NovelToon NovelToon
Mahar Sandiwara Sang Papa

Mahar Sandiwara Sang Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Di dalam kamar yang asing itu, pertahanan Amira runtuh sepenuhnya.

Tubuhnya merosot di balik pintu, terduduk di lantai yang dingin sembari memeluk kedua lututnya sendiri.

Amira menangis sesenggukan, menumpahkan segala rasa sakit, sesak, dan penghinaan yang sejak tadi menyumbat dadanya.

Suara tangisnya yang diredam terdengar begitu menyayat hati di tengah keheningan kamar.

"Kenapa, hidupku harus seperti ini?" ratap Amira di sela-sela isak tangisnya.

Air matanya mengalir deras membasahi pipi. Bayangan masa lalu yang kelam dan membingungkan kembali berputar di kepalanya. Ingatannya yang belum pulih sempurna justru melemparnya pada kenyataan-kenyataan pahit yang harus ia tanggung bertubi-tubi.

"Sudah kehilangan calon suami untuk kedua kalinya, dan sekarang aku malah terjebak menikah dengan lelaki yang sudah mempunyai anak di tengah keluarga yang penuh dengan racun," bisik Amira, meremas dadanya yang terasa sangat nyeri.

Rasa bersalah, bingung, dan tidak berdaya bercampur menjadi satu, membuatnya merasa seperti orang asing di dalam hidupnya sendiri.

Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong yang dipenuhi keputusasaan yang teramat sangat.

Beban di pundaknya terasa terlalu berat untuk ditanggung oleh fisik dan mentalnya yang baru saja bangkit dari masa kritis.

"Aku lelah, ya Tuhan..." rintih Amira, suaranya parau dan bergetar hebat.

"Kenapa, tidak Engkau ambil saja nyawaku sekalian? Kenapa harus membiarkan aku hidup kalau hanya untuk menanggung semua penderitaan dan penghinaan ini?"

Tangisnya kembali pecah, lebih pilu dari sebelumnya.

Di dalam kamar yang tertutup rapat itu, Amira menumpahkan seluruh rasa lelahnya pada malam yang kian larut, sama sekali tidak menyadari bahwa di balik pintu kamar yang kokoh, Daniel masih berdiri diam, mendengarkan setiap rintihan pilu dan hancurnya hati sang istri dengan rasa bersalah yang mengiris nadinya sendiri.

Di balik pintu kayu yang kokoh itu, Daniel masih berdiri mematung.

Setiap rintihan pilu, isak tangis, dan untaian doa keputusasaan yang keluar dari bibir Amira terdengar begitu jelas di telinganya.

Kata-kata Amira yang mempertanyakan takdir dan mengungkit rasa lelahnya seolah menjadi belati yang menghujam tepat ke lubuk hati Daniel.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pertahanan pria berhati es itu runtuh.

Air mata Daniel mengalir di depan pintu, membasahi pipinya yang tegas.

Bahunya bergetar samar menahan sesak yang teramat sangat di dalam dada.

Rasa bersalah yang teramat besar kini menggelayuti pundaknya.

Daniel menyandarkan keningnya pada permukaan pintu yang dingin, memejamkan mata dengan rapat seiring dengan cengkeramannya yang mengerat pada tongkat kruk milik Amira.

Ia tahu, ia telah egois. Demi melindungi Felia dan egonya sendiri, ia telah menarik seorang wanita yang rapuh ke dalam pusaran badai keluarganya yang kejam.

"Maafkan aku, Amira..." bisik Daniel dengan suara yang sangat serak, hampir tak terdengar di antara sisa-sisa tangisan istrinya di dalam kamar.

"Maafkan aku karena sudah menyeretmu ke dalam hidupku yang berantakan ini."

Daniel mengepalkan tangan kirinya, memukul pelan permukaan pintu dengan rasa frustrasi yang mendalam.

Ia bersumpah, demi air mata yang mengalir malam ini, ia tidak akan membiarkan Gayatri, Anita, atau siapa pun kembali menginjak-injak harga diri wanita yang kini telah menjadi pelindung bagi putrinya—dan perlahan, mulai menyentuh sisi terdalam di hatinya.

Sore harinya, matahari mulai tergelincir ke barat, memancarkan semburat jingga di balik jendela rumah mewah Daniel.

Felia terbangun dari tidur siangnya. Dengan langkah kecil yang masih sedikit lemas, balita itu berjalan menyusuri koridor lantai atas dan langsung masuk ke dalam kamar utama.

Namun, matanya yang bulat mengerjap bingung saat melihat sekeliling.

Ranjang besar itu tampak rapi, dan tidak ada tanda-tanda keberadaan sang ibu di sana.

"Mama kemana? Kenapa tidak tidur di sini?" tanya Felia dengan suara khas bangun tidur, menatap kosong ke arah tempat tidur yang sepi.

Daniel yang baru saja selesai mandi dan berganti pakaian kasual langsung melangkah mendekati putrinya.

Ia berlutut, lalu menggendong tubuh putrinya dengan lembut ke dalam dekapan hangatnya.

"Mama kemana, Pa?" tanya Felia lagi, mendongak menatap wajah papanya dengan tatapan menuntut jawaban.

Daniel terdiam sejenak. Jantungnya berdenyut nyeri mengingat tangisan pilu Amira di balik pintu semalam yang masih terngiang jelas di kepalanya.

Ia tidak ingin Felia tahu tentang pertengkaran hebat dan keretakan yang sedang terjadi di antara kedua orang tuanya.

"Mama ada di kamar bawah. Karena kaki Mama masih sakit, jadi belum bisa naik tangga untuk tidur di kamar atas sama Papa," bohong Daniel dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, mencoba menyembunyikan kebenaran yang pahit.

"Ooo... begitu," gumam Felia sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dengan polos, memercayai begitu saja alasan yang masuk akal dari papanya.

Felia kemudian menepuk bahu Daniel dengan tangan kecilnya, matanya berbinar penuh kerinduan.

"Ayo, Pa, kita ke kamar Mama sekarang! Felia mau peluk Mama!"

Tok!

Tok!

Tok!

"Mama... Mama... Mama!"

Suara riang Felia terdengar dari balik pintu kamar bawah, disusul dengan ketukan-ketukan kecil dari tangan mungilnya.

Di dalam kamar, Amira yang sedang duduk termenung di tepi ranjang tersentak.

Sisa-sisa kesedihan semalam masih membekas, membuat matanya tampak sedikit sembap.

Mendengar panggilan putrinya, Amira buru-buru menyeka sudut matanya.

Ia bangkit berdiri dan berjalan pincang tanpa memedulikan rasa sakit di kakinya, demi bisa segera membukakan pintu untuk Felia.

Ceklek!.

Begitu pintu terbuka, sosok Daniel yang sedang menggendong Felia langsung menyapa pandangannya. Namun, Felia tidak sabar.

Balita itu langsung mengulurkan kedua tangannya ke arah Amira.

"Mama...!" seru Felia riang.

Amira segera menyambut tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.

Begitu berpindah ke gendongan Amira, Felia langsung mencium pipi Amira dengan sayang, menyalurkan kehangatan yang seketika melelehkan gunung es di hati Amira. Namun, jarak yang dekat membuat mata bulat Felia yang jeli menangkap sesuatu yang tidak beres.

"Mama kenapa? Mama menangis?" tanya Felia polos, jemari kecilnya terulur menyentuh kelopak mata Amira yang memerah.

Amira tersentak, melirik sekilas ke arah Daniel yang kini menatapnya dengan tatapan penuh rasa bersalah dan kerinduan yang tertahan.

Amira dengan cepat memaksakan sebuah senyuman.

"N-nggak, Sayang. Mama kelilipan debu," bohong Amira, mencoba meyakinkan putrinya.

Ia kemudian mencubit gemas hidung Felia untuk mengalihkan perhatian.

"Felia belum mandi sore, ya? Badannya sudah bau kecut. Ayo, sekarang waktunya mandi sore sama Mama."

Amira menurunkan Felia perlahan, lalu memanggil suster pengasuh untuk membantunya memandikan Felia di kamar mandi yang ada di dalam kamar tamu tersebut.

Amira sadar, fisiknya belum kuat jika harus memandikan Felia sendirian.

Saat Amira bersiap melangkah mengikuti Felia dan suster ke kamar mandi, sebuah suara berat menghentikan langkahnya.

"Sayang..."

Amira seketika membelalakkan matanya dengan sempurna saat mendengar panggilan itu.

Jantungnya berdesir hebat, berdegup dua kali lebih cepat.

Ia menorehkan pandangannya ke arah Daniel dengan wajah yang mendadak panas. Sayang? Sejak kapan pria sedingin Daniel memanggilnya dengan sebutan itu?

Daniel melangkah mendekat, menatap Amira dengan pandangan mata elangnya yang kini melunak dan tampak begitu tulus, seolah ingin menebus seluruh rasa sakit istrinya sejak semalam.

"Setelah selesai memandikan Felia, kamu juga mandi dan bersiap-siap, ya," ucap Daniel lembut, suaranya terdengar begitu menenangkan di telinga Amira.

"Malam ini kita makan malam di luar."

Amira masih tertegun, lidahnya mendadak kelu untuk menolak rasa perhatian Daniel yang tiba-tiba ini.

Merasa tidak bisa menghindar dari tatapan intens suaminya, Amira akhirnya menganggukkan kepalanya pelan sebagai tanda setuju.

Mendengar jawaban mamanya, Felia yang belum masuk ke kamar mandi langsung melompat-lompat kecil dengan gembira.

"Hore! Hore! Kita makan di luar! Makan sama Papa dan Mama!" sorak balita itu riang, memecah seluruh kecanggungan dan membawa kembali senyum yang sempat hilang di rumah itu.

1
falea sezi
lanjut q kasih hadiah
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!