Sebuah kerajaan terbesar punya misi menangkap semua petarung liar untuk kedamaian. Namun semua perguruan seni bertarung pedang menolaknya. Karena mereka tahu kalau kerajaan ingin mengatur masyarakat dengan menguasai sumber daya.
Sepasang pendekar pedang ini menjadi penyelamat untuk melawan sebuah kerajaan besar. Mereka melakukan perjalanan bersama untuk mengumpulkan rahasia teknik pedang tersembunyi dan dua pedang Sakti.
Pedang Zen Xi di Desa Win, lalu pedang Zoi Chu di Desa Hon. Namun mereka harus melewati rintangan dan tempat untuk bisa sampai di tujuan. Lalu mereka kembali untuk mengalahkan Kerajaan Sinpor.
Setelah masalah Kerajaan Sinpor selesai, kisah cinta mereka berdua sempat mendapatkan penolakan dari orang tua perempuan, karena perbedaan kelas sosial. Namun mereka berdua punya cara agar mereka berdua bisa menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firdaus Rangkuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyusup
Suara gemuruh terdengar saat Rio menjelaskan kepada Jinsin. Rio melihat ke langit, lalu melihat wajah Jinsin.
"Lanjutkan, Rio." ucap Jinsin
"Aku membayangkan saat tidak sengaja mengintip kamu. Lalu tertawa saat tidak sengaja melihat kamu mandi dan berpakaian. Dan aku suka saat kamu memakai handuk saat keluar dari kamar mandi terakhir, Jinsin." Rio menatap Jinsin berwajah malu, lalu menunduk kepala.
"Ooh jadi kau masih membayangkan tubuh ku ya?" ucap Jinsin berbicara sambil tersenyum.
"Iya." Rio memegang wajahnya sambil tersenyum panik.
"Kau ini masih membayangkan aku!" ucap Jinsin.
"Plaaaak.."
Jinsin memukul kepala Rio, lalu dia kesakitan jongkok di tengah hujan. Jinsin mendorong jidat Rio saat jongkok sampai terjatuh ke belakang.
"Aduh, aduh sakitnya." ucap Rio.
Jinsin lalu masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintu depan dengan keras. Rio mendengar itu kaget dan melihat pintu itu sambil memegang kepalanya yang sakit. Pagi hari, Rio dan Jinsin sudah pamitan kepada warga desa untuk melanjutkan perjalanan. Tugas Rio dalam memulihkan keadaan Desa Zou sudah selesai. Tahanan Johen di lepas oleh Rio sebelum pagi.
"Tetua, tugas saya sudah selesai. Izin pamit." ucap Rio berdiri bersama Jinsin.
"Sama-sama, anak muda." ucap Tetua tersenyum melihat mereka berdua.
Para warga desa juga berkumpul untuk melihat dan mengantar mereka berdua di gerbang desa. Para petarung sudah di berikan arahan untuk tidak berada di Desa Zou. Mereka semua di suruh untuk melanjutkan perjalanan ke desa atau tempat lain secara terpisah untuk tujuan yang baik. Johin juga sudah di lepas oleh Rio dan Jinsin untuk berhenti bertarung dan tidak membawa benda apapun kecuali bekal perjalanan untuk menempuh hidup baru di desa lain.
Desa Zou dan desa sebelum di datangi oleh mereka berdua juga di berikan pelatihan khusus untuk menjaga desa dalam latihan dasar bertarung. Lalu warga desa juga di berikan kemampuan untuk melawan para penguasa dengan senjata seadanya.
"Oke, kami pamit ya." ucap Rio berjalan lebih dulu sambil melambaikan tangan kanan, keluar gerbang meninggalkan Jinsin berdiri sama tetua.
"Hei, Rio tunggu aku." ucap Jinsin pamit ke tetua lalu menyusulnya dengan berlari.
"Aku akan pergi.. meninggalkan desa yang sudah aman ini..." ucap Rio bernyanyi. Para warga desa tersenyum melihat Rio dan Jinsin meninggalkan desa dengan mendengar suara nyanyian Rio.
Rio akhirnya melanjutkan perjalanan ke sebuah desa. Di sana. Ada sebuah pedang cantik yang dapat di gunakan oleh Rio dalam meningkatkan kemampuan bertarung. Ada juga gulungan untuk berlatih dalam teknik bertarung yang baik. Desa itu cukup jauh dari Desa Zou. Dia harus keluar dari hutan dengan cara memutar melewati pertahanan prajurit kerajaan.
"Kau akan kesana, Rio?" tanya Jinsin berjalan di depannya.
"Benar, kita banyak melalui pertarungan yang besar. Jadi kita harus bergegas cepat dengan berlari keluar dari hutan yang luas ini." ucap Rio kepada Jinsin.
Mereka berdua pun berlari bersama agar perjalanan mereka cepat sampai. Jinsin mengikuti dari belakang melihat punggung Rio, di tutup ransel dengan model rambut di belakang yang cantik. Setelah mereka melakukan perjalanan yang jauh, mereka sampai di sebuah desa yang tidak pernah di periksa oleh penjaga. Jinsin berjalan bersama Rio melihat banyak warga desa yang padat sekali melakukan aktivitas berdagang. Mereka membeli barang dagangan tepat di pinggir jalan di pintu masuk.
"Di pilih. Di pilih buahnya."
"Ayo di pilih kainnya."
Suara para pedagang pasar yang cukup ribut di telinga Rio dan Jinsin sedang berjalan ke dalam desa melihat-lihat.
"Desa apa ini, Rio." tanya Jinsin.
"Desa Win. Ini tempat kita datangi, Jinsin." ucap Rio berjalan membelakanginya Jinsin.
Mereka berdua masuk ke dalam gang sepi. Lalu Rio berdiri menatap langit di kelilingi bangunan tinggi di antara gang kecil dan tidak terkena sinar matahari.
"Kau mau ngapain, Rio?" tanya Jinsin berdiri di depannya.
"Aku akan melompat. Hap. Hap. Hap." ucap Rio memanjat dia bangunan di antara gang. Lalu Rio sampai di sebuah atap bangunan yang tinggi. Jinsin melihat dari bawah. Rio berdiri mencari bangunan di desa yang luas dari atas.
"Oh di sana rupanya." Rio melihat ada sebuah bangunan putih yang sangat tinggi di dekat Rio berdiri. Lalu Rio turun kembali dengan melompat langsung ke bawah tepat di hadapan Jinsin dengan mendarat jongkok.
"Kau sudah menemukan tempatnya, Rio?" tanya Jinsin berdiri melipat kedua tangan.
"Benar, kita ke sana." ucap Rio.
Mereka berdua berjalan menuju bangunan putih berada di dekat sini. Mereka melewati para pejalan kaki desa yang ramai dengan menyelip. Lalu mereka pun sampai di sebuah bangunan putih dengan bersembunyi di balik tembok sambil mengintip keadaan di dalam.
"Desa ini di jaga, Rio." ucap Jinsin mengintip.
Rio melihat keadaan bangunan putih dengan mengintip sekeliling. Dia melihat ada sebuah bendera putih berkibar di menara bangunan paling tinggi. Rio menatap menara itu dengan mencipitkan matanya.
"Di sana tempatnya." ucap Rio.
"Kau yakin di sana, Rio?" tanya Jinsin.
"Benar, sebaiknya kamu bersiap" ucap Rio berdiri di balik tembok untuk bersembunyi.
Mereka berdua pergi mencari ke tempat penginapan untuk meletakkan barang bawaan. Setelah mereka mendapat kamar, mereka berdua mempersiapkan diri untuk membawa senjata di perlukan di dalam satu kamar. Malam telah tiba, mereka berdua berdiri di balik tembok itu dengan memakai penutup wajah hitam.
"Kau siap?" tanya Rio.
"Siap." jawab Jinsin menatap mata Rio dengan tajam. Rio melempar sebuah tali sudah di lilit tempat sangkutan untuk di tembok untuk memanjat ke atas gedung.
"Sring."
"Ayo, Jinsin." ucap Rio menarik tali melihat ke atas.
Rio pertama memanjat ke atas, lalu bergilir oleh Jinsin memanjat berikutnya. Dia di atas melihat situasi sambil menjaga cagak. Setelah sampai di atas, mereka berdua berlari membungkuk ke arah menara itu. Para penjaga menara sedang berdiri melihat situasi dengan memegang pedang dan baju pelindung. Rio sendirian melumpuhkannya dengan mencekik dan menutup mulutnya sampai dia tidak sadarkan diri.
"Aman, ayo Jinsin." ucap Rio bicara perlahan.
Rio membuka pintu kayu menara dengan perlahan. Lalu mereka turun ke bawah dengan berjalan turun memegang tangga besi yang lengket di tembok. Setelah mereka turun melewati tangga yang tinggi. Mereka berdua berdiri di lorong yang di terangi oleh api unggun. Mereka berdua berjalan mengendap melihat situasi. Di sana Rio melihat dia penjaga sedang berdiri di lorong.
"Kau siap Jinsin?" tanya Rio.
"Siap." Jinsin mengeluarkan pedang kecil di tangan kanan menatap tajam Rio.
"Owww."
"Owww." mereka berdua berhasil melumpuhkan penjaga itu dari belakang. Lalu mereka menarik tubuh penjaga itu ke sudut dekat tangga menara.
"Ayo, Jinsin." ucap Rio. mereka berlari menuju lorong kanan di kelilingi oleh api unggun yang di letakkan di tembok untuk menerangkan jalan lorong.
"Kau tahu tempatnya, Rio?" tanya Jinsin sambil berlari di depannya.
"Ya, aku tahu." ucap Rio menjawab.