Menceritakan tentang seorang gadis cantik bernama Aluna yang terjebak dalam roda waktu. Aluna secara tidak sengaja menemukan sebuah buku kuno di rumah yang baru saja ia tempati. Secara ajaib gadis itu terlempar ke masa lalu di sebuah kerajaan kuno.
Aluna yang bingung dengan keadaan tersebut, tiba-tiba saja di tangkap dan di bawa kehadapan ratu di kerajaan tersebut. Ratu yang mengira ia adalah mata-mata dari musuh memerintahkan untuk mengeksekusi gadis itu.
Akankah Aluna bisa selamat dari hukuman sang Ratu? Atau hidupnya akan berakhir di negeri tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Asrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Gagak itu bersuara panjang, ia terbang turun dari atas pohon, dan sebelum menyentuh tanah, ia berubah menjadi sosok wanita cantik seperti sebelumnya. Mowernna menatap api yang menjulang tinggi di depannya.
Suara tawa menggema di hutan, Mowernna begitu menikmati kemenangannya. Penyihir itu membentangkan tangan dengan tawa yang begitu puas.
"Ma*i lah kalian, manusia tidak berguna, hahahaa..."
"Tidak ku sangka, ini lebih mudah dari yang ku perkirakan." Menatap kuku-kuku di tangannya yang berkilau, meniupnya pelan, meremehkan.
"Sekarang, aku tinggal kembali ke istana danan menghabi*i si tua bangka itu, hahaaa..."
Namun saat akan berbalik pergi, ia di kejutkan dengan api yang mendadak padam. Mowernna menahan langkahnya, mengerutkan kening.
Api besar itu menghilang, seperti tidak pernah ada sesuatu yang terbakar di sana."
"Tidak mungkin!" Terkejut.
Mowernna tergesa-gesa menjelma kembali menjadi gagak, bertengger di pohon yang sama. Ia curiga dengan situasi ini, bagiamana mungkin sekelompok manusia biasa bisa selamat dari api sebesar itu.
Aluna, Caspian dan yang lainnya membuka mata mereka perlahan. Betapa menakjubkannya, mereka telah selamat, seakan tak percaya, mereka memegang wajah dan tubuh mereka sendiri.
Hawa dingin dan cahaya putih itu perlahan juga mulai memudar, Aluna menyunggingkan senyum. Ini adalah kali pertama ia memakai kekuatannya sebagai seorang keturunan peri.
"Kami berhasil Aluna." Caspian menggenggam kedua tangan gadis itu.
"Iya Pangeran, ternyata apa yang dikatakan Draven benar. Aku punya kekuatan sekarang, yeaayyyy...." Melompat-lompat kecil.
Aluna dan Caspian kegirangan, hingga tak sadar hampir berpelukan. Robert berdehem, menyadarkan mereka berdua.
Ia tertawa kecil melihat Caspian dan Aluna yang salah tingkah, dua prajurit di sampingnya bahkan mengikuti jejak Robert yang ikut menyembunyikan tawanya, wajah Aluna sudah semerah tomat saja.
"Kakkk.... Kakkkkk...."
Suara gagak itu kembali melengking keras. Perhatian semua orang seketika tertuju pada hewan tersebut. Mereka kini yakin gagak itu jelmaan dari makhluk jahat, semua ingin menangkapnya. Hugo bahkan melemparkan belatinya namun melesat, belati itu tertancap kuat di pohon, tapi di bawah kaki gagak itu. Mereka semua heran, karena mereka tahu, bahwa ketika Hugo melesatkan belatinya sangat kecil kemungkinan belati itu akan meleset.
Aluna kembali menutup matanya sejenak, lalu berucap kecil.
"Aku ingin sebuah busur dan anak panahnya."
Benda yang ia minta seketika berada di tangannya. Semua orang kini kembali terpaku ada gadis itu. Heran dengan panah yang tiba-tiba muncul di tangannya.
Gadis cantik itu fokus, mengarahkan panahnya ada gagak itu.
'Dia bisa memanah?' Caspian menatapnya sejenak.
Menyadari bahaya, Mowernna mengepakkan sayapnya dan terbang menjauh dari sana.
SEEETTTTT.....
Aluna cepat melesatkan panahnya dan berhasil mengenai gagak itu sebelum terbang menjauh.
"Kena." Robert berseru.
Gagak itu terjatuh di tanah, dedaunan kering kecoklatan menjadi alas saat ia kesakitan. Ketika Aluna dan Caspian melangkah akan mendekat, gagak itu tiba-tiba berubah.
Mereka semua terbelalak, rupanya ia adalah jelmaan dari seseorang. Mowernna menyembunyikan wajahnya, beruntung saat ia berubah ke wujud manusia Caspian dan lainnya belum sempat melihat wajahnya.
"Tangkap dia!" Teriak Hugo.
Para prajurit mengangkat pedangnya dan berlari ke arah Mowernna, siap menyerang.
Saat mereka semakin mendekat, Mowernna mengangkat tangan dan menghempaskannya ke arah prajurit, tiba-tiba saja tempat itu sudah di selimuti kabut hitam yang tebal. Semua orang tak bisa melihat apapun, hanya asap di mana-mana. Para prajurit mengibaskan tangannya ke udara, berharap dapat mempercepat hilangnya kabut itu.
Perlahan namun pasti, kabut itu berangsur menghilang, namun bersamaan dengan itu, Mowernna juga tak terlihat lagi di sana.
"Dia menghilang!" Kejut para prajurit.
Hugo berlari mendekat, memahami situasi.
"Cepat periksa tempat ini, mungkin saja dia belum pergi jauh." Perintahnya.
"Baik Jenderal."
mereka berpencar di sekitar tempat itu, mencari dengan sangat teliti dan hati-hati, namun tak ada tanda-tanda dari Mowernna, mereka akhirnya kembali menghampiri Caspian dan Aluna.
"Maaf Pangeran, kami tidak bisa menemukannya, tidak ada jejak sama sekali yang bisa menjadi petunjuk bagi kami." Lapor Hugo.
Caspian mengangguk.
"Dia pasti seorang penyihir, kita tak mungkin menemukan jejaknya."
"Benar Pangeran, baru kali ini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, seekor burung gagak berubah menjadi manusia." salah satu prajurit menggeleng, ia benar-benar tak habis pikir dengan hal itu.
"Kita harus lebih berhati-hati lagi Pangeran. Wanita penyihir itu bisa saja kembali dan menyerang kita lagi." Khawatir Aluna.
"Wanita?"
"Benar Pangeran, dia wanita. Rambutnya panjang, dan postur tubuhnya juga seperti wanita pada umumnya." Aluna yakin.
"Yah, menurutku juga begitu nona." Hugo membenarkan.
"Sayang sekali kita Tidka sempat melihat wajah penyihir itu, aku takut jika dia akan menyusup ke dalam kerajaan dan meresahkan warga suatu hari nanti."
"Tenanglah Pangeran, kita akan berusaha mengatasinya jika telah kembali dalam perjalanan ini, aku berjanji akan mencarinya di seluruh kerajaan."
Caspian mengangguk, ia percaya Hugo tidak akan mengecewakannya.
"Sebaiknya kita segera melanjutkan perjalanan Pangeran." Ucap Robert.
Semua orang mengangguk, termasuk Aluna. Gadis itu menutup matanya sejenak dan panah ditangannya menghilang.
...
Mereka kembali melanjutkan perjalanan yang panjang itu.. Caspian berkali-kali menggunakan kristal yang menunjukkan arah yang benar padanya. Sesekali mereka juga beristirahat, memakan bekal dan merenggangkan kaki yang lelah. Caspian terus bertanya pada Aluna apakah dia baik-baik saja dan sanggup melanjutkan kembali, Pangeran itu semakin memperlihatkan bentuk perhatiannya.
Robert kali ini memilih berada di samping Aluna. Rimbunnya pepohonan dan semakin belukar terus mereka lalui. Robert terus membantu Aluna saat gaunnya tersangkut di dahan atau ranting. Caspian yang berjalan di depan bersama Hugo sesekali menoleh ke belakang, menatap tak suka.
"Aku tidak menyangka kamu adalah peri, pasti sangat menyenangkan bisa melakukan apapun." Memulai percakapan.
"Entahlah Robert, aku juga masih beradaptasi dengan hal itu." Tersenyum.
"Bagaimana kamu melakukannya?"
"Melakukan apa?" Bingung.
"Semua yang terjadi tadi, menyelamatkan kita dari api, memunculkan panah di tangan mu." Antusias, matanya menunjukkan bilang ia sangat penasaran dengan jawaban Aluna.
" Aku juga tidak tahu, aku hanya menginginkannya dan kemudian itu terjadi." Sungkan Aluna.
"Bukankah sebelumnya kamu sudah bertemu dengan keluarga satu suku mu itu, hmm... lalu mengapa dia tidak ikut dengan kita? Mengapa ingin berada terus di hutan ini?"
Aluna menatap Robert sejenak, ia dan Caspian memang belum menjelaskan lebih detail tentang Draven, dan alasan mengapa Draven tidak bisa meninggalkan hutan ini.
"Itu.... karena..."
"Robert, kemari." Perintah Caspian, menghentikan kalimat Aluna.
"Baik Pangeran." Sedikit kecewa karena belum mendengarkan semua jawaban Aluna, padahal ia sudah sangat penasaran. Dengan berat hati, ia berjalan di samping Caspian sesuai perintahnya.