NovelToon NovelToon
Kapten Hatiku

Kapten Hatiku

Status: tamat
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23

Api Unggun

Keira membaca pesan itu tiga kali.

Mulai sekarang, nggak akan ada yang bisa nyakitin kamu lagi.

"Kenapa tiba-tiba bicara seperti tokoh film laga?" tanyanya.

Kai memungut dua bagian pena dari meja. "Karena penanya jelek."

"Aku bicara soal pesanmu."

"Aku tahu."

Keira menunggu, tetapi dia tidak memberi penjelasan. Perban tipis tampak di telapak tangan kanannya. Ketika ditanya, Kai hanya berkata gelas pecah saat dia membantu temannya.

Satu kebohongan kecil lagi.

Keira menurunkan ponsel. "Aku akan ikut team building."

Rahang Kai mengeras. "Dengan Kevin?"

"Dengan perusahaan. Kevin hanya mitra konten." Keira memperlihatkan formulir. "Acara api unggun malam terakhir boleh dihadiri satu pendamping yang didaftarkan. Kalau kamu khawatir, ikut."

"Aku ikut."

"Cepat sekali."

"Aku sedang tidak sibuk."

"Pengangguran memang fleksibel."

Untuk pertama kalinya sejak pesan aneh itu tiba, Kai tersenyum.

Tiga hari kemudian, rombongan NusAir tiba di Yogyakarta. Kegiatan berlangsung dua hari di sebuah resor terbuka di kaki perbukitan. Pagi diisi simulasi kerja sama tim, siang dengan permainan pencarian petunjuk, dan malam terakhir ditutup api unggun.

Keira satu kelompok dengan teknisi, kru kabin, dan staf layanan penumpang. Kevin bergerak bersama tim dokumentasi, tetapi aturan gambar baru dipasang jelas di setiap titik. Lanyard hijau berarti boleh difoto. Lanyard merah berarti tidak. Keira memilih merah.

Tidak satu pun kamera Kevin mengarah kepadanya.

Saat permainan pencarian petunjuk, salah satu peserta terkilir ringan di jalur berbatu. Keira menghentikan kelompok, memeriksa apakah peserta mampu menapak, lalu memanggil petugas medis acara. Kevin menurunkan kamera sebelum diminta dan membantu membuka jalan.

"Tidak direkam?" tanya Keira setelah peserta dibawa ke pos.

"Kamu bilang jangan memakai orang kesulitan sebagai hiburan."

"Kamu ingat."

"Aku ingat semua yang kamu katakan."

Kalimat itu terlalu personal. Keira berpura-pura memeriksa peta.

Kai belum tiba. Dia mengirim pesan bahwa urusan seorang teman menahannya di Jakarta dan baru bisa menyusul menjelang malam. Keira membalas pendek, tetapi terus memeriksa jam lebih sering daripada jadwal kegiatan.

Kevin melihatnya.

"Menunggu seseorang?"

"Pendampingku."

"Pacar?"

Keira melipat peta. "Seseorang yang penting."

Kevin mengangguk, meski senyum di wajahnya meredup. "Berarti aku harus bicara sebelum terlambat."

"Kevin."

"Tidak sekarang. Kita sedang bekerja."

Dia berjalan menyusul timnya, menepati batas yang dia buat sendiri.

Menjelang pukul tujuh, kursi-kursi kayu disusun melingkar di lapangan. Lampu gantung membentang di antara pohon, sementara api unggun mulai menyala di tengah. Meja makan menyajikan sate ayam, jagung bakar, wedang jahe, dan nasi kotak. Udara Yogyakarta lebih sejuk daripada Jakarta.

Pendamping karyawan masuk melalui meja registrasi terpisah setelah menunjukkan kode undangan. Keira berdiri dekat pintu, masih mengenakan lanyard merah.

"Kalau dia tidak datang, duduklah dengan kelompok kita," ajak seorang pramugari.

"Dia datang."

Keira menjawab lebih yakin daripada yang dia rasakan.

Lima menit kemudian, seorang pria bertopi gelap dan kemeja hitam muncul di bawah lampu gerbang. Dia menunjukkan kode undangan atas nama Kai, menerima gelang pendamping, lalu menatap sekeliling.

Mata mereka bertemu.

Sesak kecil yang sejak sore tinggal di dada Keira langsung menghilang.

Kai berjalan mendekat. "Maaf terlambat."

"Temanmu baik-baik saja?"

"Sekarang lebih aman."

Keira tidak memahami jawabannya, tetapi perban di tangannya mengingatkan pada pesan semalam. Dia menahan diri untuk tidak bertanya di depan orang banyak.

"Ini pendampingmu?" Kevin sudah berdiri beberapa langkah dari mereka.

Keira mengangguk. "Kai, ini Kevin. Kevin, Kai."

Kedua pria itu berjabat tangan.

"Akhirnya bertemu," kata Kevin.

"Aku juga sering mendengar namamu," jawab Kai.

"Semoga hal baik."

"Tidak banyak."

Keira menyikut sisi tubuh Kai. Kevin justru tertawa.

"Setidaknya jujur. Nikmati acaranya."

Dia pergi menuju panggung kecil. Seorang anggota tim menyerahkan gitar akustik kepadanya.

Keira membawa Kai ke meja makan. Tanpa bertanya, Kai memilih sate yang tidak terlalu gosong, memisahkan sambal, dan menuangkan wedang jahe hanya setengah gelas agar cepat dingin. Kebiasaan kecil itu membuat salah satu rekan Keira tersenyum penuh arti.

"Pendampingmu hafal sekali," godanya.

"Kami tinggal bersama," jawab Keira.

Kai hampir menjatuhkan penjepit makanan. Selama ini hubungan mereka hanya diketahui beberapa orang sebagai status privat. Keira mengucapkannya tanpa malu, seolah keberadaan Kai di rumahnya bukan sesuatu yang perlu disembunyikan.

"Kenapa?" tanya Keira ketika dia terus menatap.

"Tidak apa-apa."

"Piringmu kosong."

"Aku tidak lapar."

Keira memindahkan dua tusuk sate dari piringnya. "Makan. Kamu terbang jauh-jauh bukan untuk marah pada gitar."

Kai menerima makanan itu. Di tengah ratusan orang yang secara tidak sadar bekerja untuknya, dua tusuk sate pemberian Keira membuatnya merasa lebih dipilih daripada kursi tertinggi di perusahaan.

Kai menatap punggungnya. "Kenapa dia membawa gitar?"

"Mungkin mau bernyanyi."

"Kenapa lampunya diarahkan ke sini?"

"Aku bukan panitia."

Acara dimulai dengan permainan singkat dan penghargaan untuk tim. Ketika pembawa acara mempersilakan Kevin menutup malam, sorak-sorai langsung terdengar. Jutaan pengikut mengenalnya sebagai pembuat konten, tetapi banyak yang juga tahu dia sering memainkan gitar dalam siaran langsung.

Kevin duduk di bangku tinggi. Dia memainkan lagu tanpa menyebut nama siapa pun. Nadanya sederhana, tentang seseorang yang selalu mengejar langit dan orang lain yang ingin belajar berjalan di sisinya.

Keira merasakan firasat buruk.

"Dia menulis lagu itu?" tanya Kai.

"Aku tidak tahu."

"Aku tidak suka."

"Kamu bahkan belum mendengar sampai selesai."

"Aku sudah dengar cukup."

Lagu berakhir. Tepuk tangan memenuhi lapangan, bercampur bunyi kayu terbakar. Kevin meletakkan gitar, tetapi tidak turun dari panggung.

"Ada satu hal yang ingin saya sampaikan," katanya.

Beberapa kamera ponsel langsung terangkat. Kamera resmi tim tetap mengarah ke Kevin, bukan Keira, sesuai lanyard merah yang dipakainya.

"Saya bertemu seseorang yang berani menghentikan pekerjaan hanya untuk memastikan orang lain aman. Dia juga berani menelepon saya dan menyuruh menghapus foto di depan satu ruang penuh orang."

Tawa kecil terdengar. Keira menutup mata sesaat.

"Saya salah pada pertemuan awal kami. Dia memberi saya kesempatan untuk memperbaikinya. Malam ini saya tidak ingin bersembunyi di balik unggahan atau keterangan foto."

Kevin turun dari panggung. Orang-orang membuka jalan ketika dia berjalan menuju Keira.

Kai berdiri di sampingnya, tubuhnya kaku.

"Kevin, jangan buat ini jadi tekanan," kata Keira pelan saat pria itu tiba di hadapannya.

"Aku tidak akan meminta jawaban yang tidak ingin kamu berikan."

Kevin menyerahkan gitar kepada staf, lalu mengambil satu bunga liar kecil dari saku kemeja. Tidak ada cincin, hadiah mahal, atau kamera yang sengaja diarahkan ke wajah Keira.

"Keira Liem, aku menyukaimu. Aku tahu waktunya singkat. Aku tahu mungkin sudah ada orang lain. Tapi aku ingin jujur sebelum kesempatan itu hilang."

Dia menurunkan satu lutut.

Lingkaran di sekitar mereka mendadak sunyi. Api memercik, mengirim bunga-bunga merah ke udara malam.

Keira mendengar napasnya sendiri. Kevin berada di depan, menawarkan niat yang terang dan tidak disembunyikan. Di sebelahnya berdiri Kai, laki-laki penuh rahasia yang menunggu lampu pesawatnya mendarat, menyisakan ayam untuk Mochi, dan memakai jam anak-anak seharga dua ratus ribu seolah benda itu lebih berharga dari apa pun.

Kai melangkah maju.

Beberapa orang mengenalinya hanya sebagai pendamping Keira. Yang lain terdiam karena keberaniannya masuk ke tengah pernyataan Kevin Liauw.

"Pilih aku."

Dua kata itu tidak keras. Namun seluruh lapangan mendengarnya.

Kevin mendongak. Keira berbalik.

Api unggun memantulkan cahaya di mata Kai. Tidak ada kacamata gelap, ruang rapat, atau suara seorang Bos. Hanya pria yang berdiri dengan tangan terluka dan rasa takut yang akhirnya terlihat jelas di wajahnya.

"Kamu bilang perasaan tidak masuk kontrak," kata Keira.

"Aku salah."

"Kamu bilang kita tidak perlu mencampuri hidup masing-masing."

"Aku juga salah soal itu."

"Apa yang sebenarnya kamu minta?"

Kai menarik napas. Tatapannya tidak berpindah.

"Bukan enam bulan. Bukan karena apartemen atau biaya. Aku minta kamu memilihku karena aku tidak mau melihatmu berjalan bersama orang lain."

"Itu terdengar seperti cemburu, bukan cinta."

Kai tidak menghindar. "Aku cemburu. Tapi aku tidak minta kamu menolak dia supaya aku menang. Aku minta kesempatan berdiri di sisimu."

Dia mengangkat pergelangan dengan jam biru yang terlalu kecil untuk pakaiannya.

"Aku menyukai perempuan yang membeli ini saat uangnya sendiri sedang sempit. Perempuan yang tetap memikirkan keselamatan orang lain ketika kariernya terancam. Perempuan yang berani memarahiku kalau aku melewati batas, lalu masih menyisakan makan malam untukku."

Suara Kai serak pada kalimat berikutnya.

"Aku tidak pandai mengatakan semua hal yang seharusnya kamu tahu. Aku juga belum menjadi orang yang pantas meminta kepercayaanmu. Tapi perasaanku bukan bagian dari penyamaran, bukan pasal kontrak, dan bukan sesuatu yang berakhir setelah enam bulan."

Kata `penyamaran` membuat Keira mengernyit, tetapi Kai sudah melanjutkan.

"Kalau jawabanmu bukan aku, aku tidak akan menghukum atau memaksamu. Aku tetap akan memastikan kamu pulang dengan aman. Hanya saja malam ini, untuk sekali ini, aku tidak mau diam."

Keira merasakan jantungnya menghantam tulang rusuk. Bunyi itu menutup tepuk api, bisikan pegawai, dan musik yang masih menggantung dari pengeras suara.

Tangan Kai terbuka di sisi tubuhnya. Dia tidak menarik Keira menjauh dari Kevin, tidak menyentuhnya lebih dulu, dan tidak memakai status nikah siri sebagai tuntutan. Dia menunggu seperti orang lain yang juga bisa ditolak.

Kevin berdiri perlahan. Dia melihat Keira, lalu Kai.

"Jawab dia," katanya lembut. "Jangan pikirkan orang-orang."

Keira menatap bunga kecil di tangannya, lalu jam biru yang masih melingkar di pergelangan Kai.

Dia sudah memberikan jawabannya kepada Oma beberapa hari lalu. Malam ini, hanya Kai yang belum mendengarnya.

Keira berjalan melewati Kevin.

Satu langkah.

Dua langkah.

Dia berhenti di depan Kai dan mengulurkan tangan.

Jemari mereka bertaut.

Kevin tersenyum tipis, bangkit sepenuhnya, lalu mundur satu langkah untuk memberikan panggung kepada mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!