Sejak kecil, Kiara hidup sebagai anak yang dibenci dan disiksa oleh keluarga yang membesarkannya. Ia tak pernah tahu bahwa semua penderitaan itu berawal dari sebuah pembunuhan yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.
Demi merebut harta dan kekuasaan, pamannya membunuh ayah kandung Kiara, mengurung ibu kandungnya selama puluhan tahun, lalu membesarkannya dengan identitas palsu.
Saat kebenaran mulai terungkap, Kiara harus merebut kembali haknya dan membalas semua dosa yang telah merenggut keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Pak Seno tersenyum tipis melihat siapa yang baru saja datang.
“Selamat sore,” sapa orang itu.
“Selamat sore juga. Apakah kau sudah membawa bukti yang dimaksud?” tanya Pak Seno.
“Sudah, Pak. Ini flashdisk-nya,” jawab orang itu sambil menyerahkan benda itu.
“Tunggu sebentar… Sepertinya aku mengenali suara itu,” sahut Vera.
“Benar juga, aku pun merasa tidak asing dengan suara itu,” tambah Bara.
“Dia adalah Aryo, orang yang Papa suruh untuk memata-matai keluarga Anton,” jelas Bu Yuni. “Maafkan kami ya, Kiara, jika kami terkesan lancang. Kami melakukan ini semua karena ingin membuktikan kepada publik bahwa bisnis Anthony Brata Anugerah tidak hanya terdiri dari perusahaan resmi dan cabang-cabangnya saja.”
“Tidak apa-apa, Tante. Justru dengan adanya bukti yang kuat seperti ini, kita bisa menyeret mereka satu per satu ke penjara,” ucap Kiara tegas.
“Baiklah, mari kita lihat apa saja yang ada di dalamnya.”
Pak Seno segera memasang flashdisk itu ke perangkat komputer. Berbagai berkas pun muncul di layar, termasuk beberapa rekaman video.
“Ini sudah cukup kuat untuk menjebloskan mereka ke balik jeruji besi,” ucap Aryo.
“Apakah kau yakin dengan semua ini? Bagaimana caranya kau bisa merekam segala aktivitas mereka?” tanya Bara penuh rasa ingin tahu.
“Aku menyamar sebagai sopir pribadi di rumah itu, dan dibantu oleh seorang teman dari kepolisian—seorang penyidik yang sangat berpengalaman. Teman itu pernah berkata bahwa ia sudah mengantongi berbagai kasus yang melibatkan Angga dan keluarga Anton, namun entah mengapa berkas beserta bukti-bukti itu tiba-tiba hilang begitu saja. Tidak jelas apakah hilang secara sengaja atau memang tersimpan di tempat yang salah,” jelas Aryo panjang lebar.
“Siapa nama temanmu itu, Bro?” tanya Ucup.
“Namanya Andre. Ia tidak bekerja sendirian dalam menangani kasus keluarga Anton; ia juga membawa rekan-rekannya yang tidak pernah terlibat dalam suap-menyuap.”
“Memang sudah biasa terjadi hal seperti itu di kepolisian sekarang. Aku sudah tidak kaget lagi,” gumam Vera sinis.
“Baiklah, sekarang bukti sudah ada di tangan kita. Dan di sini ada satu rekaman yang memperlihatkan perselingkuhan antara Risma dan Henri,” ucap Pak Seno sambil membuka salah satu berkas video.
Di layar tampak Risma dan Henri sedang duduk santai hanya mengenakan jubah mandi. Mereka menikmati minuman anggur sambil membicarakan berbagai hal: bisnis gelap yang dijalankan Angga, rencana menjadikan Angga sebagai pemilik sah Perusahaan Anugerah, serta niat untuk menyingkirkan Kiara selamanya jika suatu saat gadis itu mengetahui siapa orang tua kandungnya. Bagi mereka, keberadaan Kiara adalah ancaman terbesar bagi keselamatan dan kekuasaan Anton, Risma, maupun Henri.
Yang lebih mengejutkan, terungkap pula bahwa Angga bukanlah anak kandung Anton. Jika Anton mengetahui kenyataan itu, amarahnya pasti meledak tak terkendali. Namun Risma dan Henri sudah menyiapkan langkah: jika rahasia itu terbongkar, mereka akan membunuh Anton, bahkan Rico sekalipun jika ia berani melawan. Rencana mereka sungguh kejam: memusnahkan seluruh keturunan keluarga Prasetyo Anugerah agar seluruh harta dan perusahaan itu jatuh sepenuhnya ke tangan Angga, Risma, dan Henri.
“Aku tidak menyangka Mama Risma bisa sekejam dan sejahat itu,” gumam Kiara dengan wajah pucat.
“Inilah yang selama ini kami selidiki, Nak. Dulu almarhum Yuda-lah yang pertama kali berusaha membongkar segala kebusukan Risma, namun sayang usahanya gagal karena ia mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya,” kenang Pak Seno.
“Apakah semua ini ada hubungannya dengan almarhum Om Yuda, Pa? Kalau benar Om Yuda ingin membongkar kebusukan Tante Risma, berarti saat itu ia sudah mengetahui siapa sebenarnya Tante Risma dan Om Henri, bukan? Lalu apa tujuan mereka sampai harus berbohong dan merencanakan hal sejahat ini?” tanya Bara panjang lebar.
“Tujuan mereka tidak lain dan tidak bukan adalah menguasai seluruh harta serta menghancurkan nama baik keluarga Anugerah. Dan tentu saja ini semua tidak lepas dari kerja sama dengan Henri, yang menyimpan dendam mendalam sejak puluhan tahun lalu,” jelas Pak Seno.
“Dulu, Kakek Prasetyo pernah membatalkan kerja sama proyek pembangunan besar senilai 200 triliun yang meliputi pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, dan berbagai infrastruktur lainnya. Pembatalan itu dilakukan setelah terbukti bahwa ayah Henri telah menyalahgunakan dan menggelapkan dana proyek tersebut. Ayah Henri pun dijatuhi hukuman berat, namun menurut cerita orang-orang yang dulu bekerja dengan Kakek Prasetyo, ayah Henri akhirnya memilih mengakhiri hidupnya sendiri karena tidak kuat menanggung rasa malu dan tekanan batin,” tambah Pak Seno.
“Tapi mengapa sampai hati ia merencanakan pembunuhan terhadap seluruh anggota keluarga Anugerah, Om?” tanya Kiara bingung.
“Karena ia percaya bahwa ayahnya tidak bunuh diri, melainkan dibunuh,” jawab Pak Seno tegas.
“Baiklah, untuk saat ini kita lupakan sejenak masa lalu itu. Yang terpenting sekarang adalah mengejar mereka dan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Ucup, apa rencanamu selanjutnya?” tanya Bara sambil menatap Ucup.
“Rencanaku begini,” sahut Ucup sambil menyunggingkan senyum penuh perhitungan. “Aku dan Vera akan memantau rumah yang ada di daerah Tangerang. Sementara itu, Kiara harus memastikan keselamatan Nenek Amira dan jangan lupa selalu memberi kabar kepada Bara. Bara nantinya akan selalu berada di dekat kediaman keluarga Anton untuk berjaga-jaga, karena aku khawatir mereka akan berbuat nekat padamu, Kiara. Dan untuk Mas Aryo…” Ucup berhenti sejenak, seolah meminta persetujuan.
“Aku akan tetap bekerja sebagai sopir pribadi mereka, dan akan selalu memberi kabar terbaru kepada kalian,” lanjut Aryo. Semua yang hadir pun mengangguk setuju.
“Dan kita juga harus mencari tahu keberadaan Rafa dan menyingkirkannya. Jika Rafa sudah tidak ada, maka otomatis tidak ada lagi pihak yang melindungi keluarga Anton dari jerat hukum,” tambah Bu Yuni.
“Benar kata Mama. Bara pun setuju dengan usul itu,” sahut Bara.
“Aku juga setuju dengan Tante Yuni. Kalau begitu, kapan kita mulai bergerak?” tanya Vera tidak sabar.
“Dimulai dari aku. Aku akan kembali ke rumah itu dan bersikap seperti biasa,” jawab Kiara mantap.
“Baiklah. Aku juga akan segera kembali ke kantor, karena hari ini Pak Anton akan mengadakan rapat penting. Jika ada hal-hal yang mencurigakan, aku akan langsung memberitahumu, Kiara,” ucap Aryo.
“Kenapa harus ke Kiara? Kenapa tidak memberitahuku saja?” tanya Bara sedikit keberatan.
“Karena aku sendiri merasa curiga terhadap niat Anton, Bar. Beberapa kali aku pernah mengantar Anton ke sebuah gubuk tua yang terletak jauh dari pemukiman, di pinggir hutan, dan jaraknya cukup jauh dari pusat kota,” jawab Aryo.
“Cari tahu apa yang ada di dalam tempat itu, Aryo. Hubungi temanmu dan minta dia untuk menyelidikinya lebih lanjut,” perintah Pak Seno.
“Baik, Om.”
“Baiklah, semuanya harus berhati-hati dalam setiap langkah,” pesan Bu Yuni.
Semua orang mengangguk serempak, penuh keyakinan bahwa rencana mereka akan berjalan lancar dan keadilan akan segera ditegakkan.
Bersambung