Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.
Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.
Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.
Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: SIDANG DI JAM ISTIRAHAT
Suasana di koridor gedung Satdik siang itu terasa begitu lengang. Jarum jam sudah bergerak melewati angka dua belas, menandakan ksatrian telah memasuki jam istirahat. Sebagian besar prajurit dan jajaran staf sudah berhamburan keluar untuk menunaikan ibadah salat zuhur, sementara sebagian lainnya memilih bergegas menuju kantin untuk mengisi kampung tengah yang sudah mulai keroncongan.
Di dalam ruang kerja Pasi Intel yang sunyi, Ayu duduk sendirian di balik meja kerjanya. Ia baru saja hendak menyandarkan punggungnya untuk melepas penat setelah memeriksa tumpukan berkas laporan pengamanan pendaftaran bintara baru. Namun, ketenangan singkat itu mendadak pecah ketika pintu ruangannya diketuk dua kali dengan ketukan yang tergesa-gesa, lalu langsung terbuka lebar tanpa menunggu izin darinya.
Dua sosok wanita berseragam korps Kowad melangkah masuk dengan langkah taktis namun dipenuhi aura intimidasi yang pekat. Lettu dr. Shaneen dan Lettu Yunita datang dengan wajah yang ditekuk dalam. Tanpa mengucapkan kata salam yang formal seperti biasanya, keduanya langsung berjalan cepat mendatangi meja kerja Ayu dan mengambil posisi duduk tepat di hadapannya. Kursi kayu di depan meja Ayu ditarik kasar, membuat mereka kini saling berhadapan dalam jarak dekat—menciptakan atmosfer tegang yang menyerupai sebuah ruang sidang perdana di pengadilan militer.
Ayu yang mendadak dijadikan "terdakwa" di ruangannya sendiri hanya bisa mengerutkan kening. Ia meletakkan kembali pena taktisnya, lalu melipat kedua tangannya di atas dada.
"Ada apa? Apa ada masalah internal?" tanya Ayu dengan wajah serius yang dibuat-buat, memandang kedua sahabatnya satu per satu dengan tatapan mata intelijennya yang tajam.
Lettu Yunita yang memang terkenal memiliki watak paling ceplas-ceplos dan ekspresif di antara mereka bertiga, langsung menyandarkan punggungnya ke kursi sembari mendengus kesal. Tangannya bersedekap, menatap Ayu dengan sorot mata yang sarat akan kekecewaan mendalam.
"Emang kamu sudah merasa keren gitu, menyembunyikan semuanya dari kami?" tanya Yunita dengan nada ketus dan penuh kekesalan yang kentara. "Merasa paling kuat? Merasa bisa memikul seluruh beban dunia ini sendirian di atas pundakmu yang kecil itu, Kapten Ayuni?"
Ayu sempat tertegun mendengar kalimat pembuka dari Yunita. Ia melirik ke arah Shaneen yang duduk di sebelah Yunita. Berbeda dengan Yunita yang meluapkan kekesalannya secara verbal, dr. Shaneen hanya memandang Ayu dengan sepasang mata yang berkaca-kaca, memancarkan tatapan sedih, terluka, sekaligus merasa bersalah yang teramat sangat. Sebagai sahabat yang ikut memfasilitasi izin darurat Ayu untuk pulang ke ibu kota pusat beberapa hari lalu, Shaneen merasa kecolongan karena ia baru mengetahui detail kehancuran domestik Ayu setelah semuanya benar-benar selesai di meja hijau.
Merasa tidak nyaman dengan keheningan dan tatapan penuh beban dari sang dokter, Ayu membuang muka ke arah lain, mencoba tertawa kecil untuk mengikis kecanggangan yang ada.
"Sudahlah, jangan lihat aku seperti itu, Shaneen. Apa penampilanku sekarang sudah seperti manusia yang sedang sekarat?" ucap Ayu dengan nada santai, mencoba bercanda walau hatinya sendiri terasa agak ngilu.
"Enggak, Ayu! Ini sama sekali enggak lucu!" potong Shaneen dengan suara yang bergetar menahan tangis. Wanita itu memajukan tubuhnya, menumpukan kedua tangannya di atas meja kerja Ayu. "Setidaknya... beritahu kami kalau kamu ini sedang berada dalam masalah besar. Jangan bertingkah seolah-olah kami ini orang asing yang enggak punya arti apa-apa di hidupmu! Kami ini sahabatmu, Ayu. Tempat kamu berbagi, bukan cuma penonton di saat kamu pura-pura bahagia!"
Shaneen dan Yunita sesungguhnya merasa sangat bersalah sekaligus merasa diabaikan. Mereka berdua merasa gagal menjadi sistem pendukung yang baik bagi Ayu. Mengapa di waktu-waktu paling kritis dan kacau dalam hidupnya—ketika putranya kritis hingga saat ia harus berdiri menghadapi pengkhianatan suaminya di pengadilan—Ayu justru memilih menutup diri rapat-rapat dan bertingkah seolah-olah ia tidak membutuhkan keberadaan mereka sama sekali?
Ayu menatap kedua pasang mata yang memancarkan ketulusan itu. Perlahan, topeng ketegaran yang ia pakai sejak subuh tadi mulai melorot turun. Ia mengembuskan napas panjang, membiarkan bahunya yang tegap mendadak merosot pasrah.
"Masalahnya sudah selesai, Shaneen, Yunita... Sudah keluar keputusan yang memang seharusnya dikeluarkan sejak awal," ucap Ayu dengan nada suara yang teramat lirih, merujuk pada ketukan palu hakim Pengadilan Agama yang telah meresmikan status barunya dua hari lalu.
Mendengar pengakuan yang meluncur jujur dari bibir Ayu, pertahanan emosional Shaneen dan Yunita pun ikut runtuh. Rasa kesal dan amarah yang dibawa Yunita sejak melangkah masuk ke ruangan tadi seketika menguap, digantikan oleh rasa empati dan kasih sayang yang mendalam sebagai sesama wanita dan sahabat seperjuangan.
Tanpa aba-aba, kedua wanita berseragam loreng itu langsung bangkit berdiri dari kursi masing-masing. Mereka melangkah memutari meja kerja Ayu, lalu tanpa permisi langsung menghambur memeluk tubuh tegap Ayu dengan sangat erat. Mereka mendekap Ayu dari kedua sisi, menyalurkan seluruh kehangatan dan kekuatan yang mereka miliki ke dalam tubuh sahabat mereka yang selama ini selalu berlagak kuat.
Pelukan hangat itu diberikan bukan sebagai bentuk rasa kasihan atau merendahkan harga diri Ayu sebagai seorang perwira, melainkan murni sebagai bentuk rasa empati yang paling tulus dari lubuk hati seorang sahabat. Bagaimanapun juga, di antara lingkaran pertemanan mereka, Ayu adalah sosok yang paling anti dan paling tabu untuk membahas atau mengeluhkan hal-hal jelek mengenai urusan rumah tangganya. Ayu selalu ingin terlihat sempurna. Namun siang ini, di bawah dekapan erat dua sahabat sejatinya, pertahanan terakhir Kapten Ayu akhirnya runtuh juga. Air matanya perlahan menetes membasahi kerah seragam PDL-nya, menyadari bahwa ia tidak benar-benar sendirian di dunia ini.