Menelusuri lorong kota itu setelah sekian lama meninggalkannya mengusik ingatanku.
Beberapa tempat yang tak berubah, mengingatkan sebagian kisah masa laluku yang menempaku menjadi seperti sekarang .... Laki-laki yang masih tetap menjadi dirinya sendiri.
Aku bisa selembut kapas dan berubah sekeras batu padas seiring kedewasaan hidupku yang dikelilingi kepalsuan dan intrik penumpang gelap di sekitarku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Kawan Lama
"Pras ... !" Aku menoleh ke arah panggilan dari depan gerbang sekolah yang meneriakkan namaku.
"Woy kamu Man !" teriakku setelah mengenali Firman, bocah kampung Sokanegara teman bermain bolaku bersama Erwin di lapangan dekat rumah sakit dulu.
Menyeret Juli yang ada di belakangku, Aku bergegas mendekat ke arah Firman yang masih melambaikan tangannya ke arahku.
"Kamu sekolah di SMP Dua ?" tanya Firman setelah kami duduk berjejer di besi teralis pembatas jembatan di atas kali Tanjlig.
Tak banyak yang berubah dari Firman. Sorot matanya masih tajam menatap diriku, begitu juga gaya bicaranya yang keras.
Aku menjadi akrab dengannya setelah dia membantu melepaskan jari tangan adikku Christ yang terjepit pintu jendela rumah kakek si Pram dulu. Dia juga yang memberikan permen untuk meredakan tangis adikku saat Aku menggendongnya menjauhi rumah kakek si Pram.
"Ya, ... kamu sekolah di mana Man ?" Aku balik menanyakan sekolahnya.
"Tuh di SMP Tiga." Firman menunjuk gedung sekolah yang ada di samping kali tempat kami mengobrol.
Tak sengaja bertemu Firman sepulang sekolah setidaknya meredakan gemuruh campur aduk perasaan hatiku.
Sesuai janjiku, tadinya Aku hanya bermaksud menemani Juli pulang jalan kaki ke rumahnya di pasar Pekih dekat alun-alun yang rapat dikelilingi rumah-rumah sederhana.
Sejak bel pulang sekolah berbunyi, Aku menyuruh Juli selalu di dekatku saat kulihat si Pram dan gerombolannya berusaha mendekatinya.
Dari wajah kebencian yang kulihat, menurutku kali ini Pram tak hanya sekedar mengancam dan menggertak Juli saja. Menurutku mungkin saja dia akan memukuli Juli jika menemukan tempat yang sepi.
Tak menyangka Aku bersama Juli, si Pram kulihat ragu meneruskan niatnya, dan hanya mengikuti kami dari jauh saat Aku dan Juli mulai beranjak pulang.
Sepanjang jalan, kepalaku sebenarnya sudah dipenuhi perandaian jika tiba-tiba saja si Pram melakukan sesuatu yang kutakutkan terhadap Juli.
Untungnya, sosok penolong itu tiba-tiba saja muncul lagi di hadapanku.
"Bagaimana kabar adikmu ?" Firman masih saja mengingat Christ.
"Hahaha ... Baik. Dia sekarang sudah kelas empat," jawabku sambil tertawa.
Mengobrol dengan Firman semakin menenangkan hatiku, saat kulihat si Pram dan gerombolannya meninggalkan kami.
Mungkin si Pram sudah merasa ngeri melihat ketidaksukaan Firman yang satu kampung dengannya.
"Kamu satu sekolahan dengan bandit itu ?" tanya Firman saat tak sengaja melihat si Pram melewati jembatan tempat kami mengobrol.
"Aku malah sekelas dengannya," jawabku pendek. Mataku terus menatap si Pram yang beringsut pergi tanpa berani memalingkan muka ke arah kami.
"Wah, ... bakalan rusuh tuh kelasmu."
"Ahahaha .... Gaklah," Aku masih menutup nutupi ulah si Pram, tak mau terpancing kata-kata Firman ....Toh si Raden itu sudah ngeloyor duluan pikirku.
Juli yang lalu kukenalkan dengan Firman terlihat senang menyimak obrolan kami, dan mengajak Firman ikut ke rumahnya setelah kami puas mengobrol.
Firman tak menolak ajakan Juli, apalagi setelah dia tahu di rumah Juli banyak kardus bekas yang sedang dicarinya untuk menutup jok motor yang dijaganya di parkiran.
***
"Masih ngurusin parkiran Man ?" tanyaku selesai membantu mengikat kardus bekas di teras rumah Juli.
"Hahaha .... Masihlah .... Emangnya kamu dan Erwin yang selalu punya uang jajan," jawab Firman sambil tergelak.
Aku tersenyum mendengar jawabannya yang riang.
Keriangan yang sama seperti dahulu, ketika Aku dan Erwin ikut menemaninya memasang kardus-kardus di atas jok motor yang terparkir di depan toko Intan dan Garut dekat alun-alun setiap hari Minggu seusai menonton film minggu siang di tivi.
Jika beruntung, dari lima sampai sepuluh rupiah untuk setiap motor yang kami jaga sampai sore, dapat terkumpul sampai dua ratus rupiah. Jumlah yang kata Firman cukup untuk jajan dan ditabungnya tanpa perlu meminta ke bapaknya yang menarik becak.
Aku juga masih ingat binar mata kegembiraan Firman saat dia meminta kami menemaninya membeli sepatu dengan uang tabungan recehnya karena merasa malu dan minder masuk ke toko sepatu.
Erwin yang lalu tahu Firman berniat membeli sepatu karena malu nyeker setiap berangkat sekolah menyuruh Firman membatalkan keinginannya, dan memberikannya sepatu Warior bekas yang masih bagus dan menyuruhnya menyimpan tabungan itu untuk mendaftar SMP nanti.
Sayangnya Erwin sudah pindah ke Purbalingga. Jika dia masih bersama kami, Aku yakin dia pasti ikut senang mengetahui Firman diterima di SMP Negeri.
"Ngaso ... minum dulu."
Suara Juli mengalihkan ingatan masa laluku saat dia yang sedari tadi keluar masuk mengusung kardus-kardus bekas dari dalam rumah menyuruh Aku dan Firman beristirahat sambil menaruh tiga gelas besar berisi es dawet di teras rumahnya tempat kami berkumpul.
***
Rumah Juli berdinding papan yang sudah keropos di sana sini berlantai plesteran seadanya. Atap sengnya sebagian sudah bolong-bolong dan berkarat.
Meski begitu rumah itu terlihat resik dan rapi, membuat kami betah duduk mengobrol di teras rumah itu yang menghadap tepat ke arah Pasar Pekih di depannya.
"Makasih Jul." Firman merasa senang dengan pemberian kardus-kardus bekas yang ada di depannya.
"Ah cuma kardus bekas. Kalau kamu masih butuh, masih banyak tuh di belakang."
"Ini saja sudah lebih dari cukup. Bisa buat stok parkiran nanti kalau sudah mulai hujan."
Melihat keakraban Firman dan Jui yang baru saling mengenal menyenangkan hatiku.
Sepertinya kawan lamaku itu juga merasakan hal yang sama setelah tak menyangka bertemu lagi denganku.
Di kampung kami dulu, Firman dan Erwin terkenal dengan keberaniannya. Hanya dia sedikit pendiam jika belum terlalu mengenal dekat teman sepermainannya.
Tapi jika sudah mengenal dekat, pasti dia akan melakukan apa saja untuk membantu jika teman dekatnya dirasa membutuhkan bantuannya.
Tak heran Bapak dan Ibu sering memberinya jajan jika Firman main ke rumah setelah bibi Yanti bercerita tentang dirinya yang menolong Aku dan Christ dulu.
Bibi Yanti mengenal ibu Firman yang berjualan sayuran di dekat rumah sakit. Mungkin karena setiap hari berbelanja di sana, bibi Yanti selalu saja tahu tentang ulahku, Erwin dan Firman saat keluyuran di sekitaran kampung kami dari cerita ibu Firman.
Dari bibi Yanti juga, Aku lalu tahu kenapa si Raden Pram tak mempunyai teman bermain di kampung kami dulu.
Kata bibi Yanti, si Pram pernah dipukuli habis-habisan oleh Firman karena mengejeknya dengan sebutan PKI saat si Pram kalah bermain bola.
Mengetahui cucunya babak belur, kakek si Pram marah besar, lalu mencari Firman sampai ke rumahnya bersama beberapa orang pembantunya.
Tak berhasil menemukan Firman yang bersembunyi, kakek si Pram mengumpat dan menggulingkan becak bapak Firman yang ditemuinya.
Dari situlah Aku tahu sebab awal permusuhan Firman dan si Pram.... Juga tentang cerita bapak Firman seorang penyintas 1965 yang belum sepenuhnya kupahami sampai Aku kuliah di Jogja kelak.
***
*Nyeker : Tak bersepatu atau bersendal.
*Warior : Merek sepatu yang terkenal di tahun 80'an.
*Ngaso : Istirahat