Dendam masa lalu menuntut balas. Seorang musuh besar mengincar putri tunggal sepasang pembunuh bayaran legendaris gadis yang telah dilatih menjadi "Ratu Kematian". Namun, rencana itu membentur dinding tebal. Peladen data sekolah elite SMA Garuda Bangsa dilindungi enkripsi militer ketat, menyembunyikan identitas sang target di balik kabut digital.
sementara target baru memulai tahun ajaran baru, sistem mendeteksi enam siswi baru di kelas X-A yang datanya terkunci total. Demi memastikan dendamnya terbalas, sang musuh nekat menculik keenam gadis itu.
Disekap di dalam palka kapal kargo yang gulita, enam gadis asing berbalut almamater merah marun ini terpaksa menekan ego mereka. Insting predator mereka menyatu, mengubah tempat penyekapan menjadi ladang pembantaian demi merebut kembali kebebasan. Malam itu, adalah awal mula The Elite akan terbentuk.
apakah Mereka mampu mempertahankan the elite karna status mereka yang cukup tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Armada Hitam dan Angkut Pulang
Deru baling-baling helikopter taktis milik keluarga Breynerlanz perlahan mulai merendah, membelah kesunyian fajar di atas samudra lepas Jakarta. Angin kencang yang dihasilkan oleh baling-baling baja itu menciptakan badai pusaran air kecil di permukaan laut, menerbangkan kabut pagi yang pekat dan mengempaskan sisa-sisa aroma mesiu di atas dek utama kapal kargo. Dion Breynerlanz melangkah turun dari pintu helikopter dengan gerakan yang kaku namun penuh dengan wibawa tirani yang mutlak. Jaket kulit hitam mahalnya berkibar kasar diterpa angin fajar, sementara sepasang matanya yang tajam bak elang malam langsung mengunci sosok putri tunggalnya yang berdiri di tengah kekacauan dek.
"Azrint!" Dion tidak memedulikan puluhan anak buahnya yang langsung menyebar membentuk barisan perimeter aman. Pria paruh baya itu menerobos barisan pengawal inti, mengabaikan revolver emas di genggamannya yang perlahan diturunkan, lalu menyambar tubuh ramping putrinya ke dalam sebuah pelukan yang luar biasa erat.
Azrint menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang ayah, membiarkan seluruh topeng keangkuhan mafianya luruh untuk sementara waktu. Sifat manjanya yang menjadi ciri khas di rumah kembali terpasang sempurna. Air matanya menetes samar, membasahi kain jas mahal sang ayah, sementara kulit perinya yang seputih peri tampak merona kemerahan akibat terpaan angin laut yang dingin. Tubuh modelnya yang memiliki tinggi seratus tujuh puluh dua sentimeter tampak ringkih di dalam dekapan sang penguasa mafia.
"Papa... Azrint takut banget. Semalam di bawah palka kotor sekali, gelap, dan orang-orang itu kasar," ucap Azrint dengan suara yang bergetar manja, mempertegas posisinya sebagai ratu kecil yang paling dilindungi di dalam dinasti Breynerlanz.
Dion melepaskan pelukannya perlahan, kedua tangannya yang besar dan penuh kapalan akibat pelatuk senjata api kini beralih membingkai wajah cantik putrinya. Dengan ibu jarinya yang kasar, dia menyeka sisa air mata di pipi Azrint dengan kelembutan yang sangat kontras dengan reputasinya yang berdarah dingin di dunia bawah tanah. "Kamu gak apa-apa, Sayang? Ada yang luka? Bilang sama Papa, mana bajingan yang berani menyentuh seujung kuku kamu malam ini? Papa akan pastikan mereka tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi."
Azrint menggelengkan kepalanya perlahan, bando mutiara putih di rambutnya yang setengah ikat tampak sedikit bergeser. "Azrint gak apa-apa, Papa. Azrint bisa bertahan karena mereka semua juga ikut melawan." Azrint menunjuk dengan lirikan matanya ke arah lima gadis berseragam kotor yang berdiri diam di belakangnya.
Dion perlahan menegakkan punggungnya, membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Eriza, Miya, Fyrline, Aleyna, dan Camellia. Tatapan lembut seorang ayah dalam sekejap mata lenyap, digantikan oleh pandangan sedingin es yang mampu mengintimidasi nyali siapa pun. Matanya menyapu detail seragam putih-abu-abu mereka yang kini dipenuhi noda debu karat besi dan bercak darah samar. "Kalian berlima... teman sekelas putriku?"
"Iya, Om," sahut Camellia Putri dengan suara renyahnya yang sengaja dibuat menggemaskan namun bergetar ketakutan. Tubuh mungilnya sengaja bersembunyi di balik lengan tegap Aleyna, memasang wajah baby face-nya yang tampak sangat polos dan tidak berdosa. "Kami semua diculik bareng-bareng dari depan gerbang sekolah kemarin sore waktu jam pulang."
Dion menghela napas berat, tangannya bergerak merapikan letak revolver emas di pinggangnya kembali ke dalam sarung kulit. Dia menoleh ke arah kepala komandan pasukan intinya yang berdiri takzim di samping pintu helikopter. "Hendra, kumpulkan semua sisa bajingan dari Kartel Utara yang masih bernapas di atas dek ini. Bawa mereka ke ruang interogasi bawah tanah mansion kita. Aku sendiri yang akan memeras informasi tentang siapa otak di balik operasi konyol ini."
"Baik, Tuan Besar. Segala perintah segera dilaksanakan," jawab Hendra sembari membungkuk hormat.
Dion kembali menatap lima gadis tersebut, matanya sempat berhenti selama dua detik pada sosok Eriza Tryanaz yang berdiri kaku seperti patung porselen dengan pandangan mata hitam legam yang datar tanpa emosi. Dion tahu, dari laporan divisi sibernya malam tadi, target asli penculikan ini sebenarnya adalah anak dari pasangan pembunuh bayaran legendaris, Arland dan Ryana. Namun, demi keselamatan nama baik dan privasi putrinya, Dion memilih untuk pura-pura tidak tahu di tempat terbuka ini.
"Untuk kalian berlima," ucap Dion, suaranya berat dan bergaung tegas di atas dek kapal. "Papa sudah menyiapkan lima armada mobil sedan hitam antipeluru di dermaga barat. Anak buah Papa akan mengantarkan kalian semua pulang langsung sampai ke depan pintu rumah masing-masing dengan selamat. Papa minta satu hal dari kalian kejadian malam ini, pertempuran di dalam palka ini, jangan pernah ada satu kata pun yang lolos ke media, pihak sekolah, atau teman-teman kalian di dunia atas. Anggap malam ini hanyalah sebuah mimpi buruk yang tidak pernah terjadi."
"Kami mengerti, Om. Kami juga gak mau masalah ini jadi panjang," sahut Aleyna Rossalind blak-blakan dengan nada bicaranya yang serak dan kasar khas anak jalanan. Dia menyampirkan tas ransel kulitnya yang penuh grafiti ke pundak tegapnya, menolak untuk terlihat gentar di hadapan sang bos mafia lokal.
"Terima kasih atas tumpangannya, Sir," timpal Miya Fynezayn dengan wibawa dinginnya yang kental. Logat asing penutur bahasa Inggris Eropa miliknya terdengar sangat anggun meskipun seragamnya kotor. Postur tubuh body goals-nya tetap tegak lurus, memancarkan aura bahwa dia menolak untuk tunduk pada otoritas mafia lokal ini.
"Terima kasih banyak, Om Dion. Om baik sekali," ucap Fyrline Zyornaland dengan nada suara yang sangat lembut, ramah, dan penuh kepalsuan yang menenangkan. Dia membetulkan letak kacamata baca berbingkai tipisnya yang sempat ia temukan kembali, memasang wajah siswi teladan yang sangat bersyukur telah diselamatkan.
"Papa, mereka semua sudah banyak bantu Azrint di dalam palka tadi," celoteh Azrint lagi, menambahkan sedikit bumbu kepalsuan demi melindungi rahasia aliansi taktis yang baru saja terbangun di antara mereka berenam semalam. "Tolong pastikan pengawal Papa mengantar mereka dengan sangat aman, ya?"
"Tentu saja, Sayang. Apapun untuk kamu," jawab Dion lembut, menuntun lengan Azrint untuk melangkah naik ke dalam kabin helikopter pertama yang mewah dan kedap suara. "Sekarang kita pulang. Papa sudah menyuruh pelayan menyiapkan mandi air hangat dan sarapan terbaik untuk kamu di rumah."
Sebelum melangkah masuk ke dalam helikopter, Azrint sempat menghentikan langkahnya di ambang pintu besi. Dia menoleh sekilas ke belakang, menatap lajur barisan lima gadis yang mulai digiring oleh pengawal Dion menuju kapal sekoci cepat di samping lambung kapal kargo. Matanya kembali bertemu dengan mata hitam legam milik Eriza Tryanaz yang berjalan paling belakang dengan gerakan yang sangat senyap tanpa suara.
Tidak ada lambaian tangan perpisahan di antara mereka berenam. Tidak ada ucapan terima kasih yang tulus atau janji untuk menjadi sahabat sejati. Kesepakatan yang tertulis di dalam palka gelap semalam telah terkunci mati. hari Selasa esok di kelas X-A, mereka akan kembali menjadi orang asing yang menolak untuk saling mengusik kehidupan masing-masing.