Rachel adalah definisi dari kesempurna, masa depannya begitu cerah, hidupnya sudah diatur sedemikian rupa oleh Ibunya, hingga banyak yang merasa iri pada Rachel. Namun, tanpa mereka tahu, Rachel merasa hidupnya seperti boneka, terutama setelah perceraian Ayah dan Ibunya.
Hingga akhirnya, Rachel sudah muak dengan hidupnya yang selalu diatur oleh Ibunya dan memutuskan untuk pergi menemui Ayahnya dan memilih tinggal bersamanya, Rachel yang terbiasa dengan kemewahan, begitu tersiksa ketika berada di tempat Ayahnya yang jauh berbeda dengan kehidupan mewahnya bersama Ibunya.
Tanpa Rachel sadari, kedatangannya untuk menemui Ayahnya membawa sebuah takdir yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, di mana ia dipertemukan dengan seorang pria dengan seribu macam permasalahan dalam hidupnya.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Rachel mampu bertahan tanpa kemewahan dari Ibunya? Siapakah pria dengan seribu macam permasalahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Julian! Kamu Di Sini?
Rachel memberikan senyum tipis yang dipaksakan dan menyambut lengan Julian, "Kita pergi sekarang, Mom," pamit Rachel singkat tanpa menoleh lagi.
Mereka menaiki mobil mewah milik Julian. Di dalam mobil, Julian mulai berbicara panjang lebar tentang proyek apartemen barunya di kawasan elit dan bagaimana ia baru saja memenangkan taruhan pacuan kuda di luar negeri. Rachel hanya menanggapi dengan anggukan sesekali, matanya menatap keluar jendela, pada lampu-lampu kota yang berkedip cepat.
Sesampainya di restoran rooftop bintang lima, suasana sangat romantis. Meja mereka terletak di pojok yang paling privat, dengan pemandangan city light kota 360 derajat. Pelayan berseragam rapi dan segera menyajikan wine tahun 1995 yang harganya setara dengan biaya hidup setahun di rumah susun Daddy Brian.
"Senang bisa melihatmu lagi, Rachel," ucap Julian dan Rachel hanya tersenyum menanggapinya.
Julian menyesap wine-nya dengan perlahan, membiarkan cairan merah pekat itu membasahi lidahnya sebelum mulai berbicara dengan nada yang sangat sombong.
"Kamu tahu, Rachel? Meja ini harus dipesan enam bulan sebelumnya. Tapi tentu saja, untukku, pemilik restoran ini sendiri yang menelepon untuk memastikan apakah bunga lili di tengah meja ini sudah cukup segar untukmu. Uang memang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi uang bisa membuat semua orang berlutut untuk memberikan apa pun yang kita inginkan," lanjut Julian.
Rachel hanya menatap kosong ke arah lilin yang menari di depan matanya, kata uang dan kuasa seolah menjadi kosa kata wajib dalam kamus Julian, persis seperti Mommy Viona.
"Oh ya, aku baru saja menambah koleksi di garasiku. Sebuah Lamborghini Revuelto edisi terbatas yang hanya ada tiga di seluruh negeri," lanjut Julian tanpa memedulikan diamnya Rachel.
Julian sibuk memotong steak wagyu A5 di piringnya dengan gerakan yang sangat presisi, "Kadang aku merasa bosan, semuanya terasa terlalu mudah. Orang-orang sepertiku memang ditakdirkan untuk berada di puncak, bukan? Kita tidak perlu berkeringat, cukup menggerakkan jari dan dunia akan berputar sesuai keinginan kita," lanjutnya.
"Kenapa kamu diam saja? Oh, aku tahu. Kamu pasti masih terpesona dengan pemandangan dari sini, kan?" tanya Julian, menyandarkan punggungnya dan menatap Rachel dengan tatapan yang sangat meremehkan.
"Jangan khawatir, setelah kita menikah nanti, aku akan memastikan kamu tidak perlu melihat sisi gelap kota ini lagi. Kamu hanya akan melihat dunia dari ketinggian lantai 50, jauh dari orang-orang rendahan yang bau keringat," lanjut Julian.
Rachel merasa mual, suara Julian yang terus-menerus membual tentang kekayaannya terasa seperti polusi suara yang lebih buruk daripada bisingnya pelabuhan. Di sini, di tempat yang dikelilingi kemewahan ini, Rachel justru merasa menjadi orang termiskin di dunia karena ia tidak memiliki hak atas perasaannya sendiri.
"Julian," panggil Rachel.
"Ya?" tanya Julian.
"Bisa kita berhenti bicara tentang harta? Aku ingin makan," ucap Rachel.
Julian tertegun sejenak, alisnya terangkat kaget karena baru kali ini ada yang berani memotong pembicaraannya. Namun, ia segera kembali tersenyum licik.
"Tentu saja, aku mengerti wanita memang kadang emosional jika terlalu lelah. Makanlah, steak itu harganya mahal, jangan sampai dingin dan menjadi sampah," jawab Julian.
Di tengah alunan musik jazz yang mendayu lembut, perhatian Julian teralihkan oleh sebuah suara melengking yang memanggil namanya dari arah pintu masuk vip.
"Julian! Kamu di sini?" seru seorang wanita.
Wanita tersebut datang dengan menggunakan gaun mini berwarna perak yang sangat ketat dan kekurangan bahan, gaun itu begitu pendek hingga nyaris tidak menutupi bagian panggulnya.
Sementara bagian dad*nya terbuka rendah dan memamerkan lekuk tubuh yang sengaja ditonjolkan, rambutnya pun dicat pirang dan ia berjalan dengan goyangan pinggul yang berlebihan di atas hak sepatu setinggi lima belas sentimeter.
Julian yang tadinya sedang menatap Rachel dengan angkuh, seketika berubah drastis. Matanya berbinar penuh gairah dan senyum lebarnya terkembang tanpa rasa bersalah.
"Siska? Hei, sedang apa kamu di sini?" seru Julian sembari berdiri.
Wanita bernama Siska itu langsung menghambur ke arah Julian, mengabaikan keberadaan Rachel yang duduk tepat di depan pria itu. Ia melingkarkan lengannya yang penuh perhiasan imitasi berkilau di leher Julian dan mengecup pipi pria itu dengan mesra dan meninggalkan bekas lipstik merah menyala.
"Aku sedang ada acara after party dengan teman-teman modelku di lantai bawah lalu kudengar pangeran properti kita sedang makan malam di sini. Jadi, aku mampir," ucap Siska dengan suara manja yang dibuat-buat dan jemarinya mulai bermain di kerah jas yang dikenakan Julian.
Julian tertawa renyah, tangannya tanpa ragu mendarat di pinggang ramping Siska dan menariknya lebih dekat. "Kamu selalu tahu cara membuat kejutan. Duduklah sebentar, mau minum wine?" tawar Julian.
Siska melirik Rachel sekilas dengan tatapan meremehkan, seolah Rachel hanyalah pajangan kursi yang tidak penting. "Oh, siapa ini? Asisten barumu? Atau salah satu model yang mau kamu sponsori?" tanya Siska sambil tertawa sinis.
Julian hanya mengangkat bahu dengan acuh tak acuh, "Ini Rachel, dia perempuan yang dijodohkan denganku, kamu tahu sendiri soal itu. Tapi tenang saja, dia orangnya pendiam kok," jawab Julian tanpa sedikit pun rasa canggung atau malu.
Keduanya kemudian tenggelam dalam obrolan intim, Siska duduk di samping Julian dan berbisik-bisik di telinganya sambil sesekali tertawa keras yang memicu perhatian tamu-tamu lain di restoran tersebut.
Julian sesekali mencubit pipi Siska dan mereka tampak sangat akrab, seolah sedang berada di kelab malam pribadi dan melupakan fakta bahwa ada seorang wanita lain yang seharusnya menjadi teman kencan utama malam itu.
Julian pikir, Rachel akan marah. Namun, di luar dugaan Julian, Rachel tidak menunjukkan tanda-tanda cemburu, marah atau menangis.
Rachel justru merasa lega, ia menatap pemandangan memuakkan di depannya dengan pandangan kosong lalu perlahan mengalihkan fokusnya kembali ke piring.
Rachel mengambil pisau dan garpu peraknya dengan tenang mengiris steak wagyu A5 mahal itu dengan presisi. Daging itu begitu lembut, lumer di mulut dan tidak memedulikan tangan Julian yang mulai merayap di paha Siska di bawah meja atau tawa melengking wanita itu yang menusuk telinga.
Bagi Rachel, kehadiran wanita simpanan Julian ini adalah bukti nyata dari dunia yang sedang ia jalani sekarang. Dunia yang penuh kepalsuan, di mana kesetiaan tidak lebih berharga daripada label harga pada botol wine.
'Makanlah, Rachel. Isi tenagamu,' batin Rachel yang memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
Rachel terus menyuap potongan daging dan asparagus ke mulutnya, mengunyahnya dengan tenang dan tidak mempedulikan dua orang di depannya itu.
"Julian, kamu janji mau membelikan aku tas edisi terbaru itu kan," rengek Siska.
"Apapun untukmu, besok kita beli ya," jawab Julian seraya mencium bahu terbuka Siska.
.
.
.
Bersambung.....
yaaa kaaannnnn
bahwa suatu saat Rachel akan kembali kepada Cintanya yg tinggal di Vietnam
akankah Daniel mengejar Rachel ke Indonesia
like lah Daddy Bryan sudak lampu ijo😁😁🤗
ini emaknya Rachel bener2 kebangetan deh, nyari anak kayak nyari tahanan yg kabur. gila sih udah kayak psikopat aja emaknya.😤😤😤
hemmmm bakal ngamuk nih nanti si daniel
dan sang alpha yg menjaga 🤭
dr interaksi kecil, sentuhan ringan, obrolan yg menjurus keranah pribadi. akhirnya nyaman😄😄😄
lanjut thorrr😁