Lin Ye terbatuk memuntahkan darah hitam dan terbangun di tanah pemakaman Sekte Pedang Surgawi.
Dantiannya telah hancur lebur, menjadikannya tumpukan sampah yang selalu dihina oleh para kultivator lain.
Angin malam yang dingin berhembus membawa aroma dupa busuk dan aura kematian yang sangat pekat di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Naga biru es kebanggaan Chu Yan itu langsung berhenti bergerak di udara seolah-olah waktu telah dibekukan secara paksa oleh dewa kematian.
Warna biru es dari naga spiritual itu perlahan berubah menjadi hitam kelam seiring dengan menyebarnya energi korosif dari Yin purba Lin Ye.
Hanya dalam waktu tiga tarikan napas, naga raksasa itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu es hitam yang berjatuhan ke tanah layaknya salju beracun.
Chu Yan membelalakkan matanya lebar-lebar hingga sudut matanya robek dan meneteskan darah segar karena tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
Jurus pamungkas terkuatnya yang mengorbankan esensi darahnya sendiri telah dihancurkan hanya dengan satu jentikan jari yang sangat santai.
"T-tidak mungkin... ini sama sekali tidak masuk akal... kau menggunakan sihir ilusi, bukan?!" jerit Chu Yan sambil meremas rambutnya sendiri dengan frustrasi.
Pikirannya telah benar-benar hancur, ia tidak bisa lagi membedakan antara kenyataan dan mimpi buruk yang sedang menyiksanya saat ini.
Lin Ye menurunkan jari telunjuknya dan kembali melangkah maju menembus hujan debu es hitam dengan wajah yang benar-benar tanpa emosi sedikit pun.
Ia mengaktifkan Seni Pergerakan Langkah Hantu Bayangan, dan tubuh fisiknya seketika melebur menjadi kabut asap yang menghilang dari pandangan Chu Yan.
"Di mana kau bersembunyi?! Keluar kau, pengecut busuk!" teriak Chu Yan sambil menebaskan pedangnya secara membabi buta ke segala arah.
Tiba-tiba, suara bisikan yang sedingin balok es terdengar tepat di sebelah telinga kanan Chu Yan, membuat seluruh bulu kuduknya berdiri serentak.
"Aku tepat berada di sebelahmu, jenius kecil yang sombong."
Sebelum Chu Yan sempat menolehkan kepalanya, sebuah tangan yang sekeras baja telah mencengkeram pergelangan tangan kanannya yang memegang pedang.
Cengkeraman Lin Ye begitu kuat hingga tulang pergelangan tangan Chu Yan langsung berderak dan hancur berkeping-keping di bawah tekanan energi Yin.
Chu Yan menjerit histeris dan secara refleks melepaskan gagang pedang spiritualnya yang langsung jatuh ke tanah dengan suara dentingan logam.
Namun, penderitaan sang tuan muda pelataran dalam ini belumlah berakhir sampai di situ saja.
Lin Ye menarik pergelangan tangan Chu Yan yang hancur itu dengan kuat ke arahnya, membuat tubuh Chu Yan terhuyung maju kehilangan keseimbangan.
Tangan kiri Lin Ye melesat ke depan bagaikan kilatan petir hitam dan menghantam telak bagian perut bawah Chu Yan dengan telapak tangannya yang terbuka.
Hantaman itu tepat mengenai lokasi dantian Chu Yan berada, tempat di mana seluruh lautan energi spiritual dan fondasi kultivasinya tersimpan.
Suara ledakan tumpul yang sangat mengerikan terdengar bergema di dalam perut Chu Yan saat energi kematian yang merusak menyusup masuk secara paksa.
Dantian Chu Yan yang telah ditempa selama bertahun-tahun dengan sumber daya tak terbatas itu seketika hancur lebur bagaikan gelas kaca yang dipukul dengan palu godam.
Energi spiritual yang tak terkendali langsung meledak keluar dari dalam tubuhnya, merobek jalur-jalur meridiannya hingga hancur tanpa bisa diperbaiki lagi.
Chu Yan memuntahkan darah segar dalam jumlah yang sangat banyak, mewarnai jubah sutra birunya menjadi merah pekat yang menjijikkan.
Tubuhnya terhempas ke belakang seperti layang-layang yang putus benangnya dan jatuh berguling-guling di atas tanah berbatu hingga sejauh belasan meter.
Ia tergeletak terlentang di atas tanah, napasnya sangat dangkal dan seluruh tubuhnya kejang-kejang hebat menahan rasa sakit yang jauh melampaui batas toleransi manusia.
Kultivasinya yang berada di puncak tahap kesembilan Alam Pengumpulan Qi kini telah menguap tanpa sisa, menjadikannya seorang manusia cacat yang jauh lebih menyedihkan dari seorang pengemis buta.
Balas dendam puitis yang sangat sempurna telah dieksekusi oleh Lin Ye dengan cara yang paling brutal dan tidak manusiawi.
Di kejauhan, Tetua Liu yang melihat hancurnya dantian Chu Yan langsung menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa selamat jika terus berada di tempat ini.
Jika ia kembali ke pelataran dalam dengan membawa berita bahwa Chu Yan telah menjadi cacat permanen, Tetua Agung pasti akan langsung memenggal kepalanya tanpa bertanya apa pun.
Satu-satunya jalan keluar bagi Tetua Liu adalah melarikan diri jauh meninggalkan Benua Awan Ilahi dan menyembunyikan identitasnya selamanya.
Ia menggunakan seluruh sisa tenaga di tubuhnya untuk merangkak diam-diam menjauhi arena pertarungan, berharap Lin Ye sedang sibuk menyiksa Chu Yan.
Namun, harapan palsu itu langsung dihancurkan dengan kejam saat segumpal bayangan raksasa tiba-tiba muncul tepat di hadapan wajahnya yang berdarah.
Jenderal Wu An dalam wujud siluman kabut berzirah perunggu menunduk menatap Tetua Liu dengan sepasang mata merah yang memancarkan rasa lapar mutlak.
"Mau lari ke mana kau, tikus tua yang menjijikkan?" geram sang jenderal dengan suara berat yang menggetarkan tulang rusuk Tetua Liu.
"T-tolong... jangan bunuh aku... aku bersedia menjadi budakmu..." rintih Tetua Liu sambil menyatukan kedua tangannya untuk memohon.
Jenderal Wu An hanya mendengus kasar dan langsung menghujamkan tombak bergerigi miliknya tepat ke arah punggung Tetua Liu.
Tombak gaib itu menembus tubuh Tetua Liu dan memaku pria paruh baya itu ke atas tanah berbatu dengan kekuatan yang sangat dahsyat.
Tetua Liu memuntahkan darah hitam dari mulutnya, matanya terbelalak lebar saat ia merasakan jiwanya ditarik paksa dari dalam raganya melalui gagang tombak tersebut.
Jenderal Wu An menyerap jiwa Tetua Liu yang berada di tahap awal Alam Pembentukan Inti itu dengan tawa yang menggelegar kejam, lalu mengirimkan esensi murninya ke dalam dantian Lin Ye.
Lin Ye merasakan aliran energi panas masuk ke dalam tubuhnya, namun ia mengabaikannya sejenak dan berjalan perlahan mendekati Chu Yan yang sedang sekarat.
Pemuda berjubah abu-abu itu berdiri menjulang tinggi di atas tubuh Chu Yan yang menggeliat kesakitan di tengah genangan darahnya sendiri.
"Bagaimana rasanya, Chu Yan? Terjatuh dari puncak langit tertinggi langsung ke dasar jurang keputusasaan yang paling dalam?" tanya Lin Ye dengan suara tanpa belas kasihan.
Chu Yan menatap wajah Lin Ye dengan pandangan yang sudah mulai kabur, air mata bercampur darah terus mengalir menuruni pelipisnya.
Rasa sakit dari dantiannya yang hancur membuat setiap tarikan napas terasa seperti menghirup ribuan jarum beracun yang menyayat paru-parunya.
"B-bunuh... bunuh saja aku... kumohon..." rintih Chu Yan dengan suara yang sangat pelan dan serak, memohon kematian sebagai satu-satunya bentuk pembebasan yang tersisa baginya.
Lin Ye tertawa kecil, sebuah suara yang sangat dingin dan tidak mengandung kehangatan sedikit pun di dalamnya.
"Membunuhmu saat ini adalah sebuah belas kasihan yang terlalu mewah untuk anjing sombong sepertimu, dan aku bukanlah seorang dewa yang pemaaf."
Lin Ye membungkukkan tubuhnya dan mencengkeram rambut panjang Chu Yan dengan sangat kuat, lalu menarik kepalanya hingga mendongak menatap wajahnya.
"Kau ingat bagaimana kau memerintahkan anak buahmu untuk menyiksaku setiap hari selama sebulan penuh hanya karena aku melihat kebusukanmu?" bisik Lin Ye tepat di depan wajah Chu Yan.
"Aku akan membalas setiap detik penderitaan itu dengan menyiksa jiwamu di dalam nyala api neraka selama seribu tahun ke depan."
Lin Ye mengangkat tangan kanannya yang kini memancarkan pusaran energi Yin berwarna merah darah yang sangat pekat dan mematikan.
Ia menempelkan telapak tangannya tepat ke atas ubun-ubun kepala Chu Yan, memulai proses ekstraksi jiwa yang paling brutal dan menyakitkan.
Berbeda dengan saat ia menyerap jiwa musuh lainnya secara cepat, Lin Ye sengaja melambatkan proses penarikan jiwa Chu Yan agar pria itu bisa merasakan setiap robekan di dalam kesadarannya.
Chu Yan menjerit histeris dengan suara yang sangat panjang dan memilukan, suaranya terdengar seperti roh penasaran yang sedang direbus di dalam kuali neraka tingkat terdalam.
Urat-urat biru menonjol keluar di sekujur wajahnya yang pucat pasi, sementara kedua bola matanya berputar ke atas menyisakan bagian putih yang dipenuhi garis darah.
Tubuhnya kejang-kejang dengan sangat hebat di bawah cengkeraman Lin Ye, kuku-kuku jarinya menggaruk tanah berbatu hingga patah dan berdarah karena tidak sanggup menahan siksaan tersebut.
Energi kehidupan dan sisa-sisa kesadaran Chu Yan perlahan ditarik keluar membentuk sebuah bola cahaya redup yang berteriak-teriak ketakutan.
Lin Ye menatap bola jiwa di tangannya itu dengan senyuman sinis, lalu memerintahkan sistem untuk menyegel jiwa tersebut di dalam botol giok penampung jiwa alih-alih menyerapnya.
"Sistem melaporkan: Jiwa target Chu Yan berhasil diekstrak dan disegel ke dalam Ruang Hukuman Bawah Tanah."
"Menyerap esensi kehidupan fisik target untuk dikonversi menjadi energi kultivasi murni."
Tubuh tanpa jiwa milik Chu Yan seketika mengering menjadi mumi yang mengerikan, menyisakan ekspresi ketakutan absolut yang terukir abadi di wajah keriputnya.
Lin Ye melepaskan cengkeramannya dari rambut mumi tersebut, membiarkan kepala itu terbentur ke atas tanah berbatu dengan suara yang berdebuk pelan.
Ia berdiri tegak dan menarik napas dalam-dalam, merasakan energi kultivasinya kembali bergejolak hebat dan akhirnya stabil di puncak tahap ketujuh Alam Pengumpulan Qi.
Seluruh target pembalasan dendam pertamanya di pelataran luar kini telah lenyap tanpa sisa, namun ini barulah permulaan dari badai darah yang sesungguhnya.
Lin Ye menjentikkan jarinya ke udara, memberikan perintah pembatalan pada Domain Kabut Penelan Jiwa yang menyelimuti hutan bambu tersebut.
Kabut hitam pekat itu perlahan memudar dan terserap kembali ke dalam tanah, membiarkan cahaya matahari siang kembali menyinari lautan mayat dan darah yang berserakan di bawahnya.
Namun, kehangatan matahari itu tidak mampu mengusir hawa dingin mematikan yang masih tertinggal pekat di setiap sudut hutan tersebut.
Lin Ye membungkuk dan memungut pedang panjang berkualitas tinggi milik Chu Yan yang terjatuh di atas tanah.
Ia membersihkan noda darah di bilah pedang itu dengan ujung lengan jubahnya, lalu menyarungkannya ke pinggangnya sendiri dengan sangat tenang.
Pemuda itu memutar tubuhnya dan menatap lurus ke arah Puncak Awan Emas yang menjulang tinggi menembus lapisan awan di kejauhan.
Di sanalah Tetua Agung Chu Zhen berada, kakek arogan yang pasti akan segera mengetahui bahwa cucu kesayangannya telah mati dibantai layaknya seekor anjing liar.
"Tunggu aku di sana, Tetua Agung," gumam Lin Ye sambil menyeringai lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih.
"Aku akan segera mendaki gunung itu dan mengantarkan sendiri kepala cucumu ini sebagai hadiah ulang tahun kematian sekte yang kalian banggakan."
Angin siang berhembus kencang menerbangkan jubah abu-abu Lin Ye, menyebarkan aroma anyir darah dari hutan bambu itu ke seluruh penjuru Sekte Pedang Surgawi.
Langkah kaki sang Kaisar Dunia Bawah baru saja dimulai, dan tidak akan ada satu kekuatan pun di Benua Awan Ilahi yang sanggup menghentikan tarian kematiannya.