Rina, pengusaha sukses berusia 28 tahun, tewas akibat pengkhianatan keluarga dan rekan bisnis. Saat sadar, dia regresi ke tubuhnya di kelas 11 SMA — tepat 10 tahun ke belakang.
Dulu Rina adalah gadis pemalu yang sering dibully geng cewek populer, dikhianati pacar pertamanya, dan diabaikan orang tuanya yang sibuk bisnis. Kini dengan semua pengetahuan masa depan, Rina berubah total.
Dia akan balas dendam di sekolah elit Harapan Elite International School, naik menjadi ratu sekolah yang ditakuti dan dikagumi, rebut prestasi akademik & ekstrakurikuler, perbaiki hubungan keluarga, serta hancurkan semua orang yang pernah menyakitinya.
Drama remaja SMA, revenge yang memuaskan, slice-of-life sekolah, intrik keluarga kaya, dan romansa slow-burn dengan Kai — ketua OSIS dingin keturunan konglomerat yang pernah menolongnya di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejatulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SELAMAT PAGI, HARAPAN ELITE
Rina melangkah menuruni anak tangga rumahnya satu per satu dengan ketukan yang teratur.
Rumah dua lantai di kawasan perumahan kelas menengah ke atas ini terasa begitu asing, namun sekaligus memicu rasa sesak yang familier.
Di kehidupan pertamanya, rumah ini tidak pernah terasa seperti rumah.
Tempat ini hanyalah sebuah bangunan megah yang dingin, tempat di mana dia selalu merasa menjadi orang asing yang tidak diinginkan.
Aroma kopi hitam yang kuat dan roti panggang menyeruak saat Rina mendekati ruang makan.
Di sana, di meja makan marmer berkilau, dua orang yang paling bertanggung jawab atas runtuhnya fondasi mental masa kecilnya sedang duduk.
Ibunya, Natalia, duduk dengan anggun mengenakan pakaian kerja formal.
Matanya tidak lepas dari layar gawai mahal di tangannya, sementara telinganya dijepit oleh sebuah earphone nirkabel.
"Tidak mau tahu, pokoknya jual semua saham di sektor properti itu sebelum jam pembukaan bursa! Kita tidak boleh rugi bandar!" ketus Natalia kepada lawan bicaranya di telepon.
Suaranya melengking, penuh ambisi, dan tanpa kehangatan.
Di seberang meja, ayahnya, Surya, sedang sibuk membolak-balik dokumen laporan keuangan bulanan perusahaan tekstil miliknya yang mulai megap-megap.
Wajah pria paruh baya itu tampak kusut, dipenuhi gumpalan stres yang selalu dia tumpahkan kepada orang-orang di rumah jika bisnisnya sedang memburuk.
Kedua orang tua itu bahkan tidak mendongak saat Rina menarik kursi makan di ujung meja—posisi paling mencolok yang selalu menempatkannya sebagai penonton dari kesibukan orang lain.
Bagi mereka, Rina hanyalah anak perempuan sulung yang membosankan, tidak berprestasi, dan tidak bisa dibanggakan di depan rekan-rekan bisnis mereka.
Satu-satunya hal yang menghentikan keheningan mekanis di meja itu adalah kedatangan Rayhan, adik laki-laki Rina yang saat ini baru duduk di bangku kelas enam SD.
Rayhan berjalan dengan langkah menghentak, wajahnya ditekuk masam, memancarkan aura anak manja yang selalu mendapatkan apa pun yang diinginkannya.
Braakk!
Rayhan sengaja menyenggol bahu Rina dengan keras saat dia melewati kursi kakaknya untuk mengambil susu kotak di tengah meja.
Senggolan yang sengaja itu membuat sepotong roti panggang yang baru saja diambil Rina terlempar jatuh ke atas lantai bersih.
"Ups, sengaja," ejek Rayhan dengan cengiran nakal di wajahnya.
Dia menatap Rina dengan pandangan meremehkan yang dia tiru persis dari cara kedua orang tua mereka memperlakukan Rina.
"Lagian Kak Rina duduknya ngalangin jalan banget sih. Lagian punya mata itu dipakai, jangan cuma buat hiasan di balik kacamata tebal itu."
Di kehidupan sebelumnya, Rina pasti akan menundukkan kepala.
Dia akan menahan tangis, membersihkan roti itu sendiri, dan meminta maaf kepada adiknya agar tidak memicu kemarahan ayah dan ibunya.
Sikap mengalahnya yang berlebihan itulah yang membuat Rayhan tumbuh menjadi monster egois yang di masa depan ikut membantu paman mereka merampas sisa aset Rina tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Namun, Rina yang duduk di kursi itu sekarang bukan lagi gadis lemah sepuluh tahun lalu.
Rina meletakkan garpunya perlahan.
Bunyi dentingan logam yang beradu dengan piring porselen terdengar begitu tajam di tengah ruangan yang bising oleh suara telepon ibunya.
Rina menoleh, menatap Rayhan lurus-lurus dari balik lensa kacamatanya yang tebal.
Tatapan itu tidak lagi kosong dan ketakutan.
Tatapan itu begitu dingin, pekat, dan sarat akan tekanan psikologis seorang wanita dewasa yang telah menghadapi ratusan intimidasi di dunia bisnis korporat.
Rayhan yang baru saja hendak meminum susunya mendadak menghentikan gerakannya.
Bulu kuduk bocah sepuluh tahun itu berdiri. Cengiran nakalnya luntur seketika saat melihat sepasang mata di balik kacamata sang kakak tampak seperti sepasang mata predator yang sedang mengunci mangsanya.
"Bersihkan," ucap Rina pendek.
Suaranya rendah, namun memiliki penekanan yang mutlak.
"Hah? Apaan sih? Ogah!" balas Rayhan, mencoba mengembalikan keberaniannya dengan berteriak.
"Aku bilang, ambil rotinya, lalu buang ke tempat sampah," ulang Rina.
Kali ini, dia menegakkan punggungnya, memancarkan aura otoritas yang sangat kuat hingga membuat Surya, ayahnya, menghentikan aktivitas membaca dokumennya karena merasakan perubahan atmosfer di meja makan.
"Rina! Pagi-pagi jangan bikin keributan! Kenapa kamu malah bentak-bentak adikmu?!" tegur Surya dengan nada tinggi, langsung memasang posisi membela anak laki-laki kesayangannya tanpa mau tahu duduk perkaranya.
Rina mengalihkan pandangannya kepada ayahnya.
Alih-alih gemetar atau meminta maaf seperti biasanya, Rina menatap ayahnya dengan kedewasaan yang membuat Surya tertegun.
"Ayah, jika anak ini tidak diajari sopan santun sejak kecil, di masa depan dia tidak akan hanya menjatuhkan roti kakaknya," kata Rina dengan nada bicara yang sangat tenang namun menusuk.
"Dia akan menjatuhkan nama baik keluarga kita di depan umum karena kesombongannya yang tidak berdasar. Aku hanya sedang membantumu mendidiknya sebelum dunia luar mendidiknya dengan cara yang lebih kejam."
Surya ternganga. Kata-kata yang keluar dari mulut anak perempuannya terdengar begitu tertata, logis, dan dingin.
Ini bukan gaya bahasa seorang anak remaja kelas sebelas SMA yang kuper. Ini terdengar seperti teguran dari seorang penasihat hukum senior.
Bahkan Natalia, ibunya, sampai menurunkan gawainya dan menatap Rina dengan kening berkerut.
"Rina, dari mana kamu belajar bicara seperti itu pada orang tuamu?"
Rina tidak menjawab.
Dia berdiri dari kursinya, merapikan rok seragam kotak-kotak birunya yang terpasang rapi, lalu menyandang tas ranselnya di bahu kiri.
Dia melirik beberapa lembar uang ratusan ribu yang tergeletak di dekat vas bunga—uang jajan mingguan yang dilempar begitu saja oleh ibunya tanpa pernah ada komunikasi yang hangat.
Rina mengambil uang itu dengan gerakan anggun.
"Aku berangkat sekolah dulu, Ayah, Ibu."
Tanpa menunggu jawaban atau izin dari kedua orang tuanya, Rina membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan yang mendadak diselimuti keheningan yang mencekam.
Rayhan masih berdiri mematung di dekat meja, tangannya gemetar memegang kotak susu, sementara Surya dan Natalia saling berpandangan dengan rasa heran yang mendalam.
Mereka merasa anak perempuan mereka yang tidak mencolok itu telah berubah menjadi orang asing dalam waktu satu malam.
Udara pagi kota Jakarta yang bercampur polusi menyambut Rina saat dia keluar dari gerbang rumahnya.
Dia tidak mendapatkan fasilitas mobil antar-jemput pribadi dari sopir keluarga; fasilitas mewah itu hanya dikhususkan untuk Rayhan yang bersekolah di SD elite swasta.
Di kehidupan pertamanya, Rina selalu merasa iri dan menderita karena harus berdesak-desakan naik angkutan umum dengan seragam sekolahnya yang mahal.
Namun hari ini, hal itu tidak mengusik ketenangannya sedikit pun.
Bagi Rina, perjalanan menggunakan angkutan umum ini adalah ruang privasi terbaiknya untuk menyusun strategi.
Di dalam angkot yang berjalan membelah kemacetan, Rina bersandar di dekat jendela.
Matanya menatap keluar, mengamati gedung-gedung bertingkat yang di tahun 2016 ini masih beberapa di antaranya dalam tahap pembangunan.
Ingatan masa depannya bergerak seperti mesin pencari yang super cepat.
Tahun ini, semester ini, adalah pondasi awal, pikir Rina sambil mengetukkan jari-jarinya di atas pangkuan.
Perusahaan tekstil Ayah akan mulai didekati oleh investor palsu yang diutus oleh keluarga Kevin sebulan lagi.
Jika aku membiarkannya seperti di kehidupan pertama, Ayah akan menandatangani kontrak kerja sama bodoh yang membuat rahasia desain dan distribusi kita bocor, memicu kebangkrutan awal tahun depan.
Rina tersenyum tipis.
Kali ini, dia yang akan memegang umpan tersebut.
Dia tidak akan menyelamatkan bisnis ayahnya demi rasa bakti seorang anak, melainkan demi merebut kendali atas aset tersebut.
Dia akan menggunakan krisis itu untuk memaksa ayahnya menyerahkan kepemilikan saham kepadanya dan ibunya, menyingkirkan pengaruh paman dan sepupunya yang serakah sejak dini.
Dua puluh menit kemudian, angkot yang ditumpanginya berhenti tepat di depan gerbang megah yang terbuat dari besi tempa berwarna hitam tinggi.
Di atas gerbang itu, terukir huruf kuningan yang mengkilap di bawah sinar matahari: **Harapan Elite International School**.
Sekolah ini adalah tempat berkumpulnya anak-anak dari kalangan satu persen teratas di negara ini.
Anak-anak pemilik korporasi, menteri, selebriti papan atas, hingga taipan properti bersekolah di sini.
Di tempat seperti ini, hukum rimba berlaku secara absolut: **uang, kekuasaan, dan penampilan adalah mata uang utama**.
Siapa pun yang tidak memiliki ketiganya, atau tidak tahu cara menggunakannya, akan berakhir di dasar kasta sebagai santapan para predator remaja.
Dan di kehidupan pertamanya, Rina adalah santapan favorit mereka.
Rina melangkah melewati gerbang sekolah. Suara deru mobil-mobil mewah seperti Alphard, Porsche, dan BMW yang menurunkan para siswa berdarah biru memenuhi area lobi depan.
Bisikan-bisikan manja, tawa yang dipaksakan, dan aroma parfum mahal yang pekak langsung menyerbu indra penciumannya.
Trauma masa lalu yang tertanam di dalam sel tubuh remajanya sempat membuat jantung Rina berdegup sedikit lebih cepat.
Telapak tangannya terasa agak dingin saat melihat koridor sekolah yang luas dan megah itu.
Namun, jiwa dewasanya segera mengambil kendali penuh.
Dia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, dan meluruskan pandangannya.
"Selamat pagi, Harapan Elite," bisik Rina di dalam hati dengan senyuman yang tersembunyi di balik poni tebalnya.
"Kalian bersenang-senanglah selagi bisa. Karena tidak lama lagi, aku yang akan memegang kendali atas tempat ini."
Langkah kaki Rina mantap, tidak lagi terseret-seret penuh keraguan.
Dia berjalan membelah kerumunan siswa yang sibuk memamerkan barang-barang mewah liburan musim panas mereka, menuju ruang kelas 11-A.
Tempat di mana panggung pembalasan dendam pertamanya telah menanti.