Rania selalu dihina dan direndahkan oleh mertuanya, dia mendapatkan caci makian itu dan suaminya hanya berdiam diri tanpa membelanya.
Ardi sang suami selalu beralasan jika ibunya sudah tua sehingga ingin melihatnya menjadi orang sukses sehingga dia menggunakan identitas Rania untuk membuat ibunya bahagia.
Cinta yang besar dimiliki Rania tidak mampu membuatnya berharga dan terlihat dimata keluarga suaminya, dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil kembali semua miliknya.
Suaminya yang Menumpang tapi dirinya yang selalu dihina, dia membalas semua rasa sakit hatinya membuat suami dan keluarganya panik dan kalang kabut
Akankah, perjuangannya mendapatkan kebahagiaannya kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Ardi akhirnya pulang karena tidak menemukan Rania dimanapun, satu-satunya tempat yang belum dia kunjungi adalah rumah mereka.
Dia turun dari motor dan hendak membuka gembok rumah tapi kunci yang dia masukkan ternyata tidak bisa digunakan
"kenapa ini, apa aku salah membawa kunci rumah?". Tanyanya pada dirinya sendiri
Dia mencoba mengulanginya lagi dengan beberapa kunci yang ada ditangannya tapi semuanya tidak ada yang bisa membukanya.
Dia menghempaskan gembok itu dengan kasar sehingga terdengar bunyi dentuman, tangannya mengepal karena baru paham jika ternyata Rania sudah mengganti gemboknya.
Belum juga dia bergerak ternyata satpam kompleks itu ternyata mengejarnya karena tadi dia masuk tanpa aba-aba.
"Maaf pak Ardi, silahkan ikut saya ke pos sekarang juga". Ucapnya dengan tegas.
Ardi mengerutkan keningnya menatap laki-laki itu dengan tatapan meremehkan seperti biasanya
"Mau apa sampai saya harus kesana?, saya capek dan mau masuk kedalam rumah, jangan aneh-aneh deh". Sungutnya dengan kesal.
Lelaki yang menjadi security itu mendelik kesal dan jengkel setengah mati melihat tingkah lelaki sombong dihadapannya, jika bukan karena pekerjaannya dia sudah menghajar lelaki ini
"Anda tidak akan bisa masuk kedalam rumah pak Ardi karena anda sudah bukan warga disini, semua barang anda ada didalam koper dan diletakkan oleh ibu Rania dipos security, anda sudah tidak bisa berkeliaran disini". Ucapnya dengan tegas.
Dia menarik paksa Ardi yang memberontak karena tidak terima diperlakukan seperti.
"Hei, jangan sembarangan sentuh saya yah, saya ini suami Rania dan ini rumah kami, jangan bicara sembarangan, mana mungkin istri saya menaruh barang-barang saya dipos security, jangan omong kosong". Bentaknya mendorong keras security itu
Security bernama Dadang itu menghela nafas kasar, dia menarik paksa Ardi yang memberontak dan tidak mau ikut dengannya tapi dia peduli, dia menarik paksa Ardi yang terus memberontak.
"Lepaskan aku, lepaskan aku sialan, aku ini warga disini, kamu tidak bisa menarik aku seperti ini, kamu mau dipecat ha!". bentaknya berusaha memberontak
sesampainya dipos security dia dihempaskan dibalik gerbang dengan kasar oleh security itu, nafasnya memburu memandang amarah kearahnya.
"Security sialan, kalian kurang ajar yah, aku ini salah satu penghuni rumah disini, kami yang menggaji kalian". Teriaknya penuh emosi.
Suaranya serak karena amarah yang meluap sambil mengepalkan tangannya.
Dadang menatap dingin kearahnya dan masuk kedalam pos mengambil 3 koper besar yang dititipkan Rania tadi dan dihempaskan dihadapannya dengan kasar.
"Ini koper dan barang-barang anda, tadi ibu Rania menitipkannya disini dan menitip pesan kalau anda pulang anda tidak diperbolehkan masuk ke kompleks ini lagi, beliau memerintahkan kami memblokir anda dan memastikan anda tidak akan mendekati rumahnya lagi". Jawabnya dingin.
Ardi berdiri kaku, tangannya mengepal erat menatap nanar koper yang sangat dia kenali karena koper itu dia pesan dan beli sendiri.
"Jadi benar, Rania mengusirku?".Tanyanya pelan.
Dadang menatap dingin dan tajam kearahnya, jika bukan karena menghormati Rania yang sering membantunya, dia sudah menghajar lelaki sombong ini sejak tadi.
"Ya, Bu Rania sendiri yang meletakkannya disini dan menyuruh kami memastikan anda tidak masuk kedalam sini jadi sekarang bawa barang anda dan pergi dari sini sekarang juga, anda tidak diterima disini ".
Ardi menggeleng pelan, dia tidak terima diperlakukan seperti ini oleh orang rendahan seperti ini.
"Tidak akan, aku harus bertemu Rania, kalian tidka bisa mengusir saya dari sini". Teriaknya memberontak dan mencoba menerobos masuk kedalam gerbang tapi dia security dihadapannya menghadangnya dengan mata tajam siap menghajarnya.
"Jangan buat kesabaran kami habis, sejak tadi kami sudah memperingatkan anda dengan cara yang baik tapi anda membuat kami terpaksa menggunakan kekerasan, jadi pergi dari sini sebelum kami bertindak kasar". Bentak Dadang penuh emosi.
"Tidak akan". Bentak Ardi kembali berusaha menerobos.
Dadang uang sudah dikuasai emosi langsung mendorong Ardi dengan kasar sehingga lelaki itu tersungkur menabrak koper yang berdiri disampingnya tadi
"Susah saya bilang anda harus pergi dari sini, sejak tadi anda terus memberontak jadi jangan salahkan kami kalau kami bertindak kasar, pergi anda dari sini". Bentaknya dengan penuh emosi.
Ardi mengepalkan tangannya kuat-kuat menatap keduanya penuh kebencian, bersamaan itu mobil Rania melintas dan menempelkan kartu aksesnya sehingga pagar terbuka, dia jelas melihat apa yang terjadi pada suaminya tapi rasa cintanya sudah mati karena keegoisan suaminya selama ini.
"Berhenti Rania". Teriak Ardi begitu melihat istrinya kembali menutup kaca mobilnya dan kembali menjalankan mobilnya sehingga gerbang itu perlahan terkunci sedangkan Ardi berusaha menerobos gerbang itu tapi dihadang oleh dia security didepannya itu.
"Berhenti Rania!!, kita harus bicara". Teriaknya dengan frustasi.
Dia tidak menyangka istrinya yang bahkan melihatnya diperlakukan oleh security itu hanya membiarkannya saja malah menjalankan mobilnya tidak peduli dan bahkan sama sekali tidak menoleh kepadanya.
Dadang tersenyum dan menatap Ardi dengan tatapan sinis.
"Anda bisa lihat sendiri, Bu Rania saja bahkan bersikap seperti orang asing dan tidak peduli pada anda padahal saya tahu dia melihat anda dari kejauhan".
Ardi mengangkat wajahnya dan menatap Dadang dengan dingin dan datar.
"Jika saya kembali dan tinggal disini lagi, kau adalah orang pertama yang akan saya singkirkan".
"Oh silahkan jika anda bisa, kalian berdua saya minta tolong ambil motor lelaki ini, supaya dia cepat pergi dari sini".
Kedua temannya itu mengangguk dan segera mengambil motor Ardi sementara Dadang menjaga Ardi disini supaya lelaki ini tidak menerobos masuk.
Ardi hanya bisa mengepalkan tangannya dengan kuat-kuat hingga kukunya memutih, dia menatap kearah gerbang dengan penuh dendam
"Aku pasti bisa menaklukkan kamu kembali Rania, ini belum selesai, aku pastikan itu". Ucapnya dalam hati.
"Berikan saja tali pekerja sialan, banyak bicara pada kalian semua hanya pesuruh dan orang miskin tidak tahu diri
Ardi segera merampas motornya dan menaikkan kopernya dengan asal dan mengikatnya dengan tali yang dilemparkan oleh Dadang tadi karena dia kembali menghina lelaki itu karena kesal.
"Saya memang miskin pak Ardi, tapi saya lelaki yang punya rasa malu, tidak seperti anda yang hidup dari uang istri tapi tingkah dan sombongnya setinggi langit, jangan terlalu sombong dan tinggi hati pak Ardi karena kalau anda jatuh saat itu rasanya akan sangat sakit sekali dan bisa membuat anda lumpuh". Sinis nya tanpa peduli hinaan lelaki itu.
"Tunggu saja, saya pasti akan kembali kerumah ini, dan akan menendang kalian semua". Ucapnya sebelum pergi.
Sedangkan Rania yang kini berada dirumahnya akhirnya bisa bernafas lega.
"Syukurlah kalau mereka semua pergi, tapi aku yakin dia pasti akan kembali mencariku".