"Naura kamu itu ngapain aja sih dari pagi, kenapa belum ada makanan, ibu sudah lapar nih" ucap seorang wanita bertubuh gemuk yang marah marah kepada menantu nya
"iya bu ini Naura baru mau masak, tadi Naura cuci baju dulu makanya belum sempat masak" ucap Naura berlari menghampiri mertua nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyranachia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
Dia takut suami nya berfikir macam macam, akhirnya saat dia sudah sampai di gang kampung nya dia memberanikan diri menaruh bayi itu di depan rumah seorang warga
suster palsu itu menggendong bayi itu dengan hati hati dan meletakkan nya di lantai, dia pun mengetuk pintu rumah warga itu
setelah mengetuk pintu itu dia berlari dan bersembunyi di balik pohon
seorang wanita bertubuh gemuk keluar dari rumah itu, dan dia terkejut melihat ada bayi di rumah nya, wanita itu pun berteriak memanggil suami dan anak nya yang masih berumur lima tahun
wanita itu adalah Marni, dia menemukan adinda di depan rumah nya, Marni pun membawa masuk bayi merah itu dan suster palsu itu pun berlari agar tidak ketahuan siapa pun, suster palsu itu berlari menuju rumah nya yang tak jauh dari rumah Marni
Di tempat bagas saat ini menatap tajam tomi dia sudah memaksa Tomi untuk mengaku di mana dia membuang anak nya
tetapi Tomi sama sekali tidak tau karena yang membawa anak bagas adalah suster palsu itu
istri Tomi sudah menangis nangis kesakitan, tubuh nya sudah penuh luka, begitu pun dengan Tomi yang tak jauh dari kondisi istri nya bahkan terbilang lebih parah dari sang istri
"sekarang terserah kalian mau di apa kan, kalau perlu buang mereka semua ke sungai, untuk anak mereka biar urusan ku " ucap bagas yang benar benar sudah habis kesabaran nya
sedangkan Tomi dan sang istri sekarang sedang ketakutan mendengar hal itu
bagas berjalan menghampiri kedua anak Tomi di ruangan lain, anak anak itu di pantau dengan ketat
anak tertua Tomi yang saat ini berumur dua belas tahun mendekat ke arah bagas "om tolong lepaskan ayah dan ibu ku, kasian adik ku om masih kecil, dia membutuhkan ayah dan ibu ku" ucap anak itu melihat ke arah sang adik yang saat ini berumur dua tahun
"kamu dan adik mu serta ibu mu akan om asingkan ke sebuah kampung yang sangat jarang penduduk nya, kamu jangan menjadi seperti ayah mu " ucap bagas dingin
dia pun memerintahkan anak buah nya untuk melepaskan istri Tomi karena kasian dengan anak anak nya yang masih sangat kecil
tetapi dengan syarat mereka semua akan di pindah kan ke kampung yang di bilang bagas
sedangkan Tomi menjadi mainan anak buah bagas, bagas sudah tidak ingin tau lagi tentang Tomi, saat ini pikiran nya sedang sangat menumpuk
"arini... pasti saat ini kamu sangat trauma sayang... aku akan ke sana menemani mu dan menghilangkan rasa trauma mu " ucap bagas sambil berjalan ke luar markas untuk menghampiri arini kembali
saat tiba di rumah sakit bagas melihat arini sedang tertidur, sedangkan Laura dan Naura sedang belajar bersama
"kalian sudah makan? " tanya bagas mengusap kepala kedua anak nya
"belum pah kami lapar, kalau mamah tadi sudah kami suapin tapi mamah tidak mau makan" ucap Laura cemberut
"yasudah tadi papah sudah pesan kan makan, nanti kalau sampai Laura ambil ke depan ya, papah mau suapin mamah dulu" ucap bagas Laura pun mengangguk
bagas membangun kan arini dan membujuk arini untuk makan, arini selalu bertanya tentang Annisa adik Naura yang hilang
tetapi bagas selalu bilang "Annisa baik baik saja mah..." itu yang selalu bagas ucap kan kepada arini
bagas berniat akan memberi tau yang sebenarnya jika arini sudah benar benar pulih, karena bagas khawatir akan berpengaruh kepada mental jiwa nya arini
bagas menyuapi arini yang mulai mau makan, laura dan Naura sedang mengambil makanan yang di pesan oleh bagas
Laura dan Naura pun masuk ke ruangan itu "bangun kan lah abang mu itu, dia juga belum makan dari tadi " ucap bagas kepada Laura
Laura pun membangunkan rafa agar makan bersama Laura dan Naura
mereka pun makan bersama dan Laura sesekali menyuapi sang ayah agar ayah nya tidak merasa lapar
"makan yang banyak ya agar kalian semua sehat" ucap bagas kepada anak anak nya
"oke papah " ucap Naura, Laura, dan Rafa bersamaan
akhirnya mereka makan sampai habis dan tak tersisa, bagas pun sedikit ada rasa senang walaupun di sisi lain dia merasa sedih juga
~•~•~•
flashback off
arini mengompres Naura, Naura terbilang jarang sakit makanya arini sedikit khawatir dengan Naura
"nanti setelah mamah kompres kamu istirahat dulu ya nau, kamu di suruh makan tidak di habis kan " ucap arini kepada Naura
"iya mah lidah ku sedang tidak enak, nanti aku akan tidur setelah ini" ucap Naura lemas
arini pun pergi ke luar kamar Naura, tetapi saat dia sedang berjalan ke arah belakang rumah tiba tiba saja dia melihat adinda yang sedang mengeringkan rambut nya di depan rumah belakang
"dinda... sedang apa dia " gumam arini dan arini pun menghampiri dinda
"kamu lagi apa dinda " ucap arini sambil tersenyum
"eh tante arini, ini aku mau siap siap berangkat kerja, sedang mengeringkan rambut dulu soalnya tadi kesiangan " ucap dinda malu
"kamu tidak usah bekerja dulu saja dinda, kemarin kan habis bantu bantu juga di sini pasti kamu cape " ucap arini kepada adinda
"kalau saya tidak bekerja saya tidak bisa segera melunasi hutang bang arif tante" ucap dinda sambil tersenyum
"halah urusan itu mah gampang, bisa di atur kamu istirahat saja dulu" ucap arini lagi
"tidak usah tante, lagian juga saya sudah sangat senang bisa bekerja di perusahaan kak Naura " ucap dinda berusaha selembut mungkin
sebenarnya dinda juga ingin istirahat apa lagi kemarin dia juga ikut membantu acara Naura
tetapi kalau dia istirahat dia tidak bisa mendapatkan uang lemburan untuk di kirim ke Marni dan arif
arini tidak sengaja melihat tanda lahir di pundak dinda "eh itu kok... " ucap arini sambil menunjuk pundak dinda
"ada apa tante? " tanya dinda kebingungan takut ada yang salah
"ah tidak apa apa dinda, kamu kalau tetep mau kerja yaudah tante tidak bisa memaksa, tante ke dalam dulu ya " ucap arini dengan wajah pucat
"i-iya tante " ucap adinda kebingungan dengan arini yang tiba tiba wajah nya memucat setelah melihat tanda lahir nya
“ada apa dengan tante arini?... ”tanya dinda dalam hati nya
dinda pun melanjutkan aktivitas nya, dia takut akan terlambat masuk kerja, dia bergegas menyelesaikan semua nya
tak lama kemudian dinda memutuskan untuk pergi bekerja, seperti biasa dia selalu pamit kepada arini dan juga bagas
saat dinda sudah pergi, arini memutuskan untuk pergi ke kamar dinda secara diam diam
arini memanggil bi sumi untuk menanyakan kunci kamar dinda
"kamu jangan bilang ke dinda ya bi, karena ada sesuatu yang harus saya selidiki " ucap arini kepada bi sumi
"iya nyonya... berarti si dinda itu adik nya nona Naura ya nyonya " ucap sumi yang memang sudah di ceritakan oleh arini, dan juga sumi sudah bekerja dengan keluarga arini sejak Naura masih kecil sekali
"ini kan saya mau cek bibi... kalau saya tau buat apa saya cek" ucap arini tersenyum
apa.bedanya rani dan tifani?