Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Plot Twist Kedokteran
Koridor rumah sakit swasta klan Salvatore kembali tenggelam dalam kesunyian yang mencekam.
Waktu telah melewati pukul tiga dini hari, meninggalkan keheningan malam yang dingin di balik dinding-dinding steril berwarna putih gading.
Elvano berdiri tegak di depan pintu laboratorium utama, bersandar pada pilar beton dengan kedua tangan terbenam di saku celana kain hitamnya.
Jas mahalnya sudah kusut, dan beberapa kancing kemeja atasnya sengaja dibiarkan terbuka, menampilkan gurat-gurat urat leher yang masih menegang.
Di atas kursi tunggu tidak jauh dari sana, Alice duduk meringkuk.
Ia memeluk erat mantel wol abu-abunya, menyembunyikan wajahnya yang sembap di balik helaian rambut ikal cokelat mudanya yang berantakan.
Rasa lelah, mual, dan guncangan emosional setelah interogasi kejam malam tadi membuat energinya terkuras habis.
Namun, ia menolak untuk memejamkan mata. Ada sebuah rasa yang menggantung di udara, menunggu selembar kertas yang akan menentukan nasib hidupnya dan janin di dalam rahimnya.
KLIK.
Suara pintu laboratorium yang terbuka dengan sentakan kasar memecah kesunyian koridor.
Dokter Hendra melangkah keluar dari dalam ruangan steril tersebut.
Namun, pemandangan yang tersaji di depan mata Elvano seketika membuat sang Bos Mafia menegakkan tubuhnya dengan waspada.
Wajah Dokter Hendra yang biasanya selalu tenang dan penuh wibawa, kini tampak pucat pasi, bagai seluruh darah telah tersedot habis dari permukaan kulitnya.
Butiran keringat dingin membasahi dahinya yang berkerut dalam, dan sepasang tangan yang biasanya begitu tenang saat memegang pisau bedah, kini bergetar hebat saat menggenggam selembar dokumen tebal berlogo hologram klan Salvatore.
"T-Tuan Besar..." suara Dokter Hendra terdengar parau, tercekat di tenggorokan saat ia membungkuk hormat dengan tubuh yang sedikit limbung.
Elvano melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka dalam dua langkah besar.
Aura dominasinya yang pekat langsung mengurung sang dokter.
"Bagaimana hasilnya, Hendra? Katakan padaku bahwa perkiraan awalmu tadi tidak salah."
Dokter Hendra menelan ludah dengan susah payah, mengangkat kepalanya untuk menatap langsung ke dalam sepasang manik cokelat gelap Elvano yang berkilat tajam.
"Hasil tes kecocokan genetik, analisis kromosom, dan pemetaan enzim yang baru saja selesai diproses oleh mesin DNA tercepat kita... Ini... ini adalah sebuah kegilaan medis, Tuan Besar. Sepanjang tiga puluh tahun saya berkecimpung di dunia kedokteran, saya belum pernah melihat fenomena seperti ini."
Elvano mengencangkan rahangnya, ketidaksabarannya mulai meningkat tajam.
"Jangan berbelit-belit dengan bahasa medismu. Berikan aku intinya."
Dokter Hendra menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya sendiri sebelum membuka lembaran dokumen di tangannya.
"Vonis mandul yang Anda terima sepuluh tahun lalu di Milan... secara formal tidak salah, namun tidak sepenuhnya akurat secara modern," Dokter Hendra memulai penjelasan ilmiahnya dengan suara yang bergetar.
"Kondisi tubuh Anda pasca-trauma fisik masa remaja menciptakan sebuah keanehan reproduksi yang sangat langka yang disebut Extreme Oligoasthenoteratozoospermia with Specific Enzymatic Block. Kualitas, jumlah, dan motilitas sel sperma Anda memang berada di bawah angka 0,1 persen, secara medis dikategorikan sebagai mandul total karena mereka tidak memiliki energi yang cukup untuk menembus dinding sel telur normal."
Dokter Hendra membalik halaman dokumen, menampilkan grafik rantai protein yang rumit dengan pendaran warna merah dan biru yang saling mengunci.
"Namun, analisis laboratorium terhadap sampel darah Nona Alice malam ini membongkar sebuah hal yang luar biasa. Sel telur milik Nona Alice memiliki kondisi genetik yang tidak kalah unik, dan langka di dunia," Dokter Hendra menunjuk grafik tersebut dengan jari yang masih gemetar.
"Secara sederhana, Tuan Besar... sel sperma Anda yang lemah itu, seumur hidupnya, tidak akan pernah bisa membuahi sel telur dari 99,99 persen wanita di planet bumi ini. Mereka akan langsung mati sebelum bisa mendekat. Tetapi, sel telur milik Nona Alice memancarkan kecocokan enzim yang sangat cocok, Seolah-olah sel telur itu memiliki 'kunci' yang pas dan sengaja diciptakan hanya untuk menyambut sel sperma Anda. Kecocokan ini merangsang molekul protein pada benih Anda, memberikan dorongan energi instan yang melipatgandakan kekuatannya hingga mampu melakukan pembuahan secara sempurna."
Elvano mendengarkan setiap bait penjelasan ilmiah itu dengan tatapan yang perlahan melebar.
Otak Mafianya yang biasanya bekerja dengan cara perang darah, kini dipaksa menerima sebuah realitas biologis yang terasa palsu namun nyata di atas kertas laboratorium.
"Apa maksud dari semua omong kosong ini, Hendra?" tanya Elvano, suaranya merendah, bergetar oleh rasa takjub yang teramat besar dan melumpuhkan egonya.
Dokter Hendra menatap Elvano dengan tatapan penuh kekaguman medis yang mendalam.
"Maksudnya, Tuan Besar... Anda tidak mandul total. Anda hanya memiliki satu peluang dari miliaran manusia. Dan secara ajaib, satu-satunya peluang itu berada di dalam tubuh wanita yang saat ini Anda bawa ke rumah sakit ini. Nona Alice Gracellyn... adalah satu-satunya wanita di dunia ini yang memiliki kecocokan genetik untuk bisa mengandung darah daging Anda. Jika Anda berhubungan dengan wanita lain, tidak akan pernah ada kehamilan. Hanya Alice yang bisa melahirkan anak anda, Tuan Elvano."
Hanya Alice.
Satu-satunya wanita di dunia yang bisa hamil anak Elvano.
Kalimat terakhir dari Dokter Hendra bergema di dalam kepala Elvano bagai dentangan lonceng raksasa yang meruntuhkan seluruh keyakinan kelamnya selama sepuluh tahun terakhir.
Rasa bersalah yang teramat dalam dan menyakitkan seketika menusuk ulu hatinya saat mengingat bagaimana kasarnya ia mencengkeram rahang Alice dan menuduhnya sebagai pelacur dan pengkhianat beberapa jam lalu di dalam kamar.
Elvano perlahan memutar tubuhnya, memalingkan wajahnya dari Dokter Hendra untuk menatap sosok Alice yang masih duduk meringkuk di kursi tunggu.
Gadis itu menatapnya dengan manik hazel yang sayu, dipenuhi rasa putus asa, seorang tawanan yang tidak tahu bahwa kondisi tubuhnya baru saja dinyatakan sebagai satu-satunya keajaiban bagi sang Bos Mafia.
Dinding es di dalam hati Elvano yang membeku selama belasan tahun kini hancur lebur tanpa sisa, digantikan oleh obsesi baru yang jauh lebih menggebu.
Sifat posesifnya yang semula hanya didasari oleh ketakutan akan kehilangan wanita yang dicintainya, kini berubah menjadi sebuah keyakinan bahwa Alice bukan lagi sekadar tawanan.
Alice adalah belahan jiwanya yang telah digariskan oleh semesta.
Elvano melangkah perlahan mendekati Alice.
Setiap derap langkah kakinya kini tidak lagi membawa ancaman kematian, melainkan sebuah ketundukan dari seorang raja yang baru saja menemukan mahkotanya yang hilang.
Ia berlutut di hadapan Alice, menurunkan tubuh tegapnya hingga sejajar dengan posisi duduk gadis itu, sebuah gestur merendahkan diri yang tidak akan pernah ia lakukan di depan manusia mana pun di dunia ini.
Tangan besar Elvano yang berurat tegas bergerak maju, meraih sepasang tangan kecil Alice yang terasa sangat dingin dan gemetar.
Ia menggenggamnya dengan kelembutan, lalu membawa kedua tangan itu ke bibirnya, mengecupnya berkali-kali dengan penuh pemujaan.
"Maafkan aku, Alice... demi Tuhan, maafkan aku..." bisik Elvano, suaranya parau, dahi tegapnya ditempelkan pada punggung tangan Alice yang mungil.
Ada sebuah getaran rasa yang te begitu pekat dalam nada suaranya.
Alice tertegun, menatap ubun-ubun rambut hitam Elvano dengan dahi berkerut bingung.
Ia belum memahami penjelasan medis yang disampaikan Dokter Hendra tadi, namun melihat perubahan drastis pada pria yang beberapa jam lalu menginterogasinya ini, ada rasa lega yang aneh di dalam dadanya.
Elvano mendongak, menatap langsung ke dalam manik hazel Alice dengan kilatan mata yang dipenuhi oleh kegilaan obsesi yang kian menjadi-jadi.
"Kau adalah milikku, Alice. Seluruh tubuhmu, setiap sel di dalam rahimmu... semuanya diciptakan hanya untukku. Kau tidak akan pernah bisa pergi dari sisiku seumur hidupmu, karena kau adalah satu-satunya wanita yang ditakdirkan untuk membawa penerus takhtaku."