Berawal dari petaka sebuah konser band terkenal, seorang gadis harus membuatnya menerima reward besar karena baru putus cinta. Gadis itu tidak tau bahwa dirinya sedang di kerjai teman kuliahnya hingga membuat seorang Letnan terkena imbasnya.
Disisi lain, akibat petaka tak sengaja, sang Letnan terpaksa harus menanggung akibatnya. Bukan hal mudah menaklukan hati pria yang ternyata adalah Abang dari gadis tersebut, namun pada kenyataannya, lebih sulit menaklukan gadis yang tiba-tiba masuk dalam hidupnya tanpa permisi, apalagi jejak kehidupannya kini di mulai pada wilayah dengan resiko yang cukup tinggi, wilayah yang bisa di katakan rawan, KARANG HITAM.
KONFLIK.. Harap SKIP bagi yang tidak bisa ber KONFLIK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Perdebatan yang belum usai.
Suasana ruang tamu mendadak hening, hanya terdengar detak jam dinding yang berdentang teratur. Kata-kata Bang Riegan menggantung di udara, menusuk telinga semua orang yang hadir. Phia menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca, tak menyangka lelaki itu mengakuinya dengan lantang, tanpa rasa malu sedikit pun.
Bang Reigar masih diam, cangkir kopi di genggamannya sudah terasa dingin, namun ia tak beranjak untuk meneguknya lagi. Tatapannya tajam, menusuk tepat ke dalam mata Bang Riegan seolah ingin membaca setiap sudut hati lelaki itu. Hatinya sendiri bergolak, ia tak bisa menyangkal ketulusan dan tanggung jawab yang ditunjukkan lelaki itu pada Phia.
"Kau berani mengatakannya dengan lantang, Okee.." suara Bang Reigar akhirnya terdengar, rendah namun sarat akan ketegasan. Ia meletakkan cangkirnya dengan agak keras di atas meja, menimbulkan bunyi yang membuat Phia sedikit terkejut. "Lalu..... Kau pikir dengan mengakuinya, semua masalah selesai begitu saja? Asal-usul yang kelam itu tidak bisa kau hapus hanya dengan kata-katamu itu, Riegan. Masalahmu akan terus mengikuti langkahmu, dan suatu saat nanti bisa menyeret Phia serta anak yang dikandungnya ke dalam masalah yang tak terduga."
Bang Riegan mengangkat wajahnya, matanya masih terlihat sedikit basah. "Saya sadari hal itu, Bang. Saya tidak akan lari dari kenyataan. Tapi yang saya tau, darah bukanlah satu-satunya yang menentukan karakter seseorang. Orang tua yang membuang saya bukanlah guru bagi hidup saya. Yang mengajari saya arti kejujuran, keberanian, dan kasih sayang adalah Papa dan Mama yang membesarkan saya. Dan jika saya harus menanggung beban masa lalu itu, biarlah saya sendiri yang memikulnya, saya berjanji tidak akan membiarkan beban itu jatuh menimpa Phia dan anak-anak kami, nantinya."
"Janji.. Janji yang sangat mudah diucapkan, tapi sulit untuk ditepati." Bentak Bang Reigar tiba-tiba, suaranya kembali meninggi. Ia berdiri dari kursinya, melangkah mendekat hingga jaraknya hanya beberapa langkah dari adik iparnya. "Kau pikir dengan mengambil anak dari panti itu juga, kau bisa menebus rasa bersalahmu sendiri? Kau ingin membuktikan pada dirimu sendiri bahwa kau bisa menjadi ayah yang baik, padahal kau belum sepenuhnya bisa menjamin keamanan dan ketenangan rumah tanggamu sendiri. Satu lagi.. Apa ada jaminan kau akan terus bersama Phia??"
Tangan Bang Reigar terkepal kuat. Di luar ia terlihat sangat marah, namun di dalam hatinya ada rasa sesak yang ia sembunyikan rapat. Ia melihat keteguhan di mata Bang Riegan, sebuah keteguhan yang dulu pernah ia miliki saat memulai hidupnya sendiri. Tanpa sadar, rasa hormat mulai tumbuh, namun harga dirinya dan rasa khawatirnya pada adiknya membuat ia tak ingin mengakuinya secara terang-terangan.
"Anak itu tidak bersalah, Bang," jawab Bang Riegan tenang, meski nadanya tegas. "Saya melihat diri saya sendiri di dalam dirinya. Jika saya membiarkannya terlantar, rasanya sama saja saya membiarkan nasib buruk terulang kembali. Saya tidak memaksakan apapun pada Phia, saya akan mengurus sepenuhnya, menjaganya agar tidak mengganggu kesehatan dan ketenangan istri saya. Tapi tolong, beri saya kesempatan untuk membuktikan bahwa saya bisa menjadi pelindung yang baik bagi mereka semua."
Bang Reigar terdiam. Ia memalingkan wajah, memandang keluar jendela yang terbuka. Angin sore menerpa wajahnya, sedikit mendinginkan amarah yang meluap. Di hatinya ia mengakui.. Pria di hadapannya itu berbeda dengan yang ia duga. Ia bukan pemalas, bukan pengecut, dan yang paling penting, ia memiliki hati yang besar, sesuatu yang jarang dimiliki orang lain.
Bang Reigar melangkah mendekat, ia menatap lurus ke mata Bang Riegan.
"Jika satu hari saja Phia merasa terbebani, menangis, kesehatan kehamilannya terganggu, atau jika ada masalah yang datang dari anak itu dan menyentuh keselamatan keluarga ini, saya tidak akan tinggal diam. Saya akan mengambil alih semuanya, dan kau..... Saya pastikan kehilangan segalanya. Kau mengerti?"
Di balik kalimat ancaman itu, terselip perhatian yang tak terucap. Ia sudah menerima keputusan itu dalam hatinya, namun tetap harus memasang tembok agar Riegan lalai dalam menjaga Phia.
Phia hendak bereaksi, tapi Bang Riegan mencegahnya dan mengarahkannya untuk tenang.
"Siap.. Saya mengerti, Bang. Terima kasih."
"Kata terima kasih itu terlalu cepat. Kau ingat, Riegan.. Jangan pernah mengecawakan kepercayaan yang saya berikan. Saya hanya ingin Phia bahagia. Jika kau bisa mewujudkannya, maka asal-usulmu yang kacau itu mungkin bukan hal yang mengganggu pikiran saya." Kata Bang Reigar.
"Ucapanmu itu benar-benar keterlaluan, Kang." Tegur Pak Putra.
"Lalu saya harus bagaimana, Phia ini adik saya. Sejak kecil saya menjaganya, membesarkannya seperti anak saya sendiri. Kau punya anak perempuan juga, kan?? Apa kau tidak paham perasaan saya??" Jawab Bang Reigar.
"Ijin, Om. Maaf saya ikut menyela. Benar kata Abang saya.. Kita terlahir dari rahim siapa, juga bukan penentu karakter manusia. Tapi seorang pria pasti akan tumbuh seiring sejalan dengan siapa pendidiknya. Saya yang menjamin, Abang saya bukanlah orang sembarangan." Ujar Bang Bais.
"Kenapa Phia tidak bertemu kamu saja sejak awal. Saya benar masih belum ikhlas, Phia hamil anak laki-laki itu. Setidaknya kamu tidak menghancurkan masa depan perempuan." Kata Bang Reigar.
.
.
.
.
lanjut mba Nara👍👍
Bang Jan...udah beri bang Hernad pencerahan tp knp jadinya kyk gini😄😄🤭
kocak ini ...lanjut mba Nara👍
lanjut mba nara🤭
semangat jg buat mba Nara👍