lelaki tua penjaga warung.
"Pak, tawaran ini cuma berlaku sampai sore," kata salah satu pria. "Unit Bapak sudah tua. Kalau revitalisasi jalan, belum tentu Bapak dapat kompensasi sebesar ini."
Lelaki tua itu memegang map dengan tangan gemetar. "Tapi anak saya bilang jangan tanda tangan dulu. Harga yang ditawarkan tetangga sebelah katanya lebih tinggi."
Pria Hartono tersenyum tipis. "Tetangga Bapak cuma dengar rumor. Kami bayar tunai. Kalau Bapak menunggu, bisa-bisa malah kena urusan administrasi."
Ancaman itu dibungkus rapi.
Arga mendengar cukup.
Ia berjalan pergi sebelum kemarahannya terlihat.
Satu jam kemudian, ia duduk di kantor Metro Properti Jakarta, sebuah kantor kaca di lantai delapan gedung komersial Sudirman. Di hadapannya, Tari Wibowo membuka laptop dengan ekspresi profesional yang masih hati-hati.
Tari berusia pertengahan tiga puluhan, rambut pendek, kemeja putih tanpa aksesori berlebihan. Matanya tajam seperti orang yang terbiasa membaca harga sebelum orang lain selesai bicara.
"Pak Arga," katanya, "saya sudah menerima ringkasan dari Bu Dinda. Anda ingin membeli beberapa unit di kawasan Rusunawa Harapan?"
"Bukan beberapa."
Tari berhenti mengetik.
Arga menggeser tablet ke arahnya. Di layar ada peta blok, daftar pemilik, status sertifikat, dan catatan harga pasar.
"Seluruh menara B. Lalu unit-unit di tiga blok sekitar yang masuk radius pengembangan. Target awal empat ratus unit."
Tari menatap layar.
Untuk pertama kalinya sejak pertemuan dimulai, wajahnya berubah.
"Empat ratus unit?"
"Ya."
"Pak, dengan harga pasar sekarang saja, totalnya bisa mendekati Rp 1 triliun. Kalau kita harus bergerak cepat dan bersaing dengan Hartono, bisa naik jauh di atas itu."
"Siapkan Rp 2 triliun."
Ruangan itu mendadak terlalu sunyi.
Tari menatap Arga, lalu menatap tablet, lalu kembali menatap Arga. Ia mencari tanda bahwa ini lelucon. Tidak ada.
Di luar dinding kaca, lalu lintas Sudirman merayap pelan. Di dalam ruangan, angka dua triliun rupiah baru saja dijatuhkan seperti seseorang memesan kopi.
"Sumber dana?" tanya Tari akhirnya, suaranya lebih pelan.
"Cakra Capital melalui kendaraan investasi baru. Nama publiknya Cakra Properti. Semua pembelian pakai kuasa hukum dan escrow. Tidak ada nama pribadi saya."
Tari menelan ludah.
Ia pernah menangani klien kaya. Developer. Pemilik tambang. Keluarga lama yang membeli ruko satu deret tanpa menawar.
Tetapi tidak ada yang bicara tentang empat ratus unit dengan wajah seperti sedang menutup pintu.
"Harga penawaran?"
"Dua kali tawaran Hartono."
Tari mengangkat alis. "Kalau mereka tawar Rp 600 juta, kita Rp 1,2 miliar?"
"Tunai. Biaya notaris ditanggung kita. Penghuni diberi waktu pindah atau opsi sewa balik dua tahun. Jangan usir orang."
Kali ini Tari tidak menyembunyikan rasa hormat di wajahnya.
"Itu akan membuat mereka datang ke kita. Arahnya harus begitu."
"Itu tujuannya."
Arga menunjuk satu unit di lantai dua puluh satu menara B.
"Unit ini jangan disentuh."
Tari memperbesar peta. "Atas nama Kiara Hartono."
"Benar."
"Kita beli juga?"
"Tidak. Kalau struktur gedung membutuhkan persetujuan pengelola, masukkan klausul bahwa unit itu tetap punya hak sewa parkir dan fasilitas yang sama. Biaya bulanan tetap seperti sekarang. Jangan beri tahu dia pemilik sekitar berubah."
Tari memperhatikan wajah Arga.
"Boleh saya tahu hubungan Anda dengan pemilik unit ini?"
Arga menatapnya.
Tidak tajam. Tidak marah.
Tetapi cukup membuat Tari langsung menurunkan pandangan ke layar.
"Maaf. Tidak relevan."
"Benar," kata Arga. "Tidak relevan."
Tari mengangguk. "Kami butuh tim lapangan. Kalau Hartono sudah mulai masuk, beberapa penghuni mungkin sudah tanda tangan perjanjian awal."
"Beli haknya kalau belum AJB. Kalau sudah ada perikatan, minta kuasa hukum cek celah pembatalan. Jangan pakai ancaman. Pakai harga yang membuat mereka sadar bahwa mereka hampir dijual murah."
"Baik."
Ponsel Tari berbunyi. Ia melihat pesan masuk dari salah satu agennya di lapangan.
Wajahnya berubah lagi, kali ini lebih cepat.
"Tim Hartono baru saja ditolak di tiga unit," katanya. "Ada penghuni yang menyebut pembeli lain menawar dua kali lipat."
"Bagus."
"Pak, dalam dua hari, ini akan terdengar ke seluruh blok."
"Dalam dua hari, aku ingin setengah blok sudah aman."
Tari menutup laptop setengah, lalu membukanya lagi seperti tubuhnya belum sepakat apakah harus panik atau bekerja.
"Saya akan panggil lima notaris rekanan dan dua tim PPAT. Kita butuh pengecekan sertifikat, status waris, tunggakan IPL, sengketa keluarga, semuanya cepat."
"Dinda akan kirim legal support."
"Dan nama Anda?"
"Tidak muncul."
Tari mengangguk. "Cakra Properti sebagai pembeli."
"Benar."
Sore itu, Rusunawa Harapan berubah menjadi pasar kecil yang gaduh.
Orang-orang yang pagi tadi nyaris menandatangani surat murah mendadak mendengar kabar baru. Ada pembeli lain. Bayar dua kali lipat. Tunai. Biaya notaris ditanggung. Tidak mengusir penghuni lama dalam waktu dekat.
Di warung kopi, lelaki tua yang tadi ditekan tim Hartono membuka map baru dengan tangan gemetar.
"Ini benar?" tanyanya kepada agen Metro Properti.
"Benar, Pak. Bapak boleh bawa anak Bapak baca dulu. Tidak perlu tanda tangan hari ini kalau belum yakin."
Kalimat itu saja sudah cukup membuat beberapa tetangga menatap dengan mata basah.
Di ujung jalan, dua staf Hartono Group berdiri kaku. Ponsel mereka terus berbunyi. Satu per satu pemilik unit yang tadi sudah dijadwalkan bertemu membatalkan janji.
"Pak, mereka semua bilang ada penawaran lain," kata salah satu staf ke telepon. "Harganya dua kali lipat. Iya, Pak. Dua kali."
Di kantor Metro Properti Jakarta, menjelang malam, Tari masuk ke ruang rapat dengan langkah lebih cepat daripada pagi tadi.
Arga masih duduk di sana, membaca ringkasan sertifikat tanpa terburu-buru.
"Update," kata Tari. "Dua puluh tujuh unit sudah setuju prinsip. Empat belas minta anaknya ikut baca dokumen besok. Tidak ada penolakan keras."
"Hartono?"
Tari menarik napas.
"Keluarga Hartono marah besar. Seseorang membayar dua kali lipat di seluruh blok sebelum mereka."
Arga menutup map.
Di layar peta, titik-titik merah milik Hartono mulai tenggelam oleh tanda biru Cakra Properti.
"Kalau begitu," katanya, "lanjutkan sampai mereka tahu rasanya ditawar rendah."