Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. SBR
...~•Happy Reading•~...
Selama ini sikap Gevaro yang tidak mengenalnya dan bijaksana dalam setiap keputusan, membuat Janet ragu-ragu dan menahan diri untuk mengatakan sesuatu yang kasar padanya secara terbuka.
Bahkan beberapa saat sebelumnya dia mengatakan pada dirinya sendiri, sudah tidak menyimpan rasa marah lagi padanya karena telah mengangkat Reni, teman baiknya menggantikan Bu Letti.
Namun setelah tahu Gevaro bukan Devan, orang yang menjadikan dia seperti tebu, habis manis sepah dibuang. Dan bersikap seakan tidak menyakitinya, bahkan mengatakan tidak mengenalnya. Membuat hatinya panas dan amarahnya seperti api di tempat pembakaran.
"Jangan ditanggapi. Tolong telpon office boy untuk bersihkan ruang kerja boss." Jensen mencegah Janet memaki Devan.
"Baik, Pak." Mata Janet meredup. Dia tidak melihat Devan, agar emosinya tidak terpancing.
Dia jadi memikirkan kedua pimpinannya yang tidak jadi minum kopi. Dia segera kembali ke ruang kerja untuk menelpon office boy.
~▪︎▪︎
Jensen yang melihat sikap Devan kepada Janet dan mendengar pertengkaran dengan bossnya, makin tidak respect kepada Devan yang tidak peduli dengan perasaan orang lain.
"Pak Devan, jangan terulang lagi seperti ini. Sudah cukup mengganggu Pak Devin, dengan menyamar sebagai beliau." Jensen memberi peringatan, sebab tahu yang sering dilakukan Devan untuk mengganggu bahkan merusak reputasi bossnya.
"Kau mengancam saya?" Devan jadi marah mendengar teguran Jensen, saat masuk ke dalam lift.
"Bukan mengancam, Pak. Hanya mengingatkan, karna setiap orang punya batas kesabaran untuk tidak membalas. Sekarang kesabaran boss saya setipis kertas." Ucapan Jensen membuat Devan mengepalkan tangan.
Tapi dia tidak bisa membalas Jensen, sebab berada dalam gedung kantor orang lain. Dia tidak mau terjadi keributan yang mengakibatkan berhadapan dengan amarah Gevaro.
Setelah mengantar Devan sampai di depan lobby, Jensen menelpon kepala keamanan.
"Pak Sony, tolong bawa rekaman cctv hari ini. Saya tunggu di lobby." Pinta Jensen.
"Siap, Pak. Segera." Sony bersikap sigap. Dia yakin sedang terjadi sesuatu, hingga asisten CEO meminta rekaman cctv.
Tidak lama kemudian dia berjalan cepat mendekati Jensen yang sedang mengotak-atik ponsel. "Ini cctv yang diminta, Pak." Sony mengulurkan tangan.
"Pegang saja. Mari ikut saya ke ruang kerja CEO. Ada yang mau beliau bicarakan secara pribadi." Jensen tidak terima rekaman cctv. Dia ingin bossnya yang akan mengatakan langsung kepada Sony. Tapi saat berada dalam lift, dia berikan sedikit gambaran tentang situasi yang akan dibahas oleh bossnya.
Ketika tiba di ruang kerja, dia merasa lega melihat lantai sudah bersih dan bossnya sedang berdiri di jendela sambil minum air mineral. "Pak, ini Pak Sony dari bagian keamanan." Jensen memberitahukan, agar bossnya tahu, dia sudah datang dengan Sony.
"Ini rekaman cctv hari ini, Pak." Sony menyerahkan rekaman cctv kepada Gevaro yang sudah berbalik dan berjalan ke kursinya.
"Baik, berikan kepada Pak Jensen. Dan Pak Sony tetap di sini." Ucap Gevaro sambil berpikir. "Pak Jensen, tolong email rekamannya ke saya. Kita periksa kedatangan Devan." Perintah Gevaro lagi.
"Baik, Pak." Jensen melakukan permintaan bossnya. Gevaro juga melakukan hal yang sama, membuka laptop untuk memeriksa cctv gedung kantor.
"Pak Jansen, lihat depan lobby." Ucap Gevaro saat melihat Devan turun dari mobil. "Pak Sony, tandai mobil itu. Jika pihak keamanan melihat mobil itu ada di sekitar gedung ini, beritahu Pak Jensen." Gevaro mulai memberikan perintah khusus kepada Sony.
"Pak Sony lihat orang yang bicara dengan security di lobby. Itu terakhir kali security membantunya dengan memberikan akses ke atas..." Gevaro menjelaskan sambil Jensen menunjuk Devan di lobby.
"Pak, apa'kah ini bukan bapak?" Sony bertanya sambil melihat wajah bossnya dengan heran.
"Kami kembar identik, sangat mirip. Jadi hati-hati kalau dia menyamar lagi. Saya punya akses gedung ini, jadi tidak perlu minta bantuan security."
"Kalau saya lupa ID card, saya akan minta tolong asisten atau sekretaris saya. Bukan security...." Gevaro menjelaskan yang harus dilakukan pihak keamanan terhadap Devan.
"Siap, Pak. Laksanakan." Jawab Sony setelah mendengar penjelasan Gevaro dan Jensen.
Setelah Sony meninggalkan ruang kerja, Gevaro menarik nafas panjang. "Kelakuannya tidak berubah. Sekarang jadi tahu, bukan cuma praduga kalau mereka lakukan sabotase di perusahaan sebelumnya dan sebelumnya dan sebelumnya."
"Iya, Pak. Bukan cuma tebakan. Mereka mungkin sudah tahu tangan dingin Pak Gevaro menjalankan bisnis. Jadi mereka ingin bapak menjalankan bisnis keluarga." Jensen mengatakan yang dia pikirkan.
"Ingin saya jalankan, lalu dia nikmati hasil sambil ongkang-ongkang kaki dengan status sebagai pewaris?" Gevaro menyandarkan punggung sambil menghembuskan nafas kuat.
"Mungkin itu aku bisa lakukan di masa lalu, karena mengira tidak ada perbedaan perlakuan. Tetapi setelah Papi pergi, semua sudah tidak sama lagi." Gevaro jadi ingat hubungan keluarga mereka yang seperti benang kusut.
"Sudah'lah. Tidak usah pikirkan masa lalu yang bikin pusing dan sakit kepala. Kita fokus pada yang terjadi sekarang." Gevaro mengibaskan tangan, seakan sedang menghalau masa lalunya yang rumit.
"Bagaimana kondisi Janet di luar? Atau dia sudah pulang?" Gevaro jadi ingat Janet.
"Masih di luar, Pak. Tadi sempat beradu mulut dengan Pak Devan..." Jensen menceritakan yang dikatakan Devan dan dibalas oleh Janet.
"Dia cuma pikirkan kesenangan, tanpa berpikir dampaknya pada masa depannya dan perusahaan. Dia lupa kalau ada orang yang terus belajar, berkembang dan bisa menggilasnya." Gevaro mengatakan sambil menggeleng.
'Apa jadinya dia dan bisnisnya, jika Janet benar melakukan ancamannya?' Gevaro membatin.
Gevaro meletakan kedua lengannya di atas meja. "Tolong panggil Janet ke sini dan kau tinggal di sini juga, agar tahu persoalannya. Kita akan cari solusi yang baik untuk situasi ini."
"Siap, Pak." Jensen segera mengetik di ponselnya. Tidak lama kemudian terdengar bunyi ketokan di pintu. Jensen membuka pintu dan mempersilahkan Janet masuk.
Sejenak Janet berdiri di depan pintu setelah Jensen menutup pintu. Kehadiran Janet di dalam ruang kerja Gevaro menghadirkan aura yang berbeda. Mereka jadi canggung oleh situasi yang baru terjadi.
"Janet, ada apa dengan wajahmu? Angkat wajahmu." Gevaro memecah kebisuan yang tercipta karena pertengkaran dengan Devan dan Janet tahu kebenarannya.
"Pak, sebelumnya saya minta maaf untuk semua kelakuan saya yang disengaja atau tidak. Semua kata yang diucapkan atau tidak." Janet berkata tanpa menatap Gevaro. Dia menautkan kedua telapak tangan di depan dada sebagai tanda dia merasa bersalah dan benar-benar minta maaf.
Janet sudah pikirkan yang akan dikatakan, sejak mengetahui Gevaro dan Devan berbeda. Dia sadar, ada banyak kata yang dia katakan di hati terhadap Gevaro yang dikira Devan.
Gevaro merasa lega mendengar yang dikatakan Janet. "Apa kau meludahi kopi saya?"
Sontak Janet mengangkat wajah melihat Gevaro. "Tidak dilakukan, Pak. Tapi sempat bertanya dalam hati, apa bapak tidak takut kopinya diludahi."
"Kenapa tidak lakukan? Bukannya kau hampir menyiram saya dengan air kotor?" Gevaro coba mencairkan suasana sebelum bicara serius.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○¤○▪︎~...