Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Malam itu.
Viona sedang menyiapkan air hangat untuk Dylan. Saat tangannya merendam ke dalam air untuk memastikan suhunya, pikirannya melayang mengingat ucapan Dylan tadi siang.
"Nona Jiang adalah adik Tuan muda. Wajar saja kalau Tuan muda ingin aku mendonorkan sebagian hatiku untuknya," batin Viona.
Ia menundukkan kepala.
"Tapi... kondisi tubuhku sudah tidak sekuat dulu. Apa yang akan terjadi kalau aku kembali mendonorkan hati?"
"Viona Lin."
Dylan yang sejak tadi berdiri di ambang pintu memperhatikan gadis itu memanggil namanya.
Namun Viona sama sekali tidak mendengar.
"Viona Lin."
Tetap tidak ada jawaban.
Dylan akhirnya melangkah masuk. Ia menghampiri Viona yang masih berjongkok di depan bathtub dengan tangan terendam di dalam air hangat.
"Viona Lin."
Kali ini suaranya terdengar lebih tegas.
"I-iya, Tuan Muda!"
Viona tersentak. Ia segera berdiri dan menatap Dylan dengan gugup.
"Airnya sudah siap."
Dylan tidak langsung menjawab.
Ia menatap Viona lekat-lekat.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Aku sudah memanggilmu berkali-kali."
Viona memaksakan senyum.
"Tidak ada apa-apa. Tuan Muda, silakan mandi dulu."
Ia hendak pergi, tetapi Dylan lebih dulu meraih pinggangnya dan menariknya hingga tubuh mereka hanya berjarak beberapa senti.
"Apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Dylan dengan suara rendah. "Katakan padaku."
Viona menggeleng pelan.
"Mungkin aku hanya kurang tidur. Tidak apa-apa."
Dylan menghela napas.
"Viona Lin, kau tidak pandai berbohong."
Pelukannya di pinggang Viona sedikit mengerat.
"Kau tidak bisa menyembunyikan apa pun dariku."
Viona menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya,
"Apakah... aku harus menjadi pendonor untuk Nona Jiang?"
Sorot mata Dylan langsung berubah.
"Siapa yang mengatakan itu?"
Viona menundukkan kepala.
"Bukankah Tuan Muda sudah berjanji kepada Tuan Jiang? Selama mereka mengakui semua kesalahan di depan media, Nona Jiang akan diizinkan menjalani operasi transplantasi hati."
Dylan mengangkat dagu Viona agar gadis itu menatapnya.
"Lalu menurutmu, aku akan mengorbankan kesehatanmu demi mereka?"
Viona terdiam.
"Kau sudah pernah mendonorkan ginjal untukku. Tubuhmu belum benar-benar pulih." Tatapan Dylan dipenuhi ketegasan. "Apa kau ingin menghabiskan organmu hanya demi menyelamatkan orang yang selama ini menyakitimu?"
"Aku..."
Viona menundukkan kepalanya. Hidungnya mulai terasa perih.
"Maaf... aku hanya berpikir, Nona Jiang adalah adik Tuan Muda. Jadi... aku mengira Tuan Muda tetap ingin aku mendonorkan hati."
Dylan menghela napas pelan.
Tangan besarnya perlahan mengusap rambut Viona yang sedikit berantakan.
"Gadis bodoh."
Viona mengangkat kepalanya. Tatapan Dylan masih sedingin biasanya, tetapi kali ini ada kelembutan yang tak bisa disembunyikan.
"Apa menurutmu, di mataku kau lebih tidak berharga daripada mereka?"
Viona terdiam.
Dylan mengangkat dagunya dengan ujung jarinya.
"Dengarkan aku baik-baik. Satu-satunya orang yang berhak memutuskan tentang tubuhmu adalah dirimu sendiri. Tidak ada siapa pun yang boleh memaksamu."
Mata Viona mulai berkaca-kaca.
"Kalau... kalau Tuan Jiang dan Nyonya Jiang memohon kepadaku... karena Nona Jiang kritis?"
"Kalau mereka memohon..." sela Dylan pelan, "aku yang akan mengusir mereka. Tidak ada yang bisa menyentuhmu lagi. Nyawamu, tubuhmu, semuanya adalah milikku."
Dylan mengusap sudut matanya yang mulai basah dengan ibu jarinya.
"Menangis lagi?"
"Aku tidak menangis."
"Bohong."
"Aku benar-benar tidak menangis."
Dylan tersenyum tipis, sesuatu yang sangat jarang terlihat.
"Kalau begitu, kenapa matamu merah?"
Viona langsung menundukkan wajah karena malu.
Dylan tertawa kecil melihat reaksi Viona.
"Viona Lin, ingat ucapanku." Tatapannya begitu serius. "Hanya aku yang berhak menentukan hidupmu. Keluarga Jiang bukan siapa-siapa lagi bagimu. Kau cukup bergantung padaku."
Setelah mengatakannya, Dylan menarik Viona ke dalam pelukannya.
Viona langsung membeku.
Pipi gadis itu memerah. Jantungnya berdetak semakin cepat.
"I-iya... aku mengerti."
Beberapa detik kemudian, Viona perlahan melepaskan diri dari pelukan Dylan.
"Tuan Muda... sebaiknya segera mandi. Nanti airnya dingin."
Tanpa berani menatap wajah Dylan lagi, Viona buru-buru keluar dari kamar mandi.
Dylan hanya memandang punggung gadis itu hingga menghilang di balik pintu.
Ia menghela napas pelan.
"Apa dia benar-benar tidak mengerti maksudku?" batin Dylan.
Viona kembali ke kamarnya.
Ia duduk di tepi ranjang sambil memeluk lututnya.
Ucapan Dylan terus terngiang di kepalanya.
"Hanya aku yang berhak menentukan hidupmu. Kau cukup bergantung padaku. Nyawamu, tubuhmu, dan semuanya adalah milikku."
Wajah Viona langsung memerah.
"Tubuhku?" batinnya bingung.
"Apa maksud Tuan Muda? Jangan-jangan... kalau nanti dia membutuhkan donor organ lagi, aku harus berikan?"
Viona menghela napas panjang.
"Kalau begitu bukankah sama saja tetap tidak aman?"
Semakin dipikirkan, ia justru semakin bingung dengan maksud Dylan.
Dua hari kemudian.
Di ruang kerja Presiden Direktur Dylan Jiang
Jay masuk setelah mendapat izin.
"Tuan, Tuan Jiang dan Nyonya Jiang ingin bertemu dengan Anda."
"Suruh mereka masuk."
"Baik, Tuan."
Tak lama kemudian, Delvin dan Moly memasuki ruangan dengan wajah yang tampak lelah.
Baru dua hari berlalu sejak konferensi pers, tetapi keduanya terlihat jauh lebih tua.
Begitu melihat Dylan yang duduk tenang di balik meja kerjanya, Delvin langsung berkata,
"Dylan, kami sudah melakukan semua yang kau minta. Kami mengakui semuanya di depan media."
Moly ikut melangkah maju.
"Kalau begitu, kenapa sampai sekarang rumah sakit masih menolak menerima Sanny? Kondisinya semakin memburuk. Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi."
Dylan menutup berkas yang sedang dibacanya, lalu menatap mereka dengan tenang.
"Aku memang sudah meminta rumah sakit menerima Sanny kembali."
Delvin dan Moly saling berpandangan.
"Kalau begitu kenapa belum ada persetujuan dari pendonor?"tanya Moly.
"Kenapa Viona hingga saat ini masih tidak ke rumah sakit? Apakah dia lupa kalau dia hanya pelayan rendahan. Dia harus menyelamatkan Sanny," ucap Delvin.