Laras demi membahagiakan ibunya yang menginginkan cucu, rela menerima suami temannya yang dijadikan barang jaminan agar bisa mendapatkan uang yang banyak.
Seiring berjalannya Waktu, Laras benar-benar jatuh cinta pada suami jaminannya yang bernama Rayyan. Demikian pula Rayyan yang ternyata amnesia karena kecelakaan dan ditemukan oleh istri pertamanya( Naya) ia jatuh cinta pada Laras.
Mengetahui suaminya ternyata kaya raya, Naya ingin kembali pada suaminya dan melakukan berbagai usaha untuk memisahkan Rayyan dan Laras.
Akankah Laras bahagia dengan Rayyan? Siapakah yang akan dipilih Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24
Sementara itu di Bali.
Insiden di Bali– tempatnya di hotel penginapan yang sempat Naya pilih untuk menghabiskan waktu bersenang-senang dengan sang kekasih gelap pun Naya abaikan. Wanita itu memilih tidak bertanggung jawab saat seorang gadis yang mana dialah satu-satunya investor diberbagai tempat pariwisata dan salah satunya hotel tersebut.
Terlebih, Veo sang penerus Hanuraksa Group. Namun untunglah saat itu Veo tidak memperpanjang maslahah dan Naya tidak perlu berurusan terlalu jauh dengan gadis itu, bahkan Naya tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk mengganti rugi sebuah tab yang tak sengaja jatuh karena kecerobohan nya yang menabrak Veo.
Diluar dari itu Naya tetap cemas jika sewaktu-waktu ia mendapat masalah seperti apa ancaman Veo hari itu. Kini Naya hanya bisa berharap agar Veo melupakan insiden hari itu dan dirinya bisa terbebas dari jerat putri tunggal Hanuraksa yang terkenal kejam tiada ampun.
Naya menatap sekelilingnya, ia dan Faro baru sampai di bandara Soekarno-Hatta — Indonesia. Tepatnya di Jakarta, liburannya di Bali tampak menyenangkan tapi tetap saja Naya gelisah akan ancaman Veo.
"Mas, sepertinya kita berpisah di sini saja. Aku lelah sekali dan ingin segera sampai rumah, mau istirahat." Naya berucap tanpa mengalihkan atensinya dari ponsel, ia hendak memesan taksi online tanpa perlu repot-repot mencari taksi yang mangkal.
"Lalu bagaimana dengan aku sayang. Kau tidak meninggalkan aku di sini, kan? Aku tidak ada uang untuk membayar angkutan, jarak rumah ku juga cukup jauh."
Entah apa yang ada di otak Naya yang lebih memilih mempunyai hubungan gelap dengan lelaki tidak bermodal seperti Faro, dibandingkan setia pada Rayyan–suaminya sendiri. Hanya karena Fero lebih memuaskan hingga membuatnya gelap mata.
Jika dibandingkan keduanya sama-sama tampan, tapi berbeda dengan Rayyan yang memang pekerja keras tanpa memandang profesi dan yang terpenting baginya ia bisa bertanggung jawab dengan sang istri.
Berbalik lagi pada Naya, wanita sepertinya tidak membutuhkan itu.
"Kamu tenang saja sayang. Aku bakal kasih uang taksi buat kamu, sebentar ya." Naya mulai merogoh tas selempangnya– mengeluarkan lima lembar uang berwarna pink yang senilai seratus ribu rupiah.
"Cukup kan sayang?" tanya Naya setelah memberikan uang tersebut pada Faro, namun tidak ada raut senang di wajah lelaki itu.
"Satu juta ya sayang? Sekalian aku kan banyak keperluan." rayu Faro nego. Ia ingin diberi lebih, toh Naya mempunyai banyak uang bahkan sampai mengajaknya liburan tanpa meminta uang sepeser pun padanya.
Mendesah kasar, mau tak mau demi cintanya pada lelaki itu pun Naya menambahkan jumlah uang seperti yang Faro inginkan.
"Nah, terima kasih ya Naya." Faro mengecup singkat pipi Naya, yang hanya dibalas senyuman manis wanita itu. Pun tak berselang lama taksi online pesanan Naya tiba, wanita itu pun beranjak masuk ke dalamnya usai berpamitan dengan sang kekasih gelap.
Menempuh jarak yang tak terlalu jauh, Naya sampai di kediamannya. Tubuhnya benar-benar lelah, terlebih dengan pikirannya yang memikirkan krisis ekonomi. Uang pemberian Laras perlahan menipis, ini semua karena dirinya boros menggunakannya untuk foya-foya.
"Huft ... Aku harus minta uang lagi sama Mbak Laras, tapi bagaimana ya, Mbak Laras kan sudah bayar full untuk satu tahun. Apa aku perpanjang kontrak nya saja ya?" gumam Naya berpikiran licik, ia tidak mempedulikan syarat Rayyan yang memutuskan sendiri akan memperpanjang atau tidak setelah kontrak selesai selama setahun.
Akan tetapi, Naya butuh uang dan akan memperpanjang kontrak pada Laras tanpa sepengetahuan dan se-izin Rayyan.
***
Hari-hari berlalu, uang yang Naya punya pun semakin menipis. Sudah hidup berkecukupan selama beberapa bulan, tentu Naya tidak akan membiarkan dirinya hidup miskin terlebih Naya tidak akan membiarkan Rayyan hidup enak bersama Laras sedangkan dirinya kekurangan uang karena uang yang diberi Laras akan habis pada akhirnya.
"Aku harus ke rumah Mbak Laras. Tidak perlu menghubunginya dulu 'lah, dia pasti ada di rumahnya sekarang kan hari Minggu dan toko butiknya pasti tutup." Naya bersiap-siap untuk meluncur ke kediaman Laras, tentunya untuk menawarkan kontrak Rayyan yang sudah ia pikirkan matang-matang.
Apapun akan Naya lakukan demi uang. Dirinya benar-benar nekat dan sudah buta akan harta.
Taksi online yang ditumpangi Naya berhenti di depan gerbang kediaman Laras. Turun dari mobil lantas Naya membayar sesuai argo, setelah itu tanpa beban sedikit pun yang bersarang di kepalanya ia berjalan memasuki halaman rumah Laras setelah mendapat pintu dari satpam penjaga gerbang kediaman Laras.
Sejenak Naya terpaku dengan megahnya rumah Laras, suatu impiannya mempunyai rumah gedungan seperti ini.
"Mbak Laras benar-benar kaya raya. Harus membuang berapa jumlah uang untuk mendapatkan rumah semegah dan mewah ini," puji Naya tak berkedip melihat ornamen kediaman Laras bak istana baginya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Naya menunggu dengan sabar seseorang di dalam sana yang akan membukakan pintu. Berharap Laras menerima kedatangannya dan langsung menerima perpanjang kontraknya. Namun, yang ia dapati bukan Laras.
Ceklek!
"Maaf, kau siapa ya? Ada keperluan apa datang ke sini?" Mak Harti– pelaku yang membukakan pintu untuk Naya. Berpikir bahwa Naya adalah costumer butik Laras karena penampilan Naya yang sedikit modis.
"Boleh saya bertemu dengan Mbak Laras? Ada hal perlu," ucap Naya yang langsung dipersilakan masuk oleh Mak Harti.
Naya mengangguk dan masuk ke dalam, pun Mak Harti yang langsung memanggil Laras.
Kening Laras mengerut tatkala mendapati Naya di ruang tamu kediamannya, ia pun mendekati wanita itu dan bertanya tujuannya datang ke sini.
"Bukankah kontraknya belum berakhir. Kenapa ingin perpanjang kontrak? Apa semua ini sudah atas persetujuan Mas Rayyan juga?" tanya Laras mengintimidasi. Pasalnya belum sampai setahun tapi Naya sudah menemuinya, tentunya untuk meminta uang perpanjang kontrak.
"Saya butuh uangnya Mbak Laras, lagipula Mas Rayyan tidak akan keberatan kok dengan ini." Naya tetap memaksa ingin kontrak tersebut diperpanjang, dan mau tak mau tanpa pikir panjang Laras hendak menyetujuinya.
"Kamu tunggu di sini sebentar, ya. Saya mau ke dalam dulu." Laras beranjak dari hadapan Naya, setelah wanita itu menganggukkan kepala. Naya tersenyum penuh arti, ia akan mendapatkan uang tambahan dan kali ini Naya akan meminta jumlah yang lebih dari sebelumnya.
Tanpa disadari, Mak Harti mencuri dengar percakapan Laras dan Naya tanpa senjata. Lantas Mak Harti pun mendekati Naya untuk mempertanyakan soal kontrak yang dimaksud Laras dan Naya, terlebih membawa-bawa nama menantunya yakni Rayyan.
"Kontrak apa yang anda maksud, Nona? Kenapa membawa-bawa nama menantu saya juga, Rayyan. Ada apa ini, apa yang ditutup-tutupi dari Mak Harti."
Naya terperanjat saat Mak Harti tiba-tiba berujar demikian di hadapannya. Naya pun meneguk Saliva nya susah payah.